|
Alasan
Sukarno Menunjuk Oei Tjoe Tat Menjadi Menteri Hussein Abri Dongoran : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Sukarno mencermati kiprah Oei Tjoe Tat
di organisasi kemasyarakatan Tionghoa. · Oei Tjoe Tat rutin memberikan laporan,
kadang bersifat rahasia, kepada Kepala Negara. · Keluarga Oei dan Sukarno menjalin
relasi yang hangat. TELEPON
di kantor Partai Indonesia atau Partindo berdering di suatu sore pada akhir
November 1963. Di ujung telepon, Kwee Loan Nio alias Rika mencari suaminya,
Oei Tjoe Tat, yang sedang mengikuti rapat di kantor Partindo di Jalan Merdeka
Selatan, Jakarta. Rika memberikan kabar mengejutkan: Oei diminta menghadap
Presiden Sukarno di Istana Bogor, Jawa Barat, esok. Oei
heran terhadap invitasi mendadak ini karena ia tak pernah bertemu empat mata
dengan Sukarno. Perjumpaan Oei dengan Sukarno bisa dihitung dengan jari.
Salah satunya ketika Partindo meminta waktu bertemu dengan Sang Proklamator.
“Papa berdiskusi dengan Mama tentang undangan ke Istana Bogor,” kata anak
kedua Oei, Desita Atma Brunier alias Oei Ling Siem, kepada Tempo pada Rabu,
15 Juli 2026. Desita kini berusia 76 tahun dan bermukim di Prancis. Seperti
dituturkan Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno,
panggilan telepon dari Rika itu membuat rapat harian Partindo berhenti. Semua
pengurus yang hadir kaget atas pemberitahuan itu. Mereka khawatir invitasi
itu palsu dan merupakan jebakan dari orang yang tak menyukai Partindo. Karena
itu, rapat memutuskan Oei ditemani beberapa pengurus Partindo, seperti
Sardjono dan Sumarsono, ketika pergi ke Istana Bogor. Sebelum
bertemu dengan Bung Besar, Oei mencari tahu alasannya dipanggil ke Istana
melalui orang-orang dekat Presiden. Ia, antara lain, bertemu dengan Ketua
Umum Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki, Siauw Giok
Tjhan; dan Ketua Partindo sekaligus mantan Menteri Negara, Anak Marhaen
Hanafi. “Mereka juga tidak tahu kenapa saya dipanggil ke Bogor,” tutur Oei. Informasi
yang berkabut mengenai undangan ke Istana Bogor membuat Oei gelisah.
Lebih-lebih, rekan-rekannya membuat spekulasi yang bukan-bukan. Ada yang
menyebutkan Oei akan menggantikan Kristoforus Sindhunata sebagai Ketua
Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa. Tim lain justru menakut-nakuti bahwa Oei
akan ditegur Sukarno karena aktif dalam Panitia Penolong Korban Kontra
Revolusi (PPKKR). Hari
yang ditunggu pun tiba. Oei berangkat dari rumahnya di Menteng, Jakarta
Pusat, ke Istana Bogor. Oei bercerita, setiba di Istana, ia diterima Sukarno,
tapi Sang Presiden justru menanyakan tujuan kehadirannya di Istana Bogor. Oei
menjawab bahwa ia sudah bertemu dengan banyak orang untuk bertanya mengenai
alasan pemanggilannya, tapi tak ada satu pun yang mengetahui tujuan Kepala
Negara meminta waktu bertemu. Sukarno lalu menjelaskan bahwa ia menunjuk Oei
sebagai Menteri Negara untuk membantu presiden dan presidium. Presidium
merupakan dewan pimpinan pemerintah yang dipimpin Sukarno serta beranggotakan
Wakil Perdana Menteri Soebandrio, Johannes Leimana, dan Chaerul Saleh. Oei
kaget mendengar ucapan Sukarno. Kepada Sukarno, Oei menuturkan bahwa ia tak
pernah bermimpi ataupun menginginkan posisi menteri, termasuk ketika
bergabung dengan Partindo. Sukarno masygul mendengar jawaban Oei. “Sayalah
yang menentukan kapan bangsa, negara, dan revolusi memerlukan Saudara. Bukan
Saudara sendiri,” kata Sukarno kepada Oei. Oei
langsung menerima tawaran menjadi menteri setelah dimarahi Sukarno. Oei
menyatakan ia tak bisa berjanji sukses menjadi menteri, tapi akan berusaha
sebaik-baiknya dalam menjalankan tugas. Anak
bungsu Oei, Tikki Budiman alias Oei Tiang Tik, pernah mendapat cerita dari
papanya mengenai pertemuan di Istana Bogor. Kepada Tikki, Oei menyampaikan
kekagetannya ketika ditunjuk Sukarno menjadi Menteri Negara. “Kok gue? Masih
muda sekali,” tutur Tikki menirukan jawaban ayahnya pada Kamis, 18 Juni 2026.
Oei, yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, masih berusia 41 tahun ketika
ditunjuk Sukarno menjadi menteri. Oei
sempat mengatakan kepada Sukarno apakah ia perlu mengganti nama Tionghoa
dengan nama Indonesia karena menjadi menteri. Namun Sukarno kembali
menceramahi Oei. “Memang kamu apa? Tidak suka nenek moyang?” ujar Sukarno
kepada Oei. Anak kedua Oei, Desita Atma Brunier, pernah mendapat cerita ini
dari ayahnya. Oei dilantik Bung Karno pada 9 Desember 1963. Menurut
Oei dalam memoarnya, Sukarno mengungkapkan alasan menunjuk Oei sebagai
menteri. Bung Besar memantau sepak terjang Oei sejak Mei 1963 ketika terjadi
kerusuhan anti-Cina yang bermula dari kampus Institut Teknologi
Bandung—almamater Sukarno. Huru-hara meluas ke daerah di sekitar Jawa Barat. Merespons
kejadian itu, Baperki dan Partindo—organisasi yang menjadi tempat Oei
beraktivitas—mendirikan Panitia Penolong Korban Kontra Revolusi. Benny G.
Setiono dalam bukunya, Tionghoa dalam Pusaran Politik, menulis PPKKR
mengumpulkan dana bagi korban kerusuhan anti-Cina. “PPKKR menuntut agar
pelakunya dihukum,” tulis Benny, yang ikut mendirikan Perhimpunan
Indonesia-Tionghoa atau INTI. Di
sinilah awal persinggungan Oei dengan Sukarno. Oei sebagai salah satu
pentolan Baperki dan Partindo mengirim surat kepada Sukarno untuk
menyelesaikan kerusuhan rasial yang terjadi di Jawa Barat. Layang dari Oei
diterima ajudan pribadi Presiden, Winoto Danu Asmoro, lalu diteruskan ke meja
Presiden. “Suratmu sudah aku terima dari Winoto,” begitu pengakuan Bung Karno
kepada Oei. Putra
sulung Sukarno, Guntur Soekarnoputra, menuturkan bahwa ayahnya memilih Oei menjadi
Menteri Negara karena menilai Oei merupakan orang keturunan Tionghoa yang
memahami pemikiran sosial dan politik Sukarno. “Kenyataannya ada pribumi dan
non-pribumi,” ujar Guntur melalui jawaban tertulis kepada Tempo yang
dikirimkan melalui Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Hasto Kristiyanto pada Ahad, 26 Juli 2026. Oei
langsung berkomunikasi dengan Presidium untuk mengetahui tanggung jawab dan
pekerjaannya. Ia memperoleh sejumlah wejangan dari para seniornya di kabinet
pada waktu itu. Wakil Perdana Menteri Leimena, misalnya, berpesan agar Oei
tak menikam Presiden dari belakang ketika tak cocok bekerja sama lagi. Sukarno
juga memberikan sejumlah fasilitas kepada Oei. Di antaranya mobil dinas
dengan pelat nomor B-35 dan Volkswagen Beetle yang dikenal sebagai mobil
kodok. Ia juga diberi fasilitas rumah dinas di Kebayoran Baru dan Menteng,
tapi menolaknya karena merasa nyaman tinggal di rumah pribadinya di Jalan
Blitar Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat. Tak lama
setelah Oei ditunjuk sebagai menteri, terjadi peristiwa kekeringan di
Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ribuan warga di sana
mengidap busung lapar karena gagal panen dan tak mendapat bantuan makanan.
Kejadian ini membuat Sukarno marah karena menjadi berita media luar negeri. Wakil
Perdana Menteri Chaerul Saleh menugasi Oei meninjau kelaparan di Gunungkidul.
Ia menemukan berbagai macam keanehan, seperti tak ada tenaga medis di
lapangan yang membantu warga yang sakit dan banyak petani menganggur. Oei mengirimkan
laporan situasi yang ditemukan selama di Gunungkidul kepada Presidium. Ia
berinisiatif mengusulkan pembentukan Panitia Pilot Project Gunungkidul
sebagai gugus tugas yang menuntaskan kasus kelaparan dan kekeringan di sana. Setelah
menjadi menteri, Oei tak setiap hari berjumpa dengan Sukarno. Ia mendapat
wejangan dari Menteri Koordinator Kompartemen Keuangan Soemarno agar bertemu
dengan Presiden sekali sepekan. Soemarno juga menyarankan Oei menunda
menyampaikan laporan yang buruk jika melihat Sukarno lelah. Oei juga dilarang
menjelek-jelekkan sesama menteri ketika melihat ada anggota kabinet yang tak
becus bekerja. Oei
melaksanakan nasihat Soemarno dengan taat. Ia nyaris selalu datang ke acara
minum kopi bersama di serambi Istana Merdeka yang diadakan sekali sepekan. Ia
menggunakan kesempatan acara minum kopi di Istana untuk memasok laporan
kepada Sang Presiden. Jika laporan bersifat rahasia, Sukarno meminta Oei
menunggu acara itu selesai. Setelah itu, Sukarno mengajak Oei dan beberapa menteri
lain menyantap sarapan. Oei juga
pernah memberikan laporan secara lisan di ruang pribadi Sukarno. “Sukarno
sambil ke toilet lalu Oei menyampaikan laporannya,” tutur penyunting Memoar
Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi Prasetyo, pada Kamis, 2
Juli 2026. Stanley memperoleh cerita tersebut dari Oei. Dalam
hal mendesak, Oei bisa langsung potong kompas menyampaikan laporan kepada
Sukarno. Ini pernah terjadi ketika organisasi Pemuda Rakyat hendak
menghalangi pendaratan pesawat yang membawa Duta Besar Amerika Serikat untuk
Indonesia, Marshall Green, pada Juli 1965. Oei
sempat berdebat dengan perwakilan Pemuda Rakyat di kantornya. Namun mereka
tetap berkeras mendatangi Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat. Oei
melaporkan ancaman keamanan itu kepada Bung Karno yang lantas memerintahkan
Brigadir Jenderal Sawarno Tjokrodiningrat sebagai Panglima Komando Daerah
Kepolisian VII Djakarta Raya menghalau anggota Pemuda Rakyat yang hendak
menghadang Duta Besar Green. Sukarno
ingin proses Green menjadi duta besar selesai dan resmi menjabat perwakilan
Negeri Abang Sam. “Setelah itu silakan para pemuda berdemonstrasi terhadap
tukang intrik ini,” ujar Sukarno. Kedekatan
Oei dengan Sukarno juga menular kepada keluarga. Sukarno mengenal istri dan
anak-anak Oei. Dalam memoarnya, Oei bercerita, istrinya, Kwee Loan Nio alias
Rika, pernah dipanggil Sukarno dalam sebuah acara perjamuan. Sukarno
memperhatikan banyak perwakilan negara asing yang sulit mendekati meja
hidangan karena terhalangi tamu dari Indonesia. “Beliau minta istri saya
menegur orang-orang kita,” kata Oei. Anak
ketiga Oei, Fransiska Oei alias Oei Lan Siem, menuturkan bahwa, saat ayahnya
masih menjabat menteri, ia dan ketiga saudaranya beberapa kali datang ke
Istana. Di sana, mereka bertemu dengan Sukarno dan anak-anaknya. Mereka
bermain dengan anak-anak Presiden. “Ada salah satu putra Sukarno yang
memangku kami,” ujarnya. Hubungan
keluarga Oei dengan Sukarno awet kendati keduanya tak lagi menjabat dalam
pemerintahan. Penyunting memoar Oei, Stanley Adi Prasetyo, mengatakan
anak-anak Sukarno sangat menghormati Oei. Stanley pernah menemani Oei bertemu
dengan Megawati Soekarnoputri di rumahnya pada 1990-an. Megawati pada waktu
itu menjadi politikus yang kritis terhadap rezim Orde Baru. Oei
memberi wejangan kepada Megawati yang baru naik sebagai pemimpin Partai
Demokrasi Indonesia dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Oei meminta
Megawati lebih vokal menyampaikan nilai-nilai yang diperjuangkan Sukarno.
“Anak-anak Sukarno memanggil Oei sebagai omnya,” kata Stanley. Anak
pertama Sukarno, Guntur Soekarnoputra, mengakui bahwa keluarganya dekat
dengan Oei karena sering melihat ayahnya berkeliling Istana bersama Oei.
Guntur juga suka mengobrol dengan Oei. “Diskusinya sering ngalor-ngidul,”
tuturnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-menteri-negara-sukarno-2282212 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar