Kamis, 15 Agustus 2013

Perempuan dan Pendidikan

Perempuan dan Pendidikan
Masyitoh Chusnan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta
MEDIA INDONESIA, 13 Agustus 2013

KAJIAN tentang perempuan, atau muslimah khususnya, tidak jarang dihadapkan secara vis a vis dengan laki-laki. Posisinya dengan laki-laki bisa kooperatif dan tidak jarang pula kontradiktif. Situasi itu memunculkan wacana kemitrasejajaran perempuan di tengah-tengah dominasi kaum pria. Kemitrasejajaran itu meliputi ruang domestik dan publik. Namun, tuntutan itu tidak jarang dikatakan sebagai perlawanan perempuan terhadap kodratnya.

Maraknya diskusi tentang peran perempuan itu memunculkan satu bidang kajian yang dikenal dengan kajian feminisme. Namun, feminisme secara substantif bukan saja sebuah wacana, melainkan juga pergerakan kaum perempuan. Di Indonesia tidak sedikit perempuan muslim yang memelopori pergerakan sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Di era kolonialisme Indonesia mengenal sosok Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, RA Kartini, dan sebagainya, seba gai pejuang serta pahlawan bangsa. Peran besar tokohtokoh perempuan muslim tersebut menjadikan mereka tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pembangun peradaban budaya, pendidikan, dan sosial.

Kemajuan peradaban tidak mungkin terwujud tanpa landasan kukuh pendidikan. Lalu, bagaimanakah peran perempuan dalam pendidikan di Indonesia?

Banyak peranan

Salah satu hak kemanusiaan ialah menuntut ilmu. Demikian juga perempuan bebas dalam menuntut ilmu. Ibrahim Amini mengungkapkan dalam bukunya, Bangga Menjadi Muslimah, bahwa apabila perempuan tidak bersuami bisa mencari ilmu dan tidak seorang pun yang dapat mencegahnya untuk belajar. Namun, apabila ia menikah untuk melanjutkan pendidikan, dia harus bermusyawarah dan saling memahami dengan suaminya.

Pentingnya pendidikan bagi perempuan muslim tidak terlepas dari perannya yang sangat sentral dalam pendidikan anak-anaknya kelak. Artinya, perempuan muslim merupakan figur inti bagi pendidikan dalam ranah domestik-rumah tangganya, karena perempuan ialah sebagai ratu di rumah tangga suaminya, dan dia kelak akan ditanya tentang pertanggungjawabannya.

Perempuan merupakan ujung tombak pendidikan keluarga dan masyarakat dalam rangka mengangkat harkat dan martabat bangsa. Peran itu dimulai dari peran perempuan yang pertama dan utama ialah perannya sebagai ummun, yaitu ibu yang melahirkan, menyusui, membesarkan, mendidik, dan mengawasi pertumbuhan putra-putrinya sehingga kelak menjadi harapan bangsa dan negara. Apabila kita kaji kembali sejarah Islam baik di bidang politik, pertahanan negara, pendidikan, dan lainlain, kita akan melihat banyak perempuan teladan yang memiliki andil besar dalam perjuangan dan dakwah Islam.

Di zaman Rasulullah SAW, seorang perempuan muslim bernama Khansa' dikenal dengan andilnya yang cukup besar dalam mendidik anak anaknya, dengan memotivasi dan mempersiapkan mental mereka, dan mengirim mereka ke medan perang. Khansa' ialah seorang penyair terkemuka pada masa jahiliah, kemudian ia memeluk Islam dan menjadi penyair terkenal.

Banyak perempuan muslim lain dalam Islam yang memiliki peran strategis dalam me lakukan transformasi sosial di lingkungan mereka. Lemahnya pendidikan bagi perempuan muslim akan berpengaruh besar pada lemahnya umat Islam dalam berbagai aspek baik dari aspek sosial, politik, hukum, pendidikan, dan sebagainya.

Peran perempuan muslim yang demikian besar itu telah dicatat sejarah. Dengan ini bisa dikatakan bahwa emansipasi sudah berjalan dalam Islam sejak lama.

Di Indonesia terdapat tokohtokoh perempuan di dunia pendidikan. Sebut saja Rahmah El Yunusiyah. Ia merupakan pendiri sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang, Sumatra Barat, yang didirikannya pada 1923. Salah satu muridnya, bernama Rasuna Said--pejuang kemerdekaan perempuan yang namanya diabadikan sebagai jalan protokol di Jakarta.

Hal yang menarik, ternyata lembaga pendidikan Al-Azhar di Kairo Mesir, yang didirikan 972, sampai 1957 belum memiliki program untuk perempuan. Kemudian Syekh Abdurrahman, pemimpin Al-Azhar, datang ke Padang Panjang 1955 untuk melihat Diniyah Putri. Ia lalu mengundang Rahmah El Yunusiyah ke Mesir untuk mengembangkan kurikulum dan model pendidikan bagi pelajar putri Al-Azhar Mesir. Kemudian Rahmah diberi gelar syaikhoh, gelar pertama untuk perempuan di dunia Islam, datang dari Indonesia.

Kedua, kita mengenal sosok RA Kartini. Ia merupakan sosok kuat yang mampu melampaui zamannya. Ia membuka mata dunia kalau perempuan juga tidak menjadi halangan menjadi orang terdidik, dan dapat berbuat untuk dunia pendidikan, khususnya bagi kaumnya. Namun, berbagai halangan menghadangnya dan ia berusia pendek sehingga kemauan keras untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya hanya dapat dilanjutkan penerusnya, para perempuan Indonesia. Kartini telah dapat menjadi tolok ukur untuk perempuan modern pada zaman sekarang.

Tolok ukur

Kita dapat lihat siapa perempuan di balik proklamator bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Merekalah perempuanperempuan istimewa yang menjadi sentral dalam menentukan keberhasilan suatu bangsa. Perannya sangat berarti. Kiprahnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Benarlah Sabda Nabi SAW, 
“Perempuan menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa.“

Peran perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan juga dapat dilihat dari kiprah di dunia pendidikan tinggi. Di samping sebagai pemimpin/ manajemen, direktur, rektor, ketua, dan jajaran jabatan lainnya, mereka juga dilihat dari sisi anak didik perempuan yang mengenyam pendidikan. Dapat dilihat Akademi Kebidanan, Akademi Keperawatan, Stikes, dan lain sebagainya dimonopoli kaum perempuan. Lembaga pendidikan itu cukup banyak di Indonesia.

Istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA, merupakan salah seorang yang punya pengetahuan sangat dalam serta termasyhur sebagai seorang kritikus. Sampai-sampai ada ungkapan terkenal yang dinisbahkan sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad SAW, “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira (yakni Aisyah).“

Demikian juga As-Sayyidah Sakinah, putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian, AlSyaikhah Syuhrah yang bergelar `Fakhr Al-Nisa' (kebanggaan perempuan), merupakan salah seorang guru Imam Syafi'i, tokoh mazhab yang pandangan-pandangannya menjadi anutan banyak umat Islam di seluruh dunia. Masih banyak lagi yang lainnya. Beberapa perempuan juga mempunyai kedudukan ilmiah yang sangat terhormat, misalnya Al-Khansa', dan seorang sufi, Rabi'ah Al-Adawiyah.


Rasulullah SAW tidak membatasi kewajiban belajar hanya kepada perempuan-perempuan merdeka (yang memiliki status sosial tinggi), tetapi juga para budak belian dan mereka yang bersatus sosial rendah. Karena itu, sejarah mencatat sekian banyak perempuan yang tadinya merupakan seorang budak mencapai tingkat pendidikan yang sangat tinggi. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar