Seberapa
Kuat Dukungan Kiai
Ardi
Winangun ; Penggiat
Komunitas Penulis Lapak Isu
|
OKEZONENEWS,
12 Mei 2014
|
Pesantren
sepertinya menjadi lumbung suara bagi calon Presiden dalam Pemilu Presiden
yang akan datang. Buktinya calon Presiden seperti Jokowi dan Prabowo Subianto
silih berganti ke lembaga pendidikan yang mengajarkan pendidikan Islam secara
boarding itu untuk mendulang suara. Calon Presiden berkunjung ke pesantren
sebab aura pesantren tidak hanya ke dalam, ke kalangan santri, namun juga
masyarakat sekitar.
Di
tengah masyarakat yang masih di bawah kepemimpinan paternalistik dan
tradisional, sosok kiai merupakan figur tunggal yang menjadi panutan dan
meminta petunjuk bagi santri, pengelola pesantren, dan masyarakat. Mereka
patuh kepada kiai sebab sosok yang dituahkan itu mempunyai kelebihan
dibanding dengan tokoh masyarakat. Selain ilmu agamanya tinggi, kia juga ada
yang diakui keturunan orang sakti di masa lalu, wali atau muridnya wali.
Tingginya kepercayaan masyarakat itulah yang membuat kiai menjadi sosok yang
mistis dan mempunyai kekuatan gaib. Sehingga jarang ada yang berani kepada
kiai karena takut kualat.
Ketokohan
kiai sebagai orang yang tinggi ilmunya dalam bidang agama dan ketokohan di
masyarakat membuat calon Presiden meminta restu atau dukungan kepada mereka.
Calon Presiden meminta dukungan kepada kiai sebab cara seperti demikian
diakui sebagai jalan yang praktis. Bila kiai bilang A, maka santri dan
masyarakat sekitarnya mengamini. Bayangkan bila ada 9 kiai besar yang
didatangi, bisa jadi akan ada ratusan ribu bahkan jutaan suara didulang.
Namun
benarkah kiai bisa menyeragamkan pilihan bila kiai tersebut mendukung salah
satu calon presiden? Dunia pesantren saat ini merupakan pendidikan yang
terbuka. Dalam dunia pendidikan yang disebut asli budaya nusantara tersebut,
saat ini tak hanya ilmu agama yang diajarkan. Ilmu-ilmu umum pun juga menjadi
bagian dari kurikulum pesantren. Harapan menggabungkan ilmu ilmu dan ilmu
agama dengan maksud agar lulusan pesantern bisa mampu bersaing di tengah
masyarakat.
Masuknya
ilmu umum ke dalam pesantren membuat alumni pesantren tak hanya menjadi guru
agama, seperti jaman dulu, namun juga bergerak di dunia lain seperti dalam
dunia politik, akademisi, pengusaha, perbankan, birokrat, teknokrat, dan lain
sebagainya.
Masuknya
ilmu umum ke dalam pesantren di satu sisi memberi manfaat yang positif, yakni
santri bisa melebarkan sayapnya di banyak bidang namun di sisi yang lain ilmu
umum itu membuat hilangnya ‘kepatuhan’ mutlak kepada kiai. Keterbukaan media
informasi seperti media massa dan jaringan media sosial, membuat santri
leluasa mengakses berbagai berita. Di sinilah para santri (dan masyarakat)
belajar banyak tentang sesuatu hal sehingga santri dan masyarakat bisa
memutuskan dan menetapkan suatu pilihan. Sehingga bila tidak setuju dengan
pendapat kiai, secara diam-diam, terus terang bahkan secara liberal para
santri akan melakukan ‘ketidakpatuhan.’ Ketidakpatuhan ini misalnya dalam soal
pilihan calon presiden.
Bila
kita melihat kilas balik Pemilu Presiden Tahun 2004, ada dua sosok kiai besar
yang maju dalam gelanggang yakni Salahuddin Wahid dan Hasyim Muzadi namun
kalau kita lihat hasilnya, suara yang diperoleh belum bisa menghantarkan
mereka menjadi Calon Wakil Presiden. Mereka kalah dengan pasangan Susilo
Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang kedua sosok itu tak masuk katagori
kiai.
Bisa
jadi ada suara yang menyebutkan suara santri terpecah karena ada dua kiai
dalam Pemilu Presiden itu. Anggapan yang demikian benar namun dalam putaran
dua yang menyisakan satu kiai, Hasyim Muzadi, suara didulang juga belum cukup
bahkan jauh untuk memenangi Pemilu Presiden.
Sebab
pengalaman pada tahun 2004 atau entah karena faktor yang lain, di mana sosok
kiai tak bisa memenangkan Pemilu Presiden maka pada Pemilu Presiden 2009 tak
ada sosok serupa yang maju dalam gelanggang Pemilu Presiden.
Tak
hanya dalam Pemilu Presiden, beberapa partai politik yang dibina oleh para
kiai juga tak membuahkan hasil yang mantap. Malah partai itu mendongkrakkan
diri bukan bersandar pada kiai namun pada penyanyi dangdut, artis, dan
pengusaha.
Jadi
hiruk pikuk kunjungan calon Presiden ke pesantren ini jangan dianggap atau
disimpulkan Pemilu Presiden sudah selesai, di mana calon Presiden yang
mendapat restu kiai akan menang. Dukungan dari kiai penting dan diperlukan
namun masih banyak dukungan dari yang lain juga perlu digalang.
Kantong-kantong masyarakat lain yang potensial juga harus disinggahi para
calon Presiden. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar