Dinamika
Hubungan Timbal Balik
Sawitri Supardi Sadarjoen ; Penulis
Rubrik Konsultasi Psikologi Harian Kompas, Dekan Fakultas Psikologi
Universitas YARSI
|
KOMPAS,
12 Januari 2014
|
Hubungan timbal balik (interelasi) seseorang dengan orang
lain berjalan dan berproses secara dinamis. Artinya, hubungan dan interaksi
yang terbina membawa konsekuensi bagi iklim relasi yang spesifik sehingga
posisi antarindividu akan terpaku pada posisi tertentu. Kecenderungan
seseorang untuk merasa nyaman dengan posisi ”overfunctioning” akan
menyudutkan lawan komunikasinya menempati posisi ”underfunctioning”.
Kondisi ini akan menghambat
terjalinnya hubungan timbal balik yang membutuhkan perasaan saling berbagi
yang nyaman, penuh kasih, dan setara.
Kasus
Ibu yang terhormat,
Saya pria usia 30 tahun, guru
sekolah, anak pertama. Keluarga saya menerapkan norma kehidupan dengan ketat
walaupun tidak selalu terkait dengan aturan agama. Orangtua ketat menanamkan
aturan berelasi dengan lawan jenis. Meski demikian, saya banyak berkawan
dengan teman perempuan di lingkungan kerja dan sekolah.
Saya bergaul dengan
banyak teman perempuan. Kebanyakan mereka jujur dan percaya kepada saya
bahkan mereka menceritakan rahasia pribadi. Mereka sering meminta nasihat
saya dalam masalah di pekerjaan dan perkawinan .
Sementara itu, orangtua saya
menyarankan saya untuk mulai memikirkan perkawinan. Karena itu, saya menjalin
relasi dating, tetapi sampai saat ini belum ada yang berlanjut dengan
relasi berpacaran yang serius. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan
teman perempuan. Saya merasa inilah perempuan yang cocok untuk masa depan
saya dan saya bermaksud untuk melamarnya segera. Namun, saya tahu bahwa
diam-diam dia mengharapkan laki-laki lain. Jadi, sebenarnya saya belum bisa
percaya penuh dengannya.
Saya memperlakukan dia dengan
sopan dan penuh rasa hormat. Sampai saat ini pun kontak fisik dengannya
sebatas menggandeng tangan. Dalam pada itu, saya mencoba untuk menggali
hal-hal yang saya rasa masih disembunyikannya, Namun, tanpa disangka hal itu
membuat dia marah sekali dan mengatakan saya memaksa dia untuk terbuka dan
menuduh saya mencampuri urusan pribadi. Dia kemudian memutuskan hubungan.
Saat itu perasan saya benar-benar sedih. Terkadang saya merasa lebih dihargai
sebagai sahabat oleh teman perempuan daripada pacar.
Saya tidak tahu apakah saya dapat
terlibat relasi romantis di kemudian hari karena saya mungkin hanya mampu
menjalin relasi dengan perempuan sebagai sahabat saja. Saya merasa
teman-teman perempuan saya hanya memanfaatkan saya dan hanya mau
memperlakukan saya sebagai teman main dan bukan sebagai calon pasangan hidup
saya. Bu, apakah benar seorang perempuan hanya dapat terbuka dengan sahabat
laki-laki dibandingkan dengan pasangannya sendiri? Bagaimana saya dapat
mengatasi masalah ini? Saya tidak ingin tergesa-gesa mencari soulmate,
tetapi keluarga saya mendesak saya untuk segera menikah. Salam hormat.
DW in S
Analisis
Sdr DW, saya bisa memahami betapa
kecewanya perasaan Anda. Padahal, Anda telah menjadi sosok pendengar,
penolong, bahkan pemberi nasihat dan memberikan solusi masalah yang mereka
utarakan.
Apabila kita cermati mengenai
riwayat hubungan timbal balik dengan lawan jenis Anda, dapat disimpulkan
bahwa kepatuhan Anda pada aturan keluarga untuk membatasi pergaulan
heteroseksual tanpa disadari membuat diri Anda selalu:
a. Memilih posisi sebagai sosok
pelindung, penasihat, pendengar yang baik dari keluhan teman lain jenis Anda.
Posisi itu mendorong Anda dalam peran overfunctioning dan teman
perempuan Anda dalam posisi underfunctioning. Artinya, Anda dominan dan
teman-teman perempuan Anda submisif. Anda terbiasa bertanya, menggali
permasalahan, dan mengarahkan mereka untuk menerima saran solusi yang harus
mereka lakukan.
b. Kepatuhan Anda terhadap aturan
relasi heteroseksual membuat Anda tidak pernah mencoba dating yang
membuat Anda punya pengalaman bentuk hubungan heteroseksual yang lain dari
posisi Anda tersebut di atas. Hubungan antarpacar tidak mungkin hanya dibina
dengan menerapkan posisi overfunctioning-underfunctioning.
Dinamika
hubungan antardua pasangan berpacaran merupakan gabungan/integrasi dari
kemitraan yang sejajar, saling mendengar dan didengar, saling merayu dan
dirayu, saling memahami jika terjadi kesalahpahaman sehingga saling mengisi
dalam dinamika interelasinya untuk kemudian menghasilkan romantisisme yang
diikuti oleh sensualisme dan kegairahan akan kebersamaan.
Jadi, bisa dipahami jika hubungan
timbal balik dengan ”calon soulmate yang memutuskan hubungan”
tersebut dirasa seperti diinterogasi, disudutkan, dan dituduh yang membuatnya
marah dan memutuskan hubungan.
Solusi
1. Rileks dulu beberapa waktu,
introspeksi, dan yakinkan diri bahwa Anda mampu menjalin hubungan yang
romantis kelak. Jangan putus asa. Bacalah artikel tentang cara berelasi dan
berkomunikasi yang membuat orang nyaman bergaul dengan teman Anda. Kemudian
ubahlah cara Anda dalam menjalin relasi dengan teman perempuan dengan cara
bergaul santai.
Lupakan dulu desakan keluarga
untuk segera menikah. Coba berlatih menempatkan posisi sejajar dengan sikap
santai, baik dalam lingkup pergaulan dengan lawan jenis maupun lingkup
pergaulan sosial yang lebih luas, di mana Anda sekaligus bertemu dengan teman
laki-laki dan perempuan.
2. Nikmati pergaulan luas tersebut
untuk kemudian Anda akan menemukan dan tertarik kepada salah satu di antara
teman-teman perempuan Anda.
3. Jangan tergesa menyerangnya
dengan pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi. Apabila sudah Anda
peroleh sinyal bahwa teman perempuan tersebut bersedia menjalin pertemanan
yang lebih akrab, barulah Anda sampaikan maksud Anda untuk menjadikannya belahan
jiwa dalam kehidupan perkawinan. Semoga
sukses. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar