Membaca
Realitas Zaman
Benny Susetyo ;
Seorang Pastor
|
KORAN
JAKARTA, 19 Maret 2014
|
Dalam
sebuah kampanye PDIP ada spanduk bertuliskan "Terima Kasih, Ibu Megawati adalah Negarawan Sejati".
Kebesaran jiwa Megawati membawa bangsa ini memiliki harapan akan muncul sang
fajar sejati.
Di
tangan Megawati lahir generasi baru anak muda yang memiliki potensi merajut
Indonesia raya.
Cita-cita
Proklamasi dengan tegas menyatakan tujuan bernegara adalah melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta dalam pergaulan dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Cita-cita
ini menjadi pudar karena tata kelola pemerintahan masih dibayangi korupsi
yang merusak keadaban bangsa karena membuat rakyat menjadi miskin.
Rakyat
merindukan pemimpin yang memiliki jiwa proklamasi, mampu mengantar bangsa
menuju keadaban publik. Keadaban publik akan tercipta bila ada fungsi silang
negara, pasar, dan warga. Keadaban ini harus dijadikan cara berpikir,
bertindak, berelasi. Persoalannya, bangsa kehilangan pemimpin berjiwa merdeka
karena disandera kepentingan kapital dan kekuasan yang sempit.
Rakyat
memperoleh darah segar ketika Megawati mencalonkan Jokowi sebagai presiden.
Getaran sukma menjelma menjadi gairah publik dalam mencari pemimpin
alternatif yang diharapkan mampu membawa Indonesia maju. Batin rakyat bisa
terbaca dari hasil survei CIRUS
Surveyor Group mengenai popularitas dan elektabilitas kandidat
capres-cawapres.
Gubernur
DKI Jakarta, Joko Widodo, menempati urutan pertama dengan suara 31,9 persen,
disusul Prabowo Subianto (15,3 persen), dan Wiranto (8,7 persen). Survei
dilakukan dengan metode wawancara lansung dengan 2.200 responden berumur
minimal 17 tahun atau sudah menikah dan punya hak pilih.
Ini
menunjukkan kerja PDIP, harus diakui, memiliki andil besar, terutama Megawati
dengan kesabaran, ketekunan, serta perjuangan membesarkannya. Megawati
memunyai andil besar mempersiapkan jalan bagi anak muda tampil di permukaan
menghiasi negeri. Visi politik yang jelas dengan kesadaran nasionalisme
membuat bangsa mampu berdikari di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Jalan politik
inilah yang ditempuh Megawati sebagai jalan kebudayaan menciptakan keadaban
bangsa. Di tangan Megawati lahir Jokowi, Ganjar, Risma, Puan, serta banyak
lagi kader bangsa. Mega memahami dinamika masyarakat yang membutuhkan
pemimpin pelayan. Orientasi agar partai membaca realitas zaman.
Di
tengah fakta semakin elitisnya para pemimpin, rakyat menunggu era baru
pemimpin yang mengerti penderitaan bangsa. Pemimpin yang dekat dengan rakyat
bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga aksi nyata. Pemimpin yang
memahami sekaligus bisa mengajak rakyat bahu-membahu menegakkan harga diri
sebagai bangsa.
Masyarakat
membutuhkan figur baru kepemimpinan yang bersungguh-sungguh memperjuangkan
harkat dan martabat rakyat kecil. Pemimpin yang memiliki spirit wong cilik,
tidak pongah, dan sombong, hanya membangun citra baik.
Rakyat
membutuhkan pemimpin yang bukan semata-mata melayani kebutuhan orang kaya,
namun melindungi dan memperjuangkan perubahan kehidupan lebih baik baik bagi
orang miskin. Pemimpin dengan karakter kuat untuk menyelamatkan nasib bangsa.
Mereka
adalah pemimpin yang bukan saja dekat dengan rakyat, melainkan juga
melindungi dan selalu bersama-sama rakyat. Mereka tidak berperilaku dan
bergaya feodal, tidak berkomunikasi dengan gaya doktrinal, serta menjadi
pemimpin bijaksana dan berani melawan kenyataan penindasan kaum kecil.
Alternatif
Di
antara banyak calon pemimpin di permukaan, akhir-akhir ini, bangsa ini yakin
memiliki pemimpin yang bisa membawa Indonesia lebih berharga diri dan lebih
baik. Rakyat sudah cerdas dan tidak lagi bisa dikelabui janji-janji manis
tanpa bukti. Para calon pemimpin harus membuktikan diri dengan kerja nyata,
bukan omdo. Pemimpin harus beraksi nyata dan berkarakter melayani. Inilah
pemimpin alternatif.
Dia yang
selama ini dipandang sebelah mata, kehadirannya akan memberi pembanding atas
pemimpin-pemimpin yang selama ini hanya memperjuangkan kaum kaya dan
pengusaha hitam. Rakyat hanya dijadikan kedok alias tameng untuk pencitraan
diri yang tidak bermakna apa pun bagi perubahan kehidupan masyarakat. Bangsa
membutuhkan pemimpin yang bisa memberi kesegaran baru berbangsa di tengah
kehidupan yang semakin sulit.
Kenaikan
harga-harga dan semakin sulitnya mendapat pekerjaan, kemiskinan tambah berat,
merupakan problem yang memperlihatkan bahwa kesejahteraan masih jauh. Semua
itu sering kali akibat pemimpin yang terlalu mudah menggadaikan aset-aset
bangsa. Kemandirian bangsa pun semakin hanya sebuah mimpi.
Masyarakat
membutuhkan darah segar agar muncul orang baik. Partai politik yang
berkualitas akan memiliki keadaban publik sebagai energi positif. Inilah
realitas zaman segera diwujudkan di tengah-tengah kegelapan karena lingkaran
korupsi yang membuat bangsa ini menjadi miskin dan hilang harga diri.
Selama
ini, masyarakat hidup dalam sekat kesukuan dan keagamaan. Semoga pemilu kali
ini bisa memberi harapan menemukan satu orang benar yang akan menyelamatkan
negeri.
Harapan
sudah dekat. Tinggal rakyat mampu membaca realitas zaman atau tidak. Zaman
membutuhkan pemimpin berjiwa visioner dan memiliki ideologi tidak korup,
tidak menjual kekayaan alam untuk kepentingan kelompok, dan tidak memperkaya
diri sendiri. Jiwa ideologi ini hanya tertanam dalam diri pemimpin berjiwa
merdeka.
Saatnya
rakyat memilih pemimpin terbaik yang melayani rakyat dengan tulus dan mau
berbagi dalam suka-duka. Dia harus memiliki mata hati dan keteladan. Bangsa
membutuhkan pemimpin yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Hal
ini mengingat sudah cukup lama Indonesia mengalami krisis kepemimipinan.
Menjadi
hal yang kontradiktif ketika para pemimpin bangsa mengumbar janji dan
berbicara tentang moralitas, namun tak ada implementasi. Keteladanan sudah
langka. Seorang pemimpin harus memiliki karakter baik dan bisa diteladani.
Dia harus memprioritaskan kepentingan rakyat kecil. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar