Sabtu, 19 September 2026

 

Bagaimana Cara Mengetahui Anak Mengalami Disleksia?

Karina Isna Irawan, Dian Lintang Sudibyo, Andreas Yoga Parama : Litbang Kompas.

KOMPAS, 17 September 2026

 

 

                                                           

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:

 

1. Anak disleksia selalu menunjukkan tanda serupa.

 

2. Disleksia bukan kemalasan atau kebodohan.

 

3. Deteksi dini di setiap perkembangan anak.

 

4. Metode pedagogi khusus untuk anak disleksia.

 

5. Tantangan pendidikan inklusif untuk anak disleksia.

 

Anak disleksia selalu menunjukkan tanda serupa

 

Sejak istilah disleksia diperkenalkan oleh dokter mata asal Jerman, Rudolf Berlin, pada 1880-an, pengertian tentang kondisi ini terus berkembang. Berbagai definisi muncul untuk menjelaskan apa itu disleksia. Banyaknya pengertian ini pada akhirnya juga menyebabkan pemahaman tentang disleksia berbeda, baik di kalangan peneliti maupun masyarakat. Perbedaan ini sering kali berujung pada penanganan yang kurang tepat bagi penderitanya.

 

Kendati bervariasi, disleksia selalu menunjukkan tanda serupa, yaitu lambatnya kelancaran saat membaca dan kesulitan saat mengeja. Inti penjelasannya ada pada penekanan ”kelancaran”. Berbeda dengan tanda yang dikenal selama ini, misalnya ketidakmampuan mengenali huruf atau kondisi teks yang terbalik-balik.

 

Bukan berarti ketidakmampuan mengenali huruf tidak lagi dikategorikan sebagai ciri disleksia. Menurut studi, ciri itu biasanya terlihat pada anak-anak. Namun, disleksia tidak hanya terjadi pada anak-anak, disleksia terus ada hingga dewasa. Pada orang dewasa mungkin kemampuan membaca dan mengenali kata sudah meningkat. Namun, mereka tetap tidak lancar membaca dan mengeja.

 

Kelancaran berarti membaca secara akurat, otomatis, dan tanpa perlu bersusah payah. Bagi orang dengan disleksia, proses membaca tetap menjadi tugas yang sulit meskipun mereka sudah sering berlatih. Itulah mengapa ”kelancaran” menjadi penanda umum disleksia di lintas negara dan usia.

 

Lebih lanjut mereka juga mencari apa akar penyebab disleksia. Penyebab disleksia tidak berakar dari satu faktor. Peneliti menunjukkan, disleksia berkembang melalui hubungan berbagai faktor, mulai dari genetik, proses kognitif, hingga lingkungan. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi sehingga bentuk dan tingkat kesulitan yang dialami setiap orang pun berbeda.

 

Dalam konteks disleksia perlu ditekankan, tidak lancar membaca dan mengeja bukan berarti menandakan kecerdasan yang rendah. Sangat mungkin mereka memiliki kecerdasan normal atau bahkan di atas rata-rata.

 

Disleksia bukan kemalasan atau kebodohan

 

Psikolog klinis spesialis masalah belajar anak yang juga pendiri Pusat Layanan Deteksi, Identifikasi, dan Intervensi Masalah Belajar pada Anak (Petak Pintar), Annelia Sari Sani, menyebut, kondisi disleksia masih sering salah dipahami sebagai kemalasan ataupun kebodohan. Padahal, kondisi ini merupakan gangguan neurologis yang memengaruhi cara otak memproses suatu pesan dan bahasa.

 

Tanpa pemahaman yang tepat, kondisi disleksia akan tidak disadari. Penanganan pun akan terlambat sehingga anak tidak mendapatkan bantuan yang tepat. Deteksi dini akan sulit dilakukan jika pemahaman masyarakat akan disleksia masih rendah.

 

Anak dapat dikatakan mengalami gangguan belajar saat kemampuan inteligensinya normal seperti anak pada umumnya tanpa gangguan sensoris. Anak tetap bisa didiagnosis mengalami gangguan belajar meski kesulitan dalam belajarnya berbeda-beda bentuknya.

 

Annelia menuturkan, akar masalah gangguan belajar pada anak terdapat pada gangguan neurologi, bukan pada sikap ataupun kemauan anak. Sistem kerja otak anak dengan gangguan belajar umumnya memang berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Kondisi tersebut tidak kasatmata sehingga sering disalahartikan sebagai kemalasan.

 

”Sistem kerja otaknya berbeda, tidak sama dengan orang-orang pada umumnya. Anak yang sebenarnya pintar bisa jadi kacau dalam belajarnya kalau tidak mendapat cara belajar yang cocok dengan cara kerja otaknya,” katanya.

 

Ia mencontohkan, seorang anak mampu menjawab soal pembagian dengan benar. Namun, itu dilakukan dengan cara pengurangan yang berulang. Pada anak pada umumnya, menghitung 50 dibagi 2 biasanya dilakukan secara hafalan sehingga langsung mendapatkan jawaban 25.

 

Sementara anak dengan gangguan belajar, hitungan tersebut bisa dilakukan secara manual. Anak tersebut akan menghitung 50 dikurangi 2 sampai angkanya habis sebanyak 25 kali sehingga ditemukan hasil 25. Cara tersebut membuat anak seolah-olah lama dalam menghitung yang akhirnya dicap sebagai anak malas atau bodoh oleh lingkungannya.

 

Deteksi dini di setiap perkembangan anak

 

Perwakilan Indonesian Dyslexia Foundation yang juga dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, mengatakan, disleksia merupakan bentuk kesulitan belajar yang spesifik berakar pada gangguan perkembangan saraf. Gangguan ini bersifat genetik sehingga sulit untuk dicegah. Anak yang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan riwayat kesulitan membaca berisiko 40-60 persen mengalami kondisi yang sama.

 

Selain itu, faktor risiko disleksia bisa dipengaruhi dari faktor prenatal dan perinatal. Anak semakin berisiko mengalami kesulitan belajar jika lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan terpapar zat berbahaya selama kehamilan.

 

Wiyarni menyampaikan, orangtua bisa mengenal tanda awal disleksia di setiap tahap perkembangan anak. Pada usia prasekolah 3-5 tahun, tanda awal bisa ditunjukkan dengan kondisi terlambat bicara, kesulitan mengenali atau menyebutkan kata berirama, sulit memahami benda-benda umum secara cepat, serta lambat mempelajari nama huruf, warna, dan angka.

 

Sementara tanda lain bisa ditemukan pula pada usia sekolah dini antara usia 6 tahun dan 8 tahun. Tanda tersebut, antara lain, sangat lambat menghubungkan bentuk huruf dengan bunyinya, sering membalik huruf atau kata yang mirip secara konsisten, seperti huruf b dan d atau p dan q, mengeja kata secara acak, serta membaca sangat lambat dan terbata-bata.

 

Jika tanda awal tersebut ditemukan pada anak, orangtua sebaiknya segera membawa ke tenaga profesional yang tepat. Penegakan diagnosis dapat dilakukan secara tepat melalui evaluasi komprehensif oleh tim ahli multidisiplin.

 

Tim tersebut mencakup dokter anak spesialis tumbuh kembang untuk skrining sensorik dan medis, psikolog untuk tes inteligensi, terapis wicara untuk menilai bahasa dan fonologi, serta psikolog pendidikan untuk mengevaluasi kemampuan akademisi dalam membaca dan memahami bacaan. Layanan tersebut biasanya bisa diakses di klinik tumbuh kembang yang tersedia di rumah sakit atau pusat layanan psikologi terpadu.

 

Metode pedagogi khusus untuk anak disleksia

 

Sekolah inklusif menjadi ruang penting untuk memastikan hak anak dengan disleksia terpenuhi, yaitu dengan menyediakan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan mereka. Sebaliknya, perlakuan berbeda atau pemisahan pendidikan berisiko membatasi kesempatan anak dengan disleksia untuk berkembang secara optimal.

 

Dokter saraf Samuel T Orton dan psikolog Anna Gillingham menciptakan metode pedagogi khusus untuk anak dengan disleksia yang dikenal dengan pendekatan multisensori. Pendekatan itu menggabungkan kemampuan visual, auditori, kinestetik, dan taktil atau VAKT yang memudahkan proses pembelajaran linguistik. Penggabungan kemampuan multisensori dapat membantu mengenali aksara dengan membaca, mengeja, menulis, dan menyusun kata secara benar.

 

Dengan metode demikian, diharapkan siswa disleksia dapat dengan lancar membedakan huruf, menyusun kata dan kalimat, serta membaca informasi. Misalnya, untuk dapat mengeja satu kata dengan lancar, pertama-tama dilatih mendengar suatu huruf diucapkan, lalu mencoba membaca kata dengan mengeja per huruf. Kemudian, anak dilatih untuk menuliskan huruf tersebut dan menyatukannya dengan huruf lain untuk membentuk satu kata.

 

Metode tersebut dapat divariasikan dengan, misalnya, menuliskan huruf di pasir atau menyusun alat peraga huruf untuk membentuk satu kalimat setelah mendengar kata tersebut. Dengan metode mutlisensori ini, indera anak dengan disleksia terus dilatih untuk mengenal dan mampu membedakan jenis-jenis huruf melalui bunyi dan bentuknya. Pada akhirnya, siswa dapat secara mandiri mengolah bacaan dan informasi tanpa perlu merasa kesulitan atau kebingungan.

 

Pendekatan pedagogi multisensori ini sekaligus menuntut kompetensi lebih bagi guru untuk mampu menerjemahkan metode ini dalam proses pembelajaran. Kompetensi guru dalam melakukan pendampingan menjadi titik kunci bagi keberhasilan metode multisensori ini. Guru yang mengajar siswa dengan disleksia perlu diberikan pelatihan khusus.

 

Tantangan pendidikan inklusif untuk anak disleksia

 

Terkait upaya menghapus stigma bagi penyandang disleksia di sekolah, pemerintah mendorong keterlibatan keluarga, media, dan masyarakat untuk membangun budaya kesetaraan dan empati. Selain itu, pendekatan yang dilakukan mencakup pendidikan inklusif, pelatihan guru, konseling psikososial, serta kolaborasi lintas sektor.

 

Pendidikan inklusif bukan sekadar persoalan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, melainkan mencakup penyesuaian menyeluruh terhadap kapasitas kelas, sarana-prasarana, metode pembelajaran, asesmen akademik, juga budaya sekolah.

 

Dari sisi kurikulum, terdapat juga Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kurikulum tersebut memungkinkan fleksibilitas pengajaran melalui modifikasi pendekatan, strategi pembelajaran, serta diferensiasi yang dilakukan guru berdasarkan karakteristik tiap-tiap peserta didik.

 

Misalnya melalui Program Pendidikan Individual (PPI) yang digunakan untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan anak. Namun, untuk anak dengan hambatan intelektual seperti disleksia, Saryadi memandang perlu diterapkan kurikulum pendidikan khusus.

 

Namun, implementasi kebijakan pendidikan khusus masih jauh dari ideal. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan 2025, sekitar 40.000 satuan pendidikan reguler di Indonesia telah menyelenggarakan pendidikan inklusif dan tercatat menerima anak disabilitas dari SD hingga sekolah menengah. Dari angka itu, hanya 14,8 persen dari satuan pendidikan inklusif itu yang memiliki guru pembimbing khusus.

 

Selain itu, ada 138.000 lebih peserta didik disabilitas terdata bersekolah di satuan pendidikan inklusif. Artinya, rasio jumlah murid dengan jumlah guru pembimbing khusus belum sesuai sehingga pendampingan murid disabilitas di sekolah inklusif menjadi tidak optimal.

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-cara-mengetahui-anak-mengalami-disleksia?open_from=Riset_Litbang_Page&loc=header

Tidak ada komentar:

Posting Komentar