|
Bagaimana Cara Mengetahui Anak Mengalami
Disleksia? Karina
Isna Irawan, Dian Lintang Sudibyo, Andreas Yoga Parama : Litbang Kompas. |
KOMPAS, 17 September 2026
|
Apa yang bisa Anda pelajari dari
artikel ini: 1. Anak disleksia selalu menunjukkan
tanda serupa. 2. Disleksia bukan kemalasan atau
kebodohan. 3. Deteksi dini di setiap perkembangan
anak. 4. Metode pedagogi khusus untuk anak
disleksia. 5. Tantangan pendidikan inklusif untuk
anak disleksia. Anak disleksia selalu menunjukkan tanda
serupa Sejak istilah disleksia diperkenalkan
oleh dokter mata asal Jerman, Rudolf Berlin, pada 1880-an, pengertian tentang
kondisi ini terus berkembang. Berbagai definisi muncul untuk menjelaskan apa
itu disleksia. Banyaknya pengertian ini pada akhirnya juga menyebabkan
pemahaman tentang disleksia berbeda, baik di kalangan peneliti maupun
masyarakat. Perbedaan ini sering kali berujung pada penanganan yang kurang
tepat bagi penderitanya. Kendati bervariasi, disleksia selalu
menunjukkan tanda serupa, yaitu lambatnya kelancaran saat membaca dan
kesulitan saat mengeja. Inti penjelasannya ada pada penekanan ”kelancaran”.
Berbeda dengan tanda yang dikenal selama ini, misalnya ketidakmampuan mengenali
huruf atau kondisi teks yang terbalik-balik. Bukan berarti ketidakmampuan mengenali
huruf tidak lagi dikategorikan sebagai ciri disleksia. Menurut studi, ciri
itu biasanya terlihat pada anak-anak. Namun, disleksia tidak hanya terjadi
pada anak-anak, disleksia terus ada hingga dewasa. Pada orang dewasa mungkin
kemampuan membaca dan mengenali kata sudah meningkat. Namun, mereka tetap
tidak lancar membaca dan mengeja. Kelancaran berarti membaca secara
akurat, otomatis, dan tanpa perlu bersusah payah. Bagi orang dengan
disleksia, proses membaca tetap menjadi tugas yang sulit meskipun mereka
sudah sering berlatih. Itulah mengapa ”kelancaran” menjadi penanda umum
disleksia di lintas negara dan usia. Lebih lanjut mereka juga mencari apa
akar penyebab disleksia. Penyebab disleksia tidak berakar dari satu faktor.
Peneliti menunjukkan, disleksia berkembang melalui hubungan berbagai faktor,
mulai dari genetik, proses kognitif, hingga lingkungan. Faktor-faktor
tersebut saling berinteraksi sehingga bentuk dan tingkat kesulitan yang
dialami setiap orang pun berbeda. Dalam konteks disleksia perlu
ditekankan, tidak lancar membaca dan mengeja bukan berarti menandakan
kecerdasan yang rendah. Sangat mungkin mereka memiliki kecerdasan normal atau
bahkan di atas rata-rata. Disleksia bukan kemalasan atau
kebodohan Psikolog klinis spesialis masalah
belajar anak yang juga pendiri Pusat Layanan Deteksi, Identifikasi, dan
Intervensi Masalah Belajar pada Anak (Petak Pintar), Annelia Sari Sani,
menyebut, kondisi disleksia masih sering salah dipahami sebagai kemalasan ataupun
kebodohan. Padahal, kondisi ini merupakan gangguan neurologis yang
memengaruhi cara otak memproses suatu pesan dan bahasa. Tanpa pemahaman yang tepat, kondisi
disleksia akan tidak disadari. Penanganan pun akan terlambat sehingga anak
tidak mendapatkan bantuan yang tepat. Deteksi dini akan sulit dilakukan jika
pemahaman masyarakat akan disleksia masih rendah. Anak dapat dikatakan mengalami gangguan
belajar saat kemampuan inteligensinya normal seperti anak pada umumnya tanpa
gangguan sensoris. Anak tetap bisa didiagnosis mengalami gangguan belajar
meski kesulitan dalam belajarnya berbeda-beda bentuknya. Annelia menuturkan, akar masalah
gangguan belajar pada anak terdapat pada gangguan neurologi, bukan pada sikap
ataupun kemauan anak. Sistem kerja otak anak dengan gangguan belajar umumnya
memang berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Kondisi tersebut tidak
kasatmata sehingga sering disalahartikan sebagai kemalasan. ”Sistem kerja otaknya berbeda, tidak
sama dengan orang-orang pada umumnya. Anak yang sebenarnya pintar bisa jadi
kacau dalam belajarnya kalau tidak mendapat cara belajar yang cocok dengan
cara kerja otaknya,” katanya. Ia mencontohkan, seorang anak mampu
menjawab soal pembagian dengan benar. Namun, itu dilakukan dengan cara
pengurangan yang berulang. Pada anak pada umumnya, menghitung 50 dibagi 2
biasanya dilakukan secara hafalan sehingga langsung mendapatkan jawaban 25. Sementara anak dengan gangguan belajar,
hitungan tersebut bisa dilakukan secara manual. Anak tersebut akan menghitung
50 dikurangi 2 sampai angkanya habis sebanyak 25 kali sehingga ditemukan
hasil 25. Cara tersebut membuat anak seolah-olah lama dalam menghitung yang
akhirnya dicap sebagai anak malas atau bodoh oleh lingkungannya. Deteksi dini di setiap perkembangan
anak Perwakilan Indonesian Dyslexia
Foundation yang juga dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, mengatakan,
disleksia merupakan bentuk kesulitan belajar yang spesifik berakar pada
gangguan perkembangan saraf. Gangguan ini bersifat genetik sehingga sulit
untuk dicegah. Anak yang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan
riwayat kesulitan membaca berisiko 40-60 persen mengalami kondisi yang sama. Selain itu, faktor risiko disleksia
bisa dipengaruhi dari faktor prenatal dan perinatal. Anak semakin berisiko
mengalami kesulitan belajar jika lahir prematur, berat badan lahir rendah,
dan terpapar zat berbahaya selama kehamilan. Wiyarni menyampaikan, orangtua bisa
mengenal tanda awal disleksia di setiap tahap perkembangan anak. Pada usia
prasekolah 3-5 tahun, tanda awal bisa ditunjukkan dengan kondisi terlambat
bicara, kesulitan mengenali atau menyebutkan kata berirama, sulit memahami
benda-benda umum secara cepat, serta lambat mempelajari nama huruf, warna,
dan angka. Sementara tanda lain bisa ditemukan
pula pada usia sekolah dini antara usia 6 tahun dan 8 tahun. Tanda tersebut,
antara lain, sangat lambat menghubungkan bentuk huruf dengan bunyinya, sering
membalik huruf atau kata yang mirip secara konsisten, seperti huruf b dan d
atau p dan q, mengeja kata secara acak, serta membaca sangat lambat dan
terbata-bata. Jika tanda awal tersebut ditemukan pada
anak, orangtua sebaiknya segera membawa ke tenaga profesional yang tepat.
Penegakan diagnosis dapat dilakukan secara tepat melalui evaluasi
komprehensif oleh tim ahli multidisiplin. Tim tersebut mencakup dokter anak
spesialis tumbuh kembang untuk skrining sensorik dan medis, psikolog untuk
tes inteligensi, terapis wicara untuk menilai bahasa dan fonologi, serta
psikolog pendidikan untuk mengevaluasi kemampuan akademisi dalam membaca dan
memahami bacaan. Layanan tersebut biasanya bisa diakses di klinik tumbuh
kembang yang tersedia di rumah sakit atau pusat layanan psikologi terpadu. Metode pedagogi khusus untuk anak
disleksia Sekolah inklusif menjadi ruang penting
untuk memastikan hak anak dengan disleksia terpenuhi, yaitu dengan
menyediakan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan
mereka. Sebaliknya, perlakuan berbeda atau pemisahan pendidikan berisiko membatasi
kesempatan anak dengan disleksia untuk berkembang secara optimal. Dokter saraf Samuel T Orton dan
psikolog Anna Gillingham menciptakan metode pedagogi khusus untuk anak dengan
disleksia yang dikenal dengan pendekatan multisensori. Pendekatan itu
menggabungkan kemampuan visual, auditori, kinestetik, dan taktil atau VAKT
yang memudahkan proses pembelajaran linguistik. Penggabungan kemampuan
multisensori dapat membantu mengenali aksara dengan membaca, mengeja,
menulis, dan menyusun kata secara benar. Dengan metode demikian, diharapkan
siswa disleksia dapat dengan lancar membedakan huruf, menyusun kata dan
kalimat, serta membaca informasi. Misalnya, untuk dapat mengeja satu kata
dengan lancar, pertama-tama dilatih mendengar suatu huruf diucapkan, lalu
mencoba membaca kata dengan mengeja per huruf. Kemudian, anak dilatih untuk
menuliskan huruf tersebut dan menyatukannya dengan huruf lain untuk membentuk
satu kata. Metode tersebut dapat divariasikan
dengan, misalnya, menuliskan huruf di pasir atau menyusun alat peraga huruf
untuk membentuk satu kalimat setelah mendengar kata tersebut. Dengan metode
mutlisensori ini, indera anak dengan disleksia terus dilatih untuk mengenal
dan mampu membedakan jenis-jenis huruf melalui bunyi dan bentuknya. Pada
akhirnya, siswa dapat secara mandiri mengolah bacaan dan informasi tanpa
perlu merasa kesulitan atau kebingungan. Pendekatan pedagogi multisensori ini
sekaligus menuntut kompetensi lebih bagi guru untuk mampu menerjemahkan
metode ini dalam proses pembelajaran. Kompetensi guru dalam melakukan
pendampingan menjadi titik kunci bagi keberhasilan metode multisensori ini.
Guru yang mengajar siswa dengan disleksia perlu diberikan pelatihan khusus. Tantangan pendidikan inklusif untuk
anak disleksia Terkait upaya menghapus stigma bagi
penyandang disleksia di sekolah, pemerintah mendorong keterlibatan keluarga,
media, dan masyarakat untuk membangun budaya kesetaraan dan empati. Selain
itu, pendekatan yang dilakukan mencakup pendidikan inklusif, pelatihan guru,
konseling psikososial, serta kolaborasi lintas sektor. Pendidikan inklusif bukan sekadar
persoalan menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, melainkan
mencakup penyesuaian menyeluruh terhadap kapasitas kelas, sarana-prasarana,
metode pembelajaran, asesmen akademik, juga budaya sekolah. Dari sisi kurikulum, terdapat juga
Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13
Tahun 2025 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jenjang
Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kurikulum tersebut
memungkinkan fleksibilitas pengajaran melalui modifikasi pendekatan, strategi
pembelajaran, serta diferensiasi yang dilakukan guru berdasarkan
karakteristik tiap-tiap peserta didik. Misalnya melalui Program Pendidikan
Individual (PPI) yang digunakan untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan
anak. Namun, untuk anak dengan hambatan intelektual seperti disleksia,
Saryadi memandang perlu diterapkan kurikulum pendidikan khusus. Namun, implementasi kebijakan
pendidikan khusus masih jauh dari ideal. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan
2025, sekitar 40.000 satuan pendidikan reguler di Indonesia telah
menyelenggarakan pendidikan inklusif dan tercatat menerima anak disabilitas
dari SD hingga sekolah menengah. Dari angka itu, hanya 14,8 persen dari
satuan pendidikan inklusif itu yang memiliki guru pembimbing khusus. Selain itu, ada 138.000 lebih peserta
didik disabilitas terdata bersekolah di satuan pendidikan inklusif. Artinya,
rasio jumlah murid dengan jumlah guru pembimbing khusus belum sesuai sehingga
pendampingan murid disabilitas di sekolah inklusif menjadi tidak optimal. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-cara-mengetahui-anak-mengalami-disleksia?open_from=Riset_Litbang_Page&loc=header
Tidak ada komentar:
Posting Komentar