Inflasi
Jilbab
Sarlito
Wirawan Sarwono ; Guru Besar Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia
|
KORAN
SINDO, 11 Mei 2014
|
Baru-baru
ini saya menghadiri sebuah upacara serah-terima jabatan di suatu instansi
pemerintah, di mana semua pegawai di kantor itu hadir. Saya lihat semua
pegawai wanita berjilbab seragam, yang warnanya serasi dengan warna pakaian
seragam instansi itu.
Rapi
sekali tampaknya, menambah kekhidmatan upacara. Tetapi tiba-tiba saya melihat
wajah yang saya kenal. Di balik jilbabnya, saya tahu pasti dia adalah istri
dari seorang kawan saya, Kris, yang saya tahu pasti nonmuslim. Saya jadi
bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan mereka menjadi mualaf? Karena
penasaran, pertanyaan batin ini saya tanyakan langsung kepada yang
bersangkutan di kesempatan ramah-tamah, minum kopi/teh sambil mengudap risol
dan lemper, sambil berdiri.
Setelah
berbasa-basi sebentar (dia masih ingat saya sebagai teman suaminya jaman
Penataran Manggala P4 di tahun 1998), saya bertanya, ”Kapan kalian jadi
mualaf?” ”Ah, enggak kok, kami bukan mualaf,” jawabnya. ”Lho, kok pakai
jilbab?” saya tambah penasaran. ”Nggak apa-apa. Di sini semuanya harus
berjilbab.” ”Termasuk yang nonmuslim juga?” ”Ya, semua. Kawan-kawan saya yang
Islam, yang di luar tidak berjilbab, di kantor pun berjilbab. Kami yang bukan
muslim, ya ikut saja, apa susahnya?”
”Ada
peraturan tertulisnya? SK atau apa, begitu,” saya masih penasaran terus.
”Nggak juga, sih. Tetapi kebiasaannya di sini begitu, ya ikut saja,” jawabnya
santai. ”Oooh...gitu. Ya sudah, salam sama Kris, ya,” saya menutup percakapan
dengan basa-basi lagi.
”.... ya ikut saja,” begitu katanya, tetapi
tidak ada rasa galau, apalagi stres di wajah istri Kris itu. Dia santai saja.
Malah saya yang stres. Bagaimana tidak stres, istri saya (ibu dari tiga anak
saya) berkerudung, dan anak saya (ibu dari dua orang cucu saya) berjilbab,
sama dengan istrinya Kris itu. Tetapi cuma kerudungnya yang sama, bukan
orangnya. Padahal, seharusnya jilbab itu mencerminkan derajat ketakwaan
tertentu yang lebih tinggi dari pada yang belum/tidak berjilbab.
Di pihak
istri Kris, tidak ada masalah, dia santai saja. Pulang dari kantor jilbab pun
dilepas, karena dia berjilbab hanya demi kariernya atau nafkahnya. Hampir
pasti juga, ibu-ibu karyawati muslimah yang hanya ber-Jibaku (ber-JILBAB demi
kantorKU), akan buka jilbab dulu di toilet sebelum pulang naik motor atau
angkot. Ini artinya jilbab palsu, di luarnya jilbab, isinya bukan orang yang
berjiwa jilbab. Apa namanya kalau bukan ”jilbab palsu”.
Sebagaimana
halnya dengan uang, makin banyak uang palsu yang beredar, maka orang akan
makin tidak percaya pada nilai uang, nilai tukar uang makin rendah, sehingga
akhirnya bisa mata uang itu tidak laku lagi sebagai alat tukar. Itulah yang
disebut dengan inflasi.
Begitu
juga dengan jilbab, semakin banyak yang palsu, semakin turun nilainya, alias
terjadilah inflasi jilbab. Padahal sekarang ini, perempuan-perempuan terdakwa
dan terpidana KPK pun rata-rata berjilbab juga. Ujung-ujungnya, lama-kelamaan
orang akan tidak percaya pada jilbab sama sekali.
Yang
lebih mengkhawatirkan adalah bahwa inflasi jilbab ini tampaknya sudah lama
berjalan seiring dengan inflasi simbol agama lainnya. Ketika para ustad
terlibat penipuan dan tindakan kriminal lainnya sehingga ditahan oleh polisi,
para pegawai Departemen Agama terlibat korupsi pengadaan Alquran, ketua dan
aktivis parpol terlibat gratifikasi dan main perempuan, ada juga yang lihat-lihat
pornografi melalui gadget-nya di ruang sidang DPR, maka semakin hilanglah
kepercayaan kepada simbol-simbol agama, yang pada saatnya nanti bukan tidak
mungkin akan menghilangkan kepercayaan orang terhadap agama itu sendiri. Audhubillahi mindzalik.
Karena
itu, sudah saatnya kita harus lebih mengurangi kampanye atau sosialisasi
agama (dalam bahasa Islam: dakwah) yang sifatnya hanya menekankan pada
simbol-simbol agama saja. Di balik simbol-simbol agama itu, mudah sekali terjadi
kepalsuan atau pemalsuan. Dakwah kita harus lebih menukik pada moral dan
perilaku agama itu sendiri yang intinya adalah kasih sayang.
Dalam
psikologi, kasih sayang bersumber pada empati. Dengan empati, orang bisa
merasakan perasaan orang lain, penderitaan atau kebahagiaan orang lain,
sakitnya orang lain, semangatnya orang lain atau keputusasaan orang lain dsb.
Sehingga orang tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain, karena ia
sendiri pun tidak mau disakiti atau dirugikan. Ia senang menolong dan membahagiakan
orang lain, karena ia pun senang kalau ditolong dan dibahagiakan.
Sayang
sekali, di tengah maraknya dakwah agama, kita sudah makin jarang memerhatikan
anak-anak kita, menegurnya dengan kata-kata sayang, memeluknya dan
menceritakan dongeng pengantar tidur, bahkan makan bersama pun sudah hampir
tidak pernah. Kalaupun ada salat bersama, itu pun setelah dikejar-kejar dan
diancam-ancam, barulah anak-anak mau berkumpul.
Padahal
yang diperlukan anak-anak hanyalah sapaan yang penuh cinta. Jangan lupa,
sapaan penuh kasih dari orang tua ke anak, adalah kepanjangan sapaan kasih Allah
kepada anak itu. Tanpa sapaan penuh kasih dari orang tua, akan tertutup
kemungkinan untuk anak merasakan sapaan kasih dari Allah.
Jangan
heran kalau anak-anak ini menjadi kriminal kalau kelak dewasa, bahkan ada
yang sudah membunuh temannya sendiri pada saat masih murid SD. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar