|
Saya Bersama Maudy Ayunda Dimas Supriyanto : Jurnalis Senior. |
ORBIT INDONESIA, 18 September 2026
|
“Mindfulness” yang
ditawarkan oleh si cantik Maudy Ayunda sebenarnya sudah lama dilakukan
diam-diam oleh banyak orang, di sini dan di negeri sana - di negeri yang maju
: memilih untuk tidak menenggak seluruh isi linimasa. Sebagian warga negara
maju memilih kembali ke Hp jadul tanpa Youtube, TikTok, Instagram dll. Hp
untuk kontak dan kirim pesan saja. Maudy jadi perbincangan
karena menawarkan “diet berita”. “Mindfulness” - sebuah pengakuan personal
yang berubah menjadi arena penghukuman. Perundungan yang bengis. Oleh banyak
pihak Maudy dituding “tone deaf”. Dianggap tidak peduli. Membuta tuli. Perlu dibedakan dua hal
yang kerap tercampur dalam kegaduhan macam ini. Pertama, kritik terhadap
gagasan “menjauh dari berita” - demi menenangkan jiwa. Kedua, serangan terhadap
pribadi penggagasnya. Karena dia artis, public figure, sosok muda yang
cemerlang. Alumni Standford University (S1) di Inggris dan S2 (Magister) di
Oxford University di Amerika dan ditunjuk jadi Wakil Indonesia di forum G20.
Dari keluarga klas menengah dan kecukupan. Yang pertama sehat,
bahkan perlu, dalam ruang publik yang berfungsi baik. Yang kedua, sungguh
mencemaskan. Cambridge Dictionary
mendefinisikan “mindfullnes” sebagai praktik menyadari tubuh, pikiran, dan
perasaan pada saat kini, yang diyakini membantu menciptakan rasa tenang.
Intinya: mengajak kita semua hadir di momen sekarang, mengamati apa yang
terjadi - tanpa buru-buru menghakimi atau bereaksi berlebihan terhadapnya. Tidak membaca berita bencana, konflik, berita viral,
bukan berarti tidak peduli pada sesama. Seorang dokter di rumah
sakit dengan barisan pasien yang mengantre tidak salah jika dia tidak tahu
Menteri Keuangan sudah diganti, Presiden Prabowo ditempatkan di belakang saat
foto bersama dan anak gunung Krakatau meletus. Seseorang berhak berkata
bahwa pesan tertentu kurang mempertimbangkan posisi sosial . “Diet Berita”
dan “menjauh dari berita buruk" adalah keleluasaan (‘privilege’) yang
tidak dimiliki mereka yang sedang berada di tengah bencana, kelangkaan BBM,
atau kehilangan pekerjaan. Itu koreksi yang pantas
didengar, dan Maudy sendiri mendengarnya, lalu meralat pesannya tanpa
berkelit. Tetapi begitu perdebatan
bergeser menjadi mengungkit posisinya di lingkaran pemerintah untuk
merendahkannya, atau menjadikan pencapaiannya sebagai bahan olok-olok oleh
sesama figur publik yang seolah lebih peduli, itu bukan lagi koreksi gagasan.
Itu perburuan. Dan perburuan digital
punya logikanya sendiri: ia tidak mencari kebenaran, ia mencari korban.
Semangat merendahkan - melecehkan - menjatuhkan dan nafsu menghabisi! DULU, di ruang rapat
redaksi tempat saya bekerja - tersedia puluhan koran, nasional daerah -
bahkan luar negeri - juga tabloid dan majalah. Sebagai wartawan piket,
saya pernah bertanya kepada Wakil Pemimpin Redaksi: “Apakah Bapak baca
semua?” Beliau menjawab. ”Ya, nggak. Memangnya saya vacuum cleaner? Harus
menyedot semua?” elaknya. Padahal - kita sama sama
tahu - semua berita yang tersaji di media cetak sudah terseleksi, melewati
gerbang editorial: diverifikasi, cek-ricek, self cencored - dipertimbangkan
dampaknya sebelum sampai ke pembaca. Tokh kelelahan akan kita
rasakan juga jika harus membaca semua yang tersedia di meja. Bandingkan dengan
“berita” di hari ini, yang membanjir di berbagai kanal dan platform. Pada
hari ini, linimasa tidak mengenal gerbang editorial. Yang sampai ke layar
kita adalah arus informasi tanpa seleksi: video mentah tanpa konteks - opini yang menyamar sebagai fakta -
kemarahan yang diproduksi ulang tanpa henti - agitasi, provokasi, sumpah
serapah dan caci maki - mendorong keterlibatan, dan keterlibatan itu pada
akhirnya menghasilkan uang bagi platform. Tidak ada kewajiban moral
untuk kita menyerap seluruh arus informasi itu! Kita berhak menolak
menjadi mesin penyedot (‘vacuum cleaner’) informasi dengan menggulir,
“scrolling hape” dan tab sepanjang hari. Memilah bukan berarti
menutup mata. Membuta-tuli. Memilah adalah syarat agar kepedulian tetap punya
energi untuk bertahan lama, bukan padam dalam sekali bakar. ADA perumpamaan yang
jarang dipakai tapi mengena. Masyarakat kita adalah masyarakat yang suka
menonton. Apa saja ditonton, termasuk bencana, pertikaian dan kecelakaan lalu
lintas. Hampir pasti dalam setiap kejadian seperti itu masyarakat segera
berkerumun. Pertanyaannya, berapa
yang turun tangan, berapa yang menolong korbannya dan berapa yang hanya
berdiri menonton? Kini, bahkan dengan hape
di tangan, para penonton bebas merekam, lalu membagikannya ke sosial media -
mendadak jadi wartawan. Itulah yang sering keliru
ditafsirkan sebagai kepedulian di era digital: kehadiran pasif yang
membesarkan algoritma, bukan tindakan yang meringankan penderitaan. Hanya karena membaca
beritanya - mengaupdate informasinya - lalu merasa peduli. Solider. Tidak mengikuti berita
bencana bukan berarti tidak peduli pada bencana. Sebaliknya, yang mengikuti
perkembangan bencana, apakah mereka otomatis turun tangan menangani bencana? Ironinya, mekanisme yang
sama yang membuat orang berbondong menonton kecelakaan itu, jugalah yang
membuat orang berbondong menyerang Maudy di media sosial kini. Kerumunan yang menghukum
- atas nama empati - sesungguhnya menjalankan pertunjukan moral yang sama
performatifnya dengan yang mereka tuduhkan kepada korbannya. Ini bukan pembelaan buta
terhadap Maudy Ayunda. Ini keberatan terhadap sebuah mekanisme: linimasa yang
mengubah setiap kekhilafan kata menjadi pengadilan tanpa hakim, tanpa masa
banding, dan tanpa batas hukuman. Maudy Ayunda adalah
mangsa yang empuk. Dia artis multitalent yang cemerlang: penyanyi,
aktris film, fotomodel. Album rekamannya masuk
dalam nominasi Album Pop Terbaik dan Album Terbaik di Anugerah Musik
Indonesia 2015 dan mememangkan Indonesian Choice Awards 2015 sebagai “Female
Singer of The Year”. Film yang diperaninya
“Perahu Kertas” juga menjadi film laris, dan dia ikut menyanyi di dalamnya.
Dia tampil sebagai Ainun Remaja dalam film “Habibie Ainun 3” yang
disutradarai Hanung Bramantyo. Di media sosial, Maudy
Ayunda memiliki 18,7 juta follower di instagram, 16,9 juta pengikut di
TikTok: dan 3,1 juta follower di Facebook. BUBU Awards memberikan gelar
padanya sebagai "Influencer Digital Terbaik" dan "Milenial
Paling Berpengaruh" dari Style Awards. Dalam penyelengaraan
Forum KTT G20 Jakarta, Maret 2022 lalu - Maudy Ayunda ditunjuk menjadi juru
bicara pemerintah Indonesia untuk presidensi KTT G20. Kedekatannya dengan
pemerintah itu memicu berbagai pihak sebagai “antek rezim”. Hari ini - sebagai public
figur - Maudy menjadi target. Alumni Oxford University yang kurang
berhati-hati memilih kata. Esok, sasaran itu bisa siapa saja yang berbicara
jujur tentang kelelahannya sendiri. Semoga kita yang waras
menyadari bahwa yang dibutuhkan bukan lebih banyak kemarahan kolektif.
Melainkan kesediaan membedakan kritik dari kerumunan, koreksi dari
penghukuman. Sebab kepedulian sejati,
seperti yang ditunjukkan Maudy Ayunda sendiri saat meralat pesannya, selalu
lebih tenang daripada suara kerumunan yang meributkannya. NB :
Foto foto di instagramnya menunjukkan dia ke lokasi bencana, mengajar di
sekolah. Hadir di kawasan bencana banjir di Aceh dan Serang. Bagaimana dengan
pihak penyerangnya yang merasa peduli? ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/Cc5Goao969/dimas-supriyanto-saya-bersama-maudy-ayunda
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar