Mandela
dan Religiositas
Ignas Kleden ; Ketua Badan Pengurus
Komunitas Indonesia untuk Demokrasi
|
KOMPAS,
13 Januari 2014
|
RICHARD
Stengel yang membantu Nelson Mandela menulis otobiografinya, Long Walk to
Freedom, mengenang kembali persahabatannya dengan almarhum dalam laporan
utama Time Nomor 26, 2013.
Di antara berbagai catatannya, ada
pernyataan yang kiranya menarik perhatian pembaca. Dia menulis: ”Tidak sekali
pun saya mendengar dia (Mandela, IK) menyebut Tuhan, surga, atau sesuatu yang
berhubungan dengan akhirat. Nelson Mandela percaya akan keadilan dalam masa
hidupnya di dunia ini.”
Catatan itu dapat menimbulkan rasa
heran karena beberapa kebajikan dalam watak Mandela segera membawa asosiasi
kita kepada kehidupan asketis yang diajarkan dalam agama-agama. Keteguhan
hatinya dalam penjara, khususnya 18 tahun dalam sel 2 meter x 2 meter di
Robben Island, bekas tempat pembuangan penderita kusta, sikap tanpa putus
harapan dalam perjuangan amat panjang menentang diskriminasi, ketegarannya
menolak kompromi dan gratifikasi, kebesaran hatinya mengatasi dendam dan
memaafkan orang yang telah menghukumnya dengan sewenang-wenang—semua itu
merupakan kombinasi keyakinan dan kekuatan moral yang membuat seluruh dunia
tercengang.
Sebuah rahasia yang menjelaskan
daya tahannya menghadapi penderitaan dan tekanan ialah karena dia tak pernah
menyerahkan kemerdekaannya kepada mereka yang menahannya dalam penjara selama
27 tahun. Ini dilakukannya dengan dua cara. Pertama, dia yakin bahwa pihak
yang menjebloskannya ke dalam tahanan dapat merampas segala sesuatu yang ada
pada dirinya, kecuali pikiran dan hatinya.
Musuh-musuhnya tak dapat merampas
pikiran dan hatinya serta Mandela tak pernah menyerahkan pikiran dan hatinya
kepada mereka penghukumnya.
Kedua, dia berjuang keras
mengatasi rasa benci kepada mereka yang menganiayanya. Dia berpendapat, kalau
tetap membenci lawan-lawan politiknya, dia akan tetap tertawan sebagai
tahanan dalam dendam kesumatnya, sekalipun dia sudah bebas dari penjara.
Tentang rasa dendam ini, akhirnya dia berkata, ”I let it go.”
Mandela dilahirkan pada 1918 menjelang
akhir Perang Dunia I di Desa Mvezo, Distrik Umtata, ibu kota Transkei yang
terletak 550 mil di selatan Johannesburg. Ayahnya seorang ketua adat yang
diangkat Raja Thembu dengan restu Pemerintah Inggris dan punya empat istri.
Ibu Mandela adalah istri ketiga yang kemudian pindah ke Desa Qunu setelah
suaminya kehilangan jabatan karena membangkang kepada Pemerintah Inggris.
Pendidikan formal Mandela dari
sekolah dasar hingga ke pendidikan tinggi ia tempuh di lembaga pendidikan
yang didirikan dan dikelola misionaris Gereja Kristen Metodis dari Inggris.
Di Qunu dia masuk sekolah dasar dan berkenalan dengan pendidikan dan pengajaran
bergaya Inggris. Para murid mendapat nama Inggris dari guru kelas dan Mandela
diberi nama Nelson, yang diambil dari nama seorang kapten laut Inggris, Lord
Nelson. Nama ini kemudian lebih dikenal dari nama yang diperolehnya di desa
kelahirannya, yaitu Rolihlahla, sebuah idiom bahasa Xhosa yang berarti ’troublemaker’.
Dari Qunu dia dipindahkan ibunya
ke Mghekezweni, sebuah pusat misi Gereja Metodis, dengan penduduk yang
dididik dengan gaya hidup Inggris dalam berpakaian, tutur kata, dan kehidupan
agama. Mandela tinggal di rumah seorang regen, kenalan almarhum ayahnya, yang
mengatur tempat tinggalnya sebagai pejabat kelas menengah Afrika dengan
disiplin tinggi dalam Great Palace. Mandela meneruskan pendidikan dasarnya
bersama anak-anak regen dan di sinilah, khususnya di sekolah Clarkebury,
matanya terbuka kepada dunia Barat yang amat berbeda dengan Desa Qunu yang
menyimpan masa kecilnya dalam lingkungan serba idylis.
Pada usia 19 tahun, dia masuk
Sekolah Guru Healdtown di Fort Beaufort, sebuah pos Inggris paling luar di
abad ke-19, tempat orang putih berusaha merebut tanah penduduk dan harus
berhadapan dengan pejuang suku Xhosa yang gagah perkasa. Setelah melewati
konflik dan pertempuran selama lebih dari 100 tahun, orang-orang putih dapat
merebut seluruh tanah di Fort Beaufort, sementara pejuang Xhosa yang gugur
memperoleh kemasyhuran turun-temurun dengan riwayat yang didengar Mandela
dari penuturan orang-orang tua.
Selanjutnya pendidikan tinggi
setingkat universitas ia peroleh di Kolese Fort Hare, 20 mil sebelah timur
Healdtown, satu-satunya pendidikan tinggi untuk penduduk hitam di Afrika
Selatan. Dari sinilah, dari antara hanya 150 mahasiswa yang belajar di sana
lahir sarjana-sarjana Afrika Selatan dan Afrika Timur, yang menganggap Kolese
mereka Oxford dan Cambridge atau Harvard dan Yale di Afrika. Setelah lulus
mereka memperoleh gelar BA, yang memungkinkan mereka masuk ke dalam
lingkungan elite Afrika dengan kemungkinan kerja dan penghasilan sangat baik.
Di lembaga pendidikan ini yang didirikan misionaris Skotlandia pada 1916,
para pendidik kulit putih yakin, mereka dapat menghasilkan tamatan yang
menjadi the black Englishmen,
orang Inggris berkulit hitam.
Menolak diskriminasi
Barangkali itulah harapan umum
para penjajah di berbagai belahan dunia tatkala mereka memperkenalkan
pendidikan Barat modern di koloni mereka. Namun, kita tahu dari sejarah
pendidikan kolonial di Indonesia, harapan itu tak selalu terpenuhi karena
pengajaran yang mengarahkan cara berpikir yang benar, dan pendidikan yang
membentuk kepribadian yang etis, kemudian menghasilkan lulusan yang melihat
kepincangan dan ketakadilan dalam tiap proyek penjajah. Seperti Soekarno,
Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka di Indonesia, Nelson Mandela kemudian menetapkan
sikap politiknya: menolak diskriminasi dan apartheid di Afrika Selatan dan menegakkan
persamaan dan keadilan untuk semua penduduk.
Sejak pendidikan dasarnya di Qunu,
dia diajar bahasa Inggris, kebudayaan, dan pemikiran-pemikiran Inggris,
diperkenalkan dengan lembaga-lembaga Inggris, seakan-akan Afrika tak punya
sesuatu pun untuk dipelajari. Namun, dari ayahnya dia belajar sejak dini
sekali bahwa otoritas kolonial bisa melakukan kesalahan dan dapat dilawan
meski dengan berbagai risiko yang harus ditanggung. Di Fort Hare tempat dia
belajar antropologi, ilmu politik, administrasi pemerintahan lokal, dan
sistem hukum Romawi-Belanda, dia berkenalan dengan beberapa seniornya yang
dengan terus terang mengkritik kebijakan kolonial. Dikatakan bahwa pendidikan
Barat seakan-akan memberi penghidupan yang lebih baik kepada para lulusannya,
sementara itu semua yang berharga dari Afrika telah habis dirampas: hak-hak
dan tanah penduduk, kebudayaan dan nilai-nilai lokal, terutama sekali
kemerdekaan mereka. Ada kenyataan pahit dan keras yang harus dihadapi dan tak
selayaknya kaum intelek- tual menutup mata terhadap realitas itu.
Setelah ia bergabung dengan African National Congress (ANC),
perjuangan menentang diskiriminasi ini menjelma jadi tujuan hidupnya. Ia
mempersembahkan hidup matinya untuk cita-cita itu. Setelah pembantaian besar
di Sharpeville pada Maret 1960 tatkala polisi menembak mati 69 penduduk kulit
hitam, Mandela, yang banyak diilhami Gandhi dengan prinsip satyagrahanya,
berubah pikiran. Dia melihat satyagraha atau sikap tanpa kekerasan bukanlah
prinsip, melainkan suatu taktik. Dia teringat kearifan lokal sukunya, Sebatana ha se bokwe ka diatla: serangan
binatang buas tak dapat dihadapi dengan tangan kosong. Dia akhirnya
membentuk dan memimpin Spear of the
Nation, sayap bersenjata dalam ANC.
Dengan tuduhan melakukan komplotan
bersenjata, ia harus menghadapi pengadilan. Setelah membacakan pleidoinya
selama empat jam, Mandela menutup naskah pembelaannya dan berkata kepada
hakim: ”Saya telah mempersembahkan
seluruh hidup saya kepada perjuangan bangsa Afrika. Saya telah menjunjung
tinggi ideal suatu masyarakat demokratis yang bebas, tempat semua orang hidup
damai dan mempunyai kesempatan yang sama. Maka, bila perlu, Yang Mulia, saya
pun siap mati untuk ideal tersebut.”
Seperti pernyataan iman
Pidato itu terdengar seperti
pernyataan iman yang menandai perubahan besar dalam penjara. Yang ia ucapkan
bukanlah isapan jempol untuk gagah-gagahan seperti yang kerap kita dengar
dari politisi Indo- nesia sekarang, tapi suatu sumpah yang diwujudkan dengan
berbagai korban tak terperikan: 9 tahun dalam penjara Pretoria, 18 tahun
dalam penjara Robben Island, kehilangan istri dan anak, kehilangan
tahun-tahun paling produktif dalam hidupnya, sambil mengelola rasa benci dan
dendam sampai dapat mengatasinya. Pendirian politik Mandela berangsur-angsur
berubah menjadi suatu keyakinan religius dalam pertapaannya di sel penjara.
Para penulis biografinya tak habis
pikir: dari mana Mandela menimba kekuatan tak menyerah, tak membiarkan diri
hancur oleh benci dan dendam, dan sanggup mengatasi kegetiran nasibnya dengan
memaafkan mereka yang menghukumnya demikian lama? Hal ini biasanya terjadi
pada orang-orang yang hidup dengan keyakinan agama yang teguh dan tak
tergoyahkan.
Namun, Mandela tak dikenal sebagai
anggota suatu denominasi meski seluruh pendidikannya berada di bawah
bimbingan dan pengaruh Gereja Kristen Metodis. Sebagai anggota suku Xhosa, ia
hidup sedari kecil dibimbing tiga hal: adat-istiadat, ritual, dan tabu.
Bayangan dan keinginannya setelah mati bukan surga dalam pengertian agama,
melainkan perjumpaan kembali dengan para leluhurnya.
Sangat mungkin prinsip hidup suku
Xhosa itulah yang ia terjemahkan menjadi prinsip negara modern: persamaan dan
keadilan adalah adat-istiadat manusia; demokrasi adalah ritual yang suci; sementara
pelanggaran HAM tabu yang tak boleh diabaikan apabila orang tak mau
mengundang datang kutukan. Atas cara ini Mandela sengaja atau tidak telah
mengubah pendirian politiknya menjadi keyakinan religius. Kemerdekaan politik
Afrika Selatan meluas menjadi cita-cita keselamatan bagi semua manusia.
Bagi seluruh dunia, ini jadi
pelajaran: orang tak sepantasnya memakai agama untuk tujuan politik praktis
atau doyan mengutip ayat suci untuk menyembunyikan kebobrokan moral
politiknya. Religiositas ala Mandela telah menyebabkan dia sanggup memerintah
bukan dengan kekuasaan yang berasal dari jabatan formal, tetapi dengan suatu
otoritas moral yang lahir dari religiositas mendalam. Kepada Bartholomaeus
Grill, wartawan majalah Jerman Der Spiegel, ia berkata, ”Saya makin mendekati akhir hidupku. Saya
ingin tidur selama-lamanya dengan sebuah senyum di wajahku.”
Sekarang ini setelah wafat pada 5
Desember 2013, Mandela tidur selama-lamanya di desa kelahirannya, Mvezo yang
amat terpencil, dan dari tempat leluhurnya ia mungkin memberi senyum abadi
pada semua orang di bumi yang ia cintai, kawan ataupun lawan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar