|
Polemik
di Koalisi Prabowo Redaktur Editorial 2 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Orasi Agus Harimurti Yudhoyono
menjadikan Demokrat terasa berbeda dibanding partai politik lain. · Hasil riset lembaga survei menunjukkan
elektabilitas hampir semua partai politik pendukung Prabowo merosot drastis. · Sikap kritis elite politik di tubuh
koalisi tak selalu berhasil melemahkan rezim otokrasi. PIDATO
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono pada 5 September 2026 sebenarnya
tak istimewa. Namun, di tengah keseragaman sikap politik belakangan ini,
orasi itu menjadikan Demokrat terasa berbeda dibanding partai politik lain.
Pidato pada acara ulang tahun partai itu seolah-olah memberikan sinyal
evaluasi tentang peran mereka dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam
pidatonya, Agus menyebutkan rakyat sedang menghadapi tekanan nyata. Lapangan
pekerjaan berkualitas belum mencukupi. Beban biaya hidup masyarakat makin
berat. Sementara itu, kesempatan ekonomi dan kualitas pelayanan dasar di
banyak daerah tidak merata. Ia pun berpesan kepada setiap kader Demokrat agar
menjalankan tiga agenda partai: memajukan ekonomi, menegakkan keadilan, dan
menjaga demokrasi untuk kepentingan rakyat. Ketiga
agenda yang disebutkan Agus terasa makin buram di era pemerintahan Prabowo.
Namun mustahil mengharapkan Agus terang-terangan mengkritik pemerintah.
Demokrat adalah bagian dari koalisi pendukung Prabowo. Agus juga menduduki
kursi Kabinet Merah Putih sebagai Menteri Koordinator Infrastruktur dan
Pembangunan Kewilayahan. Ia bahkan memberikan klarifikasi ketika membuka
acara puncak peringatan 25 tahun Partai Demokrat, empat hari kemudian. Agus
menegaskan dukungan partainya kepada Prabowo. Dua
tahun terakhir, banyak langkah pemerintah menimbulkan persoalan serius pada
perekonomian nasional. Represi, termasuk oleh aparat penegak hukum, pun
meningkat. Sedangkan peran militer diperluas ke ranah-ranah sipil. Alih-alih
menjaga demokrasi, Prabowo dan elite partai politik pendukungnya justru
sedang membangun rezim otokrasi. Wajar
jika pernyataan Agus langsung memantik polemik di kalangan elite partai
politik pendukung pemerintah. Sebagian politikus menganggap pidato itu
sebagai sikap mbalelo. Sebagian menghubungkannya dengan misi Demokrat
menjelang tahun politik 2029. Apa pun motif Agus, partai politik memang
sepatutnya memikirkan ulang eksistensi dan fungsi mereka. Hasil
riset sejumlah lembaga survei baru-baru ini telah menunjukkan bahwa
elektabilitas hampir semua partai politik anggota Koalisi Indonesia Maju
merosot drastis, bersamaan dengan anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap
program-program Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Hal yang sama bahkan
dialami PDI Perjuangan, partai yang tak berbuat apa-apa kendati berada di
luar barisan pendukung pemerintah. Kondisi
tersebut semestinya menyadarkan elite partai politik bahwa nasib mereka
sedang dipertaruhkan. Kepercayaan publik terhadap sistem politik berada di
titik nadir. Sementara itu, Prabowo tak kunjung menunjukkan tanda-tanda
mengevaluasi dan memperbaiki banyak kebijakan pemerintahannya yang
bermasalah. Pertanyaannya,
partai apa yang lebih dulu menyadari kesalahannya dan kembali mendengarkan
suara rakyat? Pidato
Agus Harimurti Yudhoyono tentu tak serta-merta menunjukkan bahwa Demokrat
akan mengambil peran itu. Banyak studi politik menunjukkan fenomena sikap
kritis elite politik di tubuh koalisi tak selalu berhasil melemahkan rezim
otokrasi. Sebaliknya, kekuasaan otokratis di Amerika, Afrika, dan Eropa
justru menguat setelah menjinakkan kritik di lingkup internal kekuasaannya,
baik melalui pembagian kue ekonomi maupun represi. Dengan
gaya pemerintahan yang militeristik dan partai politik yang miskin ideologi,
Prabowo agaknya tak akan sulit melakukan hal serupa. Jika demikian,
masyarakat luaslah yang perlu bersiap memperjuangkan perubahan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/perpecahan-partai-politik-koalisi-prabowo-2286838 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar