Rabu, 01 Juli 2026

 

100 Hari Adu Kuat Amerika-Israel Vs Iran

Jannus TH Siahaan : Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik.

KOMPAS.COM, 08 Juni 2026

 

 

                                                           

PERANG langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran kini telah melewati 100 hari sejak meletus pada akhir Februari 2026 lalu.

 

Konflik yang dipicu oleh tewasnya Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan di Teheran pada 28 Februari 2026, telah meruntuhkan arsitektur status quo keamanan regional yang bertahan selama hampir setengah abad dan membawa Timur Tengah ke dalam babak baru yang sangat mengerikan.

 

Gencatan senjata sementara yang dideklarasikan secara sepihak dan diperpanjang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump nyatanya tidak lebih dari sekadar jeda taktis.

 

Di balik retorika diplomatik yang berembus dari Washington dan Islamabad, Timur Tengah sebenarnya sedang menyaksikan dialektika atrisi militer yang dari hari ke hari kian mematikan, kerapuhan suksesi dinasti yang goyah di Teheran, serta polarisasi politik yang semakin tajam di tanah Libanon.

 

Tak pelak, dunia saat ini sedang menatap teater peperangan di mana batas antara pertahanan diri dan agresi telah melebur menjadi satu kekacauan global yang rumit.

 

Ambruknya ilusi perdamaian terpampang nyata dari eskalasi bersenjata yang kembali membara di Teluk Persia pada awal Juni 2026.

 

Siklus kekerasan terbaru membuktikan bahwa gencatan senjata informal tidak pernah benar-benar dipatuhi.

 

Insiden bermula ketika pesawat militer Amerika Serikat melumpuhkan kapal tanker Lexie di dekat Pulau Kharg karena dianggap melanggar blokade maritim terhadap pelabuhan Iran.

 

Sebagai balasan asimetris, Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan serangan pesawat nirawak bunuh diri yang menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait.

 

Serangan tersebut tidak hanya menghentikan penerbangan sipil, tetapi juga merenggut nyawa seorang warga negara India dan melukai puluhan warga lainnya.

 

Tak berhenti di situ, gesekan terus meningkat ketika komando militer Amerika Serikat menyerang fasilitas radar pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.

 

Iran langsung membalas dengan menghujani pangkalan militer koalisi Barat di Kuwait dan markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain dengan tujuh rudal balistik.

 

Meskipun sebagian besar rudal berhasil dicegat, raungan sirene di Manama dan Kuwait City menjadi pengingat jelas bahwa tidak ada ruang aman yang tersisa di kawasan Teluk.

 

Selama 100 hari pertama pertumpahan darah ini, ongkos kemanusiaan dan ekonomi yang harus dibayar dunia sangatlah masif.

 

Lebih dari 7.000 jiwa dilaporkan gugur, dengan fakta mengejutkan bahwa korban tewas di Libanon justru melampaui korban di Iran.

 

Krisis kemanusiaan ini juga memaksa lebih dari satu juta warga Libanon dan tiga juta warga Iran mengungsi dari rumah mereka.

 

Di panggung ekonomi global, blokade maritim yang diterapkan sejak pertengahan April 2026, telah melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz.

 

Selat strategis yang biasanya dilalui sekitar seratus kapal per hari, kini hanya dilewati rata-rata tujuh kapal saja.

 

Akibatnya, harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke angka 120 dolar AS per barel sebelum tertahan di kisaran 100 dolar AS.

 

Kenaikan harga bahan bakar ini memicu inflasi hebat di sedikitnya 146 negara, menghantam perekonomian domestik dari Myanmar hingga Nigeria dan Peru.

 

Guncangan ini juga menjalar cepat ke bursa saham global, meluluhlantakkan indeks S&P 500 serta bursa finansial di Eropa dan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Teluk.

 

Di tengah kehancuran fisik dan ekonomi tersebut, jalur diplomasi justru terjebak dalam kebuntuan struktural.

 

Upaya perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan melalui pertemuan puncak di Islamabad pada pertengahan April lalu, berakhir tanpa kesepakatan berarti.

 

Kegagalan ini bersumber dari benturan paradigma negosiasi yang tidak terdamaikan. Donald Trump, dengan gaya transaksionalnya, menuntut kesepakatan cepat berupa Nota Kesepahaman longgar yang dapat dipamerkan sebagai kemenangan politik menjelang pemilu sela di dalam negerinya.

 

Trump meyakini bahwa Teheran berada di posisi yang sangat lemah setelah kehilangan sebagian besar persenjataan rudalnya akibat gempuran udara dahsyat.

 

Sebaliknya, elite keamanan di Teheran menolak mentah-mentah pendekatan pragmatis tersebut. Iran menuntut draf perjanjian yang sangat rinci dan mengikat secara hukum, lengkap dengan kepastian pencabutan sanksi ekonomi serta mekanisme verifikasi yang jelas agar presiden Amerika Serikat berikutnya tidak dapat membatalkan komitmen secara sepihak.

 

Titik buntu negosiasi ini diperparah oleh perselisihan mengenai dana senilai miliaran dolar milik Iran yang dibekukan di Qatar.

 

Iran bersikeras menuntut pencairan dana tersebut secara tunai sebagai prasyarat pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz.

 

Namun, atas desakan Departemen Keuangan Amerika Serikat, Qatar menolak menyerahkan dana tersebut dalam bentuk tunai langsung karena khawatir uang tersebut akan digunakan untuk membiayai kembali mesin perang Garda Revolusi.

 

Doha hanya bersedia menawarkan fasilitas kredit terbatas untuk pembelian barang kemanusiaan seperti bahan pangan dan obat-obatan secara langsung dari Qatar.

 

Bahkan muncul usulan dari Washington untuk menyita dana tersebut guna membayar ganti rugi kerusakan infrastruktur di negara-negara Teluk yang terkena rudal Iran. Hal ini semakin memperlebar jurang ketidakpercayaan di antara kedua belah pihak.

 

Ketegangan internasional ini berjalan beriringan dengan krisis politik dalam negeri Iran yang sangat akut.

 

Struktur kekuasaan teokratis Iran yang selama ini bertumpu pada konsep kepemimpinan ulama kini bergeser drastis menuju kediktatoran militer tertutup yang dikendalikan oleh Garda Revolusi.

 

Penunjukan Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Agung ketiga pada awal Maret 2026, merupakan titik balik konstitusional yang sayangnya masih sangat rapuh.

 

Proses pemilihan kilat oleh Majelis Ahli terjadi di bawah tekanan langsung bayonet militer demi menghindari kekosongan kekuasaan di tengah perang.

 

Namun, transisi kekuasaan yang bercorak dinasti ini sangat cacat secara teologis. Mojtaba hanyalah ulama tingkat menengah yang tidak memiliki reputasi jurisprudensi Islam yang diakui oleh otoritas keagamaan senior di Qom.

 

Gelar Ayatollah yang disematkan kepadanya secara instan ditolak secara diam-diam oleh banyak kalangan ulama tradisional Shiah.

 

Terlebih lagi, Mojtaba dilaporkan terluka parah dalam serangan udara awal perang dan tidak pernah sekalipun tampil di depan publik sejak dilantik.

 

Ia memerintah hanya melalui surat tertulis dan perantara, memicu spekulasi berkelanjutan tentang kondisi fisiknya.

 

Alhasil, ia tidak memiliki otoritas mutlak seperti ayahnya dan harus berbagi kekuasaan dalam format konsensus kolektif bersama para jenderal senior Garda Revolusi.

 

Ketiadaan kepemimpinan sipil yang kuat akhirnya memicu keretakan besar di tingkat eksekutif.

 

Pada akhir Mei 2026, Presiden Masoud Pezeshkian dikabarkan telah mengajukan surat pengunduran diri resmi kepada Kantor Pemimpin Agung.

 

Pezeshkian mengeluhkan bahwa kementerian sipilnya telah sepenuhnya dikebiri dari seluruh proses pengambilan keputusan strategis, termasuk jalannya negosiasi dengan Amerika Serikat.

 

Vakum kekuasaan ini dimanfaatkan oleh faksi ultra-garis keras di dalam parlemen dan militer untuk memperluas cengkeraman mereka.

 

Tokoh-tokoh radikal seperti faksi Front Paydari secara vokal menentang setiap bentuk diplomasi.

 

Sembilan puluh enam anggota parlemen garis keras bahkan menandatangani surat terbuka yang mengecam perundingan damai sebagai bentuk pengkhianatan dan menuntut pembalasan militer tanpa kompromi.

 

Meskipun media pemerintah segera membantah kabar pengunduran diri Pezeshkian demi menjaga stabilitas politik, perselisihan internal ini membuktikan bahwa rezim teokrasi Iran sedang mengalami pembusukan dari dalam di bawah tekanan perang dan kehancuran ekonomi.

 

Di luar perbatasan Iran, medan tempur Libanon selatan telah bermutasi menjadi instrumen sabotase geopolitik yang sangat rumit.

 

Upaya Amerika Serikat untuk memediasi perdamaian antara pemerintah Israel dan Libanon melalui pembentukan "Zona Percontohan" di bawah kendali tentara nasional Libanon mengalami kegagalan total.

 

Pemimpin Hezbollah Naim Qassem menolak keras kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai peta jalan menuju pemusnahan perlawanan rakyat Libanon.

 

Hezbollah menuntut penarikan mundur total seluruh pasukan Israel dari tanah Libanon sebagai syarat mutlak gencatan senjata.

 

Sikap keras Hezbollah ini berakar pada kepentingan taktis Teheran yang sengaja mengaitkan isu keamanan Libanon dengan kelanjutan negosiasi nuklirnya di Teluk.

 

Iran menggunakan potensi perang total di Libanon sebagai alat tawar-menawar untuk menekan Amerika Serikat agar bersedia melonggarkan sanksi ekonomi.

 

Manuver Iran ini memicu kemarahan politik yang luar biasa dari para pemimpin berdaulat di Beirut.

 

Presiden Libanon Joseph Aoun secara terbuka meluncurkan kritik tajam terhadap Teheran, menegaskan bahwa rakyat Libanon selatan bukanlah pion atau alat tawar-menawar dalam papan catur diplomasi nuklir Iran dengan Amerika Serikat.

 

Perdana Menteri Nawaf Salam juga mengecam campur tangan Garda Revolusi Iran yang dianggap hanya membawa kehancuran dan reruntuhan di atas penderitaan warga Libanon selatan.

 

Ketegangan di Libanon semakin diperkeruh oleh tindakan militer Israel di bawah Benjamin Netanyahu.

 

Dari sudut pandang strategis Tel Aviv, setiap kesepakatan damai yang membiarkan rezim ulama di Teheran tetap berdiri adalah ancaman eksistensial.

 

Oleh karena itu, Israel sengaja meningkatkan intensitas pengeboman di Beirut selatan untuk memancing reaksi keras dari Hezbollah dan Iran setiap kali proses negosiasi menunjukkan kemajuan.

 

Sikap kepala batu Netanyahu ini bahkan membuat Presiden Donald Trump frustrasi dan sempat melontarkan kekesalan terhadap Perdana Menteri Israel tersebut karena terus mengacaukan pembicaraan damai yang sedang dibangun oleh Washington.

 

Kerumitan taktis di lapangan mencapai puncaknya pada insiden tragis di dekat Kfar Tebnit, Distrik Nabatieh, ketika jet tempur Israel menyerang kendaraan militer milik Angkatan Bersenjata Libanon yang dituduh bergerak mencurigakan.

 

Serangan tersebut menewaskan tiga prajurit nasional Libanon, termasuk seorang perwira tinggi berpangkat Brigadier Jenderal.

 

Meskipun Israel berdalih bahwa insiden tersebut merupakan kesalahan identifikasi taktis, pembunuhan perwira militer nasional ini meruntuhkan kredibilitas rencana perdamaian Amerika Serikat yang ingin menempatkan tentara Libanon sebagai penjaga perdamaian di wilayah selatan.

 

Insiden ini sekaligus memperkuat argumen Hezbollah bahwa diplomasi sipil hanya akan berakhir pada pembantaian tentara nasional oleh agresi Israel.

 

Pada akhirnya, genap 100 hari perang ini membuktikan satu hal bahwa tidak ada jalan keluar militer murni dalam konflik geopolitik yang begitu kompleks ini.

 

Amerika Serikat mungkin memiliki keunggulan teknologi udara yang nyaris mutlak, tetapi blokade ekonomi dan serangan udara terbukti gagal memaksa Teheran untuk menyerah tanpa syarat.

 

Sebaliknya, tekanan asimetris Iran melalui ancaman penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa biaya ekonomi yang harus dipikul oleh Washington dan sekutunya terlampau mahal untuk ditanggung dalam jangka panjang.

 

Di sisi lain, Iran juga harus menyadari bahwa kelangsungan hidup rezim tidak dapat terus-menerus disandera oleh dogma ideologis Garda Revolusi dan bayang-bayang suksesi yang masih sangat rapuh.

 

Tanpa adanya keberanian politik dari para pemimpin di Washington, Teheran, dan Tel Aviv untuk keluar dari jebakan ego politik domestik masing-masing, gencatan senjata yang ada saat ini tidak akan pernah melahirkan perdamaian berkelanjutan yang permanen.

 

Jeda pertempuran saat ini hanyalah persiapan menuju babak eskalasi yang jauh lebih destruktif, yang akan menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang tak berujung.

 

Sumber : https://www.kompas.com/global/read/2026/06/08/122500570/100-hari-adu-kuat-amerika-israel-vs-iran?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar