|
Tauhid Prof Jiang Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 18 September 2026
|
Ia membaca
sejarah untuk memprediksi masa depan. Pekan ini, Prof Jiang justru
mengucapkan syahadat. Apa yang mengantarnya ke sana? Video itu berlangsung di tempat yang
nyaris tak memiliki kesan sakral. Bukan di masjid dengan kubah menjulang,
bukan pula di ruang kuliah dengan podium dan papan tulis. Ia direkam di jalan
samping gerbang Washington Square, New York. Tampak seorang lelaki berjas dan
berdasi berjalan bersama Sneako, pembuat konten kontroversial yang dikenal
luas di internet. Lelaki itu Jiang Xueqin. Di dunia maya, orang mengenalnya
sebagai Prof Jiang, pengajar sejarah dan geopolitik. Hari itu, percakapannya dengan Sneako
tiba-tiba berbelok ke agama. “Man, we need an Islam. It's the only solution.” “Yep. That's right,” jawab Jiang
sambil terus melangkah cepat. Lalu, masih sambil berjalan, Sneako
memintanya mengulang baca dua kalimat syahadat. Jiang mengikuti, kata demi
kata, dengan pelafalan masih terbata-bata: Asy-hadu an la ilaha illallah, wa
asy-hadu anna Muhammadan rasulullah. Setelah itu, Sneako mengucapkan, “Allahu
Akbar.” Namun, yang menarik bukan hanya momen
pengucapan itu. Sneako masih meminta kepastian: apakah Jiang memahami makna
kalimat yang baru diucapkannya? Jiang menjawab bahwa "kalimat itu
indah". Tak ada penjelasan lebih jauh. Ketika ditanya apakah ia percaya
Muhammad adalah utusan Tuhan, ia menjawab, “I believe Muhammad is the
messenger of God. Yes.” Ia juga menyetujui bahwa tidak ada yang berhak
disembah selain Tuhan. “Alhamdulillah,” kata Sneako. Kemudian
banyak potongan video ini beredar di berbagai platform media, yang menyebut
Prof. Jiang telah masuk Islam. Tapi, ada juga yang meragukannya. Begitulah sebuah peristiwa besar
kadang muncul tanpa tata upacara yang megah. Ia menyelinap di antara langkah
kaki, percakapan spontan, dan suara kendaraan kota besar New York, Amerika
Serikat. Ia cukup direkam, mungkin dengan kamera biasa, lalu dunia tahu. Tetapi justru karena itulah, kita
perlu membacanya dengan kepala dingin. Kita tak perlu tergesa-gesa
menjadikannya tontonan spektakuler yang beredar begitu luas di internet,
tetapi juga tidak buru-buru mengecilkan maknanya. -000- Jiang Xueqin bukan nama baru dalam
dunia pendidikan dan analisis sejarah. Ia lahir di Guangdong, Tiongkok, pada
1976, kemudian keluarganya bermigrasi ke Kanada. Ia menyelesaikan pendidikan
sarjana sastra Inggris di Yale University pada 1999. Setelah itu, ia kembali ke negara
kelahirannya. Ia berkecimpung dalam dunia pendidikan di Tiongkok, antara lain
melalui program sekolah eksperimental dan pembaruan pendidikan. Pada 2014, ia menerbitkan Creative
China, buku yang mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan
hafalan, ujian, dan kepatuhan mekanis. Menurutnya, sekolah harus melahirkan
manusia kreatif yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar mesin penghasil
jawaban benar. Jadi, sebelum menjadi komentator
geopolitik, Jiang lebih dahulu merupakan pendidik. Ia pernah terlibat dalam
pengembangan sekolah dan menulis tentang bagaimana pendidikan dapat membentuk
manusia yang lebih mandiri. Profilnya sebagai pengajar juga
dikonfirmasi oleh wawancara Ian Johnson di The New York Review of Books pada
2014, ketika Jiang terlibat dalam reformasi pendidikan di Tiongkok. Popularitasnya melonjak melalui
kuliah-kuliah tentang sejarah peradaban, strategi, dan geopolitik. Ia
mengembangkan pendekatan yang disebut predictive history. Ia membaca pola sejarah, struktur
kekuasaan, psikologi elite, serta teori permainan untuk memperkirakan arah
peristiwa. Seperti Ibnu Khaldun, ia melihat sejarah dari perspektif luas
perkembangan sosial. Dalam praktiknya, Jiang kerap
membandingkan konflik modern dengan peristiwa masa lampau. Ia, misalnya,
menggunakan Ekspedisi Sisilia Athena pada 415 SM sebagai analogi untuk
menjelaskan risiko operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Ia juga menggabungkan sejarah dengan
gagasan psychohistory dalam novel Foundation karya Isaac Asimov. Tapi tentu,
itu bukan sebagai ilmu yang sudah mapan, melainkan sebagai inspirasi untuk
membayangkan bagaimana perilaku masyarakat dapat dibaca melalui pola. Pendekatan itu membuatnya menarik
sekaligus kontroversial. Para pengikutnya melihat keberanian membuat prediksi
yang dapat diuji. Para pengkritiknya mengingatkan bahwa sejarah bukan mesin
fotokopi. Pola lama tidak otomatis menghasilkan
peristiwa baru yang sama. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak
kemungkinan, dan terlalu mudah bagi manusia untuk hanya mengingat prediksi
yang kebetulan benar. Namun, terlepas dari soal akurasi
ramalannya, ada satu hal yang membuat Jiang relevan dalam percakapan tentang
Islam. Ia tak memandang agama semata-mata sebagai urusan ritual privat. Ia
melihat agama sebagai kekuatan intelektual yang pernah membentuk cara manusia
memahami dunia. -000- Dalam salah satu kuliahnya yang
berjudul The Golden Age of Islam, Jiang menyampaikan gagasan yang cukup
berani. Modernitas, katanya, tak lahir begitu saja dari Eropa. Menurutnya,
banyak fondasi intelektual yang kelak menopang modernitas telah tumbuh dalam
peradaban Islam. “The problem though is it's too simple
and clear to say that modernity began in Europe,” katanya. “We forget that
Islam really built the basis for modernity.” Pernyataan itu tentu tidak boleh
dibaca sebagai penghapusan kontribusi Yunani, Romawi, India, Tiongkok, atau
Eropa. Sejarah ilmu pengetahuan bukan lomba estafet dengan satu pelari yang
boleh mengklaim seluruh medali. Tetapi Jiang hendak mengoreksi narasi
yang terlalu sederhana. Ia menolak pendapat seolah-olah dunia hanya tidur,
lalu Eropa bangun dan menemukan modernitas seorang diri. Bagi Jiang, Islam menghadirkan sebuah
revolusi intelektual karena ia menyatukan beberapa hal yang sering
dipisahkan: keyakinan kepada Tuhan, pemahaman tentang alam, tanggung jawab
manusia, dan dorongan memperbaiki kehidupan. Ia melihat tauhid bukan sekadar
pernyataan metafisis bahwa Tuhan itu satu. Tauhid juga mengubah hubungan
manusia dengan dunia. Jika hanya ada satu Tuhan yang mutlak,
maka alam tak lagi menjadi arena yang dikuasai oleh jutaan kekuatan ilahi
yang saling bersaing. Alam dapat dipelajari, dipahami, dan dimanfaatkan untuk
kemaslahatan manusia. Di sinilah Jiang menghubungkan Islam
dengan lahirnya sains. “Why do we use science to make the world better?
Because God wants us to make the world better,” ujarnya. Tentu, kalimat ini merupakan
interpretasi filosofis Jiang, bukan rumusan tunggal yang mewakili seluruh
sejarah pemikiran Islam. Tetapi gagasannya memiliki pijakan dalam tradisi
intelektual Islam. Islam memandang alam sebagai ciptaan
Allah yang memiliki keteraturan, sementara manusia memperoleh amanah untuk
mengelola bumi. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan
langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta berbagai gejala alam sebagai
tanda-tanda yang perlu direnungkan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan
tidak harus dipahami sebagai lawan iman. Ia dapat menjadi jalan untuk membaca
ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda Tuhan dalam ciptaan. Bagi Jiang, hubungan semacam itu
membantu menjelaskan mengapa peradaban Islam pernah menghasilkan kemajuan
besar dalam matematika, astronomi, kedokteran, optika, filsafat, dan berbagai
bidang ilmu lainnya. -000- Bagian paling menarik dari penjelasan
Jiang terletak pada perbandingannya antara politeisme dan monoteisme. Dalam
transkrip yang beredar, ia menggunakan istilah monisme, tapi konteks
pembicaraannya jelas merujuk pada monotheisme, yakni keesaan Tuhan. Menurut Jiang, dunia politeistik
menghadirkan banyak dewa dengan wilayah kekuasaan, karakter, dan tuntutan
yang berbeda-beda. Dalam kerangka itu, hubungan manusia dengan kekuatan ilahi
menjadi lebih rumit. Sebaliknya, monoteisme menghadirkan
kejelasan: hanya ada satu Tuhan, dan hubungan manusia dengan-Nya memiliki
pusat yang tegas. “There's one God; therefore I just
have to follow him, I have to believe in him,” katanya. “The relationship
between God and you is very, very clear.” Jiang menyebut kejelasan dan kemutlakan
monoteisme sebagai kekuatan intelektual. Bagi dia, tauhid menyederhanakan
pusat orientasi manusia. Tidak ada banyak kekuasaan mutlak yang harus
ditakuti, dirayu, atau dinegosiasikan. Tidak ada dewa yang menjadi pesaing
bagi dewa lain. Hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan. Di sini, pemikiran Jiang bersentuhan
dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. La ilaha illallah bukan sekadar angka
“satu” dalam aritmetika ketuhanan. Tauhid merupakan pembebasan. Ia
menolak segala sesembahan selain Allah, sekaligus menolak penghambaan manusia
kepada kekuatan-kekuatan yang mengklaim kemutlakan. Tauhid, dalam pengertian ini, memiliki
konsekuensi etis dan sosial. Jika hanya Allah yang mutlak, maka manusia
—betapapun tinggi jabatan, kekayaan, ilmu, atau pengaruhnya— tidak boleh
menempatkan diri sebagai penguasa mutlak atas manusia lain. Raja bukan Tuhan. Negara bukan Tuhan.
Pasar bukan Tuhan. Algoritma bukan Tuhan. Bahkan ego kita sendiri bukan
Tuhan. Di situlah tauhid dapat menjadi kritik
terhadap berhala-berhala modern. Berhala tidak selalu berupa patung batu. Ia
bisa berupa kekuasaan yang menuntut kepatuhan tanpa batas, uang yang
menentukan seluruh nilai kehidupan, atau ideologi yang menganggap dirinya
selalu benar. Jiang tampaknya melihat Islam sebagai
agama yang membuat Tuhan “konkret” dalam kehidupan manusia. Tapi, dengan itu
ia tidak bermaksud mengatakan Allah menyerupai benda yang dapat disentuh atau
dibatasi. Dalam konteks penjelasannya,
“concrete” lebih dekat dengan makna bahwa Tuhan hadir secara nyata dalam
orientasi hidup. Tuhan dikenal, disembah, ditaati, dan dijadikan pusat
tindakan. Tetapi di sini pula kita perlu memberi
catatan teologis. Islam tidak mengajarkan bahwa Allah dapat “disentuh” secara
fisik atau disamakan dengan makhluk. Allah transenden, tidak menyerupai
ciptaan. Karena itu, bahasa Jiang sebaiknya dipahami sebagai bahasa filosofis
dan pedagogis, bukan sebagai rumusan akidah yang diperdebatkan. -000- Jiang telah membicarakan Islam sebelum
video syahadat itu beredar. Ia tidak tiba-tiba menemukan agama ini dari
sebuah percakapan singkat di jalan. Dalam kuliah-kuliahnya, ia sudah
menganggap Islam sebagai salah satu kekuatan besar yang membentuk sejarah
manusia. Ia melihat Islam sebagai kelanjutan
kisah kenabian, sebagai agama yang membawa gagasan tentang Tuhan lebih dekat
kepada kehidupan manusia, dan sebagai kekuatan yang mendorong umatnya
membangun dunia. Dalam penjelasannya, ia bahkan
menghubungkan beberapa gagasan Islam dengan perkembangan modernitas Eropa,
termasuk gagasan tentang hubungan personal manusia dengan Tuhan dan dorongan
untuk memperbaiki dunia. Pembacaan itu tentu dapat
diperdebatkan. Sejarah Reformasi Protestan, misalnya, memiliki konteks
sosial, politik, dan teologis yang kompleks. Tidak tepat menyederhanakannya
sebagai akibat langsung dari Islam. Demikian pula, modernitas memiliki
banyak akar yang saling bertaut. Tapi justru di situlah pentingnya membaca
Jiang secara serius. Kita tak usah menelan seluruh kesimpulannya, melainkan
memahami pertanyaan yang ia ajukan. Mengapa Islam, yang sering digambarkan
dalam narasi populer sebagai agama masa lalu, justru pernah menjadi motor
kemajuan intelektual? Mengapa tauhid yang tampak sederhana
dapat melahirkan konsepsi tentang ilmu, hukum, tanggung jawab, dan peradaban?
Mengapa hubungan dengan Tuhan tidak
harus menjauhkan manusia dari dunia, tetapi dapat mendorongnya mengolah
dunia? Pertanyaan-pertanyaan itu lebih
berharga daripada sekadar menjadikan Jiang sebagai “orang terkenal yang masuk
Islam”. Tentang status keislamannya, M. Hijab
—dalam tanggapan yang dikutip dalam video yang beredar— memberikan penjelasan
yang cukup hati-hati. Ia mengatakan, secara teknis, orang yang mengucapkan
syahadat dan menyatakan mempercayai maknanya dapat dihukumi sebagai Muslim. Namun, ia juga menilai akan lebih baik
jika Jiang menjelaskan secara lebih terperinci apakah ia menerima Al-Qur’an
sebagai firman Allah, meyakini kenabian Muhammad, dan memahami dasar-dasar
Islam. Pandangan itu masuk akal sebagai
ajakan untuk membedakan dua hal: hukum lahiriah dan kedalaman perjalanan
iman. Dalam tradisi Islam, seseorang yang mengucapkan syahadat dengan
keyakinan yang benar telah memasuki Islam. Adapun kadar pemahaman, keteguhan, dan
perjalanan spiritualnya merupakan perkara yang terus berkembang. Kita tidak
perlu menuntut seorang yang baru bersyahadat langsung menjadi ulama, apalagi
lulus ujian komprehensif akidah di trotoar Manhattan. Tetapi kita juga tidak perlu
menjadikan momen itu sebagai bukti bahwa seluruh persoalan keislaman Jiang telah
selesai. Syahadat adalah pintu, bukan garis finis. Setelah pintu terbuka, ada perjalanan
panjang. Mulai dari belajar Al-Qur’an, mengenal sunnah, memahami ibadah,
membangun akhlak, hingga menguji keyakinan melalui kehidupan nyata. -000- Di era media sosial, setiap peristiwa
mudah berubah menjadi bendera kelompok. Seseorang mengucapkan syahadat, lalu
berbagai pihak berlomba mengklaim: siapa yang berhasil mengislamkannya, siapa
yang paling berjasa, siapa yang paling berhak menjelaskan maknanya. Padahal, Islam tidak membutuhkan
kemenangan humas dari setiap orang yang masuk Islam. Hidayah bukan trofi yang
boleh dipajang di etalase organisasi. Ia amanah yang menuntut tanggung jawab. Yang lebih penting dari siapa yang
menuntun Jiang membaca syahadat ialah apakah ia menemukan komunitas yang
membantunya belajar dengan tenang. Apakah ia bertemu Muslim yang
memperlihatkan keindahan akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman ibadah? Kita berharap ia menemukan bahwa
tauhid bukan hanya teori yang indah dalam kuliah, tetapi juga kekuatan untuk
berlaku adil, jujur, rendah hati, dan tidak menyembah kepentingan diri. Sebab, jika Islam disebut sebagai
revolusi intelektual, revolusi itu tidak boleh berhenti di kepala. Ia harus
turun menjadi cara hidup. Tauhid yang benar semestinya membuat
manusia lebih merdeka dari kesombongan, bukan lebih sombong karena merasa
memiliki kebenaran. Tauhid semestinya melahirkan ilmu yang
bermanfaat, bukan kebanggaan kosong atas kejayaan masa lalu. Ia semestinya
mendorong perbaikan dunia, bukan sekadar nostalgia tentang zaman keemasan. Jiang mungkin baru saja mengucapkan
syahadat. Kita belum tahu sejauh mana perjalanan keagamaannya akan
berkembang. Dan kita tidak perlu mengarang bab-bab yang belum ditulisnya. Tetapi percakapan itu mengingatkan
kita pada sesuatu yang sering luput. Islam bukan hanya kumpulan jawaban
ritual, melainkan juga tawaran mendasar tentang bagaimana manusia memahami
realitas. Tauhid menyatukan langit dan bumi, ilmu dan tanggung jawab, kebebasan
dan penghambaan. Di tengah dunia yang semakin ramai
oleh berhala-berhala baru, mungkin itulah alasan kalimat yang paling
sederhana masih memiliki daya gugah yang begitu besar: La ilaha illallah.
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Kalimat pendek, tetapi cakrawalanya
luas. Ia dapat menjadi awal perjalanan seorang akademisi. Ia juga dapat menjadi cermin bagi
orang-orang yang sudah lama mengaku beriman: apakah benar hanya Allah yang
kita sembah, atau diam-diam kita masih bersujud kepada kekuasaan, uang,
popularitas, dan ego sendiri? ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar