Masa Depan Banjir Jakarta dan Perubahan
Iklim
Siswanto
; Peneliti BMKG
Indonesia dan KNMI Belanda; Kandidat Doktor pada Institute of Marine and
Atmospheric Research, Utrecht Univesiteit, Belanda;
Ketua
pada Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) Belanda
|
KORAN
SINDO, 15 Februari 2014
|
Seluas 17,40% wilayah Jakarta tergenangi sudah pada kejadian
banjir pertengahan 13 Januari 2014 lalu yang dipicu oleh curah hujan tinggi
di daerah penyangga Jakarta.
Lalu banjir dan genangan masih terjadi hingga sekarang, meski hujan tidak begitu lebat di daerah hulu. Oleh karena itu, banjir di Jakarta memang tidak selalu mensyaratkan hujan ekstrem di Bogor atau daerah hulu. Sejak tahun 2000, tercatat 4 kali banjir besar melanda Jakarta yaitu, 2002, 2007, 2013, dan 2014. Sejarah Sesungguhnya banjir di Jakarta adalah perkara klasik. Sejak zaman VOC, Pemerintah kolonial Belanda pun sudah berjibaku dengan masalah banjir dan tata kelola air Jakarta. Tahun 1621 Jakarta mengalami banjir besar, selang dua tahun setelah sistem tata kelola hidrologi Batavia dibangun lengkap dengan sistem kanalnya. Namun, banjir-banjir kecil hampir setiap tahun masih terjadi di pinggiran kota. Saat itu wilayah Batavia telah melebar hingga Glodok, Pejambon, Kali Besar, Gunung Sahari, dan Kampung Tambora. Tercatat banjir besar terjadi pada tahun 1654, 1872, 1876, 1878, 1892, 1895, 1899, 1902, 1904, 1909, dan 1918. Tahun 1918 adalah yang terhebat karena dilanda banjir besar selama satu bulan. Banjir pun berulang pada 1919, 1923, 1931, 1932, 1933, 1949, 1952, 1953, 1954, 1956, 1976, 1977, 1979, 1984, 1988, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007, 2008, dan 2013. Banjir Jakarta sebagian besarnya bisa dikaitkan dengan kehadiran curah hujan yang tinggi maupun kejadian hujan terus-menerus baik di Jakarta sendiri atau di daerah hulu yang berdataran lebih tinggi seperti Depok dan Bogor. Sebagai misal, zaman dahulu, banjir 1878 disebabkan kejadian hujan 40 hari terus-menerus, tahun 1892 banjir terjadi setelah hujan lebat lebih dari 8 jam dengan intensitas 240,7 mm pada hari itu di Jakarta. Banjir parah 1988 disebabkan curah hujan 356 mm sehari yang tercatat di Jakarta Observatory (Stasiun BMKG Jakarta). Banjir terbesar sepuluh tahun terakhir pada 1 Februari 2007 berkaitan dengan curah hujan ekstrem 234,7 mm di Jakarta Pusat. Eskalasi banjir akan menjadi lebih besar manakala terjadi hujan ekstrem di dalam kota Jakarta sendiri. Curah hujan terukur sebesar 1 mm diartikan sebagai tebal air hujan yang terukur setinggi 1 mm pada daerah seluas 1 meter persegi atau banyaknya air hujan yang turun dengan ukuran 1 mmx1m2, setara dengan volume 1 liter air. Sehingga ukuran 234,7 mm/hari berhubungan dengan jumlah 20.347 liter air yang jatuh pada sebuah lapangan 100 meter persegi di Jakarta. Mitos Deret waktu kejadian banjir besar mulai tahun 1872 hingga 2013 memang memberikan rata-rata kejadian 4,7 tahun, namun adalah kurang tepat bila dikatakan banjir Jakarta selalu berulang atau memiliki periode ulang lima tahun. Nyatanya kejadian banjir besar perulangannya berfluktuasi dari 1 hingga 19 tahun sekali. Bila melihat data historis intensitas hujan distasiun BMKG Jakarta, curah hujan 234,7 mm/ hari pada banjir 2007 tercatat terbesar kedua selama kurun waktu 1980–2010, keempat dalam 100 tahun terakhir dan memiliki periode ulang sekitar 20 tahun. Sementara curah hujan tertinggi 356 mm terjadi pada 6 Januari 1988 berperiode ulang 100 tahun. Periode ulang 50, 20, 10, 5, dan 2 tahun dipunyai oleh curah hujan kisaran 296 mm, 227 mm, 184 mm, 147 mm, dan 102 mm. Curah hujan ekstrem di Kemayoran pada Januari 2013 dan 2014 tercatat tertinggi 193 mm dan 148 mm. Hal ini menandakan bahwa di Jakarta, dewasa ini, peluang hadirnya hujan ekstrem kisaran 100mm/ hari adalah tiap 2 tahun atau 200 mm/hari tiap 10 tahun. Sehingga semua sistem hidrolik (sungai dan saluran, pompa, dan pintu air) di Jakarta harus meyakinkan bisa mengatasi curah hujan 100 mm/hari per dua tahun ini bila Jakarta tak ingin kebanjiran setiap tahunnya, atau mengatasi curah hujan 300 mm/hari untuk aman 100 tahun ke depan. Padahal, statistik hujan ekstrem memprediksikan peluang hujan hampir 200 mm/hari bisa terjadi lma tahun lagi (2018). Perubahan Iklim Pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta Observatory sudah dimulai secara sistematis pada tahun 1866 pada saat pemerintah kolonial Hindia Belanda. Data tersebut terdokumentasikan dengan baik di BMKG maupun di KNMI (Badan Meteorologi Belanda) dan bisa digunakan untuk melakukan penelitian perubahan karakter hujan wilayah Jakarta. Kajian penulis menggunakan data historis tersebut menunjukkan, bahwa banyaknya hari hujan per tahun berkurang signifikan sedangkan kejadian hujan lebat dan sangat lebat cenderung naik. Selain itu, ada indikasi bertambahnya intensitas hujan yang turun pada dini hingga pagi hari, dan berubahnya waktu hujan maksimum sore menjadi malam hari. Ini pertanda bagi masyarakat untuk mewaspadai waktu inisiasi banjir pada saat pagi buta atau malam hari, penting bagi langkah mitigasi bencana bagi dinas terkait. Hal lain yang menarik ditemukan adalah semakin naiknya suhu rata-rata dan minimum di Jakarta sebesar 2°C sejak 1900-an, atau 1,5°C sejak 1980-an, dan lebih mencolok terjadi pada suhu malam hari. Banyak teori yang bisa dikaitkan dengan fenomena ini, misalnya saja, respons lokal terhadap perubahan iklim akibat pemanasan global, efek urban heat island yaitu efek pulau panas perkotaan akibat luaran emisi panas dari penggunaan energi di Jakarta, ataupun pengaruh kelimpahan polutan dampak urbanisasi di kota besar terhadap karakter hujan dan pembentuk proses hujan. Konjektur analisis ini adalah, di masa kini dan mendatang, hujan turun akan sering bersifat lebat-sangat lebat pada musim hujan, dan kemarau terasa berlangsung lebih lama. Dalam kondisi atmosfer yang berubah lebih hangat akibat pemanasan global, Jakarta merupakan daerah yang terdampak signifikan bila dibanding daerah lainnya. Wilayahnya yang 40% lebih rendah dari permukaan laut akan menghadapi kompleksitas ancaman dengan risiko yang lebih tinggi akibat meningkatnya tren hujan ekstrem, naiknya permukaan laut dan gelombang laut pasang. Oleh karena itu, tampaknya banjir akibat hujan lebat akan tetap menjadi momok menakutkan di Jakarta bila kebijakan mitigasi dan pembangunan tidak mampu mengimbangi kecenderungan alam yang berubah. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar