|
"Ada link
antara identitas dan kepemilikan material; serta belanja adalah langkah awal
menuju kepemilikan itu"
SETIDAK-TIDAKNYA ada dua aktivitas yang dilakukan sebagian
besar masyarakat Indonesia, yang mendahului perayaan Lebaran. Pertama;
berbelanja besar. Kemeningkatan aktivitas ini menjelang Idul Fitri sangat
nyata terlihat, ditandai dengan keberjubelan calon pembeli di toko, pasar
swalayan, mal, bahkan pasar tradisional sekalipun.
Gayung bersambut, demi memuaskan hasrat berbelanja,
pengelola pusat perbelanjaan menawarkan beragam program promotif, dari diskon
dan super sale, beli 2 dapat 3, sampai belanja tengah malam (midnight sale). Banyak orang termakan
oleh promosi itu, berbelanja tanpa kendali, kadang membeli barang yang belum
benar-benar dibutuhkan.
Untuk keperluan belanja itu, banyak anggota masyarakat
menghabiskan gaji dan THR, uang tabungan yang dikumpulkan beberapa bulan
sebelumnya, atau uang kiriman dari orang tua, anak, atau saudara yang bekerja
di luar negeri. Beberapa orang, meskipun terpaksa, menjual harta benda
yang dimiliki untuk keperluan belanja Lebaran. Ada semacam kenikmatan luar
biasa ketika pada akhirnya aktivitas belanja tersebut bisa dilakukan dengan
sempurna.
Kedua; mudik. Berlebaran tanpa mudik terasa kurang afdal.
Meski untuk memenuhi kewajiban itu, keselamatan diri dan keluarga selama
perjalanan berada dalam ancaman, minimal kurang diperhatikan. Hal ini ditandai
dengan tingginya angka kecelakaan lalu lintas, semisal dipicu oleh mengantuk
atau kendaraan yang tidak laik jalan. Kegiatan mudik juga menyedot pengeluaran
uang yang tidak sedikit, antara lain untuk biaya transpor dan konsumsi
selama perjalanan, oleh-oleh atau ”angpau” untuk orang tua dan saudara di
kampung halaman.
Konstruksi
Identitas
Aktivitas belanja dan mudik acap menjadikan kondisi
keuangan keluarga kembali ke titil nol dan cerita duka. Semua simpanan dan
tabungan terbelanjakan dalam waktu singkat dan jiwa orang tersayang hilang
karena keganasan jalan raya. Tetapi aktivitas tersebut terus menemukan
urgensinya meski tingkat pendidikan masyarakat meningkat, dan tersedia
fasilitas layanan komunikasi yang memungkinkan orang yang berjauhan tetap bisa
berhubungan satu sama lain dengan cara mudah dan murah.
Salah satu jawabannya adalah karena orang perlu
terus-menerus mempertahankan, membangun, dan mengasosiasikan identitas. Hal itu
mengingat identitas merupakan cerminan diri yang bersifat personal sekaligus
sosial dan menjadi pembeda atau persamaan dengan yang lain, bersifat sangat
cair dan terpecah-belah (fragmentary).
Ada link antara identitas dan kepemilikan material, dan
belanja adalah langkah awal menuju kepemilikan itu. Ketika seseorang berbelanja
berarti ia tengah mengkonstruksikan identitasnya. Barang-barang material sudah
pasti memiliki fungsi praktis. Tetapi lebih dari itu, barang-barang tersebut
akan menandai afiliasi kelompok, kedudukan sosial, status ekonomi, bahkan keterkelompokannya
pada subkultur tertentu. Ketika seseorang berada dalam kerumunan orang
berbelanja di mal menjelang Lebaran sejatinya ia sedang membangun identitas
dengan cara membedakan diri dari orang lain yang tidak melakukan kegiatan itu.
Begitu pula halnya ketika ia memakai baju baru atau mengendarai mobil baru.
Sebagai tanda identitas personal, barang tersebut mewakili
kualitas, nilai, sikap unik seseorang yang terekam dalam memori dan sejarah
pribadi, sekaligus menyimbolisasikan hubungan antarpersonal dengan teman
ataupun keluarga. Jadi ketika seseorang melakukan aktivitas mudik, pada
dasarnya dia sedang menegosiasikan kembali identitas diri, yang terjabarkan
dalam makna bahwa ia bukanlah liyan
(orang lain). Meskipun sekian lama telah meninggalkan kampung halaman, ia
tidak tercerabut, masih merupakan bagian dari keluarga, kelompok, dan habitat
tanah asal dengan segala atributnya.
Kendati keindonesiaan yang satu telah mulai dibangun sejak
85 tahun lalu, saat kali pertama mengumandangkan Soempah Pemoeda, ikatan tanah
asal ternyata masih mengemuka. Realitas tersebut terlihat nyata ketika kita
memperhatikan diskursus pertemanan baru, dan salah satu informasi yang
sering ditransaksikan adalah tanah asal. Dengan demikian belanja dan mudik
adalah usaha mengonstruksi identitas, dan Lebaran adalah momentumnya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar