Inflasi
Kronis Anton Hendranata: Chief
Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Utama BRI Research
Institute |
KOMPAS, 15 Juli 2022
Dunia seakan tak pernah habis dirundung
masalah dalam tiga tahun terakhir ini. Pandemi Covid-19 yang sangat parah
pada 2020 menyebabkan resesi ekonomi di sebagian besar negara di dunia.
Pandemi mengakibatkan rantai pasok/suplai global terganggu dalam tahap akut
karena pembatasan ketat (lockdown) yang dilakukan hampir semua negara. Tahun 2021, ketika perekonomian pulih
dan keluar dari resesi, ternyata masih meninggalkan problema. Menggeliatnya
perekonomian dan meningkatnya permintaan barang dan jasa tak diikuti
pemulihan suplai atau produksi. Kondisi ini dipersulit lagi oleh transportasi
laut, darat, dan udara yang belum beroperasi normal, jauh dari kata pulih.
Akibatnya, arus barang dan jasa terhambat, biaya kargo melambung, waktu
perjalanan dan bongkar muat barang memakan waktu lama. Kondisi ini memicu melonjaknya harga
pangan dan energi. Lonjakan harga energi dan pangan terus-menerus ini
menyebabkan inflasi tinggi di banyak negara. Awalnya, inflasi tinggi ini
diperkirakan bersifat sementara, tak permanen (transitory). Setelah beberapa
bulan, kondisi diperkirakan kembali normal seperti era sebelum pandemi. Dunia
bahkan sudah bersiap menyambut endemi. Namun, perang Rusia-Ukraina membuyarkan
semua itu. Perang yang berlangsung sejak Februari 2022 itu menghambat
pemulihan ekonomi dan kian memicu inflasi supertinggi di banyak negara akibat
terhentinya pasokan gandum serta minyak dan gas dari dua produsen dan
eksportir utama dunia itu. Jika kita bandingkan dengan 2018, harga
energi dunia seperti minyak mentah Brent sudah naik 186 persen, gas alam naik
285 persen, dan batubara naik 385 persen. Untuk harga pangan, gandum naik 248
persen, kedelai 182 persen, dan kelapa sawit 273 persen. Bukan hanya harga
energi dan pangan, harga logam juga ikut-ikutan naik signifikan. Baja naik
174 persen, bijih besi 203 persen, dan emas/ logam naik 141 persen. Kenaikan harga kebutuhan dasar yang
lebih dari 140 persen itu menyebabkan inflasi sudah pada tahap kronis dan
abnormal. Inflasi AS dan banyak negara maju lainnya sudah menjurus ke tidak
terkendali dan hiperinflasi. Inflasi AS secara tahunan tercatat 8,6 persen
pada Mei 2022, padahal dalam kondisi normal hanya 1,5-2,5 persen. Inflasi
yang melonjak hampir empat kali lipat dari kondisi normal ini sudah sangat
mengganggu perekonomian AS. Inflasi di Indonesia Kondisi Uni Eropa (UE) tak kalah
ekstrem, dengan inflasi tercatat 8,6 persen pada Juni 2022, jauh di atas
kondisi normal yang berkisar 0,7-1,7 persen. Bahkan kenaikan di UE jauh lebih
parah dibandingkan AS karena ketergantungan negara-negara di Eropa terhadap
energi dan pangan dari Rusia. Di Jepang, inflasi mencapai 2,5 persen
pada Mei 2022, dari kondisi normal 0,2-0,8 persen. Inflasi Singapura juga
melonjak ke 2,4 persen, dari normalnya 0,2-0,9 persen. Kondisi paling parah
dialami Turki, dengan inflasi mencapai 73,5 persen pada Mei 2022. Dunia dihadapkan pada era hiperinflasi,
dengan inflasi sudah tahap kronis. Ada kekhawatiran perekonomian dunia
mengalami stagflasi, yaitu resesi yang dibarengi inflasi tinggi. Idealnya ketika perekonomian dunia
sedang dalam tahap pemulihan setelah keluar dari resesi ekonomi 2020, inflasi
akan naik secara gradual mengikuti kenaikan permintaan. Apa yang terjadi saat
ini, di luar dugaan dan perekonomian dunia tampak tak siap menerimanya,
termasuk negara maju. Solusi dan kebijakan dalam mengatasi
inflasi ini terlihat tidak pas dengan sumber masalahnya. Bank sentral di
dunia, yang diinisiasi oleh AS, secara agresif dan masif menaikkan suku bunga
acuannya. Suku bunga acuan The Fed naik dari 0,25 persen menjadi 0,50 persen
pada Maret 2022, kemudian 1,00 persen (Mei 2022), dan 1,75 persen (Juni 2022).
Suku bunga ini diperkirakan masih naik lagi ke 3,25 persen pada 2022. Ini
kenaikan yang sangat cepat dan agresif, sekitar 3 persen dalam setahun. Pemicu inflasi Menurut Samuelson dan Nordhaus, ada dua
penyebab timbulnya inflasi. Pertama, tarikan permintaan (demand-pull
inflation). Kondisi ini terjadi saat permintaan agregat meningkat lebih cepat
dibandingkan potensi produktif perekonomian (penawaran), mendorong harga
barang dan jasa naik. Hal ini biasanya dipicu oleh
membanjirnya likuiditas di perekonomian sehingga terjadi permintaan yang
tinggi dan harga naik. Menghadapi situasi seperti ini, Bank Indonesia (BI)
harus mengatur likuiditas ini secukupnya pada skala yang pantas untuk
perekonomian. Kemampuan bank sentral diuji, bagaimana mengatur peredaran jumlah
uang (money supply) seefisien mungkin dalam perekonomian sehingga tidak
menimbulkan tekanan inflasi. Adapun yang kedua adalah dorongan biaya
(cost push inflation/supply shock inflation). Inflasi ini menyebabkan
peningkatan biaya akibat kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya
kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada kenaikan
signifikan. Berkurangnya produksi bisa terjadi
karena berbagai hal, seperti pandemi, perang, bencana alam, cuaca, atau
kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi, aksi spekulasi
(penimbunan) sehingga memicu kelangkaan produksi/suplai di perekonomian.
Inflasi ini berhubungan erat dengan distribusi, di mana faktor infrastruktur
memainkan peranan yang sangat penting. Untuk inflasi yang disebabkan dorongan
biaya, lembaga yang paling relevan mengatasinya adalah pemerintah karena
pemerintah memiliki instrumen fiskal dan kebijakan di sektor riil. Lonjakan inflasi yang kita rasakan saat
ini sangat jelas penyebab utamanya adalah masalah gangguan rantai pasok akut,
bukan karena lonjakan permintaan. Oleh karena itu, menjadi pemandangan yang
janggal jika direspons dengan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga
acuan secara agresif di banyak negara maju. Pada kuartal I-2022, perekonomian dunia
cenderung melambat dari perkiraan sebelumnya karena diganggu lonjakan harga
energi, pangan, dan logam dunia secara bersamaan. Jadi, agak kontradiktif
dengan teori ekonomi, kebijakan menaikkan suku bunga acuan bank sentral
secara agresif pada saat pertumbuhan ekonomi dunia sedang tertekan dan
melemah. Bukankah seharusnya suku bunga acuan bank sentral dipertahankan
serendah mungkin? Menarik untuk disimak, apa yang
dilakukan BI yang tak mengikuti kenaikan suku bunga acuan AS? BI seolah
melawan arus kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral. Saya termasuk yang
pro-BI tidak terburu-buru dan reaktif menaikkan bunga acuan dan
mempertahankannya di 3,50 persen pada Juni 2022, walaupun suku bunga acuan AS
sudah naik 1,50 persen menjadi 1,75 persen. Kalaupun BI harus menaikkan suku bunga
acuannya, lebih dalam rangka menjaga stabilitas rupiah yang mulai tertekan
saat ini, untuk mengurangi arus keluar modal asing dari perekonomian
Indonesia. Kita cukup beruntung, inflasi di
Indonesia sangat rendah dibandingkan negara maju dan negara berkembang
lainnya. Inflasi tahunan Indonesia tercatat 4,35 persen pada Juni 2022, jauh
lebih rendah dari AS dan UE yang 8,6 persen. Inflasi intinya juga terjaga
dengan baik sekitar 2,6 persen. Inflasi yang mulai naik di Indonesia
penyebab utamanya adalah masalah suplai, sedangkan peranan naiknya permintaan
relatif kecil. Oleh karena itu, sangat tepat langkah pemerintah melalui
instrumen APBN untuk mengurangi tekanan inflasi energi dengan menaikkan
subsidi energi 48,8 persen dan subsidi BBM dan listrik 512,7 persen pada
2022. Tingginya harga komoditas dan aktivitas
ekonomi yang meningkat menyebabkan pendapatan negara naik 12,7 persen dan ini
diharapkan jadi buffer kenaikan subsidi dan bansos untuk menjaga daya beli
masyarakat. Masalah suplai karena gangguan rantai pasok harus disikapi dengan
kebijakan pada sektor riil. Ketahanan pangan dan energi harus diperbaiki
supaya Indonesia mampu menghadapi gejolak eksternal dan tidak perlu khawatir
dengan ancaman inflasi kronis ke depan. ● Sumber :
https://www.kompas.id/baca/opini/2022/07/14/inflasi-kronis |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar