Minggu, 21 Juli 2013

Cadangan Devisa

Cadangan Devisa
Ryan Kiryanto ;   Kepala Ekonom Bank BNI
SUARA KARYA, 16 Juli 2013


Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan cadangan devisa (cadev) sebesar 7,1 miliar dolar AS, dari 105,2 miliar dolar AS per akhir Mei 2013 menjadi 98,1 miliar dolar AS per Juni 2013. Ini lantaran besarnya arus modal keluar yang mencapai Rp 40,1 triliun atau 4,1 miliar dolar AS, terdiri dari 2 miliar dolar AS di saham dan 1,98 miliar dolar AS di pasar SUN (surat utang negara).

Keluarnya dana-dana investor asing itu, mau tak mau, menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlangsung sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. BI mencatat, depresiasi rupiah mencapai 3,01 persen tahun berjalan (year to date). Meski demikian, depresiasi itu relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan, seperti Filipina sebesar 4,94 persen, Singapura 3,97 persen, dan Malaysia 3,13 persen.

Nilai cadev sebesar 98,1 miliar dolar AS masih cukup untuk memenuhi pembayaran 5,4 bulan impor dan utang pembayaran luar negeri. Jika utang pembayaran luar negeri tidak dimasukkan, bisa memenuhi 5,5 bulan impor. Dengan kata lain, nilai cadev itu masih cukup untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak berfluktuasi secara liar. Namun, pemerintah dan BI harus terus mewaspadai penurunan cadev karena kebutuhan dolar AS di bulan-bulan berikutnya masih cukup tinggi di tengah apresiasi dolar AS yang makin kuat.

Penurunan cadev yang turun cukup drastis pada Juni lalu bukan semata-mata untuk menahan kejatuhan rupiah lebih dalam, melainkan juga ada aspek pendorong lainnya, seperti pembayaran bunga utang luar negeri pemerintah dan pemenuhan kewajiban badan usaha milik negara (BUMN) untuk pembayaran impor bahan baku.

Di sisi lain, kinerja ekspor yang ada saat ini belum cukup membantu menahan kebutuhan dolar AS di dalam negeri untuk keperluan impor barang modal maupun bahan baku. Terbukti, neraca perdagangan masih defisit. Devisa hasil ekspor (DHE) yang disimpan di perbankan devisa domestik, sebagaimana diwajibkan oleh BI kepada seluruh eksportir, juga belum optimal untuk menopang posisi cadev.

Memang, ada beberapa aspek yang menyebabkan cadev turun drastis. Salah satunya arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia (capital outflow) tadi. Hal itu disebabkan investor masih ragu-ragu dengan kebijakan pemerintah menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan melemahnya ekonomi dunia sehingga rupiah melemah dan perlu intervensi lebih besar dari bank sentral.

Kendati demikian, posisi cadev sebesar 98,1 miliar dolar AS masih dalam kategori aman karena bisa memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,4 bulan ke depan. Jadi, hal ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Lagi pula, tidak ada penetapan atau konsensus batas psikologis posisi cadev harus 100 miliar dolar AS.

Yang jadi patokan adalah cadev mampu menopang kebutuhan impor dan kewajiban luar negeri pemerintah dan swasta minimal tiga bulan ke depan. Jadi, kalau BI masih memiliki cadev untuk menopang pemenuhan kebutuhan impor dan kewajiban luar negeri selama 5,4 bulan ke depan, masih terbilang bagus.

Jika pemerintah dan BI bisa menjaga fundamental ekonomi maupun kebutuhan dolar AS di sepanjang waktu sehingga rupiah tidak makin liar dan kepercayaan pasar tetap terjaga, maka cadev bisa kembali naik. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar