Menghadiri
Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (6)
|
DAN DATANGLAH ABAD SERBA LISTRIK Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 18 September 2026
|
Bayangkan
sebuah kota pada masa depan dalam waktu sangat dekat. Mobil melaju tanpa
bensin. Kereta bergerak tanpa diesel. Dapur tanpa api. Gedung mengatur suhu,
cahaya, dan udara dengan listrik. Pabrik
semakin meninggalkan pembakaran langsung. Robot bekerja berdampingan dengan
manusia. Ribuan server menjalankan kecerdasan buatan. Bahkan uang berpindah
sebagai denyut digital dalam sepersekian detik. Belum
pernah sebelumnya sebuah peradaban menyerahkan begitu banyak fungsi kehidupan
kepada satu bentuk energi: listrik. Kota itu seperti makhluk raksasa dengan
miliaran saraf, semuanya dialiri elektron. Lalu
bayangkan listrik berhenti. Dalam sekejap, kota paling maju dapat berubah
menjadi kota yang paling tak berdaya. -000- Hari
keempat konferensi Gastech di Bangkok, saya membaca kembali beberapa paper.
Temanya berbeda, tetapi seperti banyak sungai, semuanya bermuara pada samudra
yang sama. Kita
memasuki apa yang disebut International Energy Agency sebagai Age of
Electricity. Permintaan listrik global diperkirakan tumbuh rata-rata 3,6
persen per tahun sepanjang 2026–2030. Menurut
IEA, lima tahun mendatang akan menambah sekitar 50 persen lebih banyak
permintaan listrik dibanding lima tahun sebelumnya, jauh lebih cepat daripada
pertumbuhan kebutuhan energi keseluruhan. Mengapa? Semakin
banyak kebutuhan manusia berpindah dari pembakaran langsung menuju elektron.
Kendaraan menjadi elektrik. Mesin menjadi elektrik. Pendinginan meningkat.
Industri semakin otomatis. Rumah semakin dipenuhi perangkat listrik. Elektrifikasi
bahkan memasuki jantung industri LNG. Di Hammerfest LNG milik Equinor di
Norwegia, tiga kompresor pendingin utama digerakkan motor listrik raksasa
berkapasitas sekitar 65 megawatt per unit. Perubahan
kedua datang dari dunia yang tampaknya tidak berhubungan dengan energi:
kecerdasan buatan. Namun AI ternyata bukan hanya revolusi algoritma. Ia juga
revolusi listrik. Data
center tampak seperti awan tanpa berat. Padahal di balik cloud berdiri chip,
server, transformer, pembangkit, baterai, sistem pendingin, air, kabel, dan
jaringan. Ada
ironi besar zaman ini. Semakin virtual kehidupan manusia, semakin besar tubuh
fisik yang menopangnya. Kecerdasan buatan ternyata juga harus makan listrik. Data
center membutuhkan listrik tanpa henti. Sementara itu, pembangkit, jaringan
transmisi, substasiun, transformer, dan berbagai perizinan sering membutuhkan
waktu bertahun-tahun untuk dibangun. Karena
itu, perlombaan AI perlahan juga menjadi perlombaan memperoleh elektron tepat
waktu. Talenta digital saja tidak cukup jika energi yang menghidupkannya
datang terlambat. Perubahan
ketiga jauh lebih manusiawi. Ketika keluarga menjadi lebih makmur, mereka
membeli kenyamanan. Di Asia yang panas, salah satu simbol paling sederhana
adalah pendingin udara. Mereka
tidak merasa sedang meningkatkan electricity demand. Mereka hanya ingin
anak-anak tidur tanpa berkeringat. Di balik setiap megawatt, ternyata selalu
tersembunyi aspirasi manusia. -000- Ketika
semuanya semakin elektrik, makna listrik sendiri berubah. Ia berhenti menjadi
sekadar komoditas yang kita bayar setiap bulan. Ia menjadi sistem saraf
peradaban. Ketika
listrik padam, bukan hanya lampu yang mati. Server berhenti. Pembayaran
digital terganggu. Lift terdiam. Pabrik kehilangan produksi. Rumah sakit
beralih menuju generator. Semakin
berhasil elektrifikasi, semakin besar ketergantungan kepada listrik. Kemajuan
membawa paradoksnya sendiri. Peradaban menjadi semakin canggih, tetapi
sekaligus semakin rapuh terhadap gangguan elektron. Karena
itu, tiga kata yang berulang di Gastech memperoleh makna baru: reliable,
secure, resilient. Energi masa depan tidak cukup hanya bersih. Ia harus
tersedia setiap saat dibutuhkan. Batas
antara industri energi dan industri digital juga mulai menghilang. LNG,
pembangkit, jaringan, data center, storage, dan cooling semakin dapat
dirancang sebagai satu ekosistem terpadu. Bayangkan
gas memasuki sebuah kawasan industri. Sebagian menjadi LNG. Sebagian
menghasilkan listrik. Panas yang dahulu dibuang dimanfaatkan kembali. Listrik
kemudian menghidupkan data center. Di
sini lahir perubahan filosofis. Pertanyaan lama berbunyi: berapa banyak
energi yang kita miliki? Pertanyaan baru: seberapa cerdas kita menggunakan
setiap joule yang tersedia? Bahkan
sesuatu yang dahulu disebut limbah memperoleh kehidupan kedua. Panas buangan
dapat menjadi pendinginan. Cold energy LNG dapat dimanfaatkan. Gas yang
dahulu dibakar dapat digunakan kembali. Di
Oman, misalnya, Oman LNG merancang Cold Gas Recovery yang mendaur ulang gas
dingin dari operasi turnaround, gas yang sebelumnya menuju flare, dan
mengembalikannya lewat sistem Boil Off Gas. Program
itu diperkirakan mencegah sekitar 60 hingga 80 ton gas dingin dibakar setiap
hari, dan menghemat sekitar 3.300 ton CO₂ ekuivalen
per tahun, tanpa menghilangkan jalur flare sebagai pengaman. Energi
terbuang seperti uang yang tercecer di lantai pabrik. Selama ini manusia
terlalu sibuk menggali bumi sehingga lupa membungkuk untuk mengambil apa yang
sudah jatuh. Mungkin
dalam ekonomi energi baru, waste hanyalah nama sementara bagi sesuatu yang
belum cukup cerdas kita gunakan. Kemajuan juga berarti berhenti membuang
tanpa berpikir. -000- Namun
di balik optimisme itu terdapat peringatan penting. Elektrifikasi tidak
otomatis berarti dekarbonisasi. Elektron tidak membawa warna ketika memasuki
motor. Kebersihannya ditentukan oleh bagaimana ia dilahirkan. Jika
listrik berasal dari pembangkit sangat kotor, emisi hanya berpindah alamat.
Cerobongnya mungkin menghilang dari halaman rumah, tetapi karbonnya tetap
menemukan jalan menuju langit. Karena
itu, elektrifikasi harus berjalan bersama pembersihan pembangkitan.
Renewables, geothermal, hydro, nuclear, storage, gas efisien, dan CCUS dapat
memainkan peranan berbeda dalam transisi ini. Kontra-argumennya
layak didengar. Tidak semua proses mudah dielektrifikasi. Grid membutuhkan
waktu. Mineral kritis terbatas. Modal terbatas. Ketergantungan listrik juga
melahirkan kerentanan baru. Grid
adalah jaringan jalan raya bagi listrik. Isinya antara lain kabel transmisi,
gardu induk, jaringan distribusi, dan sistem pengendali yang membawa listrik
dari pembangkit menuju rumah, kantor, pabrik, sampai data center. Pembangkit
boleh berlimpah, tetapi jika grid lemah, listrik itu seperti makanan yang
menumpuk di gudang karena tidak ada jalan untuk mengantarkannya kepada mereka
yang membutuhkan. Gangguan
jaringan, cuaca ekstrem, serangan siber, atau kegagalan sistem dapat menjalar
cepat. Semakin banyak telur diletakkan dalam keranjang elektron, semakin
kokoh keranjangnya harus dibuat. Namun
keberatan itu tidak membatalkan arah perubahan. Jawabannya bukan menghentikan
elektrifikasi, melainkan membuatnya bertahap, beragam, semakin bersih, aman,
efisien, dan jauh lebih tangguh. Saya
justru memperoleh satu kesadaran dari berbagai diskusi di Bangkok. Ketika
molekul digantikan elektron, risiko tidak menghilang begitu saja. Risiko
hanya berganti bahasa dan alamat. Maka
Abad Serba Listrik tidak membutuhkan pembangkit semata. Ia membutuhkan grid,
storage, redundancy, cyber security, engineering, regulasi, dan manusia yang
mampu melihat semuanya sebagai satu sistem. Storage
adalah tempat menyimpan listrik untuk digunakan kemudian, terutama baterai
skala besar. Matahari
menghasilkan banyak energi pada siang hari, misalnya, tetapi kebutuhan
listrik tetap tinggi ketika malam datang. Storage
menyimpan kelebihan siang untuk membantu memenuhi kebutuhan malam. Ia seperti
tabungan energi. Redundancy
adalah sistem cadangan. Jika satu jalur listrik, pembangkit, gardu, atau
perangkat mengalami gangguan, ada jalur atau fasilitas lain yang dapat
mengambil alih. Pesawat
memiliki sistem cadangan karena kegagalan satu komponen tidak boleh
menjatuhkan seluruh pesawat. Sistem listrik modern membutuhkan prinsip
serupa. -000- Apa
artinya bagi Indonesia? Pertumbuhan konsumsi listrik jangan dilihat sebagai
beban semata. Ia juga dapat menjadi denyut industrialisasi, digitalisasi,
urbanisasi, dan meningkatnya kesejahteraan. Namun,
transisi ini menuntut keberanian finansial. Indonesia harus menyelesaikan
dilema kelebihan kapasitas fosil, menata ulang struktur subsidi energi, serta
menurunkan biaya pembangkitan agar listrik bersih tetap terjangkau bagi
masyarakat. Indonesia
mempunyai kombinasi istimewa: pasar besar, gas, geothermal, hydro, solar,
mineral kritis, industri berkembang, serta ekonomi digital yang akan semakin
lapar terhadap listrik. Tetapi
kekayaan sumber daya tidak otomatis menjadi keunggulan. Elektron dari
pembangkit kehilangan nilai ekonominya jika jaringan tidak mampu
mengantarkannya ketika dan di mana ia dibutuhkan. Di
sinilah pekerjaan raksasa Indonesia: grid. Kita dapat memiliki matahari, gas,
geothermal, baterai, dan data center, tetapi seluruh revolusi tetap dapat
tersandung kabel yang lemah. Maka,
reformasi regulasi, skema pembiayaan transformatif, serta insentif investasi
swasta menjadi kunci mutlak guna memodernisasi jaringan listrik nasional
secara adil, efisien, dan berkelanjutan. Kabel
memang tidak semegah kilang. Transformer tidak sepopuler AI. Gardu jarang
menjadi berita utama. Tetapi justru infrastruktur sunyi inilah yang akan
menopang seluruh ekonomi baru. Indonesia
menghadapi persoalan tambahan karena merupakan negara kepulauan. Kita
memerlukan modernisasi jaringan, storage, demand response, interkoneksi
ekonomis, dan sistem lokal tangguh sesuai karakter wilayah. Geothermal
dan hydro menjadi kartu strategis. Ketika solar dan wind semakin besar,
sumber rendah karbon yang relatif stabil memperoleh nilai yang melampaui
harga setiap kilowatt-hour. Gas
juga dapat menjadi jembatan bagi fleksibilitas dan firm power. Tetapi masa
depannya menuntut efisiensi tinggi, methane leakage rendah, pengurangan
flaring, dan carbon intensity yang transparan. Pelajaran
lain dari Gastech terasa sangat relevan. Jangan lagi membangun aset sebagai
pulau. Pembangkit, LNG, industri, data center, storage, dan jaringan harus
dipikirkan bersama sejak awal. Yang
dimaksud “membangun aset sebagai pulau” bukan pulau secara geografis. Itu
metafora untuk membangun satu proyek secara sendiri-sendiri, tanpa sejak awal
memikirkan hubungannya dengan proyek dan infrastruktur lain. Indonesia
juga jangan puas menjadi konsumen elektrifikasi. Kita memiliki nikel,
tembaga, dan mineral strategis. Tetapi menggali isi bumi hanyalah anak tangga
pertama penciptaan nilai. Tangga
berikutnya lebih menentukan. Mineral menjadi material. Material menjadi
baterai. Baterai menjadi sistem. Sistem menjadi teknologi. Teknologi kemudian
berubah menjadi pengetahuan dan inovasi baru. Di
sanalah industrialisasi memperoleh kedalaman sejarahnya: Indonesia bergerak
dari bangsa yang terutama mengekspor isi bumi menjadi bangsa yang semakin
mampu mengekspor isi kepala. -000- Dua
buku membantu memahami perubahan ini. Pertama, How the World Really Works,
karya Vaclav Smil, diterbitkan Viking pada 2022, mengingatkan kita kepada
fondasi material peradaban. Smil
menunjukkan dunia digital tetap mempunyai tubuh fisik. Energi, baja, semen,
pupuk, mesin, mineral, transportasi, dan infrastruktur tetap membatasi
sekaligus memungkinkan ambisi manusia. Pelajarannya
jelas. Elektrifikasi bukan sekadar mengumumkan EV (Electric Vehicle), atau
data center. Kita membutuhkan pembangkit, kabel, transformer, storage,
manufaktur, modal, mineral, serta pekerja terampil dalam jumlah besar. Masa
depan boleh semakin digital. Tetapi hukum termodinamika tidak pernah pindah
ke cloud. Di balik setiap mimpi elektronik, tetap berdiri mesin, pabrik,
tambang, dan manusia. Buku
kedua, Electrify: An Optimist’s Playbook for Our Clean Energy Future, karya
Saul Griffith, diterbitkan The MIT Press pada 2021, menawarkan perspektif
yang lebih optimistis. Intinya
sederhana: electrify everything. Pindahkan sebanyak mungkin penggunaan energi
menuju listrik, kemudian bersihkan sumber pembangkitan listrik itu secara
sistematis, luas, dan semakin cepat. Kekuatan
gagasan Griffith terletak pada kesederhanaannya. Daripada membakar bahan
bakar pada jutaan titik, semakin banyak aktivitas dipusatkan pada listrik
yang sumbernya terus dapat dibersihkan. Tetapi
zaman menambahkan catatan penting kepada optimisme itu: electrify everything
hanya mungkin jika kita sanggup menyediakan electricity for everything,
secara andal, terjangkau, dan bersih. -000- Malam
terakhir di Bangkok, saya memandang gedung-gedung menyala seperti gugusan
bintang buatan. Di balik setiap jendela, sungai elektron mengalir tanpa
suara, menghidupkan sebuah peradaban. Abad
ke-20 dibentuk oleh perebutan molekul energi. Abad ke-21 semakin ditentukan
kemampuan mengubah molekul menjadi elektron, lalu mengatur elektron itu
dengan jauh lebih cerdas. Tantangan
Indonesia bukan memilih kemajuan atau kelestarian. Tantangannya membuat
jutaan keluarga naik kelas, industri berkembang, AI tumbuh, tanpa meminta
langit membayar seluruh tagihannya. Kemajuan
bukan meminta keluarga sederhana mematikan AC yang baru mampu mereka beli.
Kemajuan adalah membuat kesejukan itu hadir tanpa mewariskan bumi yang
semakin demam. Dan
datanglah Abad Serba Listrik, ketika kemajuan bangsa semakin ditentukan bukan
oleh energi yang tersimpan di bawah tanah, tetapi oleh kecerdasannya
menyalakan masa depan. ● REFERENSI
BUKU International
Energy Agency, Electricity 2026: Executive Summary, IEA, Paris, 2026. International
Energy Agency, Electricity 2026: Demand, IEA, Paris, 2026. Oman
LNG, Transforming Flaring into Opportunity: Energy Efficiency and
Sustainability at OLNG, Gastech 2026 Poster Session, Bangkok, 2026. Gas
Processing & LNG, All-electric LNG maximizes process control in the
Arctic, tentang Hammerfest LNG Equinor, 2020. Vaclav
Smil, How the World Really Works: The Science Behind How We Got Here and
Where We're Going, Viking, 2022. Saul
Griffith, Electrify: An Optimist's Playbook for Our Clean Energy Future, The
MIT Press, 2021. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar