|
NU Nyata, Tetapi Kurang Aktual Hendrajit : Pengkaji Geopolitik, Guru Kelana, dan Wartawan Freelance. |
ORBIT INDONESIA, 28 Juni 2026
|
Kisruh di tubuh Nahdlatul
Ulama (NU) sebaiknya tidak semata-mata dipandang melalui lensa campur tangan
eksternal atau betapa "seksinya" NU sebagai pangsa pasar politik
untuk meraup suara dalam kontestasi kekuasaan. Persoalan ini lebih tepat ditelaah
dari sudut ketahanan budaya internal NU sendiri sebagai organisasi
sosial-keagamaan yang memiliki kemampuan atau ketidakmampuan dalam menghadapi
intervensi, penetrasi, dan bahkan akuisisi pengaruh dari luar. Jika terlalu fokus pada
faktor eksternal, kita berisiko terjebak dalam semacam "sindrom aku
malang"—perasaan bahwa setiap kali ada campur tangan kekuasaan, berarti
kita tidak berdaya. Akibatnya, muncul sikap pasrah: menerima keadaan apa
adanya karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Di sinilah kerapuhan NU
sebagai entitas sosial dan budaya mulai tersingkap. Ketika sebuah komunitas
tersugesti bahwa dirinya tidak berdaya, maka perlahan ia akan menerima
kondisi yang sebenarnya tidak disukai, tetapi dianggap tak terhindarkan. Baik
warga maupun sebagian elite NU dapat terjebak dalam kondisi psikologis
semacam itu. Konsekuensinya bersifat
strategis. NU menjadi kesulitan membedakan antara kenyataan dan aktualitas.
NU memang nyata. Ia hadir, hidup, dan bertahan sejak 1926 hingga hari ini.
Alhamdulillah. Namun, pada saat yang sama, aktualitasnya sebagai kekuatan
budaya dan peradaban justru semakin memudar. NU ada secara fisik dan
organisatoris, tetapi belum tentu hadir secara efektif dalam menjawab
tantangan zaman. Padahal NU memiliki
khazanah tradisi, kearifan lokal, dan warisan intelektual yang sangat kaya.
Persoalannya, kekayaan itu belum sepenuhnya diaktualisasikan untuk
menyembuhkan berbagai penyakit sosial yang lahir dari modernisasi dan
globalisasi. Alih-alih menjadi penawar, dalam banyak hal NU justru ikut
terpapar penyakit yang sama seperti masyarakat modern yang hendak
dibimbingnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Saya teringat pesan
almarhum mentor spiritual saya, Haji Mochtar Hussein. Beliau pernah berkata,
"Setiap tindakan pasti ada alasannya, dan setiap alasan pasti ada
maknanya." Makna lahir dari cara
berpikir dan cara pandang. Dan di sinilah mungkin letak persoalannya. Entah
sejak kapan, NU mulai memandang tradisi dalam bingkai "pelestarian"
dan "konservasi". Tradisi dijaga agar tidak punah, dipertahankan
agar tidak hilang ditelan zaman. Padahal tradisi tidak
cukup hanya dilestarikan. Tradisi harus diaktualisasikan. Tradisi semestinya
berdialog dengan zaman, bukan sekadar bertahan darinya. Tradisi dan
modernitas seharusnya menjadi mitra dialog yang saling memperkaya, bukan dua
kutub yang saling menjauh. Ketika peran NU dibingkai
hanya sebagai penjaga tradisi, maka secara tidak sadar tradisi ditempatkan
pada posisi yang lemah, defensif, dan inferior. Tradisi dipandang sebagai
sesuatu yang harus dilindungi, bukan sebagai sumber daya hidup yang mampu
memberi jawaban atas persoalan-persoalan baru. Akibatnya, tradisi seolah
dilokalisasi dan dimuseumkan. Ia tetap ada, tetapi kehilangan daya hidupnya.
Ia dikenang, tetapi tidak digunakan. Ia dihormati, tetapi tidak
diaktualisasikan. Padahal tantangan zaman
modern sangat membutuhkan kehadiran tradisi yang hidup. Krisis identitas,
kesepian sosial, kecemasan kolektif, disorientasi budaya, dan berbagai
penyakit psikologis masyarakat modern justru membutuhkan sumber inspirasi
yang berakar pada kearifan tradisional. Sayangnya, ketika tradisi
tidak lagi diaktualisasikan, para penjaganya pun kehilangan peran. Alih-alih
menjadi "dokter jiwa" bagi masyarakat era digital dan abad
informasi, mereka justru berisiko menjadi pasien dari penyakit yang sama. Di sinilah saya melihat
akar persoalan NU hari ini. Krisis yang dihadapi NU bukanlah krisis
finansial. Bukan pula krisis intelektual. Warga NU yang terdidik saat ini
tidak kalah kualitasnya dibandingkan warga Muhammadiyah atau organisasi Islam
lainnya. Masalah utamanya bukan
kekurangan uang dan bukan kekurangan kecerdasan. Yang lebih
mengkhawatirkan adalah kemiskinan imajinasi dan kemiskinan inspirasi pada
berbagai lapisan kepemimpinan. Secara metaforis, NU
seperti mengalami stroke ringan dan berpotensi terkena gangguan jantung. Otak
dan jantungnya sama-sama melemah. Padahal kekuatan utama NU selama ini
terletak pada kemampuan menghubungkan akal dan rasa, tradisi dan realitas,
sejarah dan masa depan. NU pernah menjadi ruang
tempat masyarakat menemukan makna hidup melalui tradisi. Ia menjadi semacam
konsultan budaya dan penyembuh alternatif bagi problem-problem yang tidak
mampu dijawab oleh rasionalitas modern semata. Ketika fungsi itu
ditinggalkan, NU kehilangan sebagian dari jati dirinya. Saya belajar banyak dari
para penyembuh alternatif yang pernah saya temui ketika kesehatan saya
terganggu. Salah satunya adalah Haji Dahlan. Dari namanya saja kita bisa
menangkap akar kultural yang dekat dengan tradisi NU. Yang menarik, beliau
tidak selalu melihat penyakit dari sudut pandang yang lazim. Ketika saya
khawatir mengalami gangguan prostat, misalnya, beliau justru melihat
ketidakseimbangan pada posisi pinggang kanan dan kiri saya. Menurutnya,
keluhan yang saya rasakan bukan terutama berasal dari prostat, melainkan dari
struktur tubuh yang tidak simetris. Dua kali terapi, kondisi
saya membaik. Saya tidak sedang
membahas benar atau salahnya diagnosis tersebut. Yang ingin saya tunjukkan
adalah cara pandangnya. Haji Dahlan melihat persoalan dari sudut yang
berbeda. Ia tidak terpaku pada gejala yang tampak, melainkan mencari akar
masalah yang tersembunyi. Bagi saya, Haji Dahlan
adalah arketipe dari apa yang saya sebut sebagai "konsultan
tradisi" dan "penyembuh alternatif". Ia mewakili tradisi yang
bukan hanya nyata, tetapi juga aktual. Tradisi semacam itulah
yang seharusnya dihidupkan kembali oleh NU. Bukan tradisi yang sekadar
dipamerkan atau dilestarikan, melainkan tradisi yang mampu menjawab tantangan
zaman, menginspirasi masyarakat modern, dan membantu bangsa menemukan kembali
jati dirinya. Sebab hanya dengan cara
itulah NU tidak sekadar menjadi organisasi yang nyata keberadaannya, tetapi
juga aktual peran dan kontribusinya bagi masa depan Indonesia. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/a5aPHjtAYz/hendrajit-nu-nyata-tetapi-kurang-aktual |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar