|
Kodok dalam Tempurung dan Narasi Gosong tentang Syiah Hasyim Arsal
Alhabsi : Dehills Institute. |
ORBIT INDONESIA, 08 Juli 2026
|
Pernah
melihat kucing liar panik? Ia
masuk ke sebuah ruangan kecil. Pintu tiba-tiba tertutup. Ia menabrak dinding,
melompat ke jendela, mencakar lantai, lalu berputar-putar tanpa arah. Bukan
karena ruangan itu berubah, tetapi karena ia tidak sanggup memahami kenyataan
yang sedang mengepungnya. Begitulah
kira-kira keadaan sebagian orang ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak
sesuai dengan cerita lama yang mereka pelihara. Selama
bertahun-tahun mereka dicekoki dongeng yang sama: Syiah sesat, Syiah kafir,
Syiah pura-pura, Syiah hanya bisa taqiyah, Syiah lahir dari Abdullah bin
Saba, Syiah identik dengan mut‘ah, Syiah membantai kaum Muslim di Suriah, dan
seterusnya. Narasi
itu diputar terus seperti kaset rusak. Diulang di mimbar, di grup WhatsApp,
di video pendek, di majelis kebencian, sampai akhirnya mereka menyangka
kebencian itu adalah ilmu. Masalahnya,
kenyataan tidak selalu patuh kepada kebencian. Syiah
yang mereka tuduh pengecut justru berdiri paling depan menghadapi Israel. Syiah
yang mereka tuduh palsu justru bertahan menghadapi gempuran Amerika Serikat
dan sekutunya. Syiah yang mereka gambarkan sebagai kelompok kecil menyimpang
ternyata mampu melahirkan sebuah peradaban perlawanan yang kokoh,
berdisiplin, dan tidak mudah tunduk. Maka
paniklah mereka. Sebab
kenyataan di depan mata menghantam seluruh bangunan cerita yang selama ini
mereka rawat. Kebencian yang dahulu terasa manis kini berubah menjadi makanan
pahit yang harus mereka telan sendiri. Peristiwa
kolosal pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menjadi salah satu hantaman
besar itu. Lautan manusia yang hadir bukan sekadar pemandangan politik. Ia
adalah tanda bahwa ada akar keyakinan, cinta, kesetiaan, dan memori kolektif
yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tuduhan murahan. Di
titik itulah mereka kembali memuntahkan narasi lama: Suriah, taqiyah, mut‘ah,
Abdullah bin Saba, dan segala tuduhan usang lainnya. Bukan karena mereka
sedang berargumentasi, tetapi karena mereka sedang kehilangan pegangan. Padahal
tragedi Suriah, misalnya, adalah luka kemanusiaan yang sangat kompleks. Ia
tidak bisa diperas menjadi kebencian mazhab semata. Di sana ada perang
regional, perebutan pengaruh global, operasi intelijen, kepentingan energi,
milisi lintas negara, intervensi asing, dan kehancuran rakyat sipil yang
harus dibaca dengan akal sehat serta kejujuran moral. Tetapi
orang yang miskin literasi tidak sanggup membaca kerumitan. Ia membutuhkan
kambing hitam. Ia tidak mencari kebenaran, ia mencari pembenaran bagi
kebenciannya sendiri. Mereka
seperti kodok dalam tempurung. Mengira langit hanya seluas batok kepala
mereka. Ketika dunia memperlihatkan kenyataan yang lebih luas, mereka bukan
memperbesar akal, melainkan memperkeras kebencian. Di
sinilah perbedaannya. Orang
berilmu akan bertanya, meneliti, membandingkan, lalu bersikap adil. Tetapi
orang yang sudah menjadikan kebencian sebagai agama akan marah kepada
kenyataan hanya karena kenyataan itu tidak sesuai dengan prasangkanya. Syiah
tidak perlu dibela dengan teriakan. Ia cukup dibaca dengan jujur. Sebab
semakin mereka menuduh, semakin terlihat bahwa yang runtuh bukan Syiah,
melainkan narasi gosong yang selama ini mereka sembah sebagai kebenaran. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/GhsJDj4ab2/hasyim-arsal-alhabsi-kodok-dalam-tempurung-dan-narasi-gosong-tentang-syiah
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar