|
Konvensi Partai Demokrat (PD) yang
akan diselenggarakan oleh Komite Konvensi PD sebenarnya tidak ada gunanya.
Konvensi PD hanya sebatas akal-akalan untuk mengelabui masyarakat luas dan juga
sekadar untuk menarik simpati masyarakat menghadapi Pemilu 2014.
Citra Partai Demokrat sendiri kini
telanjur anjlok akibat berbagai kasus korupsi yang melibatkan para pemimpin dan
elite partai. Konvensi PD bisa jadi bahan tertawaan kalau secara telanjang
penuh dengan rekayasa.
Pelibatan tokoh dari luar partai
sebenarnya merupakan bagian dari pengelabuan terhadap masyarakat. Komite
Konvensi PD yang kabarnya melibatkan tokoh dari luar partai sebenarnya percuma
saja. Semua itu adalah trik belaka agar masyarakat luas seolah-olah melihat
konvensi PD benar-benar mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan dan tokoh
masyarakat.
Padahal, konvensi PD seharusnya
tidak perlu melibatkan orang luar partai, tetapi dilakukan sendiri saja oleh
internal partai. Di AS, misalnya, Partai Republik melakukan konvensi tanpa
melibatkan orang luar partainya. Namun, konvensi menghasilkan calon presiden
yang benar-benar murni, tanpa rekayasa.
Sementara itu, konvensi PD diduga
direkayasa seakan-akan mencari tokoh yang akan diajukan untuk menjadi
capresnya, padahal PD sudah mempunyai capres yang diajukan pada Pemilihan
Presiden 2014.
Ia tidak lain adalah Pramono Edhie. Calon lain yang disebut-sebut--apalagi
dari luar partai--hanya sebatas menjadi peserta untuk meramaikan konvensi
sehingga masyarakat melihat Partai Demokrat mempunyai banyak tokoh untuk
diajukan sebagai capres. Dengan melibatkan tokoh di luar partai, seakan-akan
masyarakat dilibatkan, padahal itu urusan PD sendiri.
Konvensi PD tak ubahnya seperti
anak-anak main kelereng yang akan memberikan hasil apa pun yang diinginkan.
Konvensi tidak akan menghasilkan capres yang benar-benar hasil konvensi karena
sudah ada calonnya yang akan diusung.
Konvensi juga tidak akan dapat
mengangkat citra PD di mata masyarakat. Masyarakat sudah mengetahui bahwa
banyak elite PD yang terlibat dalam kasus korupsi. Lihat saja, kasus-kasus
korupsi yang melibatkan Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh,
dan Muhammad Nazaruddin.
Bagaimanapun, PD adalah partai
yang sudah "tercemar". Apalagi, sebagai pendiri dan pemimpinnya,
Presiden SBY dinilai gagal dalam berbagai kebijakan, termasuk kebijakan
ekonominya, yang justru membuat ekonomi bangsa menjadi berantakan seperti
sekarang.
Kemiskinan meningkat, harga
kebutuhan masyarakat tidak terkontrol, dan kenaikan harga BBM yang berdampak
menurunkan daya beli masyarakat. Pemerintah melaksanakan kebijakan liberalisasi
ekonomi sehingga semua diserahkan ke pasar.
Ini masalah besar. Pemerintah atau
pemimpin cenderung mengabaikan dasar negara. Bangsa Indonesia yang biasa hidup
dalam kebersamaan tidak cocok dengan gaya neolib yang berdasarkan penguasaan
modal secara individual. Inilah kesalahan pemimpin yang tidak memahami dasar
negaranya sendiri.
Peliputan pers sendiri menyajikan
informasi yang penuh rekayasa dan bisa menyesatkan, seakan-akan PD berada
bersama masyarakat. Karena itu, masyarakat agar hati-hati menyikapi kegiatan PD
dengan tokoh-tokoh yang akan diajukan untuk menjadi capres.
Jangan
mudah percaya menghadapi sepak terjang partai yang asyik membentuk citra,
padahal sudah menjadi rahasia umum, partainya penuh noda dan aroma korupsi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar