Senin, 17 Agustus 2026

 

Koran Sin Po Pembentuk Ideologi Oei Tjoe Tat

Rina Widiastuti :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Sin Po merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh pada masa Hindia Belanda.

 

·      Keberanian Sin Po menyuarakan aspirasi politik membentuk cara pandang pembacanya, termasuk Oei Tjoe Tat.

 

·      Setelah berganti nama menjadi Warta Bhakti, Sin Po ditutup pasca-Gerakan 30 September 1965.

 

INI koran bukan sembarang koran: Sin Po. Terbit perdana pada 1 Oktober 1910, surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu ini berani menyuarakan aspirasi politik dan mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Seperti namanya, yang berasal dari hsin-pao atau “surat kabar baru”, media ini menjanjikan corak pemberitaan yang berbeda dari surat kabar peranakan yang lebih dulu terbit.

 

Keberanian menyuarakan fakta membuat Sin Po bolak-balik kena berangus pemerintah kolonial. “Sepanjang 1936-1941, surat kabar ini tiga kali dibredel,” kata Ravando, sejarawan yang meneliti Sin Po untuk disertasinya di Monash University, Australia, pada 2023, “A ‘New Newspaper’: Sin Po and the Voices of Progressive Chinese Indonesian Nationalists, 1910-1949”, saat dihubungi Tempo pada Kamis, 23 Juli 2026.

 

Berulang kali dibungkam, Sin Po tetap bertahan. Di bawah Pemimpin Redaksi Lauw Giok, surat kabar ini berkembang menjadi media paling berpengaruh di Hindia Belanda. Oplahnya pernah mencapai 10 ribu eksemplar per hari pada awal 1920-an. Selain memberitakan perkembangan politik kolonial, Sin Po memberi ruang luas bagi kebangkitan nasionalisme di Asia, terutama di Cina.

 

Bagi Oei Tjoe Tat, Sin Po bukan sekadar bacaan harian. Ketika belajar di Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang pada 1930-an, dia mengikuti perkembangan politik melalui lembar demi lembar koran itu. Dari Sin Po pula dia mengenal berbagai gagasan kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan tokoh-tokoh pergerakan, termasuk Sukarno.

 

Pada saat di kelas II HBS Semarang, Oei tergerak mengikuti seruan Sin Po menggalang dana China Fonds, pengumpulan sumbangan untuk membantu korban perang di Cina. Dia memulai kerja sosialnya dari teman-teman sekelas, rekan di kelas lain, sampai hampir semua sekolah menengah di Semarang.

 

Aksi itu membuatnya dipanggil oleh Direktur HBS Semarang, Tuan Mollenkamp. Dia dituduh menjalankan kegiatan politik di sekolah. Oei menunjukkan kuitansi dari Sin Po sebagai bukti bahwa sumbangan itu disalurkan untuk China Red Cross dan mengantongi izin pemerintah kolonial. “Untunglah Meneer Mollenkamp rupanya mau mengerti,” ujar Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno.

 

Pada masa penjajahan Jepang, Sin Po ditutup dan peralatannya dimanfaatkan untuk propaganda tentara pendudukan dengan nama Sin Sin Po sebulan sebelum berganti nama menjadi Kung Yung Pao. Setelah Indonesia merdeka, Sin Po terbit lagi pada 1946.

 

Kehadiran kembali Sin Po membuka jalan bagi Oei untuk tak lagi sekadar menjadi pembaca. Dalam memoarnya, dia menulis pernah mengasuh rubrik hukum di koran itu.

 

Stanley Adi Prasetyo, salah satu editor Memoar Oei Tjoe Tat, meyakini bahwa Oei tidak pernah menjadi anggota redaksi Sin Po, tapi berperan sebagai narasumber seputar hukum. “Redaktur mengirim pertanyaan dari pembaca atau topik tertentu yang dijawab atau ditulis oleh Oei,” tutur Stanley kepada Tempo pada Sabtu, 25 Juli 2026.

 

Keterangan senada disampaikan Ravando. Dia mengatakan Sin Po memang menerbitkan rubrik hukum secara berkala sebagai ruang konsultasi bagi pembaca. Isinya banyak membahas persoalan kewarganegaraan, termasuk polemik status kewarganegaraan ganda Cina dan Indonesia yang mengemuka pada masa itu.

 

Pada 1950-an, surat kabar ini kerap menjadi corong politik Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Presiden Sukarno pun sering menggunakan Warta Bhakti, nama baru Sin Po sejak 1960, untuk menyebarkan gagasan politiknya.

 

Kedekatan Warta Bhakti dengan Baperki dan Bung Karno membuat surat kabar ini dicap berhaluan kiri dan dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Pasca-Gerakan 30 September 1965, Warta Bhakti hanya sempat terbit dua hari sebelum ditutup untuk selamanya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/koran-sinpo-oei-tjoe-tat-sukarno-2282205

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar