|
Apa Target Kabinet
Bayangan Bentukan Masyarakat Sipil Egi Adyatama : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Masyarakat sipil bersafari menemui
elite politik yang acap mengkritik kebijakan Presiden Prabowo Subianto. · Mereka juga menjalin komunikasi dengan
partai politik di dalam ataupun luar pemerintahan. · Masyarakat sipil membentuk kabinet
bayangan sebagai kawan tanding menteri di Kabinet Merah Putih. DALAM
tiga bulan terakhir, Feri Amsari punya agenda safari politik ke rumah para
elite politik. Dosen Universitas Andalas, Padang, itu membicarakan jalannya
pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Feri
menjelaskan, dalam pemerintahan Prabowo, tak ada partai politik yang
memainkan peran oposisi. Karena itu, tak ada kelompok yang bisa menjembatani
kemarahan dan protes publik kepada pemerintah. “Saya mencoba membangun
konsolidasi,” ujarnya di Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026. Salah
satu yang sering diajak berdiskusi oleh Feri adalah calon wakil presiden pada
Pemilihan Umum 2024 sekaligus Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan
Keamanan 2019-2024, Mahfud Md. Pada Senin, 27 Juli 2026, Feri mendatangi
kantor Mahfud di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Itu adalah perjumpaan
kesekian kalinya antara Feri dan Mahfud di rumah yang menjadi markas MMD
Initiative tersebut. Feri
bercerita, diskusi dengan Mahfud mengulas kondisi ekonomi dan penegakan hukum
di bawah Presiden Prabowo. Mahfud berulang kali mengkritik penegakan hukum
dalam dua tahun pertama pemerintahan Prabowo. Kata Feri, mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi itu sering menyebutkan pemerintah menangkapi koruptor
tanpa membereskan akar masalah korupsi. Menurut
Feri, keresahan terhadap pemerintahan Prabowo sudah menjalar ke mana-mana.
Konsolidasi di antara masyarakat sipil, tutur Feri, mesti dilakukan untuk
membentuk oposisi yang kuat. “Masyarakat sipil tidak mungkin melawan
sendirian,” ujar Feri. Dimintai
tanggapan mengenai pertemuannya dengan Feri, Mahfud mengatakan persamuhan itu
mengulas jalannya kebijakan Prabowo akhir-akhir ini. “Ada jurang antara
pernyataan politik Presiden Prabowo dan implementasinya,” kata Mahfud kepada
Tempo pada Kamis, 30 Juli 2026. Mahfud
bukan satu-satunya elite politik yang didatangi Feri dan kawan-kawan. Pada
awal Maret 2026, Feri bersama sejumlah pakar juga menemui mantan wakil
presiden Jusuf Kalla. Lain halnya dengan Mahfud, Kalla dianggap bisa menjadi
jangkar untuk memperkuat dukungan politikus senior, memberi perspektif soal
ekonomi, dan berbagi pengalaman membereskan tata kelola pemerintahan karena
pernah dua kali menjadi wakil presiden. Sebelum
pertemuan dengan Feri dan kawan-kawan, Kalla mengkritik sejumlah keputusan
Prabowo. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menyoroti penanganan banjir
Sumatera yang lamban. Ia juga mempertanyakan langkah Prabowo yang membawa
Indonesia masuk ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald
Trump. Dalam
wawancara khusus dengan Tempo pada Maret 2026, Kalla menyebutkan kondisi
perekonomian Indonesia sudah memasuki situasi krisis. Ia mendesak Prabowo meninjau
program yang memboroskan anggaran, seperti makan bergizi gratis dan koperasi
desa merah putih. “Saya sebelumnya bertemu dengan pengusaha, hampir semuanya
mengeluh,” tutur Kalla. Mandira
Bienna Elmir, kolega Feri yang ikut saat menemui Kalla, mengatakan pertemuan
dengan Kalla membahas potensi turbulensi ekonomi. Menjadi wakil presiden
selama 10 tahun dan berlatar belakang pengusaha, Kalla menyampaikan
pandangannya soal pengelolaan keuangan dan respons dunia usaha terhadap
kebijakan Prabowo. “Kami saling menguatkan peran masyarakat sipil,” ujar
Mandira, yang kini menjadi Ketua Forum Indonesia Muda, pada Jumat, 31 Juli
2026. Masyarakat
sipil juga menjalin komunikasi dengan partai politik. Dalam pertemuan maraton
dengan partai, masyarakat sipil menyoroti kondisi perekonomian yang memburuk.
Salah satu partai yang ditemui Feri dan koleganya adalah Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan. Sekretaris
Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya mulai membuka diskusi
dengan masyarakat sipil setelah ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90
Tahun 2023 yang memberi karpet merah bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi
calon wakil presiden. Seiring
dengan berjalannya pemerintahan Prabowo, diskusi mulai menyentuh pelaksanaan
program andalan mantan Menteri Pertahanan itu. Tak lain dan tak bukan adalah
makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. “Kami sejak awal sudah
membahas potensi terjadinya korupsi dalam proyek makan bergizi gratis dan
sekarang akhirnya terbukti,” tutur Hasto ketika dimintai tanggapan pada
Kamis, 30 Juli 2026. Kata
Hasto, PDIP mengundang kelompok masyarakat sipil berdiskusi setidaknya saban
dua pekan. Intensitas pertemuan bisa meningkat jika ada turbulensi politik
dan ekonomi yang perlu direspons partai. “Kami merasa gejala otoritarianisme
seperti Orde Baru mulai muncul kembali,” ujar Hasto. Belakangan,
komunikasi antara masyarakat sipil dan PDIP itu turut merangkul salah satu
partai yang berada di dalam Koalisi Merah Putih yang menyokong Prabowo.
Seorang pakar hukum yang terlibat dalam komunikasi dengan partai pendukung
pemerintahan itu bercerita, mereka membahas posisi partai tersebut yang serba
tanggung dalam pemerintahan. Menurut
narasumber ini, partai tersebut hanya mendapat kompensasi kursi menteri yang
jumlahnya kecil, tapi tak sejalan dengan aspirasi konstituen. Sikap politik
ini berpotensi menggerus perolehan suara partai pada Pemilu 2029. Feri
Amsari menyebutkan komunikasi antara masyarakat sipil dan elite politik
sempat dipertanyakan oleh kolega-koleganya. Menurut Feri, tujuan komunikasi
dengan elite politik bukan mencapai kompromi politik. “Kami ingin
mendiskusikan kolaborasi yang bisa dilakukan,” katanya. Menurut
Feri, ada gagasan yang muncul ketika mereka bersafari ke rumah dan kantor
elite. Ide itu berupa pembentukan kelompok oposisi alternatif yang belakangan
disebut sebagai kabinet bayangan—gagasan yang sebetulnya mengemuka di
kalangan masyarakat sipil sejak akhir 2025. Pembahasan
rencana pembentukan kabinet bayangan bermula dari kekhawatiran terhadap model
advokasi dan perlawanan masyarakat sipil dalam 10 tahun terakhir. Inisiator
kabinet bayangan, Ahmad Jilul, mengatakan gerakan masyarakat sipil masih
terserak sehingga memerlukan wadah untuk berkonsolidasi. “Kami menyatukan
dengan tetap menghormati kepakaran dan kualifikasi masing-masing sehingga
menjadi semacam susunan menteri,” tutur Jilul, yang saat ini menjabat
Direktur Eksekutif Masyarakat Transparansi Indonesia. Konsep
kabinet bayangan versi masyarakat sipil di Indonesia tak seperti kabinet bayangan
yang dibentuk di Inggris atau Australia. Di dua negara tersebut, kabinet
bayangan merupakan bagian dari sistem parlemen yang biasanya dipimpin
pentolan partai oposisi. Namun ada beberapa negara yang kabinet bayangannya
dibentuk publik. “Di Prancis, kabinet bayangannya terbentuk secara informal
di luar parlemen,” ujar inisiator lain kabinet bayangan, Feri Amsari. Kabinet
bayangan berisi 14 menteri dan seorang Sekretaris Kabinet, posisi yang
diemban Ahmad Jilul. Para menteri ini berasal dari akademikus dan aktivis. Posisi
Menteri Riset, Teknologi, dan Digital, misalnya, diisi Nenden Sekar Arum yang
kini adalah Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network
atau SAFEnet—organisasi nonprofit yang aktif mengadvokasi hak digital
masyarakat. Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Iqbal Damanik
didapuk menjadi Menteri Perlindungan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim.
Iqbal pernah merangsek ke acara konferensi pertambangan di Jakarta kemudian
membentangkan spanduk yang menolak eksploitasi Raja Ampat, Papua Barat Daya. Ada pula
nama akademikus seperti dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yance
Arizona, yang menjadi Menteri Hukum dan Kebijakan Negara serta pakar
manajemen pertahanan dari Binus University, Curie Maharani Savitri, sebagai
Menteri Pertahanan. Sekretaris
Kabinet di kabinet bayangan, Ahmad Jilul, mengatakan formasi kabinet bayangan
dibuat ramping untuk menjadi kawan tanding bagi koalisi besar yang dibuat
Presiden Prabowo. Menurut Jilul, satu menteri kabinet bayangan dapat menjadi
sparring partner bagi beberapa kementerian di pemerintahan Prabowo. “Struktur
kami lebih efisien,” katanya. Pencarian
nama calon menteri kabinet bayangan dilakukan lewat beberapa cara, dari
pendaftaran terbuka di situs resmi kabinet bayangan hingga penjaringan nama
dari rekomendasi koalisi masyarakat sipil. Nama-nama calon menteri yang masuk
lalu diseleksi oleh tim panelis. Panelis
ini diisi tiga orang, yaitu mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi,
Erry Riyana Hardjapamekas; guru besar hukum tata negara Universitas Gadjah
Mada, Zainal Arifin Mochtar; dan dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia
Jentera, Bivitri Susanti. Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Indonesia, Mohamad Ikhsan, didapuk menjadi panelis seleksi. Erry
Riyana mengaku diajak Ahmad Jilul terlibat dalam gerakan ini. Ia mengatakan
ada sejumlah kriteria menteri bayangan yang disepakati pada awal seleksi,
yakni integritas, kompetensi, kemampuan memimpin, serta rekam jejak. Dari sekitar
300 nama yang masuk ke tim panelis, Erry mengatakan, ada 20 orang yang
memenuhi kriteria tersebut. “Karena kami mencari anak muda, tentu harus agak
longgar soal rekam jejaknya,” tutur Erry kepada Tempo pada Jumat, 31 Juli
2026. Pada
Senin, 27 Juli 2026, kabinet bayangan berkumpul untuk diperkenalkan secara
resmi ke publik. Pertemuan di pojok salah satu toko buku di Cikini, Jakarta
Pusat, itu sekaligus menjadi rapat perdana kabinet bayangan. Bagi
Feri Amsari yang menjadi Menteri Sekretaris Negara di kabinet bayangan, tim
yang terbentuk merupakan awal dari cara baru mengawasi pemerintah. Kabinet
bayangan tengah menyiapkan program berbasis partisipasi publik, seperti
penggalangan dana untuk membiayai proyek-proyek pelayanan publik berskala
kecil yang dinilai luput dari perhatian pemerintah. Selain
itu, kabinet tandingan ini akan membuat rapor kinerja pemerintahan Presiden
Prabowo. Rapor itu berisi hasil pengawasan dan perimbangan yang berbasis
data. “Mudah-mudahan kabinet Prabowo terlecut dan tersadar untuk melakukan
kegiatan yang lebih baik dalam melayani publik,” kata Feri. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/kabinet-bayangan-oposisi-prabowo-2279721 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar