Plagiasi dan Joki Skripsi
Jejen Musfah ; Dosen Analisis Kebijakan Pendidikan UIN
Jakarta
|
REPUBLIKA, 10 Juni 2015
Wacana penghapusan skripsi yang dilontarkan
oleh Menristek Dikti M Nasir menarik ditanggapi. Adapun alasan penghapusan
skripsi adalah maraknya praktik plagiasi dan joki skripsi.
Sesungguhnya, plagiasi dan joki skripsi adalah
isu lama yang sulit diberantas. Namun, ide penghapusan skripsi bagi sarjana
merupakan hal baru bagi sebagian besar kampus di Indonesia.
Plagiasi dan joki skripsi terjadi karena lemahnya
kemampuan menulis mahasiswa, mudahnya melakukan plagiasi, dan maraknya joki
skripsi. Pertama, tidak semua orang dilahirkan dengan bakat menulis.
Kelemahan menulis mahasiswa terlihat saat membaca makalah karya mahasiswa,
dari semester pertama bahkan saat mereka semester ketujuh.
Meski hampir semua mata kuliah selama tujuh
semester mewajibkan mahasiswa membuat makalah, keterampilan menulis mahasiswa
masih rendah. Jika dalam satu semester mahasiswa menulis dua makalah saja,
maka di semester tujuh, mereka sudah menulis 14 makalah. Seharusnya, menulis
skripsi di semester delapan bukan masalah besar bagi mahasiswa.
Kedua, skripsi dan makalah dengan tema apa pun
mudah didapat mahasiswa dari internet. Besar kemungkinan, mahasiswa tidak
terlatih menulis karena mereka mendapatkan makalah dari internet. Akibatnya,
mereka mengalami kesulitan saat menulis skripsi.
Ketiga, jasa pembuatan skripsi sangat mudah
ditemukan oleh mahasiswa di sekitar kampus. Ketika skripsi menjadi syarat
kelulusan, mahasiswa memanfaatkan jasa pembuatan skripsi tersebut karena
tidak mau lama-lama kuliah atau terkena drop
out.
Plagiasi dan joki skripsi merupakan peristiwa
luar biasa yang mengarah pada budaya instan dan ketidakjujuran di kalangan
mahasiswa. Apa pun alasannya, mahasiswa jelas terjangkit budaya instan.
Dengan kata lain, meraih tujuan atau sukses tanpa mau bersusah payah. Maka,
tidak bisa menulis bisa jadi bukan alasan tunggal mahasiswa melakukan
plagiasi dan memakai joki skripsi, melainkan budaya instan tadi.
Mahasiswa juga sudah terbiasa dengan ketidakjujuran.
Mengklaim makalah dan skripsi sebagai karya sendiri, padahal mengunduh dari
internet. Kesibukan dan keterbatasan waktu dosen membuat praktik plagiasi di
kalangan mahasiswa tidak terdeteksi. Jika dosen mengajar empat kelas dan
setiap kelas ada 40 mahasiswa, maka ia harus memeriksa 160 makalah (minimal
sekali) dalam satu semester.
Karena itu, diperlukan gerakan budaya antiplagiasi
dan kejujuran di kampus. Selain penerbitan buku antiplagiasi dan papan peringatan,
setiap dosen menanamkan pentingnya karakter jujur kepada mahasiswa. Dengan
demikian, mahasiswa memiliki kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk tidak
melakukan plagiasi dan menggunakan joki, meskipun kesempatan terbentang di
hadapannya.
Apakah penghapusan skripsi merupakan pilihan
tepat? Menurut saya, skripsi tidak perlu dihapus, tetapi kampus memberikan
alternatif pilihan kepada mahasiswa untuk memilih jalur non-skripsi, yaitu
mengikuti dua hingga tiga mata kuliah yang SKS-nya setara skripsi. Kebijakan
alternatif ini untuk menjawab lamanya masa studi akibat penulisan skripsi.
Diperlukan sistem perkuliahan yang
memungkinkan mahasiswa selesai tepat waktu, yaitu empat tahun. Pertimbangannya
adalah kemampuan menulis mahasiswa dan biaya yang besar jika berlama-lama
kuliah. Memaksakan skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan tidak sesuai
dengan kondisi objektif mahasiswa. Karena itu, kebijakan berikut bisa
dipertimbangkan.
Pertama, bimbingan skripsi dilakukan klasikal
dan terjadwal seperti perkuliahan. Seminggu sekali dosen dan mahasiswa
bimbingannya (maksimal 10) bertatap muka di kelas. Dosen memeriksa skripsi,
memberikan bimbingan, dan berdiskusi dengan mahasiswa. Di luar jadwal
bimbingan tersebut, mahasiswa wajib menggali data (melalui membaca buku dan
jurnal atau ke lapangan), dan menulis. Dengan demikian, perkembangan penulisan
skripsi mahasiswa terkontrol. Adapun masa bimbingan klasikal ini ada lah 16 kali
tatap muka atau empat bulan.
Di antara masalah skripsi adalah sulitnya menemui
dosen, lambannya koreksi skripsi dari dosen, standar mutu skripsi yang tinggi
dari dosen, mahasiswa malas ke kampus atau menemui dosen, dan mahasiswa tidak
tekun dan teliti. Akar semua masalah tersebut adalah karena mahasiswa
"berjuang" sendirian di satu sisi, dan ego dosen pada sisi yang
lain. Dengan sistem klasikal, baik dosen maupun mahasiswa, tidak punya alasan
untuk tidak hadir. Melalui bimbingan klasikal, diharapkan problem-problem
tersebut teratasi.
Sistem baru ini juga memungkinkan terjadinya evaluasi
terhadap kinerja bimbingan dosen terhadap skripsi mahasiswa di setiap akhir
semester--sebagaimana perkuliahan biasanya. Selama ini, bisa dikatakan tidak
ada evaluasi kinerja bimbingan sebagaimana dimaksud.
Dosen yang "tidak adil" terhadap
mahasiswa seperti "tak tersentuh". Evaluasi itu misalnya bisa
dilihat dari jumlah pertemuan yang dihadiri dosen dalam bimbingan skripsi
klasikal.
Sebagai contoh, mahasiswa selalu berhasil
dalam mengikuti mata kuliah dengan pembelajaran klasikal selama tujuh
semester. Bedanya, bimbingan skripsi klasikal jumlah mahasiswanya lebih kecil
daripada mahasiswa kelas kuliah biasa. Setiap dosen bisa jadi memiliki dua
atau lebih kelas bimbingan skripsi.
Kedua, tugas makalah pada mata kuliah sebagai
latihan menulis. Rambu- rambu berikut bisa dipertimbangkan: makalah
individual bukan kelompok, mengutip intisari pendapat orang lain bukan
paragraf utuh, dan menuliskan pendapat pribadi bukan kumpulan kutipan. Dari
aspek sumber, mahasiswa dikenalkan dengan artikel-artikel jurnal
terakreditasi nasional maupun interna- sional.
Dosen berperan sebagai korektor makalah
mahasiswa. Ini membutuhkan usaha lebih--untuk tidak mengatakan kecintaan--dari
dosen. Masalahnya, tidak semua dosen punya keterampilan menulis dan
mengoreksi. Di sini, kampus punya pekerjaan rumah dua sekaligus, yaitu
meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa sekaligus dosennya.
Ketiga, bagi mahasiswa yang terbukti tidak
sanggup mengikuti bimbingan tesis klasikal, diberikan pilihan untuk mengikuti
kelas nonskripsi atau melanjutkan bimbingan tesis di semester berikutnya.
Dua atau tiga mata kuliah pengganti skripsi
itu mewajibkan mahasiswa menulis makalah, tapi dengan bimbingan intensif dari
dosen. Bedanya dengan skripsi, makalah tersebut tidak diujikan di hadapan
sejumlah penguji, tetapi cukup dosen pengampu mata kuliah yang memberikan
penilaian.
Demikianlah, beberapa ide untuk mengatasi
maraknya plagiasi dan joki skripsi di kalangan kampus. Singkatnya, skripsi
tidak perlu dihapuskan karena melatih mahasiswa memecahkan masalah dengan cara
yang ilmiah atau berpikir logis. Di samping melatih mahasiswa menulis sejak
awal semester, juga penting menanamkan sikap jujur kepada mahasiswa.
Sebesar apa pun godaan untuk melakukan
plagiasi atau menggunakan joki skripsi, jika punya integritas, mahasiswa akan
bisa mengatasinya. Plagiasi dan joki skripsi adalah masalah besar dunia
pendidikan. Dibutuhkan keberanian besar pula untuk melahirkan kebijakan
melawan keduanya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar