Menyikapi Bonus Demografi
Abraham
Fanggidae ; Widyaiswara Utama
Pusdiklat Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial, Jakarta
|
KORAN
JAKARTA, 15 Februari 2014
|
Kepala Bappenas, Armida
Alisjahbana, memaparkan berdasarkan hasil dari proyeksi penduduk antara 2010
dan 2035, Indonesia sudah memasuki periode bonus demografi (BD).
Indonesia sebenarnya sudah
memasuki periode BD sejak 2012, ketika rasio kebergantungan di bawah 50
persen. Pada 2010, rasio kebergantungan di Indonesia sudah mencapai
50,5, dan setiap 100 pekerja menanggung 50,5 penduduk nonproduktif. Usia nonproduktif di bawah 15 tahun
dan di atas 65 tahun.
BD dikaitkan dengan usia
kerja Indonesia kini memasuki masa penduduk usia produktifnya terus
meningkat BD harus dipersiapkan
melalui investasi di bidang kesehatan, pendidikan, tenaga kerja,
kependudukan, keluarga berencana, dan ekonomi.
Ini merupakan dampak jangka
panjang program KB nasional sejak tahun 1970-an Substansi BD,
pertambahan penduduk akan bermanfaat bagi negeri Apabila rata-rata
kualitas penduduk meningkat, sumber daya alam (SDA) akan digali dan diolah
demi kesejahteraan bangsa.
Di Tangan Sendiri
Pada titik ini, harapan
Indonesia ke depan berada dalam tangan bangsa sendiri, bukan seperti sekarang
masih diintervensi, dipengaruhi, bahkan didikte bangsa lain yang bermodal dan
berteknologi canggih.
Modal dan teknologi diperlukan
dari luar, tetapi tentu saja harus berdampak positip untuk menyejahterakan
seluruh bangsa bergantung pada kualitas SDM.
Manusia merupakan titik sentral
pembangunan, tetapi juga sebagai subjek Tiada faktor produksi yang
lebih utama dan penting ketimbang SDM bangsa sendiri yang kritis kreatif, dan
produktif yang menjamin mereduksi kebergantungan penduduk usia muda pada kaum
dewasa seperti sekarang.
Apalagi bila penduduk usia
kerja memiliki pengetahuan dan keterampilan tinggi, makin banyak anggota
keluarga bekerja dan memperoleh penghasilan sehingga sejahtera.
Pemerintah bertanggung jawab
menyiapkan SDM berkualitas Ini bukan pekerjaan ringan, memerlukan
proses pendidikan dan latihan generasi muda sejak dari rumah Keluarga
sebagai lembaga pertama dan utama membentuk karakter dan moral SDM
Negara dan masyarakat menyediakan pendidikan berkualitas.
Realita di lapangan
memperlihatkan proses kebangkitan dan kemajuan pendidikan makin maju, hanya
belum merata, sehingga transfer teknologi berjalan pincang Contoh,
penguasaan teknologi canggih masih jauh dari jangkauan generasi muda di perdesaan.
Disparitas pengenalan,
pengetahuan, dan penguasaan iptek generasi muda perdesaan dan perkotaan
besar Kesenjangan ini harus segera ditutupi BD memberi tambahan
penduduk secara keseluruhan baik di perdesaan maupun perkotaan
Idealnya, semua generasi menikmati kemajuan iptek.
Output pendidikan harus sejalan
dengan permintaan lapangan pekerjaan agar terserap Dukungan dana
memajukan sektor pendidikan bertambah siginifikan karena pemerintah
berkomitmen memajukan pendidikan formal Penggelontoran anggaran
pendidikan sebesar 20 persen dari APBN seharusnya memampukan pemerataan
proses pendidikan dan penguasaan iptek.
Tak boleh ada anak ditinggalkan
dalam program wajib belajar 12 tahun Semua anak berhak memperoleh
pendidikan berkualitas Indonesia berpenduduk kelima terbesar di dunia
setelah China, India, Amerika Serikat, Rusia Peringkat Indeks
Pembangunan Manusia (IPM/HDI), Indonesia jauh tertinggal, 121 dari 187
negara, juga dari empat negara lain yang terbesar populasinya IPM
rendah berroduktivitas minim, sehingga perekonomian jauh tertinggal.
IPM Jepang, Jerman, Inggris,
serta negara-negara Skandinavia, berperingkat di bawah 50 dari 187
negara Padahal, negara-negara tersebut relatif "miskin"
sumber daya alam Mereka berpenduduk di bawah 100 juta–150 juta
Australia berpenduduk kurang dari 25 juta jiwa Mereka maju karena
penduduknya berkualitas.
Kualitas rendah berdampak SDM
yang memasuki usia kerja dan produktif tidak terserap lapangan
pekerjaan Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tahun 2010
ada 4,2 juta pencari kerja, sementara lowongan yang tersedia hanya 2,3 juta,
terisi 1,6 juta.
Indonesia masih kekurangan
sekitar 700 ribu tenaga terampil Tetapi pada saat sama, ratusan ribu
penduduk usia kerja lulusan sekolah menengah menganggur Inilah anomali
ketenagakerjaan dan tanpa solusi memadai Emil Salim cemas karena
penduduk usia produktif tidak berkualitas. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar