|
Obama Jilid II
dan Capres ke-7 RI
Christianto Wibisono ; CEO Global Nexus Institute
|
KOMPAS,
09 November 2012
|
Kebetulan sejarah telah
menempatkan Barack Obama, Xi Jinping, dan calon presiden ketujuh RI untuk
berinteraksi pada periode 2012-2016. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih
berpeluang melakukan gebrakan yang bisa memengaruhi dua mitranya, Presiden AS
dan China, pada sisa dua tahun masa jabatannya.
Momentum
terpilihnya kembali Presiden Obama memberi peluang bagi Yudhoyono untuk
mengapitalisasikan dan meluaskan pengaruh modal geopolitik Indonesia sebagai
the largest Moslem Democracy yang setara dengan AS sebagai the largest
Western Democracy, dan India sebagai Hindu Democracy. Mumpung Presiden AS
masih dijabat oleh orang yang (pernah) dibesarkan di Indonesia dalam masa
usia puber, 6-10 tahun (1967- 1971), di bumi Indonesia ketika Presiden
Soeharto berbulan madu dengan media massa dan tidak memberedel surat kabar.
Pada
27 Desember 1967, Gubernur Michigan George Romney berkunjung ke kantor
Presiden Soeharto di Merdeka Barat. George Romney adalah ayah capres Mitt
Romney. Romney senior akan tersisih dalam konvensi capres Republik oleh
Richard Nixon, yang akan mengalahkan Presiden Lyndon Johnson pada Pilpres AS
1968. Sementara Soeharto saat itu akan bertahan dengan sistem otoriter,
menyamai tujuh presiden AS: dari Johnson, Nixon, Ford, Carter, Reagan, George
H W Bush, Bill Clinton.
Hubungan
RI-AS senantiasa ”asimetris”, padahal kita berpeluang untuk melakukan
leverage geopolitik dalam mendayung di antara bipolar perang dingin Barat
lawan Komunis. Rasa percaya diri (assertiveness) kita masih bertaraf retorika
sebab dalam praktiknya calon presiden RI selalu berebut ”restu dan akses”
atau ”citra direstui AS”. Padahal, dalam konteks konflik peradaban
Huntington, maka Indonesia yang mayoritas Islam—bila benar moderat dan
toleran—berpotensi menjadi juru damai antara Barat dan Islam yang terjebak
pada agitasi ”perang salib abad pertengahan”.
Dalam
perang dingin kubu Barat-AS lawan Timur (Komunis Uni Soviet dan kawan-kawan),
Bung Karno mendayung di antara dua karang dengan memperoleh persenjataan
berat dari Uni Soviet (bukan hibah, tetapi utang) untuk meyakinkan AS
mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat (Papua) pada 1962. Selama tiga tahun
Indonesia terjebak dalam konflik perang saudara TNI vs PKI yang dimenangi
secara gratis untuk kepentingan Amerika Serikat.
Presiden
Johnson menyatakan bahwa Indonesia di bawah Soeharto yang antikomunis—yang
membubarkan dan membantai komunis—adalah durian runtuh bagi AS ketika mereka
terdesak di Vietnam. Kita tahu, oleh anak buah Ho Chi Minh, AS dikurasi
tenaganya. Miliaran dollar AS terkuras di sini dan 50.000 jiwa pasukan AS
gugur di medan Perang Vietnam. Baru 10 tahun sejak pembantaian PKI, Amerika
Serikat akhirnya mengakui keunggulan Vietnam dan AS meninggalkan Vietnam.
Dalam konteks itulah Presiden Gerald Ford merestui invasi dan akuisisi Timor
Timur oleh Soeharto pada akhir 1975.
Kita
kemudian membekukan hubungan diplomatik dengan China meskipun Nixon pada 1972
justru sudah mendobrak dengan diplomasi segitiga Washington- Beijing-Moskwa
untuk menekan Uni Soviet dalam percaturan global. Tak dapat disangkal bahwa
AS menikmati windfall profit, durian runtuh, lotre gratisan, dari perubahan
politik Indonesia dari bebas aktif selama Bung Karno menjadi pro-Barat dan
anti-Komunis pada era Soeharto.
Sekarang,
dalam era perang teror dan konflik peradaban, maka Indonesia berpeluang
menjadi juru damai global milenial dan fundamental. Sebagai bangsa yang
dilahirkan dan melahirkan ideologi Pancasila oleh dan dari Bung Karno yang
baru dianugerahi gelar Pahlawan, kita seharusnya secara proaktif
menerjemahkan Pancasila untuk menciptakan perdamaian dunia.
Protokol
antipenistaan agama yang disampaikan di PBB oleh Presiden Yudhoyono
menimbulkan reaksi tidak nyaman karena tidak populer di mata pejuang HAM dan
kebebasan berekspresi. Seharusnya yang diajukan Yudhoyono adalah Protokol
Kompetisi Damai Antar-Peradaban, di mana Indonesia sebagai negara berpenduduk
mayoritas Muslim terbesar secara proaktif mendamaikan Israel-Palestina.
Amerika
Serikat berkepentingan untuk mencabut sampai ke akar-akarnya alibi, dalih dan
alasan kaum radikal, teroris-ekstremis, teroris model Taliban dan Al Qaeda.
Sejak peristiwa atau tragedi 9/11, lebih dari Rp 1 triliun per tahun
dikeluarkan oleh Amerika Serikat untuk berperang melawan terorisme. Osama bin
Laden memang telah terbunuh, tetapi akar ideologi kekerasannya tetap menyala.
Terbunuhnya Duta Besar Christopher Stevens di Benghazi, Libya, adalah salah
satu contoh kasus.
Indonesia
sebagai negara berfalsafah Pancasila sekaligus menjadi sumber dan korban para
teroris, yang sebagian adalah orang Indonesia dan sebagian lagi dari tetangga
(baca: Malaysia) yang bersenjatakan dogma fanatisme dan merasa bisa menjadi
Tuhan terhadap sesamanya. Ini istilah yang dipakai oleh Dr Musdah Mulia
ketika menerima Penghargaan Nabil atas kegigihannya mempertahankan asas
kemajemukan di Indonesia.
Menteri
Perdagangan Gita Irawan Wirjawan dalam reaksi singkatnya menyatakan,
Indonesia sekarang ini harus siap menghadapi penciutan ekonomi Amerika
Serikat yang akan lebih memprioritaskan masalah domestik Obama dengan
kemenangan ini akan melanjutkan politik pemerataan yang berisiko menciutkan
ekonomi AS karena masyarakat akan disedot pajaknya secara lebih intensif,
terutama untuk golongan menengah ke atas. Ekonomi Robin Hood yang
dipraktikkan Demokrat pasti akan semakin membawa postur ekonomi Amerika
Serikat lemah dan tidak menguat.
Dalam
posisi seperti itulah sebetulnya AS dan Obama membutuhkan Indonesia. Tentu
saja tidak dengan gratis. There is no free lunch in the world you have to pay
for your lunch.
Perang
teror yang dilatarbelakangi konflik Israel-Palestina harus dituntaskan dan
diselesaikan sampai ke akar-akarnya. Indonesia bisa menawarkan diri menjadi
juru damai Israel-Palestina. Presiden Yudhoyono bisa mondar-mandir bertemu
Israel, Hamas, Fatah, dan Obama.
Biaya
perang teror dan derivatifnya di Afganistan, Irak, Libya, dan gejolak di
Suriah memakan dana triliunan dollar AS. Kalau Indonesia dengan mengandalkan
diplomasi soft power dan proaktif menerapkan amanat Pancasila, maka soft
power geopolitik dan the largest Moslem Democracy nilainya setara dengan
kemitraan strategis AS-RI untuk mendamaikan Timur Tengah. Juga mengawal
perdamaian di Laut China Selatan.
Peluang
geopolitik ini hanya bisa dinikmati oleh Presiden Indonesia, bukan oleh
Vladimir Putin atau Xi Jinping. Momentum perdamaian Israel-Palestina
diperkuat dengan terpilihnya kembali Obama. Jika ini tidak dimanfaatkan, maka
tidak ada gunanya nostalgia Barry si murid SD Besuki menjadi Presiden AS. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar