Githok
Tulus Wijanarko ; Wartawan Tempo
|
TEMPO.CO,
21 Maret 2014
|
Githok,
ini dari bahasa Jawa, adalah sebutan untuk bagian belakang leher kita. Karena
posisinya demikian, tak mungkin setiap orang mampu melihat githok-nya
sendiri-juga kotoran atau daki yang menempel di sana.
Dalam
kultur Jawa, githok dipakai untuk mengungkapkan perilaku orang yang berlagak
selalu benar nan suci. Seraya tak sudi melihat kekurangan diri, orang ini
gemar menyalahkan pihak lain. "Uwong
kok ora iso ngilo githoke dewe (Orang
kok tak mau berkaca pada githok/kekurangannya sendiri)," demikian
ungkapan yang kerap terlontar untuk pemilik sifat tak elok itu.
Kazanah
pewayangan menyediakan stok banyak untuk menggambarkan karakter macam itu.
Selain oleh tokoh antagonis, sifat ini kadang diidap para protagonis. Para
kesatria kerap terpeleset untuk berlaku merasa benar sendiri.
Lakon
Ekalaya Palastra, misalnya, menggambarkan Raden Arjuna yang tak bisa menerima
kenyataan ada kesatria lain (Ekalaya) yang lebih unggul dalam ilmu memanah!
Arjuna gagal memahami bahwa ia kalah karena kurang gentur (spartan) berlatih.
Ia juga menuding Resi Durna, guru memanahnya, telah berkhianat mengajar
kesatria lain. Saat itulah Arjuna berlaku tidak bisa menengok githok-nya sendiri.
Saya
kerap teringat lakon itu setiap memergoki kelakuan orang yang menolak
bermawas diri. Hari-hari ini saya melihatnya pada para petinggi partai
politik yang rajin mengecam dan mengancam para penganut golongan putih
(golput). Mereka memandang warga yang tidak menggunakan hak pilih dalam
pemilihan umum itu bagai pengidap sampar yang mesti dienyahkan saja.
Mereka
tak sudi menyadari bahwa kebobrokan partai politiklah yang menjadi sumber
penolakan para penghayat. Bagaimana mau percaya kepada partai politik kalau
banyak kader berlaku lancung nyolong duit rakyat? Faktanya, penjara di kantor
KPK saat ini disesaki rombongan para politikus beragam partai.
Serenceng
kebobrokan kader partai kian terpampang jelas dari polah mereka di DPR.
Panggung parlemen tak ubahnya etalase dari kelakuan memuakkan para politikus.
Lihat, gaji anggota parlemen Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia,
tapi prestasi mereka sangat menyedihkan. Pendapatan yang lebih dari Rp 1
miliar setahun itu nyatanya tak diimbangi dengan hasil kerja yang dahsyat.
Sebaliknya,
hal-hal berikut inilah yang lebih diingat rakyat. Anggota parlemen adalah
mereka yang suka pelesir bertopeng studi banding. Mereka yang malas datang ke
ruang sidang, dan jika hadir sering terlihat tidur lelap. Dan, adalah mereka
yang tak becus menuntaskan pembahasan undang-undang sesuai dengan target.
Pada 2013, mereka hanya mampu membahas tujuh undang-undang, dari 70 yang
dicanangkan.
Tumpukan
daki pada githok partai politik
itulah yang tak mau diakui para petinggi partai politik. Dan, asal tahu saja,
90 persen anggota parlemen tersebut kini maju lagi dalam pemilihan
legislatif. Sungguh, ora iso ngilo
githoke dewe! Itulah alasan utama maraknya golput.
Dalam
lakon pewayangan di atas, tokoh Ekalaya memotong ibu jarinya sendiri memenuhi
perintah Resi Durna menunjukkan baktinya sebagai kesatria. Dalam dunia nyata,
para "golputer"-lah yang
memotong kepercayaannya terhadap partai politik karena berbagai kebusukan
yang ada di dalamnya! ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar