|
“Dalam kaitan ini,
ibadat seperti puasa dan amal-amal Ramadan lainya hanyalah jalan untuk menuju
tujuan yaitu pengamalan akhlak mulia.”
Idul Fitri adalah hari raya kesucian, kekuatan, dan kemenangan. Kata "fitrah" mengandung arti kesucian dan kekuatan. Roh yang diembuskan ke dalam jasad beberapa bulan sebelum kelahiran terikat perjanjian primordial suci untuk menjadikan Tuhan sebagai pencipta. Fitrah kemanusiaan juga mewarisi kekuatan karena roh yang diembuskan ke dalam jasad berasal dari Yang Mahasempurna dengan segala nama kebaikan (al-asma al-husna). Inilah yang membawa manusia memiliki potensi-potensi insani yang paralel dengan sifat-sifat ketuhanan itu.
Fitrah kemanusiaan, dengan demikian, berdimensi ganda: kesucian dan kekuatan. Jika keduanya dikembangkan secara simultan maka akan melahirkan insan fitri, yaitu manusia dengan kepribadian suci dan kuat. Inilah kepribadian orang-orang yang bertakwa yang merupakan tujuan ibadah-ibadah Ramadan.
Jika kita mampu memiliki kesucian dan kekuatan diri maka akan kita memperoleh kemenangan. Itulah yang kita rayakan pada hari ini, yaitu kemenangan kaum beriman mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh sehingga terlahir kembali sebagai insan paripurna penuh kesucian dan kekuatan diri.
Kemenangan yang diraih kaum beriman yang telah berhasil menempuh pelatihan Ramadan adalah kemenangan dari jihad besar yang lebih tinggi nilainya daripada berperang di jalan Tuhan yang hanya merupakan jihad kecil. Mengendalikan hawa nafsu disebut sebagai jihad besar adalah karena pengendalian hawa nafsu adalah perbuatan yang sangat berat dan susah.
Hawa nafsu memiliki kecenderungan destruktif sehingga manusia menyandang problema ambivalensi diri, yakni adanya kecenderungan ganda kepada kebaikan. Akibatnya, muncullah berbagai bentuk kerusakan dalam kehidupan masyarakat.
Bangsa Indonesia yang besar dan memiliki modal sosial dan budaya yang tinggi sekarang mengalami pergeseran dan perubahan. Pertama, jika dulu bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah-tamah, sekarang ada gejala sebagian anak bangsa cenderung pemarah, mudah tersinggung, dan kemudian menempuh jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
Mereka tega menghilangkan nyawa orang lain hanya karena harga diri dan persoalan sepele. Sebagian anak-anak bangsa terjebak ke dalam fanatisme buta dalam membela agama daripada mengembangkan toleransi yang lapang dada terhadap sesama.
Kedua, bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa pejuang sehingga mampu bertahan tiga setengah abad terhadap penjajahan. Monumen tempat kita berada sekarang adalah bukti sejarah tentang kepejuangan itu. Sebagai bangsa pejuang, bangsa Indonesia dikenal tidak kenal lelah dan pantang menyerah terhadap segala macam tantangan.
Inilah yang terpantul dari pepatah "sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang". Namun, sekarang daya juang itu mulai berkurang, tergerus zaman. Sebagian anak bangsa cenderung menjadi pecundang. Mereka tidak tahan terhadap ujian dan cobaan sehingga mengambil jalan pintas menerabas hukum dan undang-undang menghalalkan secara cara untuk mencapai tujuan. Daya juang pun berkurang ketika anak-anak bangsa tidak siap bersaing dan bertanding, bahkan terjatuh pada kecenderungan membanggakan bangsa-bangsa lain yang dianggapnya maju dan moderen. Anak-anak bangsa kehilangan jati diri dan tidak bangga terhadap bangsa sendiri.
Ketiga, bangsa Indonesia juga terkenal sebagai bangsa yang bergotong royong. Mereka bahu-membahu dan saling membantu dalam berbagai persoalan dan kegiatan. Sudah menjadi tradisi di desa maupun di kota antarsesama warga masyarakat bekerja sama menyelesaikan tugas bersama dalam prinsip "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".
Namun, sekarang, etos kegotongroyongan mulai mengendur tergerus waktu. Semangat kegotongroyongan tergantikan oleh kecenderungan hidup bernafsi-nafsi untuk hidup dan selamat sendiri. Jika dalam semangat kegotongroyongan terdapat keikhlasan dan ketulusan untuk membantu sesama seperti terdapat dalam peribahasa "sepi ing pamrih rame ing gawe", sekarang segala sesuatu diukur dari sudut materi atau bendawi.
Buram
Tentu gambaran tadi tidak mencerminkan realitas masyarakat secara keseluruhan. Masih banyak warga bangsa yang masih mengamalkan watak bangsa yang sejati, baik dalam keramahtamahan, semangat kejuangan, dan semangat kegotongroyongan. Namun, potret buram perlu diungkapkan agar kita dapat melakukan evaluasi dan introspeksi.
Memang globalisasi dan modernisasi telah membawa dampak ke dalam kehidupan bangsa, baik positif maupun negatif. Pada sisi positif, globalisasi dan modernisasi telah membawa kemajuan dan kemudahan bagi kita dalam berkomunikasi satu sama lain, memperoleh informasi dan pengetahuan tentang berbagai macam hal, terutama akibat perkembangan teknologi informasi.
Tetapi, pada sisi lain, kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif. Globalisasi dan modernisasi juga melahirkan manusia-manusia individualistis yang cenderung mendewakan diri sendiri, materialistik yang cenderung mendewakan materi dan hal bendawi, dan hedonistis yang cenderung mendewakan pemuasan hasrat badani.
Ketiga kecenderungan ini, yang menempatkan manusia sebagai pusat kesadaran dan kehidupan (antrophocentrism) sesungguhnya merupakan sikap-sikap yang anti Tuhan. Padahal, Islam dengan ajaran tauhidnya sangat menekankan bahwa Tuhanlah yang harus menjadi pusat kesadaran dan kehidupan manusia (theocentrism).
Oleh karena itu, Idul Fitri yang kita rayakan hari ini adalah momentum bagi kita untuk kembali ke fitrah kemanusiaan sejati, yaitu kepribadian suci dan kuat. Kepribadian inilah yang terlahir dari shaimin dan shaimat, yaitu mereka yang telah menempuh pelatihan Ramadan sebulan penuh dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Memang ibadah-ibadah Ramadan memiliki dua fungsi utama, yaitu penyucian diri (tazkiyat al-nafs atau self refinement) dan penguatan diri (tarqiyat al- nafs atau self empowerment). Selama sebulan penuh kaum beriman menyucikan jiwa dari segala noda dan dosa, dengan meningkatkan hubungan vertikal dengan Tuhan, dan meningkatkan kapasitas diri, dengan menampilkan jati diri yang sejati sebagai manusia dengan potensi-potensi positif dan konstruktif, untuk kehidupan.
Dari kedua fungsi Ramadan tadi diharapkan kaum beriman kembali menemukan fitrah kemanusiaannya yang sejati. Fitrah kemanusiaan ini akan menampilkan kepribadian paripurna, yaitu kepribadian yang bernafaskan akhlak mulia. Seseorang yang mampu mencapai tingkat kepribadian paripurna ini adalah orang yang berhasil meraih puncak keberagamaan, yaitu akhlak mulia. Akhlak mulia adalah hakikat sekaligus muara keberagamaan. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk mengembangkan akhlak mulia.
Oleh karena itu, para ulama merumuskan sistematika keberagamaan dalam Trilogi Akidah “Ibadah“ Akhlak, yang sejalan dengan Trilogi Iman “Islam“ Ihsan. Ketiganya dapat dipandang sebagai Piramida Keberagamaan, yaitu akidah atau iman sebagai titik tolak, islam atau ibadah sebagai jalan, dan akhlak atau ihsan sebagai muara atau tujuan akhir. Dalam kaitan ini, ibadat seperti puasa dan amal-amal Ramadan lainya hanyalah jalan untuk menuju tujuan yaitu pengamalan akhlak mulia.
Oleh karena itu, Ramadan yang kita lalui sebulan yang lalu bukanlah tujuan terakhir. Ramadan hanyalah jalan dan tonggak pendakian menuju puncak atau tujuan. Puncak dan tujuan itu adalah meraih akhlak mulia. Keberagamaan sejati haruslah mampu membuahkan akhlak mulia. Namun, akhlak mulia dalam pandangan Islam tidak hanya mengenai nilai-nilai etika kesusilaan seperti berlaku baik, sopan, dan santun terhadap sesama, tetapi juga menyangkut nilai-nilai etos kesosialan seperti kerja keras, kerja keras, kerja sama, daya juang, dan daya saing serta orientasi kepada kemajuan dan keunggulan. ●
Idul Fitri adalah hari raya kesucian, kekuatan, dan kemenangan. Kata "fitrah" mengandung arti kesucian dan kekuatan. Roh yang diembuskan ke dalam jasad beberapa bulan sebelum kelahiran terikat perjanjian primordial suci untuk menjadikan Tuhan sebagai pencipta. Fitrah kemanusiaan juga mewarisi kekuatan karena roh yang diembuskan ke dalam jasad berasal dari Yang Mahasempurna dengan segala nama kebaikan (al-asma al-husna). Inilah yang membawa manusia memiliki potensi-potensi insani yang paralel dengan sifat-sifat ketuhanan itu.
Fitrah kemanusiaan, dengan demikian, berdimensi ganda: kesucian dan kekuatan. Jika keduanya dikembangkan secara simultan maka akan melahirkan insan fitri, yaitu manusia dengan kepribadian suci dan kuat. Inilah kepribadian orang-orang yang bertakwa yang merupakan tujuan ibadah-ibadah Ramadan.
Jika kita mampu memiliki kesucian dan kekuatan diri maka akan kita memperoleh kemenangan. Itulah yang kita rayakan pada hari ini, yaitu kemenangan kaum beriman mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh sehingga terlahir kembali sebagai insan paripurna penuh kesucian dan kekuatan diri.
Kemenangan yang diraih kaum beriman yang telah berhasil menempuh pelatihan Ramadan adalah kemenangan dari jihad besar yang lebih tinggi nilainya daripada berperang di jalan Tuhan yang hanya merupakan jihad kecil. Mengendalikan hawa nafsu disebut sebagai jihad besar adalah karena pengendalian hawa nafsu adalah perbuatan yang sangat berat dan susah.
Hawa nafsu memiliki kecenderungan destruktif sehingga manusia menyandang problema ambivalensi diri, yakni adanya kecenderungan ganda kepada kebaikan. Akibatnya, muncullah berbagai bentuk kerusakan dalam kehidupan masyarakat.
Bangsa Indonesia yang besar dan memiliki modal sosial dan budaya yang tinggi sekarang mengalami pergeseran dan perubahan. Pertama, jika dulu bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah-tamah, sekarang ada gejala sebagian anak bangsa cenderung pemarah, mudah tersinggung, dan kemudian menempuh jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
Mereka tega menghilangkan nyawa orang lain hanya karena harga diri dan persoalan sepele. Sebagian anak-anak bangsa terjebak ke dalam fanatisme buta dalam membela agama daripada mengembangkan toleransi yang lapang dada terhadap sesama.
Kedua, bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa pejuang sehingga mampu bertahan tiga setengah abad terhadap penjajahan. Monumen tempat kita berada sekarang adalah bukti sejarah tentang kepejuangan itu. Sebagai bangsa pejuang, bangsa Indonesia dikenal tidak kenal lelah dan pantang menyerah terhadap segala macam tantangan.
Inilah yang terpantul dari pepatah "sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang". Namun, sekarang daya juang itu mulai berkurang, tergerus zaman. Sebagian anak bangsa cenderung menjadi pecundang. Mereka tidak tahan terhadap ujian dan cobaan sehingga mengambil jalan pintas menerabas hukum dan undang-undang menghalalkan secara cara untuk mencapai tujuan. Daya juang pun berkurang ketika anak-anak bangsa tidak siap bersaing dan bertanding, bahkan terjatuh pada kecenderungan membanggakan bangsa-bangsa lain yang dianggapnya maju dan moderen. Anak-anak bangsa kehilangan jati diri dan tidak bangga terhadap bangsa sendiri.
Ketiga, bangsa Indonesia juga terkenal sebagai bangsa yang bergotong royong. Mereka bahu-membahu dan saling membantu dalam berbagai persoalan dan kegiatan. Sudah menjadi tradisi di desa maupun di kota antarsesama warga masyarakat bekerja sama menyelesaikan tugas bersama dalam prinsip "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".
Namun, sekarang, etos kegotongroyongan mulai mengendur tergerus waktu. Semangat kegotongroyongan tergantikan oleh kecenderungan hidup bernafsi-nafsi untuk hidup dan selamat sendiri. Jika dalam semangat kegotongroyongan terdapat keikhlasan dan ketulusan untuk membantu sesama seperti terdapat dalam peribahasa "sepi ing pamrih rame ing gawe", sekarang segala sesuatu diukur dari sudut materi atau bendawi.
Buram
Tentu gambaran tadi tidak mencerminkan realitas masyarakat secara keseluruhan. Masih banyak warga bangsa yang masih mengamalkan watak bangsa yang sejati, baik dalam keramahtamahan, semangat kejuangan, dan semangat kegotongroyongan. Namun, potret buram perlu diungkapkan agar kita dapat melakukan evaluasi dan introspeksi.
Memang globalisasi dan modernisasi telah membawa dampak ke dalam kehidupan bangsa, baik positif maupun negatif. Pada sisi positif, globalisasi dan modernisasi telah membawa kemajuan dan kemudahan bagi kita dalam berkomunikasi satu sama lain, memperoleh informasi dan pengetahuan tentang berbagai macam hal, terutama akibat perkembangan teknologi informasi.
Tetapi, pada sisi lain, kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif. Globalisasi dan modernisasi juga melahirkan manusia-manusia individualistis yang cenderung mendewakan diri sendiri, materialistik yang cenderung mendewakan materi dan hal bendawi, dan hedonistis yang cenderung mendewakan pemuasan hasrat badani.
Ketiga kecenderungan ini, yang menempatkan manusia sebagai pusat kesadaran dan kehidupan (antrophocentrism) sesungguhnya merupakan sikap-sikap yang anti Tuhan. Padahal, Islam dengan ajaran tauhidnya sangat menekankan bahwa Tuhanlah yang harus menjadi pusat kesadaran dan kehidupan manusia (theocentrism).
Oleh karena itu, Idul Fitri yang kita rayakan hari ini adalah momentum bagi kita untuk kembali ke fitrah kemanusiaan sejati, yaitu kepribadian suci dan kuat. Kepribadian inilah yang terlahir dari shaimin dan shaimat, yaitu mereka yang telah menempuh pelatihan Ramadan sebulan penuh dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Memang ibadah-ibadah Ramadan memiliki dua fungsi utama, yaitu penyucian diri (tazkiyat al-nafs atau self refinement) dan penguatan diri (tarqiyat al- nafs atau self empowerment). Selama sebulan penuh kaum beriman menyucikan jiwa dari segala noda dan dosa, dengan meningkatkan hubungan vertikal dengan Tuhan, dan meningkatkan kapasitas diri, dengan menampilkan jati diri yang sejati sebagai manusia dengan potensi-potensi positif dan konstruktif, untuk kehidupan.
Dari kedua fungsi Ramadan tadi diharapkan kaum beriman kembali menemukan fitrah kemanusiaannya yang sejati. Fitrah kemanusiaan ini akan menampilkan kepribadian paripurna, yaitu kepribadian yang bernafaskan akhlak mulia. Seseorang yang mampu mencapai tingkat kepribadian paripurna ini adalah orang yang berhasil meraih puncak keberagamaan, yaitu akhlak mulia. Akhlak mulia adalah hakikat sekaligus muara keberagamaan. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk mengembangkan akhlak mulia.
Oleh karena itu, para ulama merumuskan sistematika keberagamaan dalam Trilogi Akidah “Ibadah“ Akhlak, yang sejalan dengan Trilogi Iman “Islam“ Ihsan. Ketiganya dapat dipandang sebagai Piramida Keberagamaan, yaitu akidah atau iman sebagai titik tolak, islam atau ibadah sebagai jalan, dan akhlak atau ihsan sebagai muara atau tujuan akhir. Dalam kaitan ini, ibadat seperti puasa dan amal-amal Ramadan lainya hanyalah jalan untuk menuju tujuan yaitu pengamalan akhlak mulia.
Oleh karena itu, Ramadan yang kita lalui sebulan yang lalu bukanlah tujuan terakhir. Ramadan hanyalah jalan dan tonggak pendakian menuju puncak atau tujuan. Puncak dan tujuan itu adalah meraih akhlak mulia. Keberagamaan sejati haruslah mampu membuahkan akhlak mulia. Namun, akhlak mulia dalam pandangan Islam tidak hanya mengenai nilai-nilai etika kesusilaan seperti berlaku baik, sopan, dan santun terhadap sesama, tetapi juga menyangkut nilai-nilai etos kesosialan seperti kerja keras, kerja keras, kerja sama, daya juang, dan daya saing serta orientasi kepada kemajuan dan keunggulan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar