Ujian
Nasional
Rhenald
Kasali ; Guru Besar FE
UI, Pendiri Rumah Perubahan
|
KORAN SINDO,
11 Mei 2014
|
Minggu kemarin anak-anak sekolah
menengah pertama menyelesaikan ujian nasional (unas). Saya ucapkan selamat,
semoga anak-anak Anda sehat dan bahagia. Sayangnya, dari zaman saya sekolah
hingga kini, ujian nasional selalu membuat kita tegang.
Maksud hati membuat siswa
enteng, tapi yang terjadi justru khawatir berlebihan. Selalu saja ada berita
jual-beli jawaban, bocoran soal, sampai siswa yang bunuh diri. Padahal, ujian
ya harus dilewati, itu masalah biasa dalam hidup. Dan bunuh diri karena takut
ujian selalu ada di mana-mana. Ya di sini, ya di luar negeri.
Kita sedih mendengar berita Leony
Alvionita, 14, siswi SMP Negeri 1 Tabanan, Bali, yang menggantung diri
setelah mengikuti unas matematika. Di University
of Auckland, New Zealand, November 2012 seorang mahasiswa melompat dari
lantai 6 dan tewas karena gagal mendapat nilai A+.
Di dekat apartemen saya di
Urbana-Illinois (1996) seorang pria Korea menggantung diri karena gagal ujian
program doktor. Hidup mereka berakhir di garis ujian sekolah. Ibarat telur,
sekali jatuh langsung pecah.
Tetapi, di luar negeri respons
yang diambil bukan mengeksploitasi ketakutan itu, melainkan menyediakan lebih
banyak konselor dan suasana agar sekolah menjadi lebih menyenangkan. Siswa
tak boleh takut menerima kegagalan. Soal ujian yang berat, mereka tak pernah
menguranginya.
Demikian pula kegagalan, itu
justru dijadikan alat pembentukan karakter. Sebab, tanpa kemampuan menghadapi
kegagalan, suatu bangsa tak akan menjadi sosok yang tegar. Gagal sesaat itu
biasa, selalu ada jalan keluarnya. Ibarat bola tenis, hidup ini butuh
kemembalan.
Respons guru juga bisa membuat
tambah tegang. Ada yang melakukan doa dan zikir bersama disertai isak tangis
penuh haru. Bagi saya, doa itu baik-baik saja. Hanya, saya sedikit terusik
dengan eksploitasi ketakutan yang berlebihan, seperti ritual mencium kaki
ibunda.
Banyak siswa yang saya temui
mengungkapkan kesan unas adalah akhir hidup mereka sehingga bukan belajar
lebih keras, tetapi diminta memperbaiki relasi sosialnya dengan orang tua
justru di saat harus menghadapi kompetisi dengan guru-guru yang, maaf,
mungkin belum mempersiapkan siswanya sesuai standar nasional.
Dan, kondisi seperti ini rasanya
belum ditangani secara benar. Doa, zikir, dan berbagai ritual lainnya hanya
digelar sebelum unas. Sesudahnya?
Bagaimana yang tidak lulus?
Memang jumlahnya tidak banyak. Meski begitu, kita kurang menaruh perhatian
untuk mereka. Mereka itulah yang membutuhkan empati dan dukungan, bukan
dibodoh-bodohkan. Sebab, kalau mereka bisa mengatasi kesulitan ini, seperti
kata Steve Jobs, ”What doesn’t kill me,
makes me awesome instead.”
Unas, Ajang Pesta
Saya ingin mengajak Anda menoleh
sejenak bagaimana atlet-atlet kelas dunia menjalani ujian. Sikap mereka
kurang lebih begini. Saat berlatih, mereka habis-habisan. Memeras keringat,
merancang teknik dan strategi, dengan penuh disiplin dan kesadaran, tanpa
harus diminta atau dipaksa pelatihnya. Intinya, saat berlatih, mereka menempa
diri untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Baik fisik maupun mental.
Saat bertanding, mereka
menjadikan ajang itu sebuah ”pesta” untuk unjuk kemampuan. Mereka mengeluarkan
semua kemampuan terbaiknya, bertanding habis-habisan menjunjung sportivitas.
Soal menang-kalah, soal hasil, urusan belakangan. Bagi mereka, kalau sudah
mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, meski kalah, sesungguhnya sudah
menjadi pemenang.
Situasi inilah yang kurang
muncul dalam dunia pendidikan kita, termasuk saat unas. Proses tidak penting.
Hasil lebih utama. Maka, tak heran kalau menjelang unas, banyak beredar
berita negatif dan saling menyalahkan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar