Jumat, 18 September 2026

 

Saparinah Sadli: Suluh Gerakan Perempuan Indonesia

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026

 

 

                                                           

·      Saparinah Sadli menjadi salah satu simpul penting gerakan perempuan setelah Reformasi 1998 dan berperan dalam kelahiran Komnas Perempuan.

 

·      Kekuatan kepemimpinan Saparinah terletak pada kemampuannya mendengar, merangkul, dan membuka ruang bagi generasi muda.

 

·      Warisan Saparinah terus hidup dalam gerakan perempuan dan Komnas Perempuan, terutama lewat keberpihakan kepada korban, kepemimpinan kolektif, dan jejaring lintas kelompok.

 

GRIYA di kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu pernah menjadi simpul penting perjuangan hak perempuan Indonesia. Di sana, di tengah ketegangan yang menyelimuti Jakarta selepas kerusuhan Mei 1998, para aktivis berkumpul, berdiskusi, dan melangkah untuk menuntut keadilan bagi para korban pemerkosaan massal.

 

Rumah itu milik SaparinahSadli—berusia 100 tahun pada 24 Agustus 2026—guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan penggerak isu gender serta pemberdayaan perempuan. Umurnya saat itu 72 tahun. Dia istri Mohammad Sadli, guru besar Fakultas Ekonomi UI yang menjadi Menteri Pertambangan pada masa Orde Baru. Mohammad Sadli meninggal pada 2008.

 

Usia tidak menyurutkan tekad perjuangan Saparinah. Faktor senioritas justru menjadi senjata tambahannya. “Selain dia, tak ada yang bisa mempersatukan perempuan dari beragam latar belakang,” ujar Kamala Chandrakirana, pegiat hak asasi manusia yang ikut dalam pergerakan tersebut, kepada Tempo pada Senin, 31 Agustus 2026.

 

Para aktivis muda itu juga menunjuk Bu Sap—demikian Saparinah biasa dipanggil—sebagai penghubung dengan generasi yang lebih senior. Mereka, misalnya, dapat beraudiensi dengan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie pada Juni 1998.

 

Dalam pertemuan tersebut, mereka mendesak pemerintah membentuk lembaga yang secara khusus menangani berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Beberapa bulan kemudian, pada 15 Oktober 1998, lahirlah Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan. Saparinah didapuk menjadi ketua, sementara Kamala menjadi sekretaris jenderalnya.

 

Tokoh feminis Myra Diarsi ingat betapa alotnya negosiasi pendirian Komnas Perempuan. Soal nama, misalnya. Myra mengatakan Presiden Habibie mempertanyakan penggunaan istilah “anti kekerasan” sehingga sempat terjadi tarik-ulur pembentukannya.

 

Para aktivis menginginkan lembaga yang independen. Sebab, dalam kerjanya, mereka akan berhadapan dengan negara. Bagi Myra, keputusan-keputusan tersebut memperlihatkan kuatnya prinsip Saparinah dan para perintis gerakan perempuan pada saat itu. Menurut dia, Saparinah punya kemampuan merangkul, mendorong, dan memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh. “Kepemimpinannya kuat, tapi tidak selalu tampil di depan,” katanya.

 

Myra menjadi salah satu komisioner angkatan pertama. Di dalam lembaga yang masih merangkak itu, rentang usia para anggotanya pun cukup jauh. Ada yang senior seperti Saparinah, ada juga yang masih berumur 20-an tahun. Namun, Myra melanjutkan, tidak ada hierarki senioritas.

 

Kamala mengenang pada saat itu Komnas Perempuan lahir dalam keadaan serba terbatas. Pada waktu itu mereka bekerja tanpa anggaran dari negara dan tanpa kantor. “Yang penting, kami menjalankan mandat yang lahir dari tuntutan masyarakat,” ujarnya. “Ini juga merupakan tanggung jawab moral kami kepada para korban,” dia menambahkan.

 

Mereka menghubungi organisasi perempuan di berbagai daerah untuk memetakan kekerasan yang dialami perempuan. Langkah ini menghasilkan Peta Kekerasan terhadap Perempuan sebagai produk pertama komisi tersebut. Mereka juga membuka pembahasan mengenai perlindungan bagi saksi dan korban serta membangun proses belajar bersama dengan lembaga pendamping korban.

 

Semua kerja itu bergulir saat pemahaman akan isu kekerasan terhadap perempuan masih rendah. Penyangkalan terhadap peristiwa pemerkosaan Mei 1998 terus terjadi, bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga dari masyarakat. Seksisme dan rasialisme turut mempengaruhi cara orang banyak memandang korban.

 

Di tengah situasi tersebut, Saparinah memiliki posisi penting. Sebagai akademikus dan mantan Dekan Fakultas Psikologi UI, ia memiliki kepakaran untuk menjelaskan konsep keadilan gender. Sebagai tokoh senior, dia memiliki akses dan kredibilitas di hadapan para pembuat kebijakan.

 

Kerja kemanusiaan di Aceh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an menjadi contohnya. Pada saat itu, para aktivis perempuan sempat dianggap berpihak kepada salah satu pihak yang berkonflik. Saparinah cs kemudian menjelaskan kepada pemerintah bahwa mereka mendampingi korban perang dan bukan ancaman bagi siapa pun. Menurut Myra, pertemuan itu berhasil mendorong perubahan cara pandang pemerintah terhadap para aktivis perempuan.

 

Bagi Kamala, yang membuat Saparinah berbeda bukan hanya kepakarannya, melainkan juga kemampuannya mendengarkan dengan baik. Dalam setiap interaksi, ia tidak terburu-buru memberikan pandangan atau memaksakan cara berpikirnya. Dengan terbuka dan rendah hati, ia kerap membuka percakapan dengan pertanyaan, “Menurutmu gimana?”

 

Pada saat yang sama, dia bersikap tegas dan tidak ragu mengambil posisi. Bagi Kamala, karakter-karakter itu menjadikan Saparinah sebagai figur panutan: perempuan dengan kepakaran, keberanian, kemampuan berkomunikasi, sekaligus selalu membuka ruang bagi orang lain. “Kami selalu merasa ada jalan baru yang terbuka setelah pertemuan dengan Ibu Sap,” tutur Kamala.

 

Henny Supolo Sitepu, pegiat pendidikan, mengingat keunikan Saparinah sebagai tokoh senior yang lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Sepanjang ingatannya, Saparinah tak pernah memotong pembicaraan orang lain. “Bahkan, menghadapi teman yang terus-menerus bicara pun, Bu Sap mendengarkan dengan sabar,” ujarnya. Begitu diminta berbicara, Henny melanjutkan, Saparinah memilih betul kata demi kata agar bisa diterima dengan mudah oleh lawan bicaranya.

 

Penulis Debra Yatim mengenali karakter Saparinah yang terbuka saat menjadi anggota dewan penasihat Lembaga Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga. Di sana, Debra sering mendengarkan Saparinah bercakap-cakap dengan para aktivis dan akademikus muda.

 

Menurut Debra, justru para junior dan anak didik yang memperkenalkan Saparinah kepada feminisme, termasuk Myra Diarsi. Awalnya, Debra menambahkan, Saparinah sempat mempertanyakan relevansi feminisme dengan konsep yang lebih dulu dikenalnya, seperti hak asasi manusia. Namun Saparinah tetap mendengarkan dan berdiskusi sehingga bisa membuka ruang bagi gagasan tersebut. “Kalau tanpa kalian, saya tidak belajar. Saya tidak menambah ilmu,” kata Debra, mengutip omongan Saparinah.

 

Bagi Debra, kalimat itu tidak sekadar menunjukkan kerendahan hati, tapi juga memperlihatkan kelenturan intelektual untuk memperbarui pandangan sendiri. Menurut dia, karakter inilah yang membuat kepemimpinan Saparinah bertahan melampaui satu masa. “Beliau tegas ketika harus bersikap, tapi tidak merasa paling tahu. Ia punya otoritas, tapi tetap mau mendengar,” ujarnya.

 

Dihubungi terpisah, Myra Diarsi membenarkan cerita Debra. Saat memasuki tingkat akhir di Fakultas Psikologi UI, Myra memilih tema yang belum banyak dibicarakan, yaitu perempuan dan feminisme. Wacana tentang gender pun belum lazim di lingkungan akademik Indonesia pada waktu itu. Sementara itu, dosen yang memahami feminisme masih sangat sedikit.

 

Saparinah Sadli menjadi dosen pembimbing skripsinya. Myra sempat ragu apakah topik yang dipilihnya akan diterima. Keraguannya makin besar karena referensi yang digunakannya berasal dari buku-buku feminis yang pada awal 1980-an belum banyak dikonsumsi. “Sewaktu pertama kali bimbingan, saya menunjukkan buku-buku yang saya pakai. Bu Sap bilang, ‘Lho, ini kan buku-buku feminis, Myra’,” tuturnya.

 

Respons itu sempat membuat Myra deg-degan. Ia sadar feminisme ketika itu belum menjadi wacana umum. Buku-buku perpustakaan yang ia baca semuanya masih mulus karena belum pernah dipinjam.

 

Bagi Myra, buku-buku tersebut sebenarnya tidak sekadar menjadi referensi skripsi. Dia membacanya untuk memahami kegelisahan yang ia rasakan sejak duduk di sekolah menengah pertama tentang ketimpangan posisi antara perempuan dan laki-laki, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

 

Karena itu, Saparinah mempertanyakan referensinya. “Saya bilang, ‘Bu, buku-buku ini tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi, berarti cukup layak dan cukup baik untuk dijadikan referensi skripsi’,” ujar Myra.

 

Berikutnya, Saparinah memintanya melanjutkan penelitian tersebut. “Kamu tulis saja. Bab I tentang masalahnya, bab II tentang konsep-konsep yang akan kamu teliti. Nanti, kalau sudah selesai, datang lagi ke saya,” demikian Myrna menirukan ucapan Saparinah.

 

Pengalaman itu menjadi kesan pertama Myra tentang Saparinah sebagai pembimbing. Di luar keluwesannya menjadi pembimbing penulis topik yang belum lazim, Myra ingat cara Saparinah memperlakukannya sebagai mahasiswa. “Beliau tidak judging,” katanya.

 

Pada 1990-an, isu perempuan mulai mendapatkan ruang lebih serius di perguruan tinggi Indonesia. Pusat studi perempuan mulai muncul di sejumlah universitas. Saparinah pun turut mendirikan pusat kajian perempuan di UI yang kemudian berkembang menjadi Pusat Studi Kajian Gender.

 

Pada masa itu, perspektif gender belum menjadi pengetahuan yang umum dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan banyak pengajar yang sudah bergelar doktor belum memiliki pemahaman mengenai perspektif gender dan feminisme. Menurut Myra, Saparinah bekerja keras memasukkan perspektif gender, cara berpikir feminis, serta metode-metode feminis ke kurikulum.

 

•••

 

DI satu ruang rapat Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, sebaris tulisan Saparinah terpajang rapi dalam bingkai: “Jika memberikan keadilan bagi korban kekerasan dianggap sebagai mimpi, apakah korban juga akan dibiarkan bermimpi untuk pulih?”

 

Bagi Maria Ulfah, Ketua Komnas Perempuan saat ini, kalimat itu bukan sekadar kutipan yang indah untuk dipajang. “Tapi menunjukkan orientasi pada kepentingan korban menjadi bagian dari mekanisme kerja lembaga,” ujarnya.

 

Menurut dia, keberpihakan kepada korban merupakan salah satu nilai yang diwariskan Saparinah yang harus terus hidup di Komnas Perempuan. Begitu pula gagasan soal kepemimpinan kolektif, musyawarah, pelibatan banyak pihak, penolakan terhadap kepemimpinan otoriter dan patriarkal, serta pembangunan jejaring lintas kelompok.

 

Maria menilai, pada usia 100 tahun, Saparinah masih kritis. Saat bertemu beberapa waktu lalu, Saparinah meminta kabar tentang perkembangan pergerakan perempuan dan menajamkan pertanyaan tentang isu yang sedang dikerjakan Komnas Perempuan, termasuk Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga.

 

Di kantor Komnas Perempuan juga terpajang patung Solidaritas. Terinspirasi tragedi 1998, karya seni perunggu dengan tinggi 83 sentimeter dan panjang 100 sentimeter ini menggambarkan tujuh perempuan yang membentuk pagar tangan. “Saya ingin menyatakan bahwa kedaulatan kami tidak akan pernah bisa dirobohkan,” tutur Dolorosa Sinaga, penciptanya.

 

Dia membuat patung itu pada 2000 dan menyerahkannya kepada Komnas Perempuan. Replikanya dipajang di lobi gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington, DC, Amerika Serikat.

 

Kesan tentang Saparinah juga muncul dalam ingatan pematung Dolorosa, yang mengenalnya melalui perjalanan Komnas Perempuan. Pada ulang tahun ketiga Komnas Perempuan, Dolorosa memamerkan patung Solidaritas yang ia buat pada 2000 dalam sebuah pameran dan kemudian mendedikasikan karya itu kepada Komnas Perempuan.

 

Bertahun-tahun kemudian, Saparinah, yang memimpin Komnas Perempuan selama dua periode, menanyakan status patung Solidaritas, apakah dipinjamkan, memerlukan pembayaran, atau hadiah. “Saya bilang, selama Komnas Perempuan ada, patung itu akan tetap berdiri di sana,” kata Dolorosa.

 

Dalam perjalanan panjang gerakan perempuan pasca-Reformasi 1998, Saparinah berperan sebagai simpul yang menghubungkan banyak orang dari latar belakang berbeda.

 

Sebagian besar dari mereka tetap terhubung sampai sekarang. Tak sedikit pula yang rutin menyambangi Saparinah di kediamannya di Kebayoran Baru, terutama empat-lima tahun terakhir saat kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bepergian. Rumah itu kembali menjadi titik temu mereka, sama seperti pada 28 tahun silam.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/saparinah-sadli-100-tahun-gerakan-perempuan-2286799

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar