Sabtu, 06 Juli 2013

Berharap Bangsa Mandiri

Berharap Bangsa Mandiri
Agus Suman ;  Ekonom Universitas Brawijaya
SUARA KARYA, 04 Juli 2013


Kondisi bangsa kita masih sangat memprihatinkan. Sebab, meski orang pintar makin banyak, toh tingkat kemiskinan tidak banyak berkurang. Ketimpangan malah makin melebar dan kesenjangan makin menganga.
Aneh, makin banyak orang pintar, negeri ini justru makin bergantung kepada negara lain. Lihatlah, misalnya, perkembangan impor. Saat ini, hampir semua barang yang kita perlukan diimpor dari negara lain. Termasuk komoditas yang menurut logika kita mestinya bisa kita penuhi dari dalam negeri, seperti beras, kedelai, bawang putih, ikan, garam, dan lain-lain.

Makin banyak orang pintar di negeri ini, makin banyak saudara kita yang menjadi TKI dan TKW di luar negeri. Ini semua mengindikasikan bahwa berbagai kemajuan yang kita capai, termasuk di bidang pendidikan, belum mampu membuat kita menjadi bangsa mandiri dan bermartabat.

Kita berharap para pemimpin bisa menginspirasi masyarakat tentang nilai-nilai kebaikan. Ini penting agar masyarakat menjadi jujur, memiliki semangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, produktif, dan seterusnya. Tapi sayangnya, banyak di antara kita yang baru pada level sibuk mencukupi kebutuhan dasar masing-masing, baru pada taraf memperkaya diri, keluarga, dan kelompok.

Sebagian kita masih sibuk berbantah-bantahan, saling menyalahkan, saling menjatuhkan, mencari kambing hitam. Sebagian kita baru pada level senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang senang. Kita belum sampai ke menjadikan perbedaan sebagai rahmat bagi upaya pemecahan berbagai persoalan bangsa.

Itulah sebabnya, kita harus menyambut dengan sukacita keinginan putra-putri bangsa untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Tentu kita semua berharap, mereka memiliki tujuan mulia. Kita berharap, keinginan mereka melanjutkan studi tidak hanya untuk memenuhi keinginan orangtua, ikut-ikutan teman, atau hanya untuk mendapatkan selembar ijazah.

Kita berharap, mereka tidak menjadikan pendidikan sekadar sebagai jembatan untuk mendapatkan pekerjaan, lalu memperoleh gaji yang layak untuk kesejahteraan diri dan keluarga. Pikiran semacam ini harus segera diakhiri. Kita berharap anak-anak bangsa mengenyam pendidikan tinggi dengan tujuan berdimensi jangka panjang dalam rangka menemukan makna kehidupan. Dengan demikian, pada saatnya nanti, mereka mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Kita berharap lahir generasi cerdas. Tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, sosial, emosional, dan kinestetis. Kita berharap lahir generasi berkarakter sebagai buah proses pendidikan. "Intelligence plus character... That is the goal of true education," demikian kata Martin Luther King.

Putra-putri bangsa yang berkarakter dan makin cerdas niscaya makin mencintai negeri dan bangsanya. Bukan sebaliknya, menjadi generasi yang hanya mengeluhkan dan menjelekkan bangsa sendiri. Kita berharap lahir generasi yang tidak hanya memanfaatkan bangsa untuk memperoleh kehidupan layak bagi diri dan keluarganya, tetapi generasi yang memberi kontribusi berarti bagi perkembangan dan kemajuan bangsa.

Kita juga berharap lahir generasi yang tidak hanya pandai bertanya tentang apa yang bisa diberikan oleh negara kepadanya, tetapi generasi yang bertanya tentang apa yang bisa dia kontribusikan bagi perkembangan dan kemajuan bangsanya. Dengan begitu, suatu saat kelak, kita sebagai bangsa niscaya tampil berkarakter, memiliki harga diri dan kebanggaan.

Oleh karena itu, mari kita antarkan para putra bangsa memulai segala sesuatu dengan niat lurus, dengan cara dan strategi yang benar. Mereka tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan jangka pendek, karena hal semacam itu sangat berbahaya. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar