|
PISA 2025 Indonesia Naik atau Turun Ali Saukah : Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan
Timur, Anggota Dewan Pendidikan Nasional. |
MEDIA INDONESIA, 15 September 2026
|
INDONESIA naik atau turun dalam PISA 2025?
Pertanyaan itu segera muncul setelah hasil Programme for International
Student Assessment (PISA) 2025 diumumkan. Namun, jawabannya ternyata tidak
sesederhana 'naik' atau 'turun'. Semuanya bergantung pada apa yang kita
gunakan sebagai dasar pembacaan: skor, ranking, atau kemampuan nyata murid.
Kita perlu membedakan dua cara membaca hasil asesmen internasional. Pertama,
pembacaan relatif, yaitu melihat posisi Indonesia jika dibandingkan dengan
negara peserta lain. Kedua, pembacaan berdasarkan capaian kompetensi, yaitu
melihat apa yang benar-benar dapat dilakukan oleh murid Indonesia. Keduanya
penting, tetapi menjawab pertanyaan yang berbeda. Pembacaan relatif menghasilkan ranking.
Masalahnya, ranking tidak hanya ditentukan oleh perubahan kemampuan murid
Indonesia, tetapi juga oleh perubahan capaian negara-negara lain. Indonesia
dapat naik ranking meskipun kemampuannya tidak meningkat secara berarti
apabila negara lain mengalami penurunan. Sebaliknya, ranking Indonesia dapat
turun meskipun kemampuan muridnya tetap atau meningkat apabila negara lain
meningkat lebih cepat. Oleh karena itu, naiknya ranking tidak otomatis
berarti mutu pendidikan meningkat. Turunnya ranking juga tidak otomatis
berarti pendidikan memburuk. Hasil resmi OECD menunjukkan bahwa rata-rata
capaian Indonesia pada PISA 2025 dalam matematika, membaca, dan sains secara
umum kurang lebih sama dengan PISA 2022. Artinya, jika ada perubahan angka
skor, perubahan itu tidak serta-merta berarti perubahan kemampuan yang
signifikan secara statistik. Namun, berhenti pada skor rata-rata dan ranking
justru dapat membuat kita kehilangan persoalan yang lebih penting: apa yang
sebenarnya mampu dilakukan oleh murid Indonesia? PISA tidak hanya menghasilkan skor. PISA juga
membagi capaian murid ke dalam berbagai tingkat kemahiran. Kita dapat melihat
berapa banyak murid yang belum mencapai kompetensi minimum dan berapa banyak
yang telah mampu menghadapi persoalan kompleks yang menuntut penalaran
tingkat tinggi. Dalam sains, misalnya, hanya 37% murid Indonesia yang
mencapai setidaknya level 2. Dalam membaca, angkanya 27%, sedangkan dalam
matematika hanya 17%. Dengan kata lain, sebagian besar murid Indonesia masih
berada di bawah tingkat kompetensi minimum yang digunakan PISA. FONDASI Angka ini seharusnya lebih mengusik kita daripada
perubahan beberapa anak tangga dalam ranking. Sebab, persoalannya bukan hanya
bahwa kita belum memiliki cukup banyak murid yang mampu menjawab soal sulit.
Fondasi kompetensi sebagian besar murid pun masih perlu diperkuat. Di sisi lain, hasil pada tingkat kompetensi
tertinggi juga sangat penting. PISA menunjukkan bahwa hampir tidak ada murid
Indonesia yang mencapai level 5 atau 6 dalam matematika dan sains, serta
hampir tidak ada yang mencapai level 5 atau lebih tinggi dalam membaca. Pada
tingkat inilah murid dituntut menghadapi situasi yang tidak rutin dan
kompleks. Dalam matematika, mereka harus mampu memodelkan
persoalan kompleks serta memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi
penyelesaian. Dalam membaca, mereka harus mampu memahami teks panjang,
menghadapi gagasan abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan
petunjuk yang tidak selalu dinyatakan secara langsung. Dalam sains, mereka
dituntut menerapkan pengetahuan secara kreatif dan mandiri dalam berbagai
situasi, termasuk situasi yang tidak dikenal sebelumnya. Inilah yang secara
sederhana sering kita hubungkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau
HOTS. Namun, HOTS tidak boleh dipahami sekadar sebagai kemampuan menjawab
soal yang sulit. Murid tidak menjadi pemikir tingkat tinggi hanya karena
diberi soal yang lebih sukar. Kemampuan berpikir tingkat tinggi memerlukan
fondasi. Murid harus terlebih dahulu mampu memahami informasi, menguasai
konsep dasar, dan menggunakan pengetahuan dalam situasi yang relatif
sederhana. Dari fondasi itulah berkembang kemampuan untuk menganalisis,
mengevaluasi, menalar, dan memecahkan persoalan baru. Oleh karena itu,
kemampuan tingkat rendah dan tingkat tinggi bukan dua hal yang harus
dipertentangkan. Yang pertama merupakan fondasi bagi yang kedua. TANTANGAN Tantangan pendidikan Indonesia, dengan demikian,
adalah ganda. Kita harus memperbesar jumlah murid yang mencapai kompetensi
dasar, sekaligus memperbanyak mereka yang mampu bergerak menuju tingkat
kompetensi tinggi. Selama ini, ketika hasil PISA dibicarakan, perhatian
sering tertuju pada pertanyaan apakah sekolah sudah cukup banyak memberikan
soal HOTS. Pertanyaan itu penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan.
Jika fondasi pemahaman murid belum kuat, memperbanyak soal sulit tidak
otomatis menghasilkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebaliknya,
pembelajaran perlu membawa murid secara bertahap dari memahami menuju
menerapkan, menalar, mengevaluasi, dan memecahkan masalah. Karena itulah
hasil PISA seharusnya menjadi bahan refleksi terhadap pembelajaran di kelas. PISA bukan tujuan pendidikan. Kita tidak boleh
membangun pendidikan semata-mata untuk mengejar ranking atau melatih murid
mengerjakan soal-soal seperti PISA. PISA adalah cermin. Cermin tidak perlu
dikejar. Cermin digunakan untuk melihat diri sendiri. Yang perlu kita tanyakan bukan hanya apakah
Indonesia naik atau turun jika dibandingkan dengan negara lain. Pertanyaan
yang lebih penting ialah: apakah semakin banyak anak Indonesia mencapai
kompetensi dasar? Apakah semakin sedikit yang tertinggal? Dan apakah semakin
banyak yang mampu berpikir kritis, menilai informasi, bernalar, dan
memecahkan persoalan kompleks? Jika jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
itu semakin baik, pendidikan Indonesia benar-benar sedang naik. Ranking
mungkin akan mengikuti. Namun, ranking bukan tujuan akhir. TUJUAN PENDIDIKAN Tujuan pendidikan bukan sekadar membawa Indonesia
naik beberapa anak tangga dalam daftar peringkat dunia, melainkan memastikan
semakin banyak anak Indonesia benar-benar mampu belajar, memahami, bernalar,
dan menghadapi masa depan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pertanyaan penting setelah
membaca hasil PISA 2025 bukan semata-mata 'Indonesia naik atau turun?',
melainkan 'apa yang harus kita perbaiki agar kemampuan murid benar-benar
meningkat?'. Salah satu jawabannya terletak pada kualitas pembelajaran di
kelas. Dalam konteks ini, pembelajaran mendalam memiliki peluang strategis.
Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk membuat sekolah mengajar demi PISA,
tetapi demi memperbaiki proses belajar agar murid tidak berhenti pada
mengetahui dan mengingat. Murid didorong untuk memahami, mengaplikasikan
pengetahuan dalam konteks yang beragam, dan merefleksikan proses serta hasil
belajarnya, dalam suasana yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Apabila pembelajaran mendalam dilaksanakan secara
konsisten dan didukung peningkatan kompetensi guru, asesmen yang selaras,
lingkungan belajar yang kondusif, kemitraan pembelajaran, serta pemanfaatan
teknologi secara tepat, mutu pembelajaran berpeluang meningkat secara
substansial. Dampaknya diharapkan bukan sekadar pada nilai ujian, melainkan
pada kemampuan murid bernalar, memecahkan masalah, menerapkan pengetahuan
pada situasi baru, dan merefleksikan pemikirannya, kompetensi yang relevan
dengan apa yang diukur PISA. Dengan demikian, PISA tetap perlu ditempatkan
sebagai cermin, bukan tujuan pendidikan. Jika pembelajaran kita benar-benar
membaik, peningkatan kompetensi murid semestinya menjadi hasil yang lebih
penting; dan kenaikan capaian PISA, jika terjadi, adalah salah satu tanda
bahwa perbaikan itu mulai terlihat. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/933397/pisa-2025-indonesia-naik-atau-turun
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar