|
KAJIAN tentang perempuan, atau muslimah khususnya, tidak
jarang dihadapkan secara vis a vis dengan laki-laki. Posisinya dengan laki-laki
bisa kooperatif dan tidak jarang pula kontradiktif. Situasi itu memunculkan
wacana kemitrasejajaran perempuan di tengah-tengah dominasi kaum pria.
Kemitrasejajaran itu meliputi ruang domestik dan publik. Namun, tuntutan itu
tidak jarang dikatakan sebagai perlawanan perempuan terhadap kodratnya.
Maraknya
diskusi tentang peran perempuan itu memunculkan satu bidang kajian yang dikenal
dengan kajian feminisme. Namun, feminisme secara substantif bukan saja sebuah
wacana, melainkan juga pergerakan kaum perempuan. Di Indonesia tidak sedikit
perempuan muslim yang memelopori pergerakan sosial, pendidikan, dan lain
sebagainya. Di era kolonialisme Indonesia mengenal sosok Cut Nyak Dien, Dewi
Sartika, RA Kartini, dan sebagainya, seba gai pejuang serta pahlawan bangsa.
Peran besar tokohtokoh perempuan muslim tersebut menjadikan mereka tercatat
dalam sejarah sebagai perempuan pembangun peradaban budaya, pendidikan, dan
sosial.
Kemajuan
peradaban tidak mungkin terwujud tanpa landasan kukuh pendidikan. Lalu,
bagaimanakah peran perempuan dalam pendidikan di Indonesia?
Banyak peranan
Salah
satu hak kemanusiaan ialah menuntut ilmu. Demikian juga perempuan bebas dalam
menuntut ilmu. Ibrahim Amini mengungkapkan dalam bukunya, Bangga Menjadi
Muslimah, bahwa apabila perempuan tidak bersuami bisa mencari ilmu dan tidak
seorang pun yang dapat mencegahnya untuk belajar. Namun, apabila ia menikah
untuk melanjutkan pendidikan, dia harus bermusyawarah dan saling memahami
dengan suaminya.
Pentingnya
pendidikan bagi perempuan muslim tidak terlepas dari perannya yang sangat
sentral dalam pendidikan anak-anaknya kelak. Artinya, perempuan muslim merupakan
figur inti bagi pendidikan dalam ranah domestik-rumah tangganya, karena
perempuan ialah sebagai ratu di rumah tangga suaminya, dan dia kelak akan
ditanya tentang pertanggungjawabannya.
Perempuan
merupakan ujung tombak pendidikan keluarga dan masyarakat dalam rangka
mengangkat harkat dan martabat bangsa. Peran itu dimulai dari peran perempuan
yang pertama dan utama ialah perannya sebagai ummun, yaitu ibu yang melahirkan,
menyusui, membesarkan, mendidik, dan mengawasi pertumbuhan putra-putrinya
sehingga kelak menjadi harapan bangsa dan negara. Apabila kita kaji kembali sejarah
Islam baik di bidang politik, pertahanan negara, pendidikan, dan lainlain, kita
akan melihat banyak perempuan teladan yang memiliki andil besar dalam
perjuangan dan dakwah Islam.
Di
zaman Rasulullah SAW, seorang perempuan muslim bernama Khansa' dikenal dengan
andilnya yang cukup besar dalam mendidik anak anaknya, dengan memotivasi dan
mempersiapkan mental mereka, dan mengirim mereka ke medan perang. Khansa' ialah
seorang penyair terkemuka pada masa jahiliah, kemudian ia memeluk Islam dan
menjadi penyair terkenal.
Banyak
perempuan muslim lain dalam Islam yang memiliki peran strategis dalam me
lakukan transformasi sosial di lingkungan mereka. Lemahnya pendidikan bagi
perempuan muslim akan berpengaruh besar pada lemahnya umat Islam dalam berbagai
aspek baik dari aspek sosial, politik, hukum, pendidikan, dan sebagainya.
Peran
perempuan muslim yang demikian besar itu telah dicatat sejarah. Dengan ini bisa
dikatakan bahwa emansipasi sudah berjalan dalam Islam sejak lama.
Di
Indonesia terdapat tokohtokoh perempuan di dunia pendidikan. Sebut saja Rahmah
El Yunusiyah. Ia merupakan pendiri sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang,
Sumatra Barat, yang didirikannya pada 1923. Salah satu muridnya, bernama Rasuna
Said--pejuang kemerdekaan perempuan yang namanya diabadikan sebagai jalan
protokol di Jakarta.
Hal
yang menarik, ternyata lembaga pendidikan Al-Azhar di Kairo Mesir, yang
didirikan 972, sampai 1957 belum memiliki program untuk perempuan. Kemudian
Syekh Abdurrahman, pemimpin Al-Azhar, datang ke Padang Panjang 1955 untuk
melihat Diniyah Putri. Ia lalu mengundang Rahmah El Yunusiyah ke Mesir untuk
mengembangkan kurikulum dan model pendidikan bagi pelajar putri Al-Azhar Mesir.
Kemudian Rahmah diberi gelar syaikhoh, gelar pertama untuk perempuan di dunia
Islam, datang dari Indonesia.
Kedua,
kita mengenal sosok RA Kartini. Ia merupakan sosok kuat yang mampu melampaui
zamannya. Ia membuka mata dunia kalau perempuan juga tidak menjadi halangan
menjadi orang terdidik, dan dapat berbuat untuk dunia pendidikan, khususnya
bagi kaumnya. Namun, berbagai halangan menghadangnya dan ia berusia pendek
sehingga kemauan keras untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya hanya
dapat dilanjutkan penerusnya, para perempuan Indonesia. Kartini telah dapat
menjadi tolok ukur untuk perempuan modern pada zaman sekarang.
Tolok ukur
Kita
dapat lihat siapa perempuan di balik proklamator bangsa Indonesia Soekarno-Hatta.
Merekalah perempuanperempuan istimewa yang menjadi sentral dalam menentukan
keberhasilan suatu bangsa. Perannya sangat berarti. Kiprahnya tidak bisa
dipandang sebelah mata. Benarlah Sabda Nabi SAW,
“Perempuan menjadi tolok ukur
kemajuan suatu bangsa.“
Peran
perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan juga dapat dilihat dari kiprah di
dunia pendidikan tinggi. Di samping sebagai pemimpin/ manajemen, direktur,
rektor, ketua, dan jajaran jabatan lainnya, mereka juga dilihat dari sisi anak
didik perempuan yang mengenyam pendidikan. Dapat dilihat Akademi Kebidanan,
Akademi Keperawatan, Stikes, dan lain sebagainya dimonopoli kaum perempuan.
Lembaga pendidikan itu cukup banyak di Indonesia.
Istri
Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA, merupakan salah seorang yang punya pengetahuan
sangat dalam serta termasyhur sebagai seorang kritikus. Sampai-sampai ada
ungkapan terkenal yang dinisbahkan sementara ulama sebagai pernyataan Nabi
Muhammad SAW, “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira
(yakni Aisyah).“
Demikian
juga As-Sayyidah Sakinah, putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian,
AlSyaikhah Syuhrah yang bergelar `Fakhr Al-Nisa' (kebanggaan perempuan),
merupakan salah seorang guru Imam Syafi'i, tokoh mazhab yang
pandangan-pandangannya menjadi anutan banyak umat Islam di seluruh dunia. Masih
banyak lagi yang lainnya. Beberapa perempuan juga mempunyai kedudukan ilmiah
yang sangat terhormat, misalnya Al-Khansa', dan seorang sufi, Rabi'ah
Al-Adawiyah.
Rasulullah
SAW tidak membatasi kewajiban belajar hanya kepada perempuan-perempuan merdeka
(yang memiliki status sosial tinggi), tetapi juga para budak belian dan mereka
yang bersatus sosial rendah. Karena itu, sejarah mencatat sekian banyak
perempuan yang tadinya merupakan seorang budak mencapai tingkat pendidikan yang
sangat tinggi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar