Senin, 13 Januari 2014

Dinamika Hubungan Timbal Balik

Dinamika Hubungan Timbal Balik

Sawitri Supardi Sadarjoen ;   Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Harian Kompas, Dekan Fakultas Psikologi Universitas YARSI
KOMPAS,  12 Januari 2014
                                                                                                                        


Hubungan timbal balik (interelasi) seseorang dengan orang lain berjalan dan berproses secara dinamis. Artinya, hubungan dan interaksi yang terbina membawa konsekuensi bagi iklim relasi yang spesifik sehingga posisi antarindividu akan terpaku pada posisi tertentu. Kecenderungan seseorang untuk merasa nyaman dengan posisi ”overfunctioning” akan menyudutkan lawan komunikasinya menempati posisi ”underfunctioning”.

Kondisi ini akan menghambat terjalinnya hubungan timbal balik yang membutuhkan perasaan saling berbagi yang nyaman, penuh kasih, dan setara.

Kasus

Ibu yang terhormat,

Saya pria usia 30 tahun, guru sekolah, anak pertama. Keluarga saya menerapkan norma kehidupan dengan ketat walaupun tidak selalu terkait dengan aturan agama. Orangtua ketat menanamkan aturan berelasi dengan lawan jenis. Meski demikian, saya banyak berkawan dengan teman perempuan di lingkungan kerja dan sekolah. 

Saya bergaul dengan banyak teman perempuan. Kebanyakan mereka jujur dan percaya kepada saya bahkan mereka menceritakan rahasia pribadi. Mereka sering meminta nasihat saya dalam masalah di pekerjaan dan perkawinan .

Sementara itu, orangtua saya menyarankan saya untuk mulai memikirkan perkawinan. Karena itu, saya menjalin relasi dating, tetapi sampai saat ini belum ada yang berlanjut dengan relasi berpacaran yang serius. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan teman perempuan. Saya merasa inilah perempuan yang cocok untuk masa depan saya dan saya bermaksud untuk melamarnya segera. Namun, saya tahu bahwa diam-diam dia mengharapkan laki-laki lain. Jadi, sebenarnya saya belum bisa percaya penuh dengannya.

Saya memperlakukan dia dengan sopan dan penuh rasa hormat. Sampai saat ini pun kontak fisik dengannya sebatas menggandeng tangan. Dalam pada itu, saya mencoba untuk menggali hal-hal yang saya rasa masih disembunyikannya, Namun, tanpa disangka hal itu membuat dia marah sekali dan mengatakan saya memaksa dia untuk terbuka dan menuduh saya mencampuri urusan pribadi. Dia kemudian memutuskan hubungan. Saat itu perasan saya benar-benar sedih. Terkadang saya merasa lebih dihargai sebagai sahabat oleh teman perempuan daripada pacar.

Saya tidak tahu apakah saya dapat terlibat relasi romantis di kemudian hari karena saya mungkin hanya mampu menjalin relasi dengan perempuan sebagai sahabat saja. Saya merasa teman-teman perempuan saya hanya memanfaatkan saya dan hanya mau memperlakukan saya sebagai teman main dan bukan sebagai calon pasangan hidup saya. Bu, apakah benar seorang perempuan hanya dapat terbuka dengan sahabat laki-laki dibandingkan dengan pasangannya sendiri? Bagaimana saya dapat mengatasi masalah ini? Saya tidak ingin tergesa-gesa mencari soulmate, tetapi keluarga saya mendesak saya untuk segera menikah. Salam hormat.

DW in S


Analisis

Sdr DW, saya bisa memahami betapa kecewanya perasaan Anda. Padahal, Anda telah menjadi sosok pendengar, penolong, bahkan pemberi nasihat dan memberikan solusi masalah yang mereka utarakan.

Apabila kita cermati mengenai riwayat hubungan timbal balik dengan lawan jenis Anda, dapat disimpulkan bahwa kepatuhan Anda pada aturan keluarga untuk membatasi pergaulan heteroseksual tanpa disadari membuat diri Anda selalu:
a. Memilih posisi sebagai sosok pelindung, penasihat, pendengar yang baik dari keluhan teman lain jenis Anda. Posisi itu mendorong Anda dalam peran overfunctioning dan teman perempuan Anda dalam posisi underfunctioning. Artinya, Anda dominan dan teman-teman perempuan Anda submisif. Anda terbiasa bertanya, menggali permasalahan, dan mengarahkan mereka untuk menerima saran solusi yang harus mereka lakukan.

b. Kepatuhan Anda terhadap aturan relasi heteroseksual membuat Anda tidak pernah mencoba dating yang membuat Anda punya pengalaman bentuk hubungan heteroseksual yang lain dari posisi Anda tersebut di atas. Hubungan antarpacar tidak mungkin hanya dibina dengan menerapkan posisi  overfunctioning-underfunctioning. 

Dinamika hubungan antardua pasangan berpacaran merupakan gabungan/integrasi dari kemitraan yang sejajar, saling mendengar dan didengar, saling merayu dan dirayu, saling memahami jika terjadi kesalahpahaman sehingga saling mengisi dalam dinamika interelasinya untuk kemudian menghasilkan romantisisme yang diikuti oleh sensualisme dan kegairahan akan kebersamaan.

Jadi, bisa dipahami jika hubungan timbal balik dengan ”calon soulmate yang memutuskan hubungan” tersebut dirasa seperti diinterogasi, disudutkan, dan dituduh yang membuatnya marah dan memutuskan hubungan.

Solusi

1. Rileks dulu beberapa waktu, introspeksi, dan yakinkan diri bahwa Anda mampu menjalin hubungan yang romantis kelak. Jangan putus asa. Bacalah artikel tentang cara berelasi dan berkomunikasi yang membuat orang nyaman bergaul dengan teman Anda. Kemudian ubahlah cara Anda dalam menjalin relasi dengan teman perempuan dengan cara bergaul santai.

Lupakan dulu desakan keluarga untuk segera menikah. Coba berlatih menempatkan posisi sejajar dengan sikap santai, baik dalam lingkup pergaulan dengan lawan jenis maupun lingkup pergaulan sosial yang lebih luas, di mana Anda sekaligus bertemu dengan teman laki-laki dan perempuan.

2. Nikmati pergaulan luas tersebut untuk kemudian Anda akan menemukan dan tertarik kepada salah satu di antara teman-teman perempuan Anda.

3. Jangan tergesa menyerangnya dengan pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi. Apabila sudah Anda peroleh sinyal bahwa teman perempuan tersebut bersedia menjalin pertemanan yang lebih akrab, barulah Anda sampaikan maksud Anda untuk menjadikannya belahan jiwa dalam kehidupan perkawinan. Semoga sukses.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar