Seabad
Ismail Marzuki
Jaya
Suprana ; Pianis dan Komponis Suita Marzukiana
|
KOMPAS,
11 Mei 2014
|
Pada 11
Mei 2014, bangsa Indonesia merayakan hari kelahiran seorang penggubah musik
yang dinobatkan menjadi pahlawan nasional Indonesia bernama Ismail Marzuki.
Senasib dengan para penggubah musik lain di marcapada, semasa hidupnya Ismail
Marzuki harus merelakan dirinya dikritik, bahkan dihujat oleh berbagai pihak.
Kritik
The
Harmonicon edisi April 1824 di London kejam mencemooh karya Ludwig van
Beethoven ” ... more and more assume
the character of studied eccentricity. He does not write much now, but most
of what he produces is so impenetrably obscure in design and so full of unaccountable
and often repulsive harmonies, that he puzzles the critic as much as he
perplexes the performer”.
Kira-kira
dalam bahasa Indonesia ”... makin lama
makin berkesan pencitraan eksentrik. Dia (Beethoven) tidak banyak berkarya
lagi sekarang, namun kebanyakan yang diproduksi sedemikian janggal dalam
desain dan dipadati harmoni-harmoni tak jelas juntrungan bahkan menjijikkan
sehingga menjadi teka-teki bagi para kritikus dan membingungkan para
pemergelar”.
Fryderyk
Chopin dihabisi London Times edisi 4 April 1845 dengan cemooh ”The Chopin’s Piano Concerto in f minor is
the first work on a large scale which Chopin has attempted .... It is as that
of one who has ventured in a new region and aims at eccentricities without
producing any great effect.... It is dry and unattractive”.
(Konserto Piano dalam f minor adalah karya
pertama Chopin dalam skala besar, terkesan seperti seorang yang pertama
mengembara di kawasan baru dan mencoba menghadirkan ekstrisiti mubazir.
Kering dan tidak menarik).
Sementara
Franz Liszt dihujat Boston Gazette edisi April 1872 ”Liszt’s
orchestral music is an insult to art. It is gaudy musical harmony, savage,
and incoherent bellowings”. (Musik orkestral Liszt adalah penghinaan
bagi seni-musik. Harmoni musikal tidak senonoh, buas dan kebisingan
kacau-balau).
Akademis
Nasib
serupa menimpa Ismail Marzuki di Indonesia pada abad XX. Para pemberhala
musik-akademis meleceh Ismail Marzuki tidak pernah mengenyam pendidikan musik
akademis sehingga karyanya dianggap tidak layak disebut sebagai karya seni
musik!
Seolah
untuk layak disebut sebagai karya seni musik memang penciptanya mutlak harus
pernah sekolah musik akademis! Para
penganut aliran sok akademis itu lupa atau pura-pura lupa fakta Bach, Haydn,
Mozart, Beethoven, Schubert juga tidak pernah mengenyam apa yang disebut
sebagai pendidikan musik formal akademis sebab pada masa para mereka hidup
memang belum lazim pemusik menuntut ilmu di lembaga pendidikan musik
akademis.
Ada pula
yang mengkritik karya Ismail Marzuki terlalu kebarat-baratan, namun tanpa
kejelasan kaidah yang digunakan untuk
anggapan itu. Apakah akibat menggunakan titinada diatonis musik tradisional
Barat yang de facto juga digunakan
Wage Rudolf Supratman dalam menggubah lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” yang kerap dituduh mirip
lagu kebangsaan Perancis itu? Atau, L Manik dalam menciptakan himne ”Satu
Nusa Satu Bangsa” bersuasana lagu
gereja Jerman? Atau, ”Padamu Negeri”
karya Kusbini yang struktur harmoni dan untaian melodi di bagian akhir
begitu mirip sehingga kerap diplesetkan ke lagu ”Can’t help falling in
love”-nya Elvis Presley?
Kurang
adil apabila Ismail Marzuki dikritik, sementara Supratman, Manik, Kusbini,
Iskandar, Maladi, dan lain-lain pengguna sistem musik Barat pada karya musik
Indonesia tidak dipermasalahkan. Bahkan, mayoritas lagu-lagu rakyat Maluku
dan Manado juga rawan dipermasalahkan akibat penggunaan titinada diatonis dan
harmoni tonika-dominan-subdominan yang berakar pada sistem musik Barat.
Cengeng
Ada yang
tega menyebut musik karya Ismail Marzuki sama dengan musik cengeng selaras
gerakan anti musik cengeng yang sempat dipelopori Bung Karno. Sebenarnya
tidak ada musik yang an sich
cengeng atau tidak cengeng sebab cengeng merupakan suatu bentuk reaksi
emosional terhadap bukan terbatas hanya musik saja, tetapi meluas ke segenap
obyek yang potensial memicu reaksi emosional pada diri seorang insan manusia.
Jika
kaidah cengeng bertumpu pada sesuatu yang membuat manusia merasa terharu,
semua karya seni adalah cengeng. Terbukti pada saat menikmati musik siteran,
menonton pergelaran wayang orang, menyimak macapat, menerawang desain
batik, memesonai keakbaran Candi
Borobudur dan keindahan Candi Prambanan atau mendengar sayup-sayup suara
seruling di pedesaan, saya tidak mampu menahan tetesan air mata akibat sukma
saya benar-benar tergetar oleh rasa haru dan bangga atas kemahaindahan karsa
dan karya kebudayaan Nusantara.
Yang
menangis adalah saya sehingga yang lebih layak disebut cengeng bukan penyebab
saya menangis, namun diri saya sendiri yang menangis.
Pahlawan nasional
Silakan
siapa saja mengkritik Ismail Marzuki dengan ataupun tanpa alasan apa saja
sebab mengkritik merupakan hak asasi setiap insan manusia. Namun, sebagai
insan bangsa Indonesia saya juga memiliki hak asasi untuk menyatakan bahkan
menegaskan bahwa Ismail Marzuki memang layak dinobatkan sebagai pahlawan
nasional bangsa Indonesia sebab saya merasakan di dalam mahakarya Ismail
Marzuki senantiasa tersirat semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam makna
tertulus!
Hanya
mereka yang tidak punya telinga dan hati atau bukan warga bangsa Indonesia
yang sukma pada lubuk sanubarinya tidak tergetar pada saat mendengar alunan
melodi dan untaian syair mahakarya Ismail Marzuki: ”Indonesia Pusaka” :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar