Minggu, 11 Agustus 2013

Pikir Dahulu Pendapatan, Sesal Kemudian Tak Berguna

Pikir Dahulu Pendapatan,
Sesal Kemudian Tak Berguna
Sarlito Wirawan Sarwono ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 11 Agustus 2013



Itulah salah satu pepatah yang harus saya hafalkan (dan sampai sekarang masih hafal) ketika saya masih SMP (sekolah menengah pertama). Maksudnya sebelum melakukan sesuatu pikir dulu baik-baik akibat yang bisa ditimbulkan dari perbuatan itu. 

Sebab penyesalan selalu datang terlambat, keadaan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Dalam KORAN SINDO beberapa hari yang lalu diberitakan baru hari kedua mudik Lebaran sudah 60 pengendara motor pemudik tewas. 

Padahal sudah kurang apa lagi peringatan, imbauan, bahkan ancaman hukuman yang diberikan pemerintah untuk mencegah mudik naik sepeda motor. Bukan itu saja, pemerintah dan semua aparatnya bahkan sudah berusaha menyelenggarakan angkutan alternatif, mulai dari kereta api, sampai kapal laut. Tetapi tetap saja masih kelewat banyak yang nekat. 

Alasannya macam-macam seperti, “Tahun-tahun yang lalu saya sekeluarga juga naik motor, tidak apaapa, kok”, atau “Naik motor paling murah, praktis, enggak usah berjejal antre tiket”, atau “Naik motor senang, kok. Rame-rame sama teman atau keluarga, santai”. Alasan-alasan yang mereka berikan itu tentu saja didasarkan atas hasil berpikir, tetapi berpikir yang keliru, yang dalam ilmu logika dinamakan sesat pikir.

Salah satu sesat pikir yang paling sering dilakukan orang adalah generalisasi. Generalisasi adalah menganggap suatu kebenaran untuk ihwal yang khusus (“Partikular” atau biasa disingkat P) berlaku untuk kebenaran umum (“Universal” atau U). Jadi jika P benar, U benar. Jika beberapa kali saya mudik naik sepeda motor selamat, kapan pun saya mudik naik sepeda motor akan selamat. 

Cara berpikir seperti ini salah dan sangat berbahaya karena nyatanya baru dua hari arus mudik Lebaran sudah 60 orang yang tewas dan bisa jadi suatu saat Anda akan jadi korban berikutnya. Dalil yang berlaku dalam ilmu logika adalah kalau U benar, sudah pasti P pun benar. Tetapi kalau P benar, belum tentu U benar. Setiap manusia pasti mati (U benar), saya, kamu, dia pun pasti mati (P juga benar). 

Tetapi, si Ali yang pakai anting adalah pencandu narkoba (P benar), tidak berarti semua yang pakai anting adalah pencandu narkoba. Sesat pikir seperti inilah yang menimbulkan prasangka atau stereotip seperti semua orang Padang pelit, semua Jawa lelet, semua pribumi pemalas, atau laki-laki selalu lebih pintar daripada perempuan, dan sebagainya. Baru-baru ini sebuah wihara di daerah Kebon Jeruk dibom. 

Melihat gelagatnya, pembomnya bukan sekelas Imam Samudra, melainkan sesat pikirnya sama. Imam Samudra berpikir umat Islam diperlakukan tidak adil oleh pemerintah (generalisasi) sehingga negeri ini dibom saja supaya pemerintahnya diganti dengan pemerintah syariah. Sedangkan pembom wihara berpikir muslim Myanmar dizalimi oleh pemerintah yang Buddhis sehingga Buddhis itu zalim (generalisasi). Wihara tempat ibadah Buddhis sehingga layak untuk dibom. 

Tetapi, bukan hanya orang Indonesia yang sering sesat pikir. Orang Amerika juga sering melakukan generalisasi yang salah. Sesudah peristiwa 11 September 2001 (sering disebut 911) semua muslim langsung dianggap teroris. Afghanistan dan Irak diserbu walaupun tidak jelas hubungannya dengan 911. Orang Indonesia yang namanya kebetulan berbau muslim langsung dipersulit dan diperiksa superketat oleh imigrasi di setiap bandara AS, bahkan ada yang sejak di Indonesia tidak diberi visa, padahal sudah diterima untuk kuliah di AS. 

Lebih celaka lagi, anggotaanggota militer AS sendiri pun dicurigai. Salah satunya Kapten James Jusuf Yee, seorang rohaniwan Islam militer (disebut “Chaplain” baik yang Kristen maupun Islam), lulusan Akademi Militer “West Point”, terakhir bertugas di Guantanamo, yang ditahan dan diinterogasi ketika ia akan cuti, hanya karena dia muslim.

Dalam psikologi sesat pikir adalah manusiawi yaitu ada pada setiap diri manusia. Pribumi atau nonpribumi, Obama atau Osama, laki-laki atau perempuan, ayah atau ibu, saya, kamu, atau dia. Seringkali sesat pikir itu tidak kita sadari. Seorang ibu memaksa anaknya yang baru kelas 1 SD (sekolah dasar) untukbelajarmatematika, bahkan sampai mencubitinya, sampai anak itu menangis-nangis karena ibu itu pikir kalau anaknya tidak bisa matematika, mau jadi apa anak itu nanti? 

Ibu itu lupa bahwa dia sendiri pun tidak pandai matematika, tetapi bisa menjadi ibu rumah tangga yang sukses karena bersuamikan pengusaha yang sukses. Walaupun demikian, “pikir dulu pendapatan” tetap perlu dilakukan. Agar efektif dan mengurangi sesat pikir kita tidak hanya perlu berpikir, tetapi juga berpikir kritis, termasuk kritis terhadap pemikiran sendiri. Ujilah hasil pemikiran kita dengan fakta di lapangan. 

Ubahlah hasil pemikiran kita kalau tidak sesuai fakta. Seperti orang Barat yang berabad-abad yakin bahwa semua angsa itu putih mengubah keyakinannya setelah ditemukan angsa berwarna hitam di benua Australia. Jadi tidak ada salahnya, pemudik mengubah keyakinannya setelah membaca berita bahwa dalam dua hari mudik sudah 60 pemudik motor tewas. 

Namun, sebelum kita sadar bahwa kita salah pasti kita sendiri tidak tahu bahwa kita bersesat pikir terhadap orang-orang di sekitar kita. Untuk itulah, perlu saling memaafkan, sebuah tradisi yang baik, yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita di Indonesia ini, yang justru tidak ada dalam Alquran dan Hadits. 

Sebagian muslim menyatakan bahwa tradisi bermaaf-maafan adalah bidah, tetapi ada juga yang justru membuatnya lebih sering yaitu bermaaf-maafan menjelang Ramadan, menjelang Idul Adha, atau kalau mau naik haji. Tidak apa-apa sepanjang bermaaf-maafannya datang dari hati yang fitri. Selamat Idul Fitri 1434 H. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar