|
Kiprah
Perhimpunan Sin Ming Hui yang Dipimpin Oei Tjoe Tat Daniel Ahmad Fajri : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Sin Ming Hui tak hanya turut mendirikan
Komite Penolong Korban Tionghoa atau KPKT ketika kerusuhan rasial terjadi di
Tangerang pada 1946. · Sin Ming Hui membidani pembentukan Pao
An Tui, milisi yang bertugas menjaga permukiman orang Tionghoa. · Ada ketidaksukaan anggota kabinet
terhadap kiprah Pao An Tui. KETERLIBATAN
Oei Tjoe Tat dalam Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui meninggalkan kesan bagi
pria yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, itu. Dalam Memoar Oei Tjoe Tat:
Pembantu Presiden Soekarno, dia mengatakan pengalaman dalam organisasi itu
membekas. Aktivitas di Sin Ming Hui, kata Oei, sampai-sampai mempengaruhi
kehidupannya. Penyunting
buku memoar Oei, Stanley Adi Prasetyo, mengatakan Sin Ming Hui, yang
didirikan pada Januari 1946—lima bulan setelah Proklamasi—merupakan wadah
bagi peranakan Tionghoa untuk bersatu. “Menjaga agar revolusi Indonesia tak
dicemari,” ujar Stanley di Palmerah, Jakarta Barat, pada Kamis, 2 Juli 2026. Oei
mulai-mula aktif di Sin Ming Hui melalui Komite Penolong Korban Tionghoa
(KPKT). Dalam memoarnya, Oei menyebutkan KPKT menolong masyarakat keturunan
Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan rasial di Tangerang pada 1946.
Huru-hara itu terjadi karena propaganda bahwa kelompok etnis Cina tak
mendukung kemerdekaan. Oei menjelaskan, pada periode itu terjadi perampokan
dan pembantaian besar-besaran terhadap orang keturunan Tionghoa. Sin Ming
Hui menyelamatkan para korban kerusuhan rasial itu. Sebagian besar penduduk
peranakan mengungsi ke Jakarta yang kondisi keamanannya lebih terjamin.
“Peristiwa itu berhenti setelah ada tim peninjau dari Tentara Republik
Indonesia dan sukarelawan pemuda keturunan Tionghoa yang turun tangan,” kata
Oei dalam memoarnya. Setelah
peristiwa Tangerang 1946 pecah, Sin Ming Hui membidani pembentukan Pao An
Tui. Ini adalah kelompok milisi yang hendak membantu militer menjaga keamanan
masyarakat, khususnya penduduk keturunan Tionghoa. Menurut Oei, pada masa
revolusi kemerdekaan, banyak pencoleng dan pemerkosa yang mengaku pejuang
tapi sebetulnya tak berurusan dengan perang kemerdekaan. Menurut
Oei, gagasan pembentukan Pao An Tui sebetulnya berasal dari Perdana Menteri
Sutan Sjahrir dan Oey Kim Sen, tokoh Tionghoa yang belakangan didapuk menjadi
Wakil Ketua Pao An Tui. Nama Oey Kim Sen pernah masuk dokumen rahasia Badan
Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang dirilis pada 2001. Oey Kim Sen
masuk pemantauan intelijen karena mengambil alih harian berbahasa Tionghoa,
Min Pao, yang dekat dengan kelompok komunis. Oei
bercerita, banyak orang tak menyukai Pao An Tui. Sumber kebencian itu,
menurut Oei, adalah kesalahpahaman yang menganggap barisan keamanan tersebut
berisi pemuda keturunan Tionghoa yang dipersenjatai Belanda untuk melawan
pribumi. Padahal grup milisi ini bertugas melindungi warga peranakan di
kampung-kampung Cina. “Tugasnya di wilayah yang sangat terbatas sekali,”
tuturnya. Sikap
antipati terhadap Pao An Tui tecermin pada respons para pejabat. Salah
satunya Menteri Luar Negeri Soebandrio. Leo Suryadinata, sinolog sekaligus
peneliti tamu senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura, dalam
bukunya, Pribumi, Minoritas Tionghoa, dan China, menulis bahwa Soebandrio
pernah bersurat kepada Menteri Luar Negeri Cina 1958-1972, Chen Yi, bahwa
orang peranakan Tionghoa merugikan rakyat Indonesia pada masa kolonialisme
dan revolusi kemerdekaan. “Sebagaimana terbukti dari didirikannya Pao An
Tui,” tulis Leo. Soebandrio,
seperti dikutip Leo dalam bukunya, menyebutkan orang peranakan Tionghoa
menguasai sendi ekonomi dengan segala manipulasi. “Golongan hoakiau menentang
pertumbuhan ke arah stabiliteit perekonomian Indonesia,” tulis Soebandrio,
yang belakangan dipenjara Orde Baru atas tuduhan terlibat Gerakan 30
September 1965. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/sing-ming-hui-pao-an-tui-proklamasi-2282210 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar