Minggu, 16 Februari 2014

Mewaspadai Mutasi Virus Flu Burung

             Mewaspadai Mutasi Virus Flu Burung

Srihadi Agungpriyono dan I  Wayan Teguh Wibawan  ;   
Fakultas Kedokteran Hewan IPB
MEDIA INDONESIA,  15 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
MASYARAKAT harus tetap waspada terhadap potensi bahaya yang dimiliki virus flu burung karena mampu menyebabkan kematian pada sebagian orang (baca: orang-orang tertentu) dan sayangnya kita belum persis tahu ciri-ciri orang yang peka terhadap virus flu burung. Secara ilmiah, meskipun dilaporkan telah menyebabkan kematian pada manusia di berbagai negara, masih dipahami bahwa virus flu burung belum efektif menulari manusia. Hanya, virus tersebut sangat efektif menginfeksi unggas, antara lain ayam, bebek, dan unggas lainnya serta menyebabkan kematian yang sangat tinggi dalam jangka waktu yang sangat pendek.

Salah satu ciri virus penyebab flu ialah karakternya mudah berubah (bermutasi). Itulah sebabnya mengapa kekebalan tubuh yang telah ada tidak selalu mampu menahan infeksi virus flu burung yang bermutasi sehingga peluang untuk terkena serangan virus itu selalu ada. Pada mulanya virus flu burung H5N1 sangat terkenal sebagai penyebab kematian yang sangat tinggi pada ayam di pertengahan 2003 di Jawa khususnya. Beberapa tahun kemudian diketahui pula virus flu burung H5N1 tersebut mampu menginfeksi orangorang tertentu dan menyebabkan kematian. Pada saat itu mulailah dikaitkan kasus flu burung pada unggas dengan kasus flu burung pada manusia.

Perdebatan dan adu argumen serta pro-kontra terjadi di antara para ahli dengan argumen masing-masing. Mengapa sebagian besar peternak yang ayamnya mati ribuan tidak terkena infeksi, sedangkan orang yang tidak punya ayam bisa terkena dan meninggal akibat flu burung? Itulah kemudian dikatakan bahwa penularan virus flu burung belum efektif pada manusia. Perlu diingat, kapan virus tersebut efektif menulari manusia, kita tidak tahu dan mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi.

Kondisi saat ini

Awalnya kematian yang tinggi akibat infeksi virus tersebut terjadi pada ayam, baik ayam kampung, ayam pedaging (broiler), ayam petelur (layer), maupun ayam bibit (breeder). Penerapan biosekuriti diyakini sebagai tindakan utama dalam pencegahan penyakit itu di samping vaksinasi. Vaksin flu burung (avian influenza/AI) telah digunakan secara teratur pada industri perunggasan. Vaksin diketahui mampu menekan kejadian penyakit. Meskipun demikian, kasus secara sporadis masih terjadi di sepanjang tahun sejak 2003 hingga saat ini.

Kasus flu burung yang cukup menghebohkan akhir-akhir ini ialah pada itik (bebek) dan menyebabkan kematian sangat tinggi dan menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Virus penyebabnya diketahui sebagai virus AI baru subclade 2.3.2.1 yang berbeda kelompok dengan sebelumnya yakni subclade 2.1.3 meskipun keduanya masih tergolong ke dalam virus yang sama yakni virus AI H5N1. Virus kelompok baru itu tidak hanya bisa menyerang bebek, tetapi juga menyerang ayam dan menimbulkan kematian tinggi. Beberapa kasus pada industri perunggasan justru terjadi pada ayam-ayam yang telah divaksin AI. Apakah itu berarti vaksin lama sudah tidak cocok dengan virus-virus flu burung yang baru? Pada pengujian di tingkat laboratorium dapat dikatakan bahwa vaksin AI yang beredar secara komersial masih bisa digunakan untuk menangkal virus baru. Namun, di lapangan, itu sering menunjukkan hasil yang berbeda. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya peran faktor-faktor lain yang mendukung terjadinya kasus flu burung.

Pada manusia

Kondisi yang mengejutkan ialah pada saat dilaporkan adanya virus flu burung H7N9 yang menginfeksi manusia dan menyebabkan kematian di China. Virus AI H7N9 itu bukan termasuk ke dalam kategori `ganas' atau highly pathogenic karena virus tersebut memang tidak menyebabkan kematian apabila menyerang ayam dan unggas lain, tetapi lebih mudah menulari manusia jika dibandingkan dengan virus AI H5N1. 

Akhir-akhir ini dilaporkan juga adanya virus AI H10N8 yang menyerang manusia di China yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perlu dicatat ialah unggas bisa terinfeksi dan berfungsi sebagai reservoir berbagai kombinasi virus AI (H1-16) dan N (1-9).

Keberhasilan penangan flu burung pada manusia tidak bisa dilepaskan dari penanganan virus flu burung pada unggas. Kandidat virus penyebab pandemik pada manusia, mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi, mungkin akan memiliki sifat; 1) tidak patogen pada hewan tetapi, 2) sangat patogen bagi manusia. Secara teoretis, kondisi virus seperti itu dapat diperoleh melalui perselingkuhan antarvirus yang disebut dengan reassortment.

Apa yang harus dilakukan

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan peternak di lapangan yang bisa memicu kasus flu burung ialah; 1) adanya mikotoksin (toksin jamur), 2) adanya infeksi subklinis (marek, gumboro, chicken anemia, myeloid leukosis), 3) manajemen pemeliharaan yang buruk, 4) kualitas pakan yang buruk, dan 5) tindakan biosekuriti yang tidak memadai.

Kesalahan yang sering terjadi, adanya anggapan bahwa vaksin ialah segala-galanya. Jika sudah divaksin, ayam tidak akan kena penyakit. Itu pandangan yang keliru. Vaksin akan menimbulkan respons kekebalan yang baik jika ayam-ayam tersebut cukup makannya, sehat, dan tidak mengandung penyakit yang bersifat subklinis. Penyakit yang bersifat subklinis itu bisa ditekan dengan melakukan tindakan biosekuriti agar cemaran virus di lingkungan bisa dikurangi.

Srihadi Agungpriyono adalah Guru Besar dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia.

                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar