Menanti
Sentimen Positif Pemilu
A Tony Prasetiantono ; Kepala Pusat Studi
Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM
|
KOMPAS,
07 April 2014
|
MENJELANG
pelaksanaan Pemilu 9 April 2014, perekonomian Indonesia diwarnai
tarik-menarik sentimen, yang secara umum bisa disimpulkan bertendensi
positif. Ketika Joko Widodo diresmikan menjadi calon presiden pada Jumat, 14
Maret 2014, rupiah dan indeks harga saham gabungan menguat hingga titik tertinggi
sekitar Rp 11.200 per dollar AS dan 4.900-an. Fenomena ini sering dinamakan
”efek Jokowi”.
Namun,
kurang dari sepekan, tiba-tiba muncul sentimen negatif dari eksternal. Kepala
Bank Sentral AS Janet Yellen mengumumkan, perekonomian AS terus membaik sehingga
pihaknya berencana segera mengurangi stimulus. Suku bunga di AS yang kini 0,2
persen akan naik menjadi 1 persen pada akhir 2015. Juga quantitative easing
yang kini 65 miliar dollar AS per bulan akan segera diturunkan menjadi 55
miliar dollar AS per bulan dan akhirnya dihilangkan pada akhir Oktober 2014.
Sinyal
positif perekonomian AS ini disambut dengan modal masuk kembali ke AS. Dollar
AS pun menguat atau sebaliknya rupiah kembali terkoreksi. Rupiah menjadi Rp
11.445 per dollar AS dan IHSG menjadi 4.698 pada 20 Maret sebagai respons
pengumuman Janet (19 Maret). Sesudah itu muncul data positif AS, yakni
terciptanya 192.000 lapangan kerja selama Maret 2014. Saat ini ekspektasi
para ekonom adalah terciptanya 200.000 pekerjaan baru pada April 2014.
Jika
pengangguran AS sudah berada di bawah 6,5 persen, Janet akan memangkas
stimulus moneter secara lebih agresif. Jika data positif ini berlanjut,
dollar AS akan terus menguat. Indeks harga saham Dow Jones di New York saat
ini 16.572 atau mulai mendekati level sebelum krisis 2008.
Indonesia
juga mencatat data positif. Inflasi Maret 2014 hanya 0,08 persen atau turun
dari 0,26 persen bulan sebelumnya sehingga inflasi year on year melandai ke
7,32 persen. Inflasi mengecil, saya duga, karena kombinasi antara membaiknya
jalur distribusi barang (dipicu meredanya hujan dan banjir) dan menguatnya
rupiah (menyebabkan berkurangnya tekanan inflasi dari impor atau imported
inflation). Sementara itu, kita kembali surplus perdagangan 785 juta dollar
AS pada Februari 2014.
Adapun
data cadangan devisa Maret 2014 mencapai 102,6 miliar dollar AS atau sedikit
menurun dari bulan sebelumnya, 102,7 miliar dollar AS, tetapi lebih tinggi
dari 100,2 miliar dollar AS pada Januari 2014. Artinya, dalam beberapa bulan
terakhir, modal global memang mondar-mandir di Indonesia. Ketika ada sentimen
positif terjadi modal masuk, tapi sesekali terkoreksi modal keluar saat ada
tanda-tanda perekonomian AS menggeliat. Namun, selama tiga bulan pertama 2014
perekonomian kita menunjukkan lebih banyak sentimen positif daripada
sebaliknya.
Sentimen
positif inilah yang saya duga melatarbelakangi membaiknya dua indikator
ekonomi makro yang sangat sensitif terhadap sentimen, yakni kurs rupiah dan
IHSG. Kurs rupiah akhir pekan lalu Rp 11.300-an per dollar AS, sedangkan IHSG
ditutup Jumat sore pada 4.858. Ini menandakan bahwa ”persaingan” antara
sentimen internal dan eksternal masih ada, tetapi sentimen internal masih
cukup kuat.
Selanjutnya,
bagaimana pemilu legislatif akan memberi warna dalam perekonomian Indonesia?
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,3 persen.
Dasar analisisnya pada variabel-variabel ekonomi yang terukur, seperti
belanja konsumsi dan investasi, harga komoditas primer yang belum beranjak,
defisit neraca transaksi berjalan masih berlanjut, serta perekonomian global
yang belum pulih. Semua kondisi obyektif itu mendorong Bank Dunia
memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen saja atau lebih rendah daripada
capaian tahun lalu, 5,78 persen.
Bank
Pembangunan Asia (ADB), yang mencoba memasukkan faktor pemilu yang
diproyeksikan berhasil, menemukan angka yang lebih optimistis, yakni 5,7
persen. Jika tolok ukurnya adalah proyeksi tahun lalu, ramalan ADB lebih bisa
dipercaya. Tahun lalu, baik Bank Dunia maupun Dana Moneter Internasional
(IMF) sama-sama meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,3-5,5 persen
(2013) dan 5,5 persen (2014). Adapun ADB meramalkan 5,7 persen (2013) dan 6
persen (2014). Proyeksi Bank Dunia dan IMF terbukti meleset jauh. Ini sangat
disayangkan karena sebenarnya dari data triwulanan saja sebenarnya sudah
dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi kita selalu di atas 5,5 persen.
Tahun
pemilu di Indonesia bukanlah tahun yang kelam secara ekonomi. Pengalaman
pemilu tahun 2009 ditandai dengan pencapaian pertumbuhan 4,5 persen tatkala
negara-negara emerging markets lain mengalami kontraksi (pertumbuhan
negatif). Pemilu 2009 tersebut diwarnai krisis ekonomi global. Kali ini
memang ada kesamaan adanya krisis ekonomi global. Bedanya, saat ini perekonomian
AS sedang menjalani pemulihan dengan catatan pertumbuhan ekonomi 2,5 persen,
sementara sebagian besar negara di Eropa kini mengalami stagnasi.
Saya
menangkap indikasi bahwa pemilu kita akan sukses. Ekspektasi publik kini
justru sedang meninggi untuk mewujudkan terbentuknya pemerintahan baru yang
lebih berkualitas dengan ciri kepemimpinan yang kuat (strong leadership).
Harapan itu hanya akan terwujud jika kedua pemilu (legislatif dan presiden)
berlangsung sukses. Jika sukses, kepercayaan diri akan kembali sehingga
belanja konsumsi dan investasi naik. Hal inilah yang tidak terdapat dalam
proyeksi Bank Dunia, tetapi terakomodasi oleh proyeksi ADB. Ketika
kepercayaan meningkat, rupiah dan IHSG akan menguat. Selanjutnya akan
berimbas pada tekanan inflasi yang lebih menurun. Lebih lanjut, Bank
Indonesia akan menurunkan BI Rate, yang kemudian menurunkan suku bunga bank.
Bank-bank pun akan giat menyalurkan kredit, melebihi ekspektasi 15-17 persen
oleh BI.
Karena
itu, saya lebih memihak ramalan ADB bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh
5,7 persen. Bahkan bisa jadi lebih tinggi karena pemilu akan lancar, aman,
dan sukses. Marilah mewujudkan ekspektasi ini. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar