The Tyranny of Habit
Komaruddin Hidayat ; Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah
|
KORAN SINDO, 12 Juni 2015
|
Disadari atau tidak,
dalam kehidupan ini banyak sekali ungkapan dan perilaku yang selalu
diulang-ulang yang pada urutannya menimbulkan pola permanen berupa kebiasaan
dan selanjutnya kebiasaan akan membentuk karakter seseorang.
Contoh yang paling
mudah diamati tentu saja dalam hal berbahasa. Tindakan yang berakar pada
kebiasaan tak perlu lagi dipikirkan dan dipersiapkan matang- matang karena
akan berlangsung hampir secara otomatis layaknya sebuah mesin. Kita semua
pasti punya pengalaman bagaimana sebuah proses kebiasaan terbentuk sekalipun
dijalani tanpa disadari atau dipersiapkan.
Misalnya saja
pengalaman mengendarai mobil. Pada awalnya terasa begitu sulit, tegang, dan
takut menabrak atau ditabrak. Tapi lama-lama setelah dicoba dan dijalani
berulang kali akan terbiasa dan kita bisa mengendarai mobil dengan rileks
bahkan menyenangkan. Tangan, kaki, dan perasaan seakan bekerja secara
otomatis.
Salah satu aspek dalam
pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana membantu anak didik agar membangun
kebiasaan yang benar dan baik agar pada urutannya terbentuk karakter dan
pribadi yang baik serta terbiasa berpikir benar dan logis. Dalam pendidikan
olahraga apa yang disebut training
dan coaching, intinya adalah
menggali bakat dan membentuk kebiasaan yang benar.
Misalnya seni dan cara
menggiring bola agar cepat dan sulit direbut lawan. Dalam olahraga golf,
sekalipun sudah menjadi pemain kelas dunia tetap diharuskan driving, yaitu latihan memukul bola
hampir setiap hari berkisar seribu bola. Gunanya untuk menjaga ritme, gaya
dan feeling agar kebiasaan yang
sudah terbentuk tidak berubah atau rusak ketika bermain sungguhan.
Lalu apa hubungannya
dengan tirani kebiasaan sebagaimana tertulis dalam judul di atas? Masalah
serius akan muncul ketika seseorang telah terbelenggu dengan kebiasaan buruk,
baik cara berpikir, bertutur kata, berperilaku, termasuk dalam hal kebiasaan
makan dan minum. Kebiasaan yang telah terbentuk lama dan kokoh satu sisi
membuat seseorang nyaman dan mudah menjalani hidup, tetapi sisi yang lain kebiasaan
bisa menjelma menjadi penjara dan pembunuh.
Contoh paling mudah
adalah kebiasaan makan dan minum yang tidak sehat, terlebih lagi yang
mengandung alkohol tinggi dan zat adiktif, maka penggunanya tak ubahnya
memelihara dan membesarkan musuh yang satu saat akan menyiksa dan membunuh
dirinya. Kita dengan mudah melihat contoh tirani kebiasaan yang ujungnya
telah menghancurkan karier hidup seseorang.
Mereka yang biasa
mengambil hak orang lain meskipun kelihatannya sepele dan kecil, suatu saat
jika kesempatan muncul akan berani melakukan korupsi dalam jumlah yang besar.
Mereka yang terbiasa berbicara kotor dan merendahkan orang lain, jangan kaget
ketika menjadi pejabat publik bicaranya sering kali tidak sopan dan menyakiti
hati anak buah.
Kebiasaan bisa
bermetamorfosis menjadi ideologi ketika berbaur dengan tradisi dan paham
keagamaan serta bertemu dengan kalkulasi politik dan ekonomi. Dalam
masyarakat Indonesia yang majemuk ini terdapat puluhan, bahkan ratusan,
kebiasaan berupa ritual-ritual adat dan keagamaan yang menurut pandangan
orang modern tak lagi cocok.
Misalnya, selama bulan
Ramadan di kampung saya dulu setelah jam satu malam terdengar beduk masjid
ditabuh keras-keras sampai jam tiga pagi. Maksudnya untuk membangunkan
ibu-ibu agar bangun untuk mempersiapkan makan sahur untuk keluarga. Kebiasaan
ini rasanya tak lagi cocok dipertahankan. Biarlah mereka istirahat tidur.
Bagi keluarga yang memiliki jam bisa disetel weakernya untuk membangunkan kapan mereka mau.
Soal makan sahur,
dengan adanya teknologi kulkas dan microwave,
hanya dalam waktu setengah jam semuanya bisa terhidang dalam kondisi segar
dan panas. Jadi, teknologi bisa mengganti kebiasaan memukul beduk di tengah
malam untuk membangunkan orang serta menjaga kondisi makanan tetap segar. Masih
berkaitan dengan kebiasaan yang perlu ditinjau ulang adalah kebiasaan membaca
Alquran dengan menggunakan pengeras suara di masjid di saat orang istirahat
tidur.
Ada seorang teman yang
sudah bertahun-tahun menulis naskah dengan mesin ketik. Ketika ditawari
dengan komputer, dia merasa tidak familier karena ketika dicoba malah
mengganggu kelancaran dan produktivitasnya dalam berpikir. Lalu kembali lagi
menulis dengan mesin ketik kuno. Ada lagi yang lebih antik, ada seorang
penulis sangat produktif yang semua naskahnya dia tulis dengan pulpen,
tulisan tangan.
Setelah jadi baru
minta bantuan orang untuk menyalin ke dalam komputer. Baginya jari-jari
tangan bergerak seiring dengan berpikir. Jika pakai komputer, kreativitasnya
terganggu. Demikianlah, kebiasaan itu bisa membuat pekerjaan efisien, cepat
dan tidak perlu membuat persiapan lama karena syaraf-syaraf tubuh sudah
familier untuk melakukannya.
Namun mesti diingat
kebiasaan juga bisa berkembang menjadi tiran yang membelenggu sehingga
seseorang sulit berubah dan berkembang. Orang yang sudah berusia lanjut,
pindah rumah atau kamar saja sulit tidur. Terlebih lagi diminta menggunakan
telepon genggam, malah bingung karena sudah terbiasa menggunakan telepon kuno
dengan pegangan yang besar.
Demikian juga
menyangkut selera makan, banyak orang yang sudah mapan dan terpenjara dengan
selera makanan daerahnya sehingga tidak bisa menikmati menu lain sekalipun
kandungan gizinya lebih bagus, harga lebih mahal. Makanya banyak orang yang
tersiksa tinggal di luar negeri karena sulit beradaptasi dengan makanan,
cuaca, lingkungan sosial dan hal-hal lain yang serbabaru.
Dalam era yang
serbaberubah ini, antara lain berkat kemajuan teknologi, seseorang dituntut
untuk memiliki kesediaan dan keterampilan untuk beradaptasi. Seorang sarjana
yang baru saja diwisuda hendaknya memiliki kapasitas intellectual adaptability karena akan menghadapi tantangan dan
peluang baru yang belum pernah dipelajari sewaktu duduk di kampus.
Adaptasi intelektual
tidak berarti mudah kompromi secara moral. Sedemikian pentingnya peranan
habit atau kebiasaan sehingga banyak pakar psikologi yang melakukan studi
dalam bidang ini. Seperti Charles Duhigg dalam karyanya The Power of Habit, Why we do what we do and how to change
(2012). Habit memiliki kekuatan untuk menjalani dan meraih sukses hidup,
namun habit bisa jadi penjara yang membuat seseorang sulit berubah dan
berkembang.
Terlebih habit yang sudah dibalut dan dicampur
dengan sentimen kesukuan dan keagamaan, akan sangat sulit untuk berubah atau
diubah. Kita pun merasa nyaman tinggal dalam rumah habit, meskipun tahu-tahu
dikejutkan oleh tsunami perubahan sosial yang membuat kita bingung tidak tahu
harus berbuat apa. Ibarat kambing yang tertindih kandang yang roboh akibat
angin kencang. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar