|
Ketika Bendahara Terlalu Banyak Bicara Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 15 September 2026
|
Purbaya
mengaku “kecele”, menyebut ada “banyak kekurangan” dalam pertanggungjawaban
MBG, dan ingin efisiensi anggarannya. Apakah keterusterangan punya harga
politik? Tak sedikit penguasa yang kehilangan
jabatan karena gagal mencapai target. Banyak juga lainnya yang tersingkir
karena terlibat masalah. Purbaya Yudhi Sadewa tersingkir dari
kursi Menteri Keuangan pada 14 September 2026, entah kenapa. Siang itu,
ironinya, ia sendiri sedang menjelaskan surat utang pemerintah di Gedung
DPR/MPR Senayan. Di tengah rapat bersama DPD RI itu,
tiba-tiba seorang pimpinan menyelanya: ada telepon untuk sang menteri. Rapat
pun diskors beberapa menit. Tak lama kemudian, di Istana, Presiden melantik
Suahasil Nazara sebagai penggantinya. Tampak ada ironi kecil dalam adegan
itu. Seorang bendahara negara sedang berbicara tentang utang, tapi yang
datang justru kabar yang mungkin mengubah “modal politik”-nya menjadi utang
pertanggungjawaban. Kita belum tahu persis apa isi telepon
ke Purbaya tersebut. Namun, suasana itu terasa seperti metafora yang terlalu
rapi untuk diabaikan. Di pemerintahan, seseorang bisa masih memegang mikrofon
ketika kekuasaan sudah mulai memindahkan kursinya. Jangankan kita, Purbaya pun mungkin
belum tahu apakah ia dilepas karena kinerja, perbedaan arah kebijakan,
persoalan koordinasi, atau sebab lain. Namun, ada satu hal yang menarik untuk
diperiksa. Antara lain, cara Purbaya berbicara tentang masalah pemerintah,
terutama program unggulan Presiden. Purbaya bukan pejabat yang selalu
membungkus persoalan dengan plastik bahasa birokrasi. Ia kadang berbicara
seperti teknokrat yang lupa bahwa mikrofon menteri memiliki daya ledak
politik. Pada 22 Juni 2026, ketika membahas
pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia mengaku
kecolongan. Ia bahkan menggunakan kata kecele. Menurutnya, ia telah menolak pengadaan
tersebut, tapi barang itu tetap dibeli. Ia juga menyatakan telah menindak
pihak Kementerian Keuangan yang meloloskan anggaran itu. Kata kecele mungkin biasa dalam
percakapan warung kopi. Tetapi ketika keluar dari mulut Menteri Keuangan, ia
berubah menjadi pengakuan resmi bahwa sistem yang berada di bawah tanggung
jawabnya tidak sepenuhnya bekerja. Dalam birokrasi, kalimat seperti
“terdapat kelemahan dalam mekanisme pengawasan” terdengar aman. Kata “Saya
kecele” memang terdengar lebih manusiawi, tetapi juga lebih telanjang. Kata tersebut membuka celah bagi
publik untuk bertanya: siapa yang lalai, bagaimana prosesnya, dan mengapa
pejabat yang bertanggung jawab tidak mengetahuinya sejak awal? Purbaya tidak berhenti di sana. Pada
26 Juni, ketika membicarakan efisiensi anggaran MBG, ia mengatakan, “Kalau
saya maunya nol, tapi nggak bisa kan, (anggarannya) sudah keluar.” Ia segera
menambahkan bahwa program itu bagus dan pelaksanaannya perlu diperbaiki. Secara fiskal, pernyataan itu masuk
akal. Menteri Keuangan memang wajib mencari efisiensi. Program yang baik
tidak memperoleh kekebalan dari pemeriksaan anggaran hanya karena menyandang
nama program unggulan Presiden. Tetapi politik memiliki telinga yang
berbeda dari akuntansi. Bagi teknokrat, “anggaran masih bisa diefisienkan”
berarti pengelolaan harus lebih cermat. Sementara bagi pengusung program,
kalimat itu bisa terdengar seperti pertanyaan terhadap skala, desain, atau
pelaksanaan program. Lalu, pada 12 Agustus, Purbaya
menyatakan Kementerian Keuangan menemukan “banyak kekurangan” dalam
pertanggungjawaban keuangan MBG di daerah. Ia mengatakan temuan itu akan
disampaikan kepada Badan Gizi Nasional untuk perbaikan. Sekali lagi, substansinya bukan
sesuatu yang semestinya memalukan. Justru program besar dengan uang publik
yang besar membutuhkan pengawasan besar. Masalahnya, Purbaya mengucapkannya
secara terbuka. Ia tidak hanya berbicara tentang anggaran, tetapi juga
memperlihatkan bahwa program prioritas pemerintah masih menghadapi persoalan
tata kelola. Di sinilah karakter Purbaya menjadi relevan. Ia tampaknya percaya
bahwa tugas Menteri Keuangan bukan hanya menyediakan uang, melainkan juga
mengatakan ketika uang itu bermasalah. Namun, dalam pemerintahan, keterusterangan teknokratis kadang
bertabrakan dengan kebutuhan menjaga keseragaman pesan politik. MBG dan Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP) bukan sekadar pos belanja. Keduanya merupakan bagian penting dari
agenda Prabowo. Karena itu, setiap kritik mengenai
efisiensi, pertanggungjawaban, atau kelemahan pelaksanaan mudah memperoleh
dimensi politik yang lebih besar daripada isi teknisnya. Apakah Purbaya menentang MBG? Tidak
ada bukti yang mendukung kesimpulan itu. Ia bahkan pernah mengatakan program
tersebut bagus. Apakah ia menolak KDMP? Juga tidak.
Yang tampak dari pernyataannya justru upaya memastikan program-program itu
tidak menjadi beban fiskal yang tak terkendali. Namun, membela tujuan sebuah program
tidak selalu berarti membenarkan seluruh cara pelaksanaannya. Dan di situlah seorang Menteri Keuangan bisa menjadi suara yang tidak
selalu nyaman didengar. Apakah ketidaknyamanan itu menjadi alasan Purbaya diganti? Kita belum
tahu. Tidak ada penjelasan resmi yang
menyatakan bahwa Presiden memberhentikannya karena pernyataan tentang MBG,
KDMP, atau gaya komunikasinya. Tidak ada pula bukti publik bahwa Prabowo
secara pribadi tersinggung oleh ucapan tertentu. Tetapi pertanyaan itu tetap sah
diajukan. Sebab, Purbaya bukan hanya mengeluarkan kebijakan. Ia juga
mengeluarkan kalimat-kalimat yang kadang membuka persoalan internal
pemerintah kepada publik. Dalam kasus motor listrik MBG,
misalnya, jawabannya tentang “kecele” dan “tebak saja sendiri” ketika ditanya
soal pencopotan pejabat memperlihatkan gaya komunikasi yang jauh dari bahasa
resmi yang biasanya sangat terukur. Di sinilah kita perlu membedakan dua
hal. Pejabat yang terlalu banyak bicara belum tentu pejabat yang salah. Tapi pejabat yang berbicara tanpa
koordinasi juga bisa menciptakan masalah yang tidak perlu. Keterbukaan dapat
memperkuat akuntabilitas, tetapi ceplas-ceplos dapat mengacaukan pesan
kebijakan. Pemerintahan yang sehat tidak
membutuhkan menteri yang bisu. Menteri Keuangan justru harus berani
mengatakan bahwa anggaran bocor, prosedur lemah, atau program perlu
diefisienkan. Namun keberanian itu harus berjalan
bersama ketelitian. Data harus benar, konteks harus lengkap, dan kritik
terhadap lembaga lain harus melalui koordinasi yang layak. Karena itu, jika pergantian Purbaya
memang berkaitan dengan gaya komunikasinya, persoalannya bukan semata-mata
bahwa ia terlalu jujur. Bisa jadi persoalannya adalah cara
menyampaikan kejujuran itu dalam sebuah pemerintahan yang menuntut disiplin
pesan. Kita belum memiliki bukti untuk
menetapkan bahwa itulah sebabnya ia diganti. Tapi kita juga tidak perlu
berpura-pura bahwa gaya bicara pejabat tidak pernah berpengaruh terhadap
nasib politiknya. Kita belum dapat memastikan alasan
penggantian Purbaya. Tapi dalam pemerintahan yang mengelola uang rakyat,
pertanyaan tentang siapa yang boleh bicara, apa yang boleh dikatakan, dan
kapan harus mengatakannya, sama pentingnya dengan pertanyaan tentang siapa
yang memegang uang. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar