Senin, 17 Agustus 2026

 

Alasan Sukarno Menunjuk Oei Tjoe Tat Menjadi Menteri

Hussein Abri Dongoran :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Sukarno mencermati kiprah Oei Tjoe Tat di organisasi kemasyarakatan Tionghoa.

 

·      Oei Tjoe Tat rutin memberikan laporan, kadang bersifat rahasia, kepada Kepala Negara.

 

·      Keluarga Oei dan Sukarno menjalin relasi yang hangat.

 

TELEPON di kantor Partai Indonesia atau Partindo berdering di suatu sore pada akhir November 1963. Di ujung telepon, Kwee Loan Nio alias Rika mencari suaminya, Oei Tjoe Tat, yang sedang mengikuti rapat di kantor Partindo di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Rika memberikan kabar mengejutkan: Oei diminta menghadap Presiden Sukarno di Istana Bogor, Jawa Barat, esok.

 

Oei heran terhadap invitasi mendadak ini karena ia tak pernah bertemu empat mata dengan Sukarno. Perjumpaan Oei dengan Sukarno bisa dihitung dengan jari. Salah satunya ketika Partindo meminta waktu bertemu dengan Sang Proklamator. “Papa berdiskusi dengan Mama tentang undangan ke Istana Bogor,” kata anak kedua Oei, Desita Atma Brunier alias Oei Ling Siem, kepada Tempo pada Rabu, 15 Juli 2026. Desita kini berusia 76 tahun dan bermukim di Prancis.

 

Seperti dituturkan Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, panggilan telepon dari Rika itu membuat rapat harian Partindo berhenti. Semua pengurus yang hadir kaget atas pemberitahuan itu. Mereka khawatir invitasi itu palsu dan merupakan jebakan dari orang yang tak menyukai Partindo. Karena itu, rapat memutuskan Oei ditemani beberapa pengurus Partindo, seperti Sardjono dan Sumarsono, ketika pergi ke Istana Bogor.

 

Sebelum bertemu dengan Bung Besar, Oei mencari tahu alasannya dipanggil ke Istana melalui orang-orang dekat Presiden. Ia, antara lain, bertemu dengan Ketua Umum Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki, Siauw Giok Tjhan; dan Ketua Partindo sekaligus mantan Menteri Negara, Anak Marhaen Hanafi. “Mereka juga tidak tahu kenapa saya dipanggil ke Bogor,” tutur Oei.

 

Informasi yang berkabut mengenai undangan ke Istana Bogor membuat Oei gelisah. Lebih-lebih, rekan-rekannya membuat spekulasi yang bukan-bukan. Ada yang menyebutkan Oei akan menggantikan Kristoforus Sindhunata sebagai Ketua Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa. Tim lain justru menakut-nakuti bahwa Oei akan ditegur Sukarno karena aktif dalam Panitia Penolong Korban Kontra Revolusi (PPKKR).

 

Hari yang ditunggu pun tiba. Oei berangkat dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat, ke Istana Bogor. Oei bercerita, setiba di Istana, ia diterima Sukarno, tapi Sang Presiden justru menanyakan tujuan kehadirannya di Istana Bogor.

 

Oei menjawab bahwa ia sudah bertemu dengan banyak orang untuk bertanya mengenai alasan pemanggilannya, tapi tak ada satu pun yang mengetahui tujuan Kepala Negara meminta waktu bertemu. Sukarno lalu menjelaskan bahwa ia menunjuk Oei sebagai Menteri Negara untuk membantu presiden dan presidium. Presidium merupakan dewan pimpinan pemerintah yang dipimpin Sukarno serta beranggotakan Wakil Perdana Menteri Soebandrio, Johannes Leimana, dan Chaerul Saleh.

 

Oei kaget mendengar ucapan Sukarno. Kepada Sukarno, Oei menuturkan bahwa ia tak pernah bermimpi ataupun menginginkan posisi menteri, termasuk ketika bergabung dengan Partindo. Sukarno masygul mendengar jawaban Oei. “Sayalah yang menentukan kapan bangsa, negara, dan revolusi memerlukan Saudara. Bukan Saudara sendiri,” kata Sukarno kepada Oei.

 

Oei langsung menerima tawaran menjadi menteri setelah dimarahi Sukarno. Oei menyatakan ia tak bisa berjanji sukses menjadi menteri, tapi akan berusaha sebaik-baiknya dalam menjalankan tugas.

 

Anak bungsu Oei, Tikki Budiman alias Oei Tiang Tik, pernah mendapat cerita dari papanya mengenai pertemuan di Istana Bogor. Kepada Tikki, Oei menyampaikan kekagetannya ketika ditunjuk Sukarno menjadi Menteri Negara. “Kok gue? Masih muda sekali,” tutur Tikki menirukan jawaban ayahnya pada Kamis, 18 Juni 2026. Oei, yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, masih berusia 41 tahun ketika ditunjuk Sukarno menjadi menteri.

 

Oei sempat mengatakan kepada Sukarno apakah ia perlu mengganti nama Tionghoa dengan nama Indonesia karena menjadi menteri. Namun Sukarno kembali menceramahi Oei. “Memang kamu apa? Tidak suka nenek moyang?” ujar Sukarno kepada Oei. Anak kedua Oei, Desita Atma Brunier, pernah mendapat cerita ini dari ayahnya. Oei dilantik Bung Karno pada 9 Desember 1963.

 

Menurut Oei dalam memoarnya, Sukarno mengungkapkan alasan menunjuk Oei sebagai menteri. Bung Besar memantau sepak terjang Oei sejak Mei 1963 ketika terjadi kerusuhan anti-Cina yang bermula dari kampus Institut Teknologi Bandung—almamater Sukarno. Huru-hara meluas ke daerah di sekitar Jawa Barat.

 

Merespons kejadian itu, Baperki dan Partindo—organisasi yang menjadi tempat Oei beraktivitas—mendirikan Panitia Penolong Korban Kontra Revolusi.

 

Benny G. Setiono dalam bukunya, Tionghoa dalam Pusaran Politik, menulis PPKKR mengumpulkan dana bagi korban kerusuhan anti-Cina. “PPKKR menuntut agar pelakunya dihukum,” tulis Benny, yang ikut mendirikan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa atau INTI.

 

Di sinilah awal persinggungan Oei dengan Sukarno. Oei sebagai salah satu pentolan Baperki dan Partindo mengirim surat kepada Sukarno untuk menyelesaikan kerusuhan rasial yang terjadi di Jawa Barat. Layang dari Oei diterima ajudan pribadi Presiden, Winoto Danu Asmoro, lalu diteruskan ke meja Presiden. “Suratmu sudah aku terima dari Winoto,” begitu pengakuan Bung Karno kepada Oei.

 

Putra sulung Sukarno, Guntur Soekarnoputra, menuturkan bahwa ayahnya memilih Oei menjadi Menteri Negara karena menilai Oei merupakan orang keturunan Tionghoa yang memahami pemikiran sosial dan politik Sukarno. “Kenyataannya ada pribumi dan non-pribumi,” ujar Guntur melalui jawaban tertulis kepada Tempo yang dikirimkan melalui Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto pada Ahad, 26 Juli 2026.

 

Oei langsung berkomunikasi dengan Presidium untuk mengetahui tanggung jawab dan pekerjaannya. Ia memperoleh sejumlah wejangan dari para seniornya di kabinet pada waktu itu. Wakil Perdana Menteri Leimena, misalnya, berpesan agar Oei tak menikam Presiden dari belakang ketika tak cocok bekerja sama lagi.

 

Sukarno juga memberikan sejumlah fasilitas kepada Oei. Di antaranya mobil dinas dengan pelat nomor B-35 dan Volkswagen Beetle yang dikenal sebagai mobil kodok. Ia juga diberi fasilitas rumah dinas di Kebayoran Baru dan Menteng, tapi menolaknya karena merasa nyaman tinggal di rumah pribadinya di Jalan Blitar Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Tak lama setelah Oei ditunjuk sebagai menteri, terjadi peristiwa kekeringan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ribuan warga di sana mengidap busung lapar karena gagal panen dan tak mendapat bantuan makanan. Kejadian ini membuat Sukarno marah karena menjadi berita media luar negeri.

 

Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh menugasi Oei meninjau kelaparan di Gunungkidul. Ia menemukan berbagai macam keanehan, seperti tak ada tenaga medis di lapangan yang membantu warga yang sakit dan banyak petani menganggur.

 

Oei mengirimkan laporan situasi yang ditemukan selama di Gunungkidul kepada Presidium. Ia berinisiatif mengusulkan pembentukan Panitia Pilot Project Gunungkidul sebagai gugus tugas yang menuntaskan kasus kelaparan dan kekeringan di sana.

 

Setelah menjadi menteri, Oei tak setiap hari berjumpa dengan Sukarno. Ia mendapat wejangan dari Menteri Koordinator Kompartemen Keuangan Soemarno agar bertemu dengan Presiden sekali sepekan. Soemarno juga menyarankan Oei menunda menyampaikan laporan yang buruk jika melihat Sukarno lelah. Oei juga dilarang menjelek-jelekkan sesama menteri ketika melihat ada anggota kabinet yang tak becus bekerja.

 

Oei melaksanakan nasihat Soemarno dengan taat. Ia nyaris selalu datang ke acara minum kopi bersama di serambi Istana Merdeka yang diadakan sekali sepekan.

 

Ia menggunakan kesempatan acara minum kopi di Istana untuk memasok laporan kepada Sang Presiden. Jika laporan bersifat rahasia, Sukarno meminta Oei menunggu acara itu selesai. Setelah itu, Sukarno mengajak Oei dan beberapa menteri lain menyantap sarapan.

 

Oei juga pernah memberikan laporan secara lisan di ruang pribadi Sukarno. “Sukarno sambil ke toilet lalu Oei menyampaikan laporannya,” tutur penyunting Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi Prasetyo, pada Kamis, 2 Juli 2026. Stanley memperoleh cerita tersebut dari Oei.

 

Dalam hal mendesak, Oei bisa langsung potong kompas menyampaikan laporan kepada Sukarno. Ini pernah terjadi ketika organisasi Pemuda Rakyat hendak menghalangi pendaratan pesawat yang membawa Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green, pada Juli 1965.

 

Oei sempat berdebat dengan perwakilan Pemuda Rakyat di kantornya. Namun mereka tetap berkeras mendatangi Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat. Oei melaporkan ancaman keamanan itu kepada Bung Karno yang lantas memerintahkan Brigadir Jenderal Sawarno Tjokrodiningrat sebagai Panglima Komando Daerah Kepolisian VII Djakarta Raya menghalau anggota Pemuda Rakyat yang hendak menghadang Duta Besar Green.

 

Sukarno ingin proses Green menjadi duta besar selesai dan resmi menjabat perwakilan Negeri Abang Sam. “Setelah itu silakan para pemuda berdemonstrasi terhadap tukang intrik ini,” ujar Sukarno.

 

Kedekatan Oei dengan Sukarno juga menular kepada keluarga. Sukarno mengenal istri dan anak-anak Oei. Dalam memoarnya, Oei bercerita, istrinya, Kwee Loan Nio alias Rika, pernah dipanggil Sukarno dalam sebuah acara perjamuan. Sukarno memperhatikan banyak perwakilan negara asing yang sulit mendekati meja hidangan karena terhalangi tamu dari Indonesia. “Beliau minta istri saya menegur orang-orang kita,” kata Oei.

 

Anak ketiga Oei, Fransiska Oei alias Oei Lan Siem, menuturkan bahwa, saat ayahnya masih menjabat menteri, ia dan ketiga saudaranya beberapa kali datang ke Istana. Di sana, mereka bertemu dengan Sukarno dan anak-anaknya. Mereka bermain dengan anak-anak Presiden. “Ada salah satu putra Sukarno yang memangku kami,” ujarnya.

 

Hubungan keluarga Oei dengan Sukarno awet kendati keduanya tak lagi menjabat dalam pemerintahan. Penyunting memoar Oei, Stanley Adi Prasetyo, mengatakan anak-anak Sukarno sangat menghormati Oei. Stanley pernah menemani Oei bertemu dengan Megawati Soekarnoputri di rumahnya pada 1990-an. Megawati pada waktu itu menjadi politikus yang kritis terhadap rezim Orde Baru.

 

Oei memberi wejangan kepada Megawati yang baru naik sebagai pemimpin Partai Demokrasi Indonesia dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Oei meminta Megawati lebih vokal menyampaikan nilai-nilai yang diperjuangkan Sukarno. “Anak-anak Sukarno memanggil Oei sebagai omnya,” kata Stanley.

 

Anak pertama Sukarno, Guntur Soekarnoputra, mengakui bahwa keluarganya dekat dengan Oei karena sering melihat ayahnya berkeliling Istana bersama Oei. Guntur juga suka mengobrol dengan Oei. “Diskusinya sering ngalor-ngidul,” tuturnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-menteri-negara-sukarno-2282212

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar