Berkomunikasi dengan Kelud
Popingi
El Ishaq ; Dosen Komunikasi
pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Kediri
|
JAWA
POS, 15 Februari 2014
|
GUNUNG Kelud kembali beraksi. Seolah tidak mau kalah dengan Gunung
Sinabung yang beberapa hari sebelumnya memuntahkan material dan mengakibatkan
hujan abu. Sebelumnya, Gunung Kelud meletus pada 1990 dan pernah dinyatakan
berstatus awas pada 2007 tetapi tidak sampai meletus.
Pakar vulkanologi Surono, yang pernah secara intens mengamati Kelud, pada 2007 pernah menyatakan bahwa Kelud memiliki kekhasan tersendiri, yakni sulit ditebak. Hal itu dapat dibuktikan saat ini, hanya dalam hitungan menit status Kelud berubah dari siaga, awas, dan meletus. Kelud memuntahkan material berupa debu, pasir, serta batu. Letusan Kelud juga tidak hanya menghujani daerah di sekitarnya seperti Malang, Nganjuk, Kediri, Blitar, dan Tulungagung, tetapi juga sampai berbagai daerah yang jauh seperti Jogjakarta. Tentu itu merupakan fenomena alam yang luar biasa dan perlu dipahami secara arif oleh masyarakat di sekitar Kelud. Agar tidak terjadi korban sebagaimana Gunung Sinabung. Agar masyarakat selamat menghadapi bencana alam serta agar manusia dapat hidup berdampingan dengan alam. Kuasa Tuhan dalam Sistem Alam Kekuasaan Tuhan telah dijabarkan dalam sistem alam semesta. Pergantian siang dan malam (QS. Ali Imran 190), peredaran bulan, matahari, serta planet dan bintang telah diatur secara rapi pada garis edarnya (QS. Al-Anbiya' 33) oleh Tuhan dalam hukum yang telah ditetapkan. Alam berjalan sebagaimana ketetapan Tuhan padanya. Kapan gunung dijalankan dan diterbangkan, kapan bumi diguncangkan, kapan air ditumpahkan, sudah diatur secara sistematis melalui hukum mekanis alam semesta. Manusia tidak mungkin mencegah erupsi dan letusan gunung api. Manusia tidak mampu mencegah gempa dan menghadang tsunami serta banjir meskipun dengan menggunakan teknologi canggih. Oleh karena itu, manusia harus memahami regulasi alam semesta mengikuti regulasinya. Regulasi gunung yang terus berjalan (QS. An-naml 88) mengukuhkan sistem dan hukum alam yang telah dibuat-Nya. Aktivitas magma di bawah tanah melanggengkan kehangatan bumi yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya. Gempa bumi menata lempengan-lempengan lapisan bumi yang patah. Letusan gunung berapi pun dibutuhkan untuk memberikan ''imunisasi'' terhadap permukaan bumi yang menjadi sumber kehidupan manusia. Kepekaan Manusia Dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa manusia dicipta di dunia adalah untuk menjadi khalifah, pengatur, dan pemimpin alam semesta. Sebagai pengatur dan pemimpin, manusia tentu harus memahami apa yang akan diatur dan dipimpinnya. Lebih dari itu, manusia harus bersahabat dan menyatu dengan alam. Sebab, alam beserta isinya adalah makhluk Allah yang eksis di hadapan-Nya. Betapa tidak, semua yang ada di langit dan bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. (QS. Al-Hadid; 1, Al-Hasyr; 1, Ash-Shaff; 1 dan Al-Jum'ah; 1). Tasbih alam beserta isinya menunjukkan kepada kita bahwa alam ini adalah makhluk yang juga memiliki eksistensi di hadapan Tuhan dan oleh karena itu manusia harus menghormatinya. Tidak etis bagi manusia jika bersikap sewenang-wenang terhadap alam karena kesewang-wenangan manusia terhadapnya akan mengusik dan mengacaukan regulasi mekanis alam semesta. Komunikasi Kosmis Manusia dan Alam Kemajuan teknologi mendorong manusia untuk menyikapi alam sebagai objek semata. Alam tidak lagi dipandang sebagai sahabat dalam beribadah dan muamalat manusia. Tuhan memang telah menundukkan alam untuk manusia. Tetapi, tidak berarti manusia boleh melakukan apa saja kepada alam dan isinya. Alam adalah mitra dalam beribadah kepada Tuhan, sebagaimana telah diceritakan dalam Alquran Surat Saba' ayat 10 bahwa gunung dan burung diperintahkan oleh Allah agar bertasbih berulang-ulang bersama Daud AS. Itu dapat dipahami bahwa alam semesta merupakan makhluk yang eksistensinya harus dihargai dan disikapi serta dijadikan mitra dalam beraktivitas. Dalam kerangka itu, fenomena alam berupa gunung meletus, gempa, banjir, dan sebagainya harus dipahami sebagai dinamika alam. Kehadirannya bergantung kepada sikap dan perlakuan manusia terhadap alam. Pakar vulkanologi Surono saat diwawancarai oleh salah satu televisi saat menjelang Kelud meletus kemarin malam menyatakan, biarkan Kelud beraktivitas, berikan dia kesempatan, silakan masyarakat sekitar untuk mengungsi sejenak demi memberikan kesempatan kepada Kelud untuk menunaikan tugasnya. Itu tentu sebuah imbauan yang sangat arif untuk dijalankan dalam menghadapi bencana (fenomena) alam. Dengan begitu, kita menempatkan dan menyikapi alam sebagai sebuah mitra kehidupan. Bukan ancaman semata. Dengan demikian, pemahaman itu akan mengantar manusia untuk dapat berjaga dan bersiap-siap menyambut fenomena alam seperti banjir dan gunung meletus, dengan menyiapkan segala perangkat yang dibutuhkannya. Saat manusia tidak mau menjadi korban keganasan alam, manusia harus memahami tanda-tanda atau pesan-pesan yang diberikan oleh alam. Bersikap cuek terhadap fenomena alam, seperti terhadap fenomena gunung yang hendak meletus, atau bahkan ''menantang''- nya jelas bukanlah sikap arif terhadap alam. Sebab, bagaimanapun, kekuatan alam yang merupakan salah satu tanda kekuasaan Tuhan tidak akan mampu dihadapi oleh manusia. Untuk itu, berkomunikasi secara intensif dengan alam dengan memahami dan menyikapi gejala-gejalanya menjadi kunci yang perlu dilakukan oleh manusia dalam menghadapi dan menyikapi fenomena alam. Berkomunikasi dengan Kelud perlu dilakukan oleh masyarakat sekitarnya agar tidak menjadi korban keganasannya serta dapat memetik manfaat darinya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar