Kamis, 08 Agustus 2013

Refleksi Idul Fitri untuk Membangun Peradaban Islam Berkemajuan

Refleksi Idul Fitri
untuk Membangun Peradaban Islam Berkemajuan
Marpuji Ali ;  Dosen Fakultas Agama Islam UMS
KORAN SINDO, 07 Agustus 2013

Allahuakbar, Allahuakbar, walillahilhamdu. Hari Raya Idul Fitri 1434 H telah datang. Umat Islam di seluruh penjuru dunia, dari yang tinggal di sudut-sudut kota megapolitan sampai yang tinggal di pelosok perkampungan, merayakannya dalam luapan kebahagiaan. 

Rona kebahagiaan itu terpancar sebagai cerminan dari kesucian jiwa/diri yang merupakan buah dari kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu saat menjalankan puasaRamadansebulanlamanya. Kesucian yang diperoleh setiap individu beriman melalui puasa ini bisa menjadi modal awal untuk mendisiplinkan masyarakat dalam kerangka membangun bangsa. 

Nilai-nilai yang dijalankan selama berpuasa, jika diimplementasikan pada prilaku kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu bisa menjadi modal dan pembuka pintu gerbang peradaban Islam yang berkemajuan. Namun, kebahagiaan yang dirasakan di hari fitri tersebut tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh sebagian umat Islam, karena mereka sedang dirundung berbagai permasalahan. 

Mereka yang sedang berada di pengungsian karena bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, yang mengakibatkan kerugian harta benda dan bahkan merenggut jiwa. Juga terhadap mereka yang kini sedang menjalani masa binaan dalam lembaga pemasyarakatan (di penjara), baik berdasarkan keputusan pengadilan yang berkeadilan, ataupun karena difitnah. 

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan iman dan kesabaran kepada mereka, dan segera mendapatkan jalan keluar dari penderitaan tersebut, amin. Bulan Ramadan 1434 H baru saja usai. Suatu bulan yang di dalamnya dipenuhi rahmat, berkah, maghfirah,dan pahalayang berlimpah. Rangkaian ibadah puasa, amalan-amalan sunah lain, ditutup dengan zakatul fitri dan salat idul fitri telah paripurna. 

Dengan berpuasa, jiwa terasa semakin kokoh, iman dan takwa semakin dalam, dan hati semakindekatkepada AllahSWT Semoga seluruh amal ibadah tersebut diterima Allah, sekaligus sebagai wahana menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan. Pada titik inilah hakikat makna ”shiyam” dan “idul fitri” mampu menjadi energi untuk membangun peradaban islami yang lebih baik dan maju. Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sarat dengan semangat beramal untuk membangun. 

Pembangunan islami adalah pembangunan yang bercirikan peningkatan kualitas kehidupan manusia, sebagaimana disimbolkan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah itu memberi teladan untuk berupaya terus-menerus meninggalkan kehidupan jahiliyah (tidak beradab), menuju masyarakat madani sebagai simbol keberhasilan membangun peradaban Islam yang berkemajuan. 

Karenanya, bagi umat Islam semangat membangun peradaban Islam harus ditegakkan di sepanjang masa. Adapun karakteristik peradaban Islam berkemajuan dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, akhlaqul karimah (keluhuran moral) sebagai basis utama. Bangunan peradaban Islam berkemajuan hanya bisa ditegakkan oleh para pemimpin yang memiliki akhlaqul karimah. 

Pemimpin demikian tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses demokrasi/ pemilihan umum di mana semua umat Islam terlibat dalam proses pemilihannya. Namun, justru di titik inilah umat Islam menghadapi persoalan sangat mendasar, yaitu sulitnya mencari pemimpin yang berakhlak mulia, maka sudah pada tempatnya kalau proses pembangunan peradaban Islam menghadapi tantangan yang sangat serius. Sebagaimana peringatan Allah SWT dalam Alquran, 

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS 17:16) Kedua, penguasaan ilmu sebagai dinamisator. Ilmu dan teknologi merupakan energi yang menggerakkan peradaban. 

Tingkat penguasaan ilmu dan teknologi menjadi pembeda kemajuan suatu bangsa. Penguasaan ilmu membuka jalan lurus, yakni terbentuknya masyarakat produktif dan proses terbangunnya suatu peradaban. Secara normatif Islam mendorong umatnya untuk membaca, berpikir, merenungkan ciptaan-Nya, danmerefleksikan apa yang dilakukan. Namun, secara sosiologis situasi umat Islam masih jauh dari idealitas ajaran-Nya. 

Kondisi ini harus memacu umat Islam untuk belajar lebih keras lagi dan menata lembaga pendidikan lebih bersungguh-sungguh, sehingga idealitas ajaran Islam benarbenar bisa dibumikan, dalam rangka melahirkan insan cendekia yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 

Dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS2: 269) Ketiga, menjaga harmoni dengan alam. Ajaran Islam mendorong untuk mendayagunakan dan mengeksplorasi alam seluas-luasnya, namun dengan catatan bahwa cara yang dilakukan tidak boleh meninggalkan jejak kerusakan. 

Pengertian alam bukan hanya terkait alam kebendaan dan binatang, tetapi juga alam (atau hubungan dengan sesama) manusia, sebagaimana Allah mengisyaratkan dalam Alquran: “Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. 

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orangorang yang beriman.” (QS 7: 85) Keempat, mewadahi berbagai kelompok lintas ras dan etnik. Bumi ini diperuntukkan untuk semua bangsa dengan beragam etnis, ras, bahkan agama. Hal ini mengandung makna bahwa variasi dan perbedaan itu menjadi keniscayaan dan semua itu agar menggerakkan umat manusia (Islam) untuk saling mengenal, bertukar pikiran, saling belajar, dan bekerja sama membangun bumi ini dengan membangun peradaban yang maju. 

Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenalmengenal. Seungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” ” (QS 49: 13)
Apabila keempat karakteristik di atas dapat terbangun dengan baik, proses pembangunan peradaban Islam berkemajuan akan dapat berjalan dengan lancar, sehingga peran dan kehadiran umat Islam akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sebagaimana firman Allah dalam Alquran, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orangorang yang fasik.” (QS 3: 110)

Dengan demikian, Idul Fitri tahun ini harus menjadi tonggak pembangunan peradaban Islam berkemajuan, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan dapat memberi harapan. Secara formal, tonggak pembangunan peradaban Islam berkemajuan telah dicanangkan sejak diproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia 68 tahun yang lalu. 

Sebagai penghuni mayoritas penduduk di negeri sendiri, umat Islam tidak boleh berpangku tangan menunggu datangnya pertolongan dari langit. Sikap terbaik bagi seorang muslim adalah melakukan usaha-usaha nyata dengan sikap ta’awun, atau kerjasama sebaik- baiknya dalam rangka meraih kebajikan yang dicita-citakan bersama. Karena itu, umat Islam Indonesia harus tetap kritis terhadap perkembangan pembangunan di negeri tercinta ini. 

Kebenaran harus ditegakkan, begitu pula kekeliruan harus diluruskan. Dengan catatan, sikap kritis harus tulus dan ikhlas, sehingga dapat terjaga dari sekedar semangat menjatuhkan yang tidak ada manfaatnya, begitu pula bukan sekedar alat mencari-cari kesalahan demi popularitas sesaat. 

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada para pemimpin bangsa Indonesia, dan melimpahkan rahmat dan barakah kepada seluruh rakyat Indonesia yang sudah cukup lama merindukan kedamaian, keadilan, kesejahteraan yang dicita- citakannya, amin. Nashrun minallah wafathun qariib. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar