|
Permainan Tradisional, Benteng Karakter di Era Digital Chabibul Barnabas : Pemerhati Sosial Pendidikan dan Pegiat Literasi di Gerakan
Beramal Baik. |
ORBIT INDONESIA, 28 Juni 2026
|
Di banyak lingkungan,
pemandangan anak-anak berlarian di lapangan kini semakin jarang ditemukan.
Waktu bermain mereka lebih banyak dihabiskan di depan layar gawai daripada di
ruang terbuka bersama teman sebaya. Kemajuan teknologi memang
menghadirkan berbagai kemudahan. Namun, perubahan pola bermain anak juga
membawa tantangan baru bagi proses pembentukan karakter generasi muda. Hari ini, banyak anak
lebih mengenal game digital dibandingkan gobak sodor, bentengan, engklek,
atau congklak. Bahkan, tidak sedikit yang belum pernah memainkan permainan
tradisional yang dahulu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut patut
menjadi perhatian bersama. Sebab, permainan tradisional sesungguhnya bukan
sekadar sarana hiburan, melainkan ruang belajar yang kaya akan nilai
pendidikan karakter. Dalam permainan
tradisional, anak-anak belajar berinteraksi secara langsung. Mereka berlatih
berkomunikasi, bekerja sama, menghargai aturan, dan menyelesaikan persoalan
bersama teman-temannya. Permainan gobak sodor,
misalnya, mengajarkan strategi dan kekompakan tim. Sementara bentengan
melatih keberanian, kepemimpinan, serta kemampuan membangun solidaritas
kelompok. Permainan congklak
mengajarkan kesabaran dan kemampuan mengambil keputusan. Adapun engklek
melatih ketekunan, keseimbangan, dan disiplin dalam mengikuti aturan
permainan. Nilai-nilai tersebut
tumbuh secara alami melalui pengalaman. Anak-anak tidak merasa sedang
diajari, tetapi sesungguhnya sedang belajar tentang kehidupan. Di sinilah letak
keunggulan permainan tradisional sebagai sarana pendidikan karakter.
Pembelajaran berlangsung melalui praktik nyata, bukan sekadar nasihat atau
teori. Pendidikan karakter yang
efektif membutuhkan pembiasaan. Seseorang tidak menjadi jujur hanya karena
mendengar ceramah tentang kejujuran, tetapi karena terbiasa mempraktikkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Permainan tradisional
menyediakan ruang yang ideal untuk proses tersebut. Setiap permainan
menghadirkan situasi yang mengharuskan anak berlaku jujur, disiplin,
bertanggung jawab, dan sportif. Ketika kalah, mereka
belajar menerima kenyataan dengan lapang dada. Ketika menang, mereka belajar
menghargai lawan dan mengendalikan rasa bangga secara proporsional. Kemampuan seperti itu
sangat dibutuhkan di era digital. Sayangnya, sebagian besar ruang interaksi
anak kini bergeser ke dunia virtual yang memiliki karakteristik berbeda. Teknologi memang mampu
memperluas akses informasi. Akan tetapi, teknologi tidak selalu mampu
menggantikan pengalaman sosial yang diperoleh melalui perjumpaan langsung. Tidak sedikit anak yang
semakin terampil menggunakan perangkat digital, tetapi mengalami kesulitan
membangun komunikasi interpersonal. Mereka cepat menguasai teknologi, namun
belum tentu terlatih dalam empati dan kerja sama. Fenomena tersebut
menunjukkan bahwa pembangunan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya
kepada teknologi. Diperlukan ruang-ruang sosial yang memungkinkan anak
belajar menjadi manusia seutuhnya. Permainan tradisional
menawarkan ruang tersebut. Melalui aktivitas sederhana, anak-anak belajar
memahami perbedaan, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Lebih dari itu, permainan
tradisional juga menjadi sarana pewarisan budaya. Setiap permainan mengandung
nilai-nilai lokal yang mencerminkan kearifan masyarakat Indonesia. Ketika permainan
tradisional ditinggalkan, yang hilang bukan hanya sebuah aktivitas bermain.
Bersamaan dengan itu, nilai, pengalaman, dan identitas budaya bangsa juga
perlahan memudar. Dalam konteks penguatan
karakter, negara sesungguhnya memiliki instrumen yang sangat strategis. Salah
satunya adalah Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) di bawah Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah yang bertugas melaksanakan kebijakan dan
program penguatan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Peran tersebut menjadi
semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda pada
era digital. Penguatan karakter juga sejalan dengan arah pembangunan sumber
daya manusia dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan
pendidikan dan pembentukan karakter sebagai fondasi menuju Indonesia Emas
2045. Keberadaan Puspeka dapat
menjadi motor penggerak revitalisasi permainan tradisional sebagai bagian
dari pendidikan karakter nasional. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam
permainan tradisional memiliki keterkaitan yang kuat dengan pembentukan
karakter Pelajar Pancasila. Melalui permainan
tradisional, peserta didik belajar bergotong royong, menghargai keberagaman,
mandiri, bernalar kritis, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan
sosialnya. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan nasional
yang menempatkan karakter sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia. Permainan tradisional
juga dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung Gerakan Tujuh Kebiasaan
Anak Indonesia Hebat yang saat ini didorong oleh Kementerian Pendidikan Dasar
dan Menengah. Berbagai kebiasaan positif seperti disiplin, aktif bergerak,
membangun kepedulian sosial, dan membiasakan interaksi yang sehat dapat
ditanamkan melalui aktivitas bermain yang menyenangkan. Karena itu, permainan
tradisional layak memperoleh ruang yang lebih besar dalam berbagai program
penguatan karakter di sekolah. Puspeka dapat mendorong lahirnya Gerakan
Nasional Permainan Tradisional yang menjadikan permainan rakyat sebagai
bagian dari budaya belajar dan budaya sekolah. Program tersebut dapat
diwujudkan melalui pekan permainan tradisional, festival permainan rakyat
antarsekolah, pengembangan modul pembelajaran berbasis permainan tradisional,
hingga pelatihan guru sebagai fasilitator pendidikan karakter. Dengan pendekatan yang
sistematis dan berkelanjutan, permainan tradisional dapat menjadi salah satu
instrumen strategis dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan
berbudaya. Indonesia memiliki
kekayaan permainan tradisional yang sangat beragam. Jika dikelola secara sistematis,
warisan budaya tersebut dapat menjadi instrumen pendidikan karakter yang
efektif sekaligus sarana pelestarian budaya bangsa. Karena itu, upaya
menghidupkan kembali permainan tradisional perlu menjadi gerakan bersama.
Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang
sama dalam menjaga warisan tersebut. Orang tua dapat mulai
mengenalkan permainan tradisional di lingkungan keluarga. Langkah sederhana
ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan sekaligus mengurangi ketergantungan
anak terhadap gawai. Sekolah juga dapat
mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam berbagai kegiatan
pembelajaran. Dengan cara itu, pendidikan karakter berlangsung lebih
menyenangkan dan membumi. Pemerintah daerah serta
komunitas masyarakat dapat mendukung melalui festival budaya, lomba permainan
tradisional, maupun penyediaan ruang publik yang ramah anak. Upaya tersebut
akan membantu memperluas ruang interaksi sosial bagi generasi muda. Tentu, menghidupkan
permainan tradisional bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Yang
dibutuhkan adalah keseimbangan agar teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan
dapat tumbuh secara bersamaan. Generasi masa depan harus
mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan karakter. Mereka perlu cerdas
secara intelektual sekaligus kuat secara moral dan sosial. Pada akhirnya, kemajuan
bangsa tidak hanya diukur dari kecanggihan perangkat digital yang dimiliki.
Kemajuan sejati juga ditentukan oleh kualitas karakter manusia yang
menggunakannya. Di tengah derasnya arus digitalisasi,
permainan tradisional tetap relevan sebagai benteng karakter. Dari
permainan-permainan sederhana itulah lahir nilai kejujuran, kerja sama,
tanggung jawab, dan kepedulian yang akan menjadi fondasi masa depan bangsa. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar