|
Charles Townes: Fisikawan yang Percaya Sains dan Agama Akan Bertemu Dimitri
Mahayana : Dosen
Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang
& founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 17 September 2026
|
Charles Hard Townes
menemukan maser pada 1951. Delapan belas tahun kemudian prinsip yang sama
melahirkan laser, teknologi yang kini ada di mana-mana. Dari pemutar musik
sampai operasi mata. Dari kode batang di kasir sampai internet fiber optik. Atas temuan ini Townes
meraih Nobel Fisika 1964, dibagi bersama dua fisikawan Soviet, Nikolay Basov
dan Alexander Prokhorov. Ia lalu memimpin komite penasihat sains untuk
program pendaratan Apollo di bulan. Ia juga membantu menemukan lubang hitam
raksasa di pusat galaksi Bima Sakti. Kariernya panjang dan penuh penghargaan.
Tapi bagian paling menarik dari hidup Townes bukan daftar prestasinya. Bagian
itu adalah caranya memandang hubungan sains dan agama. Townes seorang Kristen
taat, anggota United Church of Christ. Ia berdoa setiap hari. Dan ia yakin
sains dan agama bukan dua dunia yang bertentangan. Keduanya, katanya,
sejajar. Bahkan pada akhirnya akan bertemu. Keyakinan ini bukan
sekadar sikap pribadi yang ia simpan sendiri. Townes menuliskannya dalam
esai-esai ilmiah, dalam buku Making Waves, dan dalam pidato penerimaan
Templeton Prize 2005. Penghargaan ini diberikan khusus untuk tokoh yang
berkontribusi pada pemahaman dimensi spiritual kehidupan. Bagi seorang peraih
Nobel Fisika, menerima penghargaan semacam ini adalah pernyataan sikap yang
jelas. Dua Pertanyaan, Satu
Semesta Argumen Townes sederhana.
Sains berusaha memahami bagaimana semesta ini bekerja, termasuk manusia di
dalamnya. Agama berusaha memahami untuk apa semesta ini ada, termasuk untuk
apa hidup manusia sendiri. Kalau semesta memang punya tujuan, tujuan itu pasti
tercermin dalam struktur dan cara kerjanya. Artinya, tercermin juga dalam
sains. Bagi Townes, sains dan
agama menjawab dua pertanyaan berbeda tentang objek yang sama. Yang satu
bertanya bagaimana. Yang lain bertanya mengapa. Keduanya tidak bisa saling
meniadakan karena keduanya tidak sedang bersaing menjawab pertanyaan yang
sama. Townes menunjuk empat
titik temu antara cara kerja sains dan cara kerja agama. Pertama, iman. Ia melihat
ilmuwan sebenarnya juga orang beriman. Seorang fisikawan bisa menghabiskan
bertahun-tahun mengejar hasil yang belum pasti akan ditemukan. Itu butuh
semacam keyakinan, mirip keyakinan religius, bahwa usaha itu tidak sia-sia. Kedua, wahyu. Townes
bercerita, gagasan tentang maser tidak datang lewat proses analisis data yang
runtut. Ide itu muncul tiba-tiba, seperti kilatan. Ia menyebutnya lebih dekat
dengan pengalaman wahyu ketimbang hasil kalkulasi biasa. Ketiga, soal pembuktian.
Ia mengutip Kurt Gödel, yang menunjukkan tidak ada pembuktian mutlak dalam
matematika. Setiap pembuktian bertumpu pada sejumlah asumsi awal. Asumsi itu
sendiri tidak bisa dibuktikan dari dalam sistem yang sama. Sains, seperti agama,
pada akhirnya berpijak pada sesuatu yang diterima, bukan dibuktikan habis. Keempat, ketidakpastian.
Fisika di awal abad ke-20 bersifat deterministik. Lalu mekanika kuantum
datang membawa ketakpastian dan peluang. Fisika klasik tidak dibuang. Ia
tetap dipakai dan diajarkan, hanya dipahami dalam batas berlakunya sendiri.
Townes percaya pemahaman keagamaan bergerak dengan cara serupa. Ia
berkembang, ia diperhalus, tapi tidak harus ditinggalkan begitu saja. Keindahan yang Tidak
Kebetulan Townes punya satu
keyakinan lagi yang lebih personal. Ia melihat keindahan alam semesta sebagai
sesuatu yang jelas berasal dari Tuhan. Ia percaya semesta ini diciptakan agar
manusia bisa muncul dan berkembang di dalamnya. Dan meskipun hidupnya
dihabiskan meneliti hukum-hukum fisika, ia mengaku agama lebih penting
baginya daripada sains. Alasannya jujur. Agama menjawab pertanyaan paling
mendasar tentang makna dan tujuan hidup manusia. Sains, sehebat apa pun,
belum tentu sampai ke sana. Sikap ini menarik justru
karena datang dari orang yang paling tidak bisa dituduh naif soal sains.
Townes bukan pemuka agama yang berbicara tentang fisika dari luar. Ia orang
yang menciptakan salah satu alat paling presisi dalam sejarah teknologi
modern. Rekan-rekannya di Berkeley menyebut rasa ingin tahunya yang besar dan
optimismenya yang tak tergoyahkan berakar pada spiritualitas Kristennya yang
dalam. Mengapa Ini Penting untuk
Kita Perdebatan sains lawan
agama sering dibingkai sebagai pertarungan dua kubu yang harus saling
mengalahkan. Salah satu harus menang. Townes menawarkan jalan lain. Ia
menempatkan keduanya sebagai dua bentuk pencarian yang bisa berjalan
berdampingan, bahkan saling menguatkan. Ini bukan cara berpikir
yang asing bagi tradisi intelektual kita. Banyak ilmuwan besar dari berbagai
tradisi, termasuk tradisi Islam, memandang penyelidikan alam sebagai bagian
dari cara memahami penciptanya. Bedanya, Townes sampai ke sana lewat jalur fisika
kuantum dan laboratorium microwave di Columbia, bukan lewat teks keagamaan
semata. Ia membuktikan bahwa jalur itu, jalur sains yang ketat dan jujur,
bisa juga bermuara pada kerendahan hati spiritual. Townes meninggal pada
Januari 2015 di usia 99 tahun, masih aktif ke kampus hingga beberapa bulan
sebelum wafat. Ia meninggalkan warisan teknologi yang mengubah dunia. Tapi ia
juga meninggalkan satu gagasan yang tetap layak direnungkan hari ini, di
tengah dunia yang makin terpolarisasi antara yang mengaku rasional dan yang
mengaku religius. Bahwa mencari kebenaran lewat sains dan mencari makna lewat
agama, pada akhirnya, bisa jadi dua jalan menuju satu tujuan yang sama. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar