|
Prabowo Mahathir Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 19 Agustus 2026
Presiden
Prabowo akan jadi Mahathir Mohamad-nya Indonesia?
Lihatlah
langkah Mahathir di tahun 1981: Malaysia mengambil alih perusahaan perkebunan
terbesar Inggris di Malaysia. Yakni Guthrie Plantation. Tahun berikutnya dua
perusahaan Inggris lagi diambil alih: Golden Hope dan Sime Darby.
Nama Mahathir
tidak muncul dalam transaksi menghebohkan dunia saat itu. Yang dipakai Mahathir
adalah dua tokoh profesional perbankan: Tun Ismail Mohamad Ali dan Abdul Khaled
Ibrahim. Saking hebohnya, pengambilalihan itu sampai dikenal dalam sejarah
bisnis dengan sebutan "Serangan Fajar": Dawn Raid.
Nama Prabowo
juga tidak muncul dalam transaksi menghebohkan di Kalimantan pekan lalu:
kendali PT Bayan Resources dibeli oleh Haji Isam –orang asli Kalsel keturunan
Bugis Makassar.
Sama dengan
yang dilakukan Mahathir: kilat. Mendadak. Tiba-tiba. Tahu-tahu perusahaan
tambang batu bara terbesar di Indonesia itu pindah dari Low Tuck Kwong ke Haji
Syamsuddin 'Isam' Arsyad.
Di tahun 1981
itu, Tun Ismail menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Malaysia. Khaled Ibrahim
sebagai CEO BUMN Malaysia. Dua orang itulah yang merancang Serangan Fajar di
London.
Di hari Jumat
tanggal 4 September, pasar modal di London Stock Exchange masih normal. Saham
Guthrie masih diperdagangkan dengan harga datar 662 sen Pound sterling. Hari
Sabtu dan Minggu bursa London libur.
Tapi sejumlah
perusahaan broker saham di London tidak libur. Mereka mengadakan rapat-rapat
rahasia dengan Ibrahim yang khusus datang ke London untuk mengendalikan
Serangan Fajar itu langsung di lokasi.
Para broker itu
secara sendiri-sendiri beroperasi menghubungi beberapa pemegang saham Guthrie.
Satu broker menghubungi satu atau dua pemegang saham. Tidak saling tahu. Sangat
rahasia.
Para broker itu
menawarkan harga yang menggiurkan: 30 persen lebih mahal dari harga yang
diperdagangkan di hari Jumat. Banyak pemegang saham yang tertarik untuk
menjual. Transaksi rahasia pun terjadi sepanjang hari Sabtu dan Minggu.
Di hari Senin
pagi, 7 September 1981, ketika perdagangan saham di lantai bursa dibuka
terjadilah kejutan luar biasa: pemegang saham pengendali Guthrie Plantation
sudah pindah tangan. Bukan lagi perusahaan Inggris. Tapi pindah ke orang
bumiputra Malaysia.
Heboh
seheboh-hebohnya. Inilah serangan nasionalisasi
perusahaan Inggris di Malaysia.
Di Malaysia
sendiri dirasa sangat nasionalis: bisa mengembalikan 800 km2 tanah Malaysia
yang dikuasai perusahaan Inggris. Ukuran itu tidak terlalu luas untuk ukuran
lahan perkebunan di Indonesia. Tapi sangat simbolis bagi Malaysia.
Apakah setelah
itu harga saham Guthrie jatuh? Tidak. Setelah itu harga saham Guthrie terus
naik --seperti juga harga saham Bayan Resources setelah pindah ke tangan Haji
Isam.
Nilai beli yang
kemahalan 30 persen di transaksi Serangan Fajar sudah tertutupi oleh kenaikan
harga saham.
Tahun
berikutnya aksi lanjutan mampu dilakukan terhadap Golden Hope dan Sime Darby.
Tiga perusahaan itu kemudian dijadikan satu holding yang sekarang dikenal dengan
nama SD Guthrie Berhad.
Sejak Serangan
Fajar itu berakhirlah penjajahan Inggris di Malaysia dalam arti yang
sebenarnya: secara politik dan ekonomi. Lima tahun kemudian Guthrie keluar dari
bursa saham London. Guthrie pindah ke pasar saham Kuala Lumpur.
Yang menarik,
transaksi itu tidak mengguncangkan ekonomi Malaysia. Kenapa? Karena tidak
terjadi nasionalisasi secara paksa. Tidak ada perampasan hak. Tidak ada rasa
anti-Barat. Tidak pula anti kapitalisme. Transaksi itu dilakukan lewat bursa
saham.
Inggris memang
sangat terpukul dan heboh: perusahaan yang didirikan tahun 1821 itu jadi
perusahaan bekas jajahannya. Tapi Inggris kemudian mengesahkan transaksi itu:
fair, wajar, dan legal!
Itu berbeda
dengan yang dilakukan Indonesia di tahun 1950-an: perusahaan Belanda
dinasionalisasi begitu saja. Perusahaan-perusahaan Belanda itu lantas jadi
perusahaan BUMN yang salah urus. Penuh korupsi. Memakan banyak uang negara.
Jelaslah bahwa
yang dilakukan Mahathir di tahun 1981 itu sangat profesional. Yang ditunjuk
sebagai operator Serangan Fajar pun orang yang sangat profesional meski Tun
Ismail masih iparnya sendiri.
Tun Ismail
lulusan Cambridge, London. Ia tinggal lama di London karena tidak bisa pulang:
dunia sedang terlibat perang dunia. Maka Tun Ismail mengerti benar budaya pasar
modal di sana.
Sekarang SD
Guthrie Berhad tetap menjadi perusahaan BUMN Malaysia yang ukurannya raksasa.
Perkebunan sawit dan karetnya diperluas sampai Sabah, Serawak, dan Indonesia.
Tun Ismail
sudah lama meninggal akibat serangan flu di usianya yang 79 tahun. Ia tidak
tahu apakah Haji Isam berperan seperti dirinya di tahun 1981. Atau Haji Isam
adalah Haji Isam sebagai pribadi dalam membeli 62 persen saham Low Tock Kwong
di Bayan dengan harga Rp 300 triliun itu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/963646/prabowo-mahathir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar