Senin, 17 Agustus 2026

 

Peran Oei Tjoe Tat di Sin Ming Hui pada Era Kemerdekaan

Daniel Ahmad Fajri :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Oei Tjoe Tat menjadi relawan di organisasi binaan Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui.

 

·      Ia menolong korban kerusuhan rasial anti-Cina yang meletus di Tangerang pada 1946.

 

·      Sin Ming Hui mendirikan sekolah dan rumah sakit di Jakarta.

 

RUMAH dengan arsitektur tradisional Cina itu berdiri diapit hotel bintang empat dan apartemen yang menjulang setinggi 30 lantai di Jalan Gajah Mada, Glodok, Jakarta Barat. Beratap genting model feiyan yang ujung sudutnya melengkung bak burung terbang, bangunan itu seperti tenggelam di antara gedung pencakar langit di sekitarnya. Itulah situs Candra Naya yang pernah menjadi kantor Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui.

 

Penerima tamu yang berjaga di situs Candra Naya, Kamal Fajar, mengatakan kompleks bangunan tersebut saat ini dikelola perusahaan properti PT Modernland Realty Tbk sebagai pemilik lahan. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta ikut mengawasi pengelolaan rumah bersejarah tersebut. “Ditetapkan menjadi cagar budaya sejak 1993,” kata Kamal di Glodok pada Jumat, 24 Juli 2026.

 

Candra Naya tak lain merupakan hasil salin nama Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui. Penggantian itu dilakukan setelah Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa yang didirikan Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay meminta nama organisasi dan marga Tionghoa diubah dengan nama Indonesia sebagai strategi asimilasi setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

 

Oei Tjoe Tat memimpin Sin Ming Hui pada 1950-1954. Sebelum digunakan Sin Ming Hui pada 1946, bangunan itu merupakan kediaman Mayor Cina, Khouw Kim An. Pada era Hindia Belanda, Mayor Cina merupakan jabatan yang punya pengaruh ekonomi dan politik yang cukup besar terhadap komunitas Cina di Hindia Belanda.

 

Sin Ming Hui, yang berarti “Sinar Baru”, memfungsikan bangunan itu sebagai kantor yayasan, poliklinik, gelanggang olahraga, hingga sekolah. Seiring dengan habisnya masa sewa dan rencana pengusaha membuka ruang komersial di area itu pada 1992, semua kegiatan organisasi berpindah dari Glodok ke Jalan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

 

Anak pertama Oei Tjoe Tat, Oei Yang Siem alias Shilana Atma Waskowski, bercerita, setiap pagi ia dan saudaranya berangkat bersama sang ayah ke sekolah yang dikelola Sin Ming Hui di Jalan Gajah Mada—dulu dikenal dengan nama Molenvliet West 188. Shilana menerangkan, sekolah itu berjarak beberapa rumah dari kantor advokat milik Lie Hwee Yoe dan Lie Kian Kim, tempat Oei bekerja.

 

Shilana menghabiskan enam tahun masa pendidikan dasarnya di sekolah itu. Shilana menuturkan, sepulang sekolah, ia senantiasa menunggu kegiatan kantor ataupun aktivitas organisasi papinya sampai selesai. “Papi aktif, tapi saya enggak terlalu sedih dan menderita ketika menunggu karena kompleks Sin Ming Hui besar dan saya bisa bermain,” ujar Shilana melalui sambungan telepon dari Jerman pada Rabu, 22 Juli 2026. Shilana kini berusia 78 tahun.

 

Lain halnya dengan Shilana, Oei Ling Siem atau Desita Atma Brunier hanya dua tahun belajar di sekolah Sin Ming Hui. Putri kedua Oei Tjoe Tat itu menjelaskan, ia dan Shilana bersekolah di situ karena semata-mata dekat dengan kantor papinya.

 

Mereka kemudian pindah ke sekolah yang dekat dengan kediaman Oei di Jalan Blitar Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat. “Kami kadang telat karena baru datang pukul 9 pagi, sedangkan masuk sekolah pukul 8,” tutur Desita melalui telekonferensi video dari Prancis pada Rabu, 15 Juli 2026.

 

Sin Ming Hui tak sekadar memiliki sekolah. Berdiri pada Januari 1946, perhimpunan ini dimotori sejumlah komunitas, seperti Sin Po dan Keng Po. Salah satu tokoh Sin Po, Thio Tong Hai, punya misi membuat perkumpulan anak muda yang bisa berkontribusi bagi masyarakat.

 

Oei dalam bukunya, Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, bercerita bahwa ketiadaan organisasi sosial yang muncul dari komunitas Tionghoa setelah pendudukan Jepang di Indonesia merupakan salah satu faktor yang mendorong pendirian Sin Ming Hui.

 

Oei mengatakan Thio menginginkan Sin Ming Hui menggantikan peran organisasi yang lebih dulu ada, seperti Hoa Kiaw Tjong Hwee dan Hoa Kiaw Ti Yok Hwee. Dua perkumpulan itu eksis sebelum Proklamasi 1945. Oei menjelaskan, pemimpin dua perkumpulan itu berusia uzur dan punya relasi dengan penguasa. “Yang dipilih jadi pengurus berasal dari golongan berduit,” katanya.

 

Ribuan orang mendaftar untuk menjadi anggota saat Sin Ming Hui dibentuk. Angkanya naik berkali lipat saat Sin Ming Hui membuat divisi buruh. Kebanyakan dari mereka mencari perlindungan karena situasi semasa revolusi kemerdekaan tidak menentu. Oei bergabung menjadi kader Sin Ming Hui pada September 1946—tahun terakhir Oei menempuh kuliah hukum di Rechtshoogeschool te Batavia, yang menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

 

Sebelum menjadi anggota penuh Sin Ming Hui, Oei terlibat aktif sebagai relawan di Komite Penolong Korban Tionghoa (KPKT). Komite ini merupakan organisasi binaan Sin Ming Hui dan dibentuk setelah pecahnya kerusuhan rasial yang dipicu sentimen anti-Cina pada Juni 1946 di Tangerang.

 

Huru-hara yang meletus ketika Republik baru berdiri itu dipicu berbagai faktor. Di antaranya kesenjangan ekonomi dan rasa saling curiga antara penduduk pribumi dan masyarakat peranakanTionghoa. Orang Cina pada waktu itu dianggap dekat dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kondisi tersebut memicu kemarahan masyarakat pribumi kepada orang Tionghoa.

 

Historia dalam artikel yang terbit pada 14 April 2026 menulis bahwa kerusuhan rasial itu dikenang dengan sebutan Peristiwa Dunia Kiamat oleh orang Tionghoa yang bermukim di Tangerang. Mengutip surat kabar berbahasa Belanda, Algemeen Handelsblad, Historia menyatakan penduduk Indonesia membunuh sekitar 1.000 orang Tionghoa.

 

Data Palang Merah Tionghoa Jang Seng Ie di Jakarta mencatat jumlah korban tak sebanyak yang diumumkan di surat kabar berbahasa Belanda itu. Palang Merah Tionghoa merangkum 653 orang terbunuh dan lebih dari 1.400 rumah dibakar saat kerusuhan terjadi di Tangerang.

 

Terlibat aktif sebagai relawan pada masa revolusi kemerdekaan, Oei menyebutkan kehadiran KPKT membantu meringankan penderitaan orang Tionghoa. “KPKT berhasil mengumpulkan uang, bahan makanan, uang, dan obat-obatan untuk membantu pengungsi,” ujar Oei dalam memoarnya.

 

Menurut Oei, kerusuhan rasial pada awal masa kemerdekaan terjadi di mana-mana. Ia mendengar kasak-kusuk bahwa Nederlandsch-Indische Civiele Administratie atau NICA yang dibentuk pemerintah kolonial setelah proklamasi punya andil dalam berbagai kerusuhan itu. “Ada tuduhan bahwa orang Tionghoa pro-Belanda,” tuturnya.

 

Posisi Oei di Sin Ming Hui terus meningkat. Ia mula-mula didapuk menjadi Sekretaris II dan membantu Lie Kian Kiem, pemilik kantor advokat yang menjadi tempat kerja Oei. Lie menjabat Sekretaris I Sin Ming Hui. Dalam waktu singkat, Oei dipromosikan menjadi Wakil Ketua dan Ketua Muda.

 

Anggota Sin Ming Hui, yang kala itu sudah berjumlah 7.000 orang, mempercayakan kursi ketua umum kepada Oei pada 1950. Oei menggantikan Lie yang meninggal pada usia 38 tahun karena kecelakaan mobil.

 

Oei mengambil alih kepemimpinan dengan misi menghidupkan semangat dan kegiatan organisasi yang lesu setelah pergolakan masa revolusi mulai landai. Oei melakukan konsolidasi internal untuk mendorong anggota meluaskan jangkauan organisasi. Oei mengubah poliklinik menjadi Lembaga Propaganda Kesehatan, unit kesehatan yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Sumber Waras.

 

Di bawah kepemimpinan Oei, Sin Ming Hui mengembangkan jaringan pendidikan dasarnya dengan menambah sekolah menengah dan sekolah asisten apoteker. Oei juga membentuk unit baru di dalam organisasi, seperti fotografi dan bantuan hukum. “Selama di Sin Ming Hui, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah,” katanya.

 

Oei memimpin Sin Ming Hui selama empat tahun. Ia memutuskan berhenti dari perhimpunan itu karena sudah aktif berpolitik dan terpilih menjadi anggota Konstituante di Bandung, Jawa Barat, mewakili unsur Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki menjelang Pemilihan Umum 1955.

 

Sinolog dari Nanyang Technological University, Singapura, Leo Suryadinata, mengatakan Oei belajar mengenai kepemimpinan dan politik selama bergiat di Sin Ming Hui. Leo adalah penulis buku Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches. Salah satu tokoh yang diulas Leo dalam buku itu adalah Oei.

 

Leo membandingkan kiprah Oei dengan dua tokoh Tionghoa lain, seperti pendiri Partai Tionghoa Indonesia, Liem Koen Hian, dan Ketua Umum Baperki Siauw Giok Tjhan. “Oei apolitis, tapi suka menolong orang karena ia menyumbangkan tenaganya untuk kegiatan sosial,” ujar Leo melalui telekonferensi video pada Senin, 13 Juli 2026. “Oei itu lain daripada yang lain,” tuturnya.

 

Sepeninggal Oei, Sin Ming Hui berjalan bak kereta luncur. Organisasi ini sempat berkembang pesat dengan mendirikan rumah sakit serta mempelopori pembangunan Universitas Tarumanagara dan Universitas Res Publica yang belakangan berganti nama menjadi Universitas Trisakti.

 

Dalam memoarnya, Oei bercerita, Sin Ming Hui sempat memfasilitasi orang-orang Tionghoa yang hendak memilih kewarganegaraan Indonesia atau Belanda. Hak pilih itu muncul setelah keluarnya hasil Konferensi Meja Bundar pada 1949. “Setiap hari kantor Sin Ming Hui dibanjiri orang yang berniat mengurus kewarganegaraan,” ujarnya.

 

Namun organisasi ini dengan segera layu setelah beberapa kali terjadi pergolakan politik di bawah Presiden Sukarno. Sejumlah anggota Sin Ming Hui yang masih aktif menghubungi Oei menjelang rapat anggota umum untuk memilih badan pengurus baru.

 

Oei didaulat memimpin rapat karena dianggap sebagai sesepuh organisasi. Oei tak bisa menolak karena didesak. “Saat memasuki ‘rumah’ lama itu, saya kaget,” kata Oei.

 

Oei bercerita, saat ia masuk ke ruangan rapat, ternyata sudah hadir ratusan orang yang ingin menentukan susunan dewan pengurus baru. Dia menyaksikan tak sedikit anggota perhimpunan yang bukan keturunan Tionghoa. Di sudut ruangan, polisi berseragam ikut mengawasi pertemuan itu.

 

Akibatnya, rapat berlangsung dengan suasana tegang meskipun berjalan sampai selesai. Phoa Thoan Hian alias Padmo Soemasto, yang merupakan Wakil Ketua Umum Baperki, memenangi pemilihan. “Tak ada suasana akrab dan berbeda dengan Sin Ming Hui dulu,” ujarnya.

 

Siauw Tiong Djin, anak Ketua Umum Baperki Siauw Giok Tjhan, bercerita, keretakan yang terjadi di Sin Ming Hui sebetulnya bermula pada 1955. Pada tahun itu, Baperki mengikuti pemilihan umum. Sejumlah tokoh Baperki yang aktif di Partai Sosialis Indonesia, seperti Khoe Woen Sioe, ditengarai mendapat tekanan dari lingkup internal partai agar keluar dan tak mendukung Baperki.

 

Menurut Siauw Tiong Djin, perpecahan kedua di Sin Ming Hui terjadi saat pemilihan ketua pada akhir 1964. Perbedaan garis politik di antara elite organisasi Sin Ming Hui menjadi duri dalam daging organisasi. “Pak Oei luwes menempatkan diri, tidak kanan dan kiri, tetap berada di tengah,” kata Siauw Tiong Djin.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-proklamasi-sin-ming-hui-2282209

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar