Selasa, 13 Mei 2014

Seberapa Kuat Dukungan Kiai

Seberapa Kuat Dukungan Kiai

Ardi Winangun  ;   Penggiat Komunitas Penulis Lapak Isu
OKEZONENEWS,  12 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Pesantren sepertinya menjadi lumbung suara bagi calon Presiden dalam Pemilu Presiden yang akan datang. Buktinya calon Presiden seperti Jokowi dan Prabowo Subianto silih berganti ke lembaga pendidikan yang mengajarkan pendidikan Islam secara boarding itu untuk mendulang suara. Calon Presiden berkunjung ke pesantren sebab aura pesantren tidak hanya ke dalam, ke kalangan santri, namun juga masyarakat sekitar.

Di tengah masyarakat yang masih di bawah kepemimpinan paternalistik dan tradisional, sosok kiai merupakan figur tunggal yang menjadi panutan dan meminta petunjuk bagi santri, pengelola pesantren, dan masyarakat. Mereka patuh kepada kiai sebab sosok yang dituahkan itu mempunyai kelebihan dibanding dengan tokoh masyarakat. Selain ilmu agamanya tinggi, kia juga ada yang diakui keturunan orang sakti di masa lalu, wali atau muridnya wali. Tingginya kepercayaan masyarakat itulah yang membuat kiai menjadi sosok yang mistis dan mempunyai kekuatan gaib. Sehingga jarang ada yang berani kepada kiai karena takut kualat.

Ketokohan kiai sebagai orang yang tinggi ilmunya dalam bidang agama dan ketokohan di masyarakat membuat calon Presiden meminta restu atau dukungan kepada mereka. Calon Presiden meminta dukungan kepada kiai sebab cara seperti demikian diakui sebagai jalan yang praktis. Bila kiai bilang A, maka santri dan masyarakat sekitarnya mengamini. Bayangkan bila ada 9 kiai besar yang didatangi, bisa jadi akan ada ratusan ribu bahkan jutaan suara didulang.

Namun benarkah kiai bisa menyeragamkan pilihan bila kiai tersebut mendukung salah satu calon presiden? Dunia pesantren saat ini merupakan pendidikan yang terbuka. Dalam dunia pendidikan yang disebut asli budaya nusantara tersebut, saat ini tak hanya ilmu agama yang diajarkan. Ilmu-ilmu umum pun juga menjadi bagian dari kurikulum pesantren. Harapan menggabungkan ilmu ilmu dan ilmu agama dengan maksud agar lulusan pesantern bisa mampu bersaing di tengah masyarakat.

Masuknya ilmu umum ke dalam pesantren membuat alumni pesantren tak hanya menjadi guru agama, seperti jaman dulu, namun juga bergerak di dunia lain seperti dalam dunia politik, akademisi, pengusaha, perbankan, birokrat, teknokrat, dan lain sebagainya.

Masuknya ilmu umum ke dalam pesantren di satu sisi memberi manfaat yang positif, yakni santri bisa melebarkan sayapnya di banyak bidang namun di sisi yang lain ilmu umum itu membuat hilangnya ‘kepatuhan’ mutlak kepada kiai. Keterbukaan media informasi seperti media massa dan jaringan media sosial, membuat santri leluasa mengakses berbagai berita. Di sinilah para santri (dan masyarakat) belajar banyak tentang sesuatu hal sehingga santri dan masyarakat bisa memutuskan dan menetapkan suatu pilihan. Sehingga bila tidak setuju dengan pendapat kiai, secara diam-diam, terus terang bahkan secara liberal para santri akan melakukan ‘ketidakpatuhan.’ Ketidakpatuhan ini misalnya dalam soal pilihan calon presiden.

Bila kita melihat kilas balik Pemilu Presiden Tahun 2004, ada dua sosok kiai besar yang maju dalam gelanggang yakni Salahuddin Wahid dan Hasyim Muzadi namun kalau kita lihat hasilnya, suara yang diperoleh belum bisa menghantarkan mereka menjadi Calon Wakil Presiden. Mereka kalah dengan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang kedua sosok itu tak masuk katagori kiai.

Bisa jadi ada suara yang menyebutkan suara santri terpecah karena ada dua kiai dalam Pemilu Presiden itu. Anggapan yang demikian benar namun dalam putaran dua yang menyisakan satu kiai, Hasyim Muzadi, suara didulang juga belum cukup bahkan jauh untuk memenangi Pemilu Presiden.

Sebab pengalaman pada tahun 2004 atau entah karena faktor yang lain, di mana sosok kiai tak bisa memenangkan Pemilu Presiden maka pada Pemilu Presiden 2009 tak ada sosok serupa yang maju dalam gelanggang Pemilu Presiden.

Tak hanya dalam Pemilu Presiden, beberapa partai politik yang dibina oleh para kiai juga tak membuahkan hasil yang mantap. Malah partai itu mendongkrakkan diri bukan bersandar pada kiai namun pada penyanyi dangdut, artis, dan pengusaha.

Jadi hiruk pikuk kunjungan calon Presiden ke pesantren ini jangan dianggap atau disimpulkan Pemilu Presiden sudah selesai, di mana calon Presiden yang mendapat restu kiai akan menang. Dukungan dari kiai penting dan diperlukan namun masih banyak dukungan dari yang lain juga perlu digalang. Kantong-kantong masyarakat lain yang potensial juga harus disinggahi para calon Presiden.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar