Rakyat
Butuh Aktor Sosial, Bukan Aktor Politik
Onzukrisno ;
Kepala Biro Organisasi Setda Prov Sumbar
|
HALUAN,
12 Maret 2014
|
Dari
kehari yang kita lalui selalu saja memunculkan berbagai bentuk dinamika
kehidupan. Ada suka dan ada duka. Namun hal yang selalu menjadi pusat
perhatian di seluruh tanah air saat ini adalah, bagaimana rakyat bisa memilih
dan mencari orang-orang yang mampu membawa aspirasi dan berpihak kepada
mereka. Bukan kepada partai, kelompok,
termasuk diri sendiri.
Kondisi
selama ini telah membuat rakyat menjadi apatis akan janji-janji yang
diucapkan. Tidak jarang mereka dibutuhkan dan dijambangi hanya pada
saat-saat masa kampanye. Akan tetapi setelah itu, mereka terabaikan selama
lima tahun ke depan.
Kota
Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 5 Maret 2014 yang
lalu baru saja menyelenggarakan pilkada putaran ke dua. Di sini jelas
terlihat bahwa masyarakat yang ikut memilih pada putaran ke dua hanya 51,75 %. Sementara pada putaran pertama
partisipasi pemilih mencapai 57,27 %.
Asumsinya
adalah bahwa masyarakat tidak lagi begitu peduli akan pesta demokrasi yang
berlangsung di daerahnya sendiri, akibat telah jenuh dengan janji-janji, yang
hanya dibutuhkan pada saat-saat tertentu dan setelah itu akan tetap
terabaikan.
Pengembalian
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah perlu segera dibangun. Jangan
dibiarkan semakin kronis, karena akan memunculkan berbagai persoalan, yang
akan merepotkan semua pihak.
Ini
adalah tanggung jawab semua komponen, bagaimana kita duduk bersama untuk
kembali membangun kepercayaan yang sudah mulai tenggelam akibat arus
kebohongan yang diperbuat selama ini.
Melihat
kondisi yang terjadi, penulis sangat tertarik akan apa yang ditulis oleh
Bapak Ruslan Ismael Mage, dalam bukunya yang berjudul “Berpolitik
dengan Biaya Murah” dalam lembaran tulisannya mengatakan bahwa kalau
ingin memenangkan pemilu dengan meminimalkan biaya politik, sang kandidat
harus cerdas dari awal membangun personal branding yaitu harus mengetahui
kapan saatnya menjadi aktor sosial dan kapan waktunya harus menjadi aktor
politik.
Seorang
aktor sosial tidak akan pernah membiarkan rakyatnya sebagai anak yatim piatu,
berjalan sendiri dalam kebutaan, menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan
sosialnya. Di sini peran aktor sosial akan datang, bukan untuk memberi uang
dan menebar janji, akan tetapi aktor sosial datang menebar silaturahmi,
merancang pola pemecahan masalah, merekonstruksi kerangka pemberdayaan
potensi masyarakat dalam upaya menyelesaikan persoalan kehidupan yang dialami
oleh rakyat.
Sebab
aktor sosial tidak mempunyai waktu untuk bertanam tebu di bibir, karena akan
lebih vokus menanam saham dan budi pekerti di lahan jiwa rakyatnya. Selalu
menanamkan benih benih persaudaraan dengan tidak melihat latar belakang,
agama, kelompok maupun kaya dan miskin, mereka selalu ada setiap waktu.
Inilah aktor yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini dan bukan sebaliknya.
Sementara
aktor politik selalu memainkan peran dengan hiasan pangung dan merindukan
riuhnya tepuk tangan dari rakyat. Mereka datang dan pergi menemui rakyat pada
saat-saat akan berlangsungnya pemilihan umum. Rakyat dieksploitasi dan dinina
bobokan pada musim kampanye, seakan apa yang dibutuhkan dan bahkan tidak
diminta sekalipun sang aktor akan mencurahkan seluruh perhatian kepada
mereka.
Aktor
politik harus mampu menjaga alur cerita yang sudah diskenariokan agar
masyarakat larut dalam untaian cerita yang dimainkan oleh sang aktor. Tetapi
pada tahapan implementasi, apa yang telah disampaikan di lapangan hampir
semua politisi tidak konsisten keberpihakannya kepada rakyat. Inilah salah satu
penyebab terlukanya hati rakyat selama ini dan masih banyak lagi penyebab
lainnya.
Kehidupan
memang merupakan sandiwara terpanjang di muka bumi. Kita tidak bisa menolak
peran yang diberikan, sebagaimana kita tidak bisa menolak untuk dilahirkan.
Semunya sudah ada yang mengatur. Namun kita juga harus dapat memaklumi, bahwa
segala hal yang diciptakan Tuhan di muka bumi pasti ada gunanya.
Maaf
mengungkapkan bahwa seorang pencuri pun ada gunanya, dimana dia mengingatkan
untuk kita selalu waspada dan berhati-hati, dan selalu menutup pintu rumah
sebelum tidur. Disamping itu dia juga membuka lapangan kerja bagi peronda
malam.
Kita
sangat berharap kiranya ke depan akan lahir aktor-aktor sosial yang akan
mampu membangun kebersamaan dengan masyarakat dari waktu ke waktu. Selalu ada
saat rakyat membutuhkannya, merakyat dengan visi kepemimpinan visioner yang
memiliki pandangan jauh ke depan dalam membangun peradaban manusia bangsa dan
negaranya.
Tidak
memanfaatkan waktu-waktunya untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya,
tetapi bagaimana bersama rakyat, tokoh masyarakat, alim ulama dan cerdik
pandai merumuskan strategi untuk
menggali seluruh potensi yang dimiliki oleh bangsa dan bumi ini dalam
menjalankan roda pembangunan, yang secara keselurahan adalah untuk
kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik. Semuanya itu ada pada aktor
sosial dan bukan berada pada aktor politik. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar