Mewaspadai Mutasi Virus Flu
Burung
Srihadi
Agungpriyono dan I Wayan Teguh Wibawan
;
Fakultas Kedokteran
Hewan IPB
|
MEDIA
INDONESIA, 15 Februari 2014
|
MASYARAKAT harus tetap
waspada terhadap potensi bahaya yang dimiliki virus flu burung karena mampu
menyebabkan kematian pada sebagian orang (baca: orang-orang tertentu) dan
sayangnya kita belum persis tahu ciri-ciri orang yang peka terhadap virus flu
burung. Secara ilmiah, meskipun dilaporkan telah menyebabkan kematian pada
manusia di berbagai negara, masih dipahami bahwa virus flu burung belum
efektif menulari manusia. Hanya, virus tersebut sangat efektif menginfeksi
unggas, antara lain ayam, bebek, dan unggas lainnya serta menyebabkan
kematian yang sangat tinggi dalam jangka waktu yang sangat pendek.
Salah satu ciri virus
penyebab flu ialah karakternya mudah berubah (bermutasi). Itulah sebabnya
mengapa kekebalan tubuh yang telah ada tidak selalu mampu menahan infeksi
virus flu burung yang bermutasi sehingga peluang untuk terkena serangan virus
itu selalu ada. Pada mulanya virus flu burung H5N1 sangat terkenal sebagai
penyebab kematian yang sangat tinggi pada ayam di pertengahan 2003 di Jawa
khususnya. Beberapa tahun kemudian diketahui pula virus flu burung H5N1
tersebut mampu menginfeksi orangorang tertentu dan menyebabkan kematian. Pada
saat itu mulailah dikaitkan kasus flu burung pada unggas dengan kasus flu
burung pada manusia.
Perdebatan dan adu
argumen serta pro-kontra terjadi di antara para ahli dengan argumen
masing-masing. Mengapa sebagian besar peternak yang ayamnya mati ribuan tidak
terkena infeksi, sedangkan orang yang tidak punya ayam bisa terkena dan
meninggal akibat flu burung? Itulah kemudian dikatakan bahwa penularan virus
flu burung belum efektif pada manusia. Perlu diingat, kapan virus tersebut
efektif menulari manusia, kita tidak tahu dan mudah-mudahan tidak akan pernah
terjadi.
Kondisi saat ini
Awalnya kematian yang
tinggi akibat infeksi virus tersebut terjadi pada ayam, baik ayam kampung,
ayam pedaging (broiler), ayam
petelur (layer), maupun ayam bibit
(breeder). Penerapan biosekuriti
diyakini sebagai tindakan utama dalam pencegahan penyakit itu di samping
vaksinasi. Vaksin flu burung (avian
influenza/AI) telah digunakan secara teratur pada industri perunggasan.
Vaksin diketahui mampu menekan kejadian penyakit. Meskipun demikian, kasus
secara sporadis masih terjadi di sepanjang tahun sejak 2003 hingga saat ini.
Kasus flu burung yang
cukup menghebohkan akhir-akhir ini ialah pada itik (bebek) dan menyebabkan
kematian sangat tinggi dan menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia.
Virus penyebabnya diketahui sebagai virus AI baru subclade 2.3.2.1 yang
berbeda kelompok dengan sebelumnya yakni subclade 2.1.3 meskipun keduanya
masih tergolong ke dalam virus yang sama yakni virus AI H5N1. Virus kelompok
baru itu tidak hanya bisa menyerang bebek, tetapi juga menyerang ayam dan
menimbulkan kematian tinggi. Beberapa kasus pada industri perunggasan justru
terjadi pada ayam-ayam yang telah divaksin AI. Apakah itu berarti vaksin lama
sudah tidak cocok dengan virus-virus flu burung yang baru? Pada pengujian di
tingkat laboratorium dapat dikatakan bahwa vaksin AI yang beredar secara
komersial masih bisa digunakan untuk menangkal virus baru. Namun, di
lapangan, itu sering menunjukkan hasil yang berbeda. Hal tersebut bisa
terjadi karena adanya peran faktor-faktor lain yang mendukung terjadinya
kasus flu burung.
Pada manusia
Kondisi yang
mengejutkan ialah pada saat dilaporkan adanya virus flu burung H7N9 yang
menginfeksi manusia dan menyebabkan kematian di China. Virus AI H7N9 itu
bukan termasuk ke dalam kategori `ganas' atau highly pathogenic karena virus tersebut memang tidak menyebabkan
kematian apabila menyerang ayam dan unggas lain, tetapi lebih mudah menulari
manusia jika dibandingkan dengan virus AI H5N1.
Akhir-akhir ini dilaporkan
juga adanya virus AI H10N8 yang menyerang manusia di China yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Perlu dicatat ialah unggas bisa terinfeksi dan berfungsi
sebagai reservoir berbagai kombinasi virus AI (H1-16) dan N (1-9).
Keberhasilan penangan
flu burung pada manusia tidak bisa dilepaskan dari penanganan virus flu
burung pada unggas. Kandidat virus penyebab pandemik pada manusia,
mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi, mungkin akan memiliki sifat; 1)
tidak patogen pada hewan tetapi, 2) sangat patogen bagi manusia. Secara
teoretis, kondisi virus seperti itu dapat diperoleh melalui perselingkuhan
antarvirus yang disebut dengan reassortment.
Apa yang harus dilakukan
Beberapa hal penting
yang perlu diperhatikan peternak di lapangan yang bisa memicu kasus flu
burung ialah; 1) adanya mikotoksin (toksin jamur), 2) adanya infeksi
subklinis (marek, gumboro, chicken anemia, myeloid leukosis), 3) manajemen
pemeliharaan yang buruk, 4) kualitas pakan yang buruk, dan 5) tindakan
biosekuriti yang tidak memadai.
Kesalahan yang sering
terjadi, adanya anggapan bahwa vaksin ialah segala-galanya. Jika sudah
divaksin, ayam tidak akan kena penyakit. Itu pandangan yang keliru. Vaksin
akan menimbulkan respons kekebalan yang baik jika ayam-ayam tersebut cukup
makannya, sehat, dan tidak mengandung penyakit yang bersifat subklinis.
Penyakit yang bersifat subklinis itu bisa ditekan dengan melakukan tindakan
biosekuriti agar cemaran virus di lingkungan bisa dikurangi. ●
Srihadi Agungpriyono adalah Guru Besar dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan
Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar