Mengapa
Prabowo Segan Berseteru Wiranto?
Derek Manangka ;
Wartawan Senior
|
INILAH.COM,
04 April 2014
|
Menjelang
Pemilu Legislatif 9 April 2014, kecenderungan yang ada, mengerucutnya
persaingan antara Prabowo Subianto (Partai Gerindra) dan Joko Widodo (PDIP).
Yang
cukup menarik, kecenderungan itu terjadi secara tiba-tiba. Tidak lama setelah
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menetapkan Joko Widodo sebagai capres
PDIP, pada 14 Maret 2014. Sebelum pencapresan Joko Widodo, hubungan
Gerindra-PDIP, "fine-fine"
saja.
Dalam
analogi sederhana pertarungan ini, tak lebih dari sebuah subyektifitas
Prabowo. Ia merasa dikhianati oleh Joko Widodo ataupun Megawati
Soekarnoputri. Sebab menurut versi Prabowo, Joko Widodo atau Jokowi pernah
menegaskan tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden dalam Pilpres 2014.
Sedangkan Megawati, kata Prabowo lagi, pada 2009 pernah berjanji akan
mendukung pencapresan dirinya dalam Pilpres 2014.
Tapi di
luar analogi, mencuat pula spekulasi. Yaitu pertarungan Prabowo Subianto
melawan Jokowi sejatinya merupakan wujud persaingan antara kekuatan militer
dengan kelompok sipil. Dikotomi militer-sipil, sebuah isu politik yang
sensitif, kembali diangkat ke permukaan.
Prabowo
mewakili kekuatan militer dan Joko Widodo atau Jokowi mewakili kekuatan
sipil. Lihat saja sikap sejumlah jenderal pensiunan yang satu angkatan maupun
yang lebih senior. Mereka seperti membiarkan atau "menjerumuskan"
Prabowo menyerang Jokowi.
Sayangnya,
sekalipun fakta ini terjadi di depan mata, berbagai analisa dan liputan
media, belum ada yang tertarik menyorotinya. Para pengamat lebih tertarik
mengomentari sikap temperamental Prabowo dan puisi berisi sindiran yang dia
tujukan ke Jokowi dan Megawati.
Tidak
adanya analisa yang membedah isu persaingan militer dan sipil, bisa jadi
kurang menarik, karena penampilan Prabowo jauh lebih memikat. Boleh jadi juga
karena ada unsur kesengajaan dari para analis politik untuk menghindari isu
tersebut - untuk melihat sejauh sensitifitas dikotomi militer-sipil.
Keinginan
militer bersaing dengan sipil, terbersit dari sikap Prabowo Subianto dalam
berkampanye. "Show of force", itulah yang paling menonjol. Unjuk
kekuatan, begitulah yang dipertontonkannya. Gaya militer yang tegas, cara
memberi hormat ala militer - sekalipun yang dihadapi publik sipil, demikian
menonjol.
Tapi
serangannya ke lawan politik, tidak dilakukan Prabowo kepada jenderal
purnawirawan Wiranto, yang juga termasuk salah satu pesaing dan lawan
politiknya. Terhadap Wiranto, eks petinggi militer yang pernah menjadi
atasannya di 1998, Prabowo tak berani bereaksi spontan apalagi bersikap
temperamen.
Padahal
kalau mau dicermati, pihak yang paling blak-blakan menyerang Prabowo
Subianto, justru Wiranto. Bukan Jokowi apalagi Megawati! Serangan Wiranto
terhadap Prabowo secara politik, tergolong yang paling keras. Bahkan bisa
ditafsirkan sebagai sebuah pembunuhan karakter.
Serangan
yang dimaksud adalah pernyataan Wiranto yang mengungkapkan status Prabowo
Subianto. Menurut Wiranto, Prabowo dipecat dari dinas kemiliteran, akibat
keterlibatannya dalam penculikan.
Tidak
disebutkan secara detil siapa yang diculik dan sedalam apa peran keterlibatan
Prabowo. Tetapi publik yang sudah mengikuti isu penculikan tersebut, sejak
era Orde Baru (1990-an) menangkap nuansa, Wiranto yang mantan Panglima TNI,
merujuk pada para aktifis yang hilang antara 1996-1998.
Salah
satu sisi yang menarik dikritisi dalam serangan Wiranto tersebut, terletak
pada cara penyebaran informasinya. Pernyataan itu untuk pertama kalinya
diungkap Wiranto dalam wawancaranya dengan Arya Sinulingga dari kelompok
media MNC, pada Maret 2013. Tapi setahun kemudian, tepatnya semasa kampanye
Pileg 2014, wawancara itu kembali disebarkan oleh berbagai media.
Bahkan
oleh media-media sosial, serangan Wiranto terhadap Prabowo itu ditautkan ke
sesama pemilik akun media sosial. Bisa dibayangkan, kalau pengguna internet
mencapai 60 juta orang, berapa juta manusia yang membaca serangan Wiranto
kepada Prabowo tersebut.
Sejauh
ini, Prabowo tidak pernah melakukan klarifikasi langsung dengan Wiranto.
Prabowo yang eks menantu Jenderal Soeharto, terkesan menghindari
persinggungan atau perbenturan dengan mantan ajudan Presiden Soeharto
tersebut.
Yang
menimbulkan pertanyaan, apakah Prabowo segan berseteru dengan Wiranto, karena
keduanya terikat pada komitmen sesama anggota keluarga militer atau oleh
faktor lain?
Dalam
Pileg dan Pilpres 2014, keduanya sudah mendeklarasikan sebagai calon presiden
melalui partai yang mereka dirikan masing-masing. Prabowo melalui Gerindra
dan Wiranto melalui Partai Hanura. Bahkan jauh sebelum persaingan di Pemilu
2014, keduanya sudah bersaing di 2004 dan 2009.
Pada
2004, keduanya ikut dalam konvensi capres Partai Golkar. Wiranto keluar
sebagai pemenangnya. Di 2009, kembali keduanya bersaing. Wiranto menjadi
cawapres Partai Hanura sementara Prabowo menjadi cawapres Megawati
Soekarnoputri dari PDIP.
Jadi
wajar kalau muncul pertanyaan, mengapa Prabowo tidak memusuhi Wiranto, tapi lebih
melihat Jokowi sebagai musuh terberat. Apakah Prabowo segan berseteru dengan
Wiranto atau di antara para jenderal pensiunan, memang ada konspirasi untuk
mencegah munculnya kekuatan (Presiden) sipil? ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar