Kamis, 15 Agustus 2013

Pendidikan Toleransi

Pendidikan Toleransi
Benny Susetyo Rohaniwan
KOMPAS, 13 Agustus 2013

Kepada siapa kita berharap masa depan kerukunan beragama ditegakkan? Kepada kaum muda-lah jawabannya. Kepada mereka tugas berat ini disemaikan, sebab mereka merupakan pintu gerbang kedamaian dan kerukunan kehidupan beragama.

Apabila tahun lalu pesan Idul Fitri dari Vatikan mengajak untuk mendidik kaum muda dalam rangka mendorong keadilan dan perdamaian, tahun ini kembali kita diingatkan bahwa toleransi beragama haruslah ditekankan dalam pendidikan para pemuda.
Paus Fransiskus dalam pesan Idul Fitri-nya menyerukan toleransi dan rasa saling menghargai antarumat beragama. Dalam pesan ini tersirat bahwa intoleransi merupakan awal mula lenyapnya perdamaian dan keadilan di Bumi. Dalam pesan ini jelas bahwa sangat penting mendidik kaum muda untuk menyudahi semua bentuk kekerasan dengan mendorong pendidikan toleransi.
Toleransi perlu digerakkan dalam pendidikan. Pendidikan yang dialami oleh kaum muda tidak boleh lepas dari muatan untuk menyemaikan semangat toleransi keagamaan. Pesan ini menyiratkan suatu persaudaraan sejati dalam suasana perbedaan.
Keniscayaan
Paus mengatakan bahwa pesan ini harus diterapkan semua orang dengan menghargai kehidupan, martabat, dan hak-hak setiap manusia. ”Terkait pendidikan para pemuda, kita harus bisa membuat mereka untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat soal agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari dari mengejek atau merendahkan keyakinan dan ibadah pemeluk agama lain,” demikian tegas Paus.
Keberagamaan kita di Nusantara meniscayakan perbedaan. Namun, perbedaan seringkali dijadikan alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim kebenaran yang lebih ditonjolkan daripada mencari persamaan untuk membangun kekuatan.
Idul Fitri merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam keberagaman. Oleh karena itu, mendidik kaum muda dalam menciptakan perdamaian dan keadilan merupakan agenda mendesak.
Adanya banyak sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya manipulasi agama untuk tujuan politis atau lainnya; diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas religius; perpecahan dan ketegangan sosial. Ketidaktahuan, kemiskinan, tertinggal dalam perkembangan juga merupakan sumber langsung atau tidak langsung untuk kekerasan baik antara maupun dalam komunitas-komunitas religius, menjadi faktor penyebab lainnya.
Semangat perayaan Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian. Momentum ini jelas sangat tepat digunakan untuk membangun tali persaudaraan antarwarga sebangsa. Dengan kembali kepada kefitrian inilah maka tali persaudaraan akan mudah diwujudkan sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci.
Pendidikan toleransi bagi kaum muda akan menjadi landasan untuk bersama-sama mengatasi kekerasan antara pemeluk pelbagai agama. Kekerasan antarpemeluk agama dewasa ini merupakan masalah yang begitu hangat dibicarakan sebab faktanya hal itu terjadi di berbagai belahan dunia.
Kita mesti menyadari ini merupakan suatu masalah mendesak. Kekerasan antarpemeluk agama terjadi akibat orang lebih banyak mengedepankan ketidaksepahaman, bukan kesepahaman sebagai titik tolak untuk membangun persaudaraan sejati. Kekerasan begitu mudah terjadi karena masalah-masalah sepele yang mengatasnamakan agama.
Kita merasakan pentingnya meneguhkan kembali rasa persaudaraan itu karena ancaman dan tantangan yang ada di hadapan kita —untuk mengoyak, memudarkan, dan mencerabut—itu sangatlah besar, nyata, dan berbahaya. Tidak jarang hubungan persaudaraan antarwarga sebangsa ini dirongrong oleh kepentingan politik, ekonomi, egoisme, dan lainnya.
Persaudaraan sejati
Persaudaraan sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia yang dipenuhi oleh ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu oleh tata dunia yang tidak adil yang potensial melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan itu salah satunya adalah ketika orang melakukan tindakan di luar batas-batas kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tetapi dipenuhi dengan prasangka.
Pesan Vatikan, tahun ini, berkaitan erat dengan pesan-pesan sebelumnya, di mana intinya bagaimana memperkuat persaudaraan untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang semakin menipis. Semuanya bertujuan supaya umat berbagai agama terus memperkuat hubungan persaudaraan. Atas nama persaudaraan itu akan lebih mudah untuk memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai.
Hal ini sudah sejalan dengan komitmen gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi.
Pesan tradisional ini memang hanyalah sebuah kata-kata, tetapi disampaikan dari hati yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban semuanya dalam menjadi pionir untuk menjaga perdamaian, hak asasi manusia, dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial.
Setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan tidak seorang pun boleh dikucilkan oleh karena alasan kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain mana pun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar