Topeng
Indonesia Raya
Agus Dermawan T ; Pengamat Budaya dan Seni
|
TEMPO.CO,
20 Maret 2014
|
"Begitu memasuki tahun politik, Indonesia
langsung menjadi negeri topeng." Kalimat ini banyak kali
diucapkan oleh mereka yang tahu watak politik di Indonesia, atau watak orang
Indonesia yang bermain politik. "Banyak politikus yang tiba-tiba
bermanis-manis muka dengan rakyat. Padahal tadinya selalu mengerut dan kecut.
Banyak bandit tiba-tiba jadi malaikat pemberi harapan. Namun begitu proyek
politik sampai tujuan, mulutnya melahap segala yang ada di hadapan.
Rumus
sosial menulis, krisis moral selalu ditandai dengan banyaknya orang yang
memasang muka palsu. Dan astaga, Indonesia ternyata adalah tempatnya!
Celakanya, kemeriahan karnaval topeng politik-sosial ini menenggelamkan mitos
Indonesia sebagai negeri penghasil topeng yang andal dalam aspek visual,
serta fasih dalam memformulasi fungsi dan falsafahnya. Juga memangkas pemahaman
bahwa sungguh pada mulanya topeng adalah presentasi dari wajah dan karakter
yang baik-baik belaka. Lalu, tengoklah kenyataan ini.
Di
Kalimantan ada topeng yang menstilisasi wajah leluhur, untuk difungsikan
sebagai ikon upacara adat mengayau dalam suku Dayak. Di Jawa Tengah dicipta
topeng yang menggambarkan makhluk-makhluk dongeng dan mitologi, yang
mewujudkan wajah para dewa sampai Panji Semirang sang lelaki pujaan. Di Batak
Simalungun, Sumatera Utara, ada topeng kubur yang diciptakan khusus untuk tarian
tortor toping-toping atau tortor huda-huda. Tari seremoni kematian bagi
mereka berkedudukan dan sudah menjalani sayur matuah, kehidupan yang
sempurna.
Di Bali
ada topeng yang berbentuk barong ket, barong lembu yang memiliki taksu atau
pasupati, sehingga topeng-topeng ini sanggup mengusung kekuatan gaib, dan
mampu menjaga keamanan desa. Di Pulau Dewata ini juga dikenal topeng pajegan,
atau topeng yang dipakai menari secara sendirian (majeg), sambil kerasukan. Di tengah ekstasi, si topeng sering
bergumam seperti whistle blower:
membongkar aneka cara kebusukan teman dan lawan.
Sekali
lagi, konotasi topeng Indonesia yang manis, lurus, bersih, dan apik, rontok
ketika Indonesia memasuki tahun politik! Ada yang menduga rontoknya konotasi
ini lantaran dibawa kodrat etimologi kata itu sendiri. Kata
"topeng", menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (2004) berawal
dari kata tup yang artinya
"tutup" dan eng, imbuhan yang muncul karena gejala pembentukan
bahasa. Namun orang Jawa menyebutkan topeng bermula dari kata tup dan kata aeng (aneh, ganjil, salah). Maka topeng adalah benda untuk
menutupi segala sesuatu yang salah, yang ganjil, atau yang aeng-aeng.
Karena
itu, di Indonesia sang topeng lantas sering kali berkonotasi negatif dan
memilukan. Kita pun ingat ungkapan, "koruptor
bertopeng Wibisana", yang artinya, koruptor itu bertatakrama,
religius, seperti tokoh wayang Wibisana yang cakap parasnya. Ini semacam
penegasan dari apa yang dituturkan penyair Inggris, Lord Byron (1788-1824): "Topeng memang disalahgunakan. Engkau
tahu, kebenaran sering dipakai sebagai topeng untuk melakukan
kebohongan!"
Hal inilah yang menyebabkan seniman perajin topeng seluruh Indonesia
ragu bekerja, sambil menghirup angin politik yang ngeri-ngeri sedap aromanya.
Atau sekalian mencipta topeng-topeng antagonis yang menggambarkan orang
licik, bengis, sengit, penipu, serakah, pengecut, pengobral janji. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar