|
Saparinah Sadli:
Suluh Gerakan Perempuan Indonesia Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Saparinah Sadli menjadi salah satu
simpul penting gerakan perempuan setelah Reformasi 1998 dan berperan dalam
kelahiran Komnas Perempuan. · Kekuatan kepemimpinan Saparinah
terletak pada kemampuannya mendengar, merangkul, dan membuka ruang bagi
generasi muda. · Warisan Saparinah terus hidup dalam
gerakan perempuan dan Komnas Perempuan, terutama lewat keberpihakan kepada
korban, kepemimpinan kolektif, dan jejaring lintas kelompok. GRIYA di
kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu pernah menjadi
simpul penting perjuangan hak perempuan Indonesia. Di sana, di tengah
ketegangan yang menyelimuti Jakarta selepas kerusuhan Mei 1998, para aktivis
berkumpul, berdiskusi, dan melangkah untuk menuntut keadilan bagi para korban
pemerkosaan massal. Rumah
itu milik SaparinahSadli—berusia 100 tahun pada 24 Agustus 2026—guru besar
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan penggerak isu gender serta
pemberdayaan perempuan. Umurnya saat itu 72 tahun. Dia istri Mohammad Sadli,
guru besar Fakultas Ekonomi UI yang menjadi Menteri Pertambangan pada masa
Orde Baru. Mohammad Sadli meninggal pada 2008. Usia
tidak menyurutkan tekad perjuangan Saparinah. Faktor senioritas justru
menjadi senjata tambahannya. “Selain dia, tak ada yang bisa mempersatukan
perempuan dari beragam latar belakang,” ujar Kamala Chandrakirana, pegiat hak
asasi manusia yang ikut dalam pergerakan tersebut, kepada Tempo pada Senin,
31 Agustus 2026. Para
aktivis muda itu juga menunjuk Bu Sap—demikian Saparinah biasa
dipanggil—sebagai penghubung dengan generasi yang lebih senior. Mereka,
misalnya, dapat beraudiensi dengan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie pada
Juni 1998. Dalam
pertemuan tersebut, mereka mendesak pemerintah membentuk lembaga yang secara
khusus menangani berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Beberapa bulan
kemudian, pada 15 Oktober 1998, lahirlah Komisi Nasional Anti Kekerasan
terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan. Saparinah didapuk menjadi ketua,
sementara Kamala menjadi sekretaris jenderalnya. Tokoh
feminis Myra Diarsi ingat betapa alotnya negosiasi pendirian Komnas
Perempuan. Soal nama, misalnya. Myra mengatakan Presiden Habibie
mempertanyakan penggunaan istilah “anti kekerasan” sehingga sempat terjadi
tarik-ulur pembentukannya. Para
aktivis menginginkan lembaga yang independen. Sebab, dalam kerjanya, mereka
akan berhadapan dengan negara. Bagi Myra, keputusan-keputusan tersebut memperlihatkan
kuatnya prinsip Saparinah dan para perintis gerakan perempuan pada saat itu.
Menurut dia, Saparinah punya kemampuan merangkul, mendorong, dan memberi
ruang kepada orang lain untuk tumbuh. “Kepemimpinannya kuat, tapi tidak
selalu tampil di depan,” katanya. Myra
menjadi salah satu komisioner angkatan pertama. Di dalam lembaga yang masih
merangkak itu, rentang usia para anggotanya pun cukup jauh. Ada yang senior
seperti Saparinah, ada juga yang masih berumur 20-an tahun. Namun, Myra
melanjutkan, tidak ada hierarki senioritas. Kamala
mengenang pada saat itu Komnas Perempuan lahir dalam keadaan serba terbatas.
Pada waktu itu mereka bekerja tanpa anggaran dari negara dan tanpa kantor.
“Yang penting, kami menjalankan mandat yang lahir dari tuntutan masyarakat,”
ujarnya. “Ini juga merupakan tanggung jawab moral kami kepada para korban,”
dia menambahkan. Mereka
menghubungi organisasi perempuan di berbagai daerah untuk memetakan kekerasan
yang dialami perempuan. Langkah ini menghasilkan Peta Kekerasan terhadap
Perempuan sebagai produk pertama komisi tersebut. Mereka juga membuka
pembahasan mengenai perlindungan bagi saksi dan korban serta membangun proses
belajar bersama dengan lembaga pendamping korban. Semua
kerja itu bergulir saat pemahaman akan isu kekerasan terhadap perempuan masih
rendah. Penyangkalan terhadap peristiwa pemerkosaan Mei 1998 terus terjadi,
bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga dari masyarakat. Seksisme dan
rasialisme turut mempengaruhi cara orang banyak memandang korban. Di
tengah situasi tersebut, Saparinah memiliki posisi penting. Sebagai
akademikus dan mantan Dekan Fakultas Psikologi UI, ia memiliki kepakaran
untuk menjelaskan konsep keadilan gender. Sebagai tokoh senior, dia memiliki
akses dan kredibilitas di hadapan para pembuat kebijakan. Kerja
kemanusiaan di Aceh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an menjadi contohnya.
Pada saat itu, para aktivis perempuan sempat dianggap berpihak kepada salah
satu pihak yang berkonflik. Saparinah cs kemudian menjelaskan kepada pemerintah
bahwa mereka mendampingi korban perang dan bukan ancaman bagi siapa pun.
Menurut Myra, pertemuan itu berhasil mendorong perubahan cara pandang
pemerintah terhadap para aktivis perempuan. Bagi
Kamala, yang membuat Saparinah berbeda bukan hanya kepakarannya, melainkan
juga kemampuannya mendengarkan dengan baik. Dalam setiap interaksi, ia tidak
terburu-buru memberikan pandangan atau memaksakan cara berpikirnya. Dengan
terbuka dan rendah hati, ia kerap membuka percakapan dengan pertanyaan, “Menurutmu
gimana?” Pada
saat yang sama, dia bersikap tegas dan tidak ragu mengambil posisi. Bagi
Kamala, karakter-karakter itu menjadikan Saparinah sebagai figur panutan:
perempuan dengan kepakaran, keberanian, kemampuan berkomunikasi, sekaligus
selalu membuka ruang bagi orang lain. “Kami selalu merasa ada jalan baru yang
terbuka setelah pertemuan dengan Ibu Sap,” tutur Kamala. Henny
Supolo Sitepu, pegiat pendidikan, mengingat keunikan Saparinah sebagai tokoh
senior yang lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Sepanjang
ingatannya, Saparinah tak pernah memotong pembicaraan orang lain. “Bahkan,
menghadapi teman yang terus-menerus bicara pun, Bu Sap mendengarkan dengan
sabar,” ujarnya. Begitu diminta berbicara, Henny melanjutkan, Saparinah memilih
betul kata demi kata agar bisa diterima dengan mudah oleh lawan bicaranya. Penulis
Debra Yatim mengenali karakter Saparinah yang terbuka saat menjadi anggota
dewan penasihat Lembaga Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga. Di sana,
Debra sering mendengarkan Saparinah bercakap-cakap dengan para aktivis dan
akademikus muda. Menurut
Debra, justru para junior dan anak didik yang memperkenalkan Saparinah kepada
feminisme, termasuk Myra Diarsi. Awalnya, Debra menambahkan, Saparinah sempat
mempertanyakan relevansi feminisme dengan konsep yang lebih dulu dikenalnya,
seperti hak asasi manusia. Namun Saparinah tetap mendengarkan dan berdiskusi
sehingga bisa membuka ruang bagi gagasan tersebut. “Kalau tanpa kalian, saya
tidak belajar. Saya tidak menambah ilmu,” kata Debra, mengutip omongan
Saparinah. Bagi
Debra, kalimat itu tidak sekadar menunjukkan kerendahan hati, tapi juga
memperlihatkan kelenturan intelektual untuk memperbarui pandangan sendiri.
Menurut dia, karakter inilah yang membuat kepemimpinan Saparinah bertahan
melampaui satu masa. “Beliau tegas ketika harus bersikap, tapi tidak merasa
paling tahu. Ia punya otoritas, tapi tetap mau mendengar,” ujarnya. Dihubungi
terpisah, Myra Diarsi membenarkan cerita Debra. Saat memasuki tingkat akhir
di Fakultas Psikologi UI, Myra memilih tema yang belum banyak dibicarakan,
yaitu perempuan dan feminisme. Wacana tentang gender pun belum lazim di
lingkungan akademik Indonesia pada waktu itu. Sementara itu, dosen yang
memahami feminisme masih sangat sedikit. Saparinah
Sadli menjadi dosen pembimbing skripsinya. Myra sempat ragu apakah topik yang
dipilihnya akan diterima. Keraguannya makin besar karena referensi yang
digunakannya berasal dari buku-buku feminis yang pada awal 1980-an belum
banyak dikonsumsi. “Sewaktu pertama kali bimbingan, saya menunjukkan
buku-buku yang saya pakai. Bu Sap bilang, ‘Lho, ini kan buku-buku feminis,
Myra’,” tuturnya. Respons
itu sempat membuat Myra deg-degan. Ia sadar feminisme ketika itu belum
menjadi wacana umum. Buku-buku perpustakaan yang ia baca semuanya masih mulus
karena belum pernah dipinjam. Bagi
Myra, buku-buku tersebut sebenarnya tidak sekadar menjadi referensi skripsi.
Dia membacanya untuk memahami kegelisahan yang ia rasakan sejak duduk di
sekolah menengah pertama tentang ketimpangan posisi antara perempuan dan
laki-laki, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Karena
itu, Saparinah mempertanyakan referensinya. “Saya bilang, ‘Bu, buku-buku ini
tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi, berarti cukup layak dan cukup
baik untuk dijadikan referensi skripsi’,” ujar Myra. Berikutnya,
Saparinah memintanya melanjutkan penelitian tersebut. “Kamu tulis saja. Bab I
tentang masalahnya, bab II tentang konsep-konsep yang akan kamu teliti.
Nanti, kalau sudah selesai, datang lagi ke saya,” demikian Myrna menirukan
ucapan Saparinah. Pengalaman
itu menjadi kesan pertama Myra tentang Saparinah sebagai pembimbing. Di luar
keluwesannya menjadi pembimbing penulis topik yang belum lazim, Myra ingat
cara Saparinah memperlakukannya sebagai mahasiswa. “Beliau tidak judging,”
katanya. Pada
1990-an, isu perempuan mulai mendapatkan ruang lebih serius di perguruan
tinggi Indonesia. Pusat studi perempuan mulai muncul di sejumlah universitas.
Saparinah pun turut mendirikan pusat kajian perempuan di UI yang kemudian
berkembang menjadi Pusat Studi Kajian Gender. Pada
masa itu, perspektif gender belum menjadi pengetahuan yang umum dalam
berbagai disiplin ilmu. Bahkan banyak pengajar yang sudah bergelar doktor
belum memiliki pemahaman mengenai perspektif gender dan feminisme. Menurut
Myra, Saparinah bekerja keras memasukkan perspektif gender, cara berpikir
feminis, serta metode-metode feminis ke kurikulum. ••• DI satu
ruang rapat Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Jalan Latuharhari,
Menteng, Jakarta Pusat, sebaris tulisan Saparinah terpajang rapi dalam
bingkai: “Jika memberikan keadilan bagi korban kekerasan dianggap sebagai
mimpi, apakah korban juga akan dibiarkan bermimpi untuk pulih?” Bagi
Maria Ulfah, Ketua Komnas Perempuan saat ini, kalimat itu bukan sekadar
kutipan yang indah untuk dipajang. “Tapi menunjukkan orientasi pada
kepentingan korban menjadi bagian dari mekanisme kerja lembaga,” ujarnya. Menurut
dia, keberpihakan kepada korban merupakan salah satu nilai yang diwariskan
Saparinah yang harus terus hidup di Komnas Perempuan. Begitu pula gagasan
soal kepemimpinan kolektif, musyawarah, pelibatan banyak pihak, penolakan
terhadap kepemimpinan otoriter dan patriarkal, serta pembangunan jejaring
lintas kelompok. Maria
menilai, pada usia 100 tahun, Saparinah masih kritis. Saat bertemu beberapa
waktu lalu, Saparinah meminta kabar tentang perkembangan pergerakan perempuan
dan menajamkan pertanyaan tentang isu yang sedang dikerjakan Komnas
Perempuan, termasuk Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga. Di
kantor Komnas Perempuan juga terpajang patung Solidaritas. Terinspirasi
tragedi 1998, karya seni perunggu dengan tinggi 83 sentimeter dan panjang 100
sentimeter ini menggambarkan tujuh perempuan yang membentuk pagar tangan.
“Saya ingin menyatakan bahwa kedaulatan kami tidak akan pernah bisa
dirobohkan,” tutur Dolorosa Sinaga, penciptanya. Dia
membuat patung itu pada 2000 dan menyerahkannya kepada Komnas Perempuan.
Replikanya dipajang di lobi gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di
Washington, DC, Amerika Serikat. Kesan
tentang Saparinah juga muncul dalam ingatan pematung Dolorosa, yang
mengenalnya melalui perjalanan Komnas Perempuan. Pada ulang tahun ketiga
Komnas Perempuan, Dolorosa memamerkan patung Solidaritas yang ia buat pada
2000 dalam sebuah pameran dan kemudian mendedikasikan karya itu kepada Komnas
Perempuan. Bertahun-tahun
kemudian, Saparinah, yang memimpin Komnas Perempuan selama dua periode,
menanyakan status patung Solidaritas, apakah dipinjamkan, memerlukan
pembayaran, atau hadiah. “Saya bilang, selama Komnas Perempuan ada, patung
itu akan tetap berdiri di sana,” kata Dolorosa. Dalam
perjalanan panjang gerakan perempuan pasca-Reformasi 1998, Saparinah berperan
sebagai simpul yang menghubungkan banyak orang dari latar belakang berbeda. Sebagian
besar dari mereka tetap terhubung sampai sekarang. Tak sedikit pula yang
rutin menyambangi Saparinah di kediamannya di Kebayoran Baru, terutama
empat-lima tahun terakhir saat kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk
bepergian. Rumah itu kembali menjadi titik temu mereka, sama seperti pada 28
tahun silam. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/saparinah-sadli-100-tahun-gerakan-perempuan-2286799 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar