Sabtu, 10 Agustus 2013

Idul Fitri di Tengah Alienasi

Idul Fitri di Tengah Alienasi
Maksun ;  Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo Semarang,
S2 Hukum Islam, Sedang menempuh S3
KORAN JAKARTA, 07 Agustus 2013


Saat itulah berlaku makna simbolik Idul Fitri, yakni kembalinya orang kepada fitrah kemanusiaan. Inilah sosok yang (kembali) dekat kepada Tuhan sebagai eksistensi yang suci, bermoral, bertakwa, dan tidak lagi teralienasi dari nilai-nilai spiritual.

Kelahiran kembali umat Islam dalam bentuknya yang suci ('id al-fitr) atau hari kemenangan (yaum al-fath) kali ini menimbulkan banyak renungan dan tanda-tanda, antara lain Idul Fitri dirayakan di tengah kecenderungan lapisan atau kelompok sosial tertentu berada dalam situasi keterasingan atau alienasi.

Alienasi yang dicirikan masyarakat serba boleh (permissive society) digambarkan Roderic C Meredith sebagai curse of western society. Permissive society, menurut Roderic, tidak mengakui adanya kebenaran abadi (eternal truth). Sebab, ia didoktrin oleh psikologi permisif yang mengajarkan, "There is no eternal truth. There can be fixed by which we can judge any issue. No way knowing what is right or wrong and certainly. No God to look for guidance."

Secara historis, kecenderungan semacam itu memang pernah terjadi dalam masyarakat Arab pra-Islam. Namun, kini hadir kembali dalam sejarah masyarakat modern yang menganut paham permisivisme, ultraliberal, dan semacamnya, yang teralienasi dari nilai spiritualitas religius, tak terkecuali bangsa Indonesia, yang mayoritas muslim.

Betapa tidak, meski bangsa telah masuk orbit reformasi, ironisnya, kini masyarakat justru berada dalam kekuasaan para elite politik. Bahkan, ulama dan intelektual dari negeri seribu etnis ini hanya sibuk berebut kekayaan dan kue-kue kekuasaan dengan cara-cara tribal.

Kasus suap dan korupsi yang kian menggurita di semua lini kehidupan adalah bukti konkret bahwa moralitas politik dan ekonomi, bahkan moralitas keagamaan, kini hanya sebatas komoditas politik dan ekonomi. Semua hanya indah dan manis di bibir, tapi diragukan berfungsi mengontrol perilaku mereka. Nafsu dan syahwat kekuasaan, yang mestinya menjadi energi utama demi mewujudkan kesejahteraan rakyat, dibelokkan hanya untuk tujuan kemewahan kekuasaan.

Ada satu yang kiranya dapat berperan meluruskan kembali yang melenceng, memelihara, dan meningkatkan moralitas individu, masyarakat, serta bangsa disebut agama. Idul Fitri kali ini mestinya menjadi momentumnya.

Secara substansial, misi utama setiap agama dengan kitab sucinya mau mempertemukan kehendak dan kasih Tuhan di satu sisi dengan kehendak dan perjalanan manusia di sisi lain. Demikian juga agama Islam dan syariat yang dibawa Nabi SAW, termasuk di dalamnya ibadah puasa yang sangat pribadi itu, sejatinya untuk menyadarkan umat Islam agar mampu melihat realitas lain yang lebih tinggi dan hakiki, yaitu realitas ilahi yang selalu hadir (omnipresent).

Positivis

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah memperpendek jarak suatu negara dengan negara lain, planet yang satu dengan planet lain. Namun, itu tidak menjamin eratnya persahabatan di antara sesama manusia.

Dia juga tidak berarti bahwa pengalaman dan perjalanan spiritualnya semakin mendalam. Dengan kata lain, semakin jauh pengembaraan manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, bila tanpa visi keilahian, akan tetap terkungkung dan hanya melingkar-lingkar dalam orbit bumi yang selalu dihadapkan pada jalan buntu dalam upaya meraih pengetahuan.

Pada saat yang sama, karena terlalu mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia jatuh ke dalam alienasi dari nilai spiritualitas. Lebih jauh lagi, mereka bisa terjerumus ke menjadi positivis. Pandangan dunia yang dibangun di atas premis positivis empiris akan berimplikasi pada penolakan realitas yang berada di luar jangkauan indera dan rasio.

Dalam konteks inilah, visi dan kesadaran spiritualitas yang dibangun melalui ibadah puasa menjadi sangat urgen. Dia diyakini akan mampu menembus kabut kegelapan yang menghalangi pandangan nurani karena inti spiritualitas terletak pada wilayah batin (inner life). Maka, sangat relevan jika dimensi spiritualitas mampu hadir dalam proses transformasi sosial, yang wilayah operasionalnya terletak pada tataran struktural atau titik beratnya pada dimensi praksis dari perilaku seseorang dalam jaringan-jaringan institusi warga.

Dalam perspektif Islam, kesadaran spiritualitas berimpit erat dengan kesadaran manusia. Artinya, semakin tinggi kesadaran keberagamaan seseorang, semestinya semakin tinggi pula kualitas kemanusiaannya, dalam kondisi dan situasi apa pun. Ini berarti, nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika perilaku lahir batin berorientasi kepada Tuhan. Dalam waktu bersamaan, dia juga membawa implikasi konkret terhadap upaya meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan. Pendeknya, manusia tidak bisa dipahami tanpa keterkaitannya dengan Tuhan dan manusia lainnya dalam kehidupan sosial.

Kiranya benar ungkapan Imam al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya' Ulumuddin bahwa, "Manusia yang tidak diterangi cahaya ilahi bagaikan orang yang berjalan di atas lorong gelap. Orang yang sekadar percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menumbuhkan sifat-sifat atau nilai-nilai spiritual di dalam dirinya, dia bagaikan iblis yang gentayangan."

Ini senada pernyataan WM Dixon dalam bukunya The Human Situation bahwa agama merupakan dasar moral yang kuat. Menurut Dixon, "Religion truth or false, which is attendant belief in God and world to come, has been on the whole. If not the only, at least we may belief a stout bulwark of morality."

Nah, selama Ramadan, jasmani dan rohani telah digodok dalam beribadah dan bermuamalah secara proaktif agar menjadi manusia yang bermoral dan bertakwa. Manusia yang lebih mengenali jati dirinya sebagai makhluk yang lemah. Manusia awam yang gampang dikotori debu duniawi. Maka, setelah Idul Fitri, setiap orang semestinya mengalami reaktualisasi diri sebagai manusia primordial, sosok baru yang suci. Sinyal ketuhanan dan kemanusiaannya pun tak meredup, bahkan kian kuat meski Ramadan telah lewat.

Kaum elite harusnya tak lagi berselingkuh kekuasaan serta dusta atas janji-janji politik karena nafsu liar kekuasaan telah tertundukan setelah menjalani terapi rohaniah sebulan penuh. Saat itulah berlaku makna simbolik Idul Fitri, yakni kembalinya orang kepada fitrah kemanusiaan. Inilah sosok yang (kembali) dekat kepada Tuhan sebagai eksistens yang suci, bermoral, bertakwa, dan tidak lagi teralienasi dari nilai-nilai spiritual. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar