Kamis, 15 Agustus 2013

Konvensi Partai Demokrat

Konvensi Partai Demokrat
Iberamsjah Guru Besar Politik UI
SUARA KARYA, 13 Agustus 2013


Konvensi Partai Demokrat (PD) yang akan diselenggarakan oleh Komite Konvensi PD sebenarnya tidak ada gunanya. Konvensi PD hanya sebatas akal-akalan untuk mengelabui masyarakat luas dan juga sekadar untuk menarik simpati masyarakat menghadapi Pemilu 2014.
Citra Partai Demokrat sendiri kini telanjur anjlok akibat berbagai kasus korupsi yang melibatkan para pemimpin dan elite partai. Konvensi PD bisa jadi bahan tertawaan kalau secara telanjang penuh dengan rekayasa.

Pelibatan tokoh dari luar partai sebenarnya merupakan bagian dari pengelabuan terhadap masyarakat. Komite Konvensi PD yang kabarnya melibatkan tokoh dari luar partai sebenarnya percuma saja. Semua itu adalah trik belaka agar masyarakat luas seolah-olah melihat konvensi PD benar-benar mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan dan tokoh masyarakat.

Padahal, konvensi PD seharusnya tidak perlu melibatkan orang luar partai, tetapi dilakukan sendiri saja oleh internal partai. Di AS, misalnya, Partai Republik melakukan konvensi tanpa melibatkan orang luar partainya. Namun, konvensi menghasilkan calon presiden yang benar-benar murni, tanpa rekayasa.
Sementara itu, konvensi PD diduga direkayasa seakan-akan mencari tokoh yang akan diajukan untuk menjadi capresnya, padahal PD sudah mempunyai capres yang diajukan pada Pemilihan Presiden 2014. 

Ia tidak lain adalah Pramono Edhie. Calon lain yang disebut-sebut--apalagi dari luar partai--hanya sebatas menjadi peserta untuk meramaikan konvensi sehingga masyarakat melihat Partai Demokrat mempunyai banyak tokoh untuk diajukan sebagai capres. Dengan melibatkan tokoh di luar partai, seakan-akan masyarakat dilibatkan, padahal itu urusan PD sendiri.

Konvensi PD tak ubahnya seperti anak-anak main kelereng yang akan memberikan hasil apa pun yang diinginkan. Konvensi tidak akan menghasilkan capres yang benar-benar hasil konvensi karena sudah ada calonnya yang akan diusung.

Konvensi juga tidak akan dapat mengangkat citra PD di mata masyarakat. Masyarakat sudah mengetahui bahwa banyak elite PD yang terlibat dalam kasus korupsi. Lihat saja, kasus-kasus korupsi yang melibatkan Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, dan Muhammad Nazaruddin.

Bagaimanapun, PD adalah partai yang sudah "tercemar". Apalagi, sebagai pendiri dan pemimpinnya, Presiden SBY dinilai gagal dalam berbagai kebijakan, termasuk kebijakan ekonominya, yang justru membuat ekonomi bangsa menjadi berantakan seperti sekarang.

Kemiskinan meningkat, harga kebutuhan masyarakat tidak terkontrol, dan kenaikan harga BBM yang berdampak menurunkan daya beli masyarakat. Pemerintah melaksanakan kebijakan liberalisasi ekonomi sehingga semua diserahkan ke pasar.

Ini masalah besar. Pemerintah atau pemimpin cenderung mengabaikan dasar negara. Bangsa Indonesia yang biasa hidup dalam kebersamaan tidak cocok dengan gaya neolib yang berdasarkan penguasaan modal secara individual. Inilah kesalahan pemimpin yang tidak memahami dasar negaranya sendiri.
Peliputan pers sendiri menyajikan informasi yang penuh rekayasa dan bisa menyesatkan, seakan-akan PD berada bersama masyarakat. Karena itu, masyarakat agar hati-hati menyikapi kegiatan PD dengan tokoh-tokoh yang akan diajukan untuk menjadi capres.

Jangan mudah percaya menghadapi sepak terjang partai yang asyik membentuk citra, padahal sudah menjadi rahasia umum, partainya penuh noda dan aroma korupsi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar